Syuro

+1
Oleh: Nugra A. Saragih (Ketua Umum Kamil Pascasarjana ITB 2021)

Syura atau syuro adalah Istilah yang berasal dari kata kerja syawara-yusyawiru yang berarti menjelaskan, menyatakan atau mengajukan dan mengambil sesuatu. Bentuk-bentuk lain yang berasal dari kata kerja syawara adalah asyara (memberi isyarat), tasyawara (berunding, saling tukar pendapat), syawir (meminta pendapat) dan mustasyir (meminta pendapat orang lain). Syura atau musyawarah adalah saling menjelaskan dan merundingkan atau saling meminta dan menukar pendapat mengenai suatu perkara [2]. Sedangkan, jika mengacu pada KBBI Musyawarah sendiri adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah. Qur’an sendiri memiliki Surah yang bernama Asy-Syura atau artinya Musyawarah Setidaknya ada tiga ayat dalam AlQur’an yang memuat tentang Syura ini yaitu:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

QS. Al Baqarah : 233

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

QS. Asy-Syura : 38

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

QS. Ali Imran 159

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Musyawarah atau Syura ini adalah nilai-nilai kemanusiaan dan sosial yang dibawa Islam, setidaknya Islam menyuruh kita bermusyawarah dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan Negara. Sebagaimanan disarikan dari Kitab Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim karya Yusuf Qardhawi.

Syuro dalam Kehidupan Individu

Ketika terdapat kegundahan dan keraguan mengambil keputusan terhadap sesuatu hendaklah melakukan dua langkah. Pertama, Istikarah kepada Allah dan berdoa kepada Allah untuk diberi pilihan yang terbaik,
dimana Rasullullah bersabda:

Ya Allah, aku beristikharah (meminta pilihan) dengan ilmu-Mu, aku memohon
kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon keutamaan-Mu.”

HR. BUKHORI

Kedua, bermusyawarah dengan orang yang dapat dipercaya pendapatnya, pengalaman, nasihat dan keikhlasannya. Fatimah binti Qais pada suatu waktu pernah meminta pendapat Rasulullah tentang pilihannya antara menikah dengan Mu’awiyah dan Abu Jahm. Kemudian Rasulullah menyarankan untuk menikah dengan Usamah Bin Zaid dengan pertimbangan dua orang tadi mempunyai keburukan bagi Fatimah bin Qais.

Syuro dalam Kehidupan Berkeluarga

Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya di QS. Al Baqarah 233, dalil pentingnya bermusyawarah antara suami-istri berkaitan tentang menyusui dan menyapih anak-anaknya, adalah salah satu contoh bagaimana aplikasi syura dalam keluarga. Selain itu, hadits Rasulullah,

Bermusya-warahlah dengan kaum perempuan (istri-istrimu) dalam urusan anak-anak”

HR. AHMAD

Dimana penjelasan hadits ini dimaksudkan para suami agar ermusyawarah dengan istrinya ketika ingin menikahkahkan anak gadisnya.

Syuro dalam Kehidupan Individu

Yusuf Qardhawi dalam kitabnya menjelaskan bahwa syura termasuk dalam sifat-sifat orang yang beriman dengan landasan QS. Asy-Syura ayat 36-38. Yang artinya:

[36] Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. [37] Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosadosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. [38] Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Maksud dari firman Allah “Sedang urusan mereka” disini adalah urusan yang bersifat umum dan sebagai kepentingan bersama.

Perintah bermusyawarah ini turun setelah perang Uhud, Ketika Rasulullah bemusywarah dengan sahabat-sahabatnya. Hasil dari musyawarah itu adalah kekalahan yang menimpa umat islam, Walaupun demikian Allah SWT tetap memerintahkan rasul-Nya untuk bermusyawarah, karena di dalamnya ada kebaikan dan keberkahan, meskipun sesekali hasilnya tidak menyenangkan, karena yang lebih penting adalah akibatnya. Islam juga memerintahkan seorang penguasa agar bermusyawarah (di satu sisi) dan
memerintahkan umat agar memberikan nasihat kepadanya (di sisi lain). Seperti diterangkan pada hadist berikut:

Agama adalah nasihat…, untuk Allah, rasul-Nya, kitab-kitabNya, para pemimpin kaum Muslimin dan rakyatnya”

(H.R. Muslim)

Rise and Fall Syuro

Rasulullah termasuk sering melakukan musyawarah. Selain pada perang Uhud tadi, beberapa keputusan penting saat perang juga dilakukan bermusyawarah saat Perang Khandaq dan peristiwa Hudaibiyah. Rentetan peristiwa tadi bisa dikatakan merupakan sebab dari keberhasilan Rasulullah dan umat islam saat itu yang bermuara pada Fathu Makkah.

Dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila juga disebutkan bahwa arah bernegara dan berbangsa kita juga berdasarkan pada musyawarah mufakat, namun sayang hal ini bertolak belakang dengan fakta kekinian dimana pihak yang memiliki kekuatan dan ‘Uang’ maka dia pula yang bisa menghasilkan keputusan, padahal Founding parents kita menunjukkan contoh yang luar biasa dalam syura atau musyawarah dimana penghapusan pada frasa “Menjalankan syariat islam” dikarenakan saudara-saudara non-muslim yang berkeberatan. Padahal, bisa
saja dengan kondisi mayoritas saat itu permintaan ditolak.

Sudah saatnya, kita sebagai generasi muda islam menyemai kembali syura atau musyawarah sebagai nilai-nilai kemanusian dan sosial yang dibawa oleh islam di setiap aktivitas, sebagai usaha agar kita termasuk dalam sifat-sifat orang yang beriman sebagaimana dijelaskan di QS. Asy-Syura ayat 38, dan sebagai usaha untuk membumikan Islam yang rahmatan lil alamin.
Allahu A’lam

Sumber tulisan:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi. 2013. Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim. Solo: Penerbit Era
    Adicitra Intermedia
  2. Syura. https://republika.co.id/berita/8100/syura . Diakses: 1 Februari 2021

+1

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>