Category Archives: Home

  • 0

KAMIL at-Thalib Rabbani, Lc

Category : Home

Visi KAMIL Pascasarjana ITB 2018: Leading, Caring

“KAMIL Pascasarjana ITB 2018 yang Leading dan Caring, untuk mewujudkan Kampus ITB dan Indonesia yang madani.”

Leading yang dimaksud di sini adalah kondisi KAMIL Pascasarjana ITB yang terdepan, juara dalam berbagai aspek terutama aspek kualitas SDMnya, kekeluargaannya, dan performa da’wahnya.

Caring yang dimaksud di sini adalah kondisi KAMIL Pascasarjana ITB yang senantiasa menanamkan niat pada dirinya untuk senantiasa peduli dan melayani, bukan ingin dipedulikan dan dilayani. Memosisikan diri sebagai penyalur kebaikan-kebaikan kepada berbagai pihak, bukan sebagai penikmat balasan manusia. Beramal terus memberi kepada sekitarnya, mengharapkan balasan hanya dari Allaah swt.

Mewujudkan ITB dan Indonesia yang Madani menjadi pengingat kita semua bahwa aktivitas kita di KAMIL Pascasarjana ITB ini adalah suatu bagian ikhtiar kita untuk mewujudkan 2 tujuan dakwah kampus: Mensuplai alumni kampus yang berafiliasi terhadap Islam dan Mengoptimalkan peran kampus untuk mentransformasi masyarakat menuju masyarakat madani. Melalui aktivitas kita semua di KAMIL Pascasarjana ITB ini, diharapkan lahir intelektual-intelektual muda yang profesional dalam bidang yang digelutinya dan tetap memiliki ikatan dan keberpihakan yang tinggi (afiliasi) terhadap Islam. Merekalah pembaharu-pembaharu yang dapat melakukan perubahan-perubahan kondisi masyarakat menuju kehidupan islami hingga akhirnya terwujudlah cita-cita kebangkitan Islam.

Poin-Poin Ciri Visi

Beberapa poin ciri KAMIL Pascasarjana ITB yang Leading, dan Caring, sehingga meluluskan alumni-alumninya yang akan bergelar “Lc.” (Leading – Caring). Daftar ini diurutkan dengan alasan tertentu. Nomor 1 adalah hal yang paling menunjukkan Leading, dan berangsur-angsur kepada nomor 5 yaitu hal yang paling menunjukkan Caring.

  1. Anggota Aktif KAMIL Pascasarjana ITB yang menjadi teladan di manapun ia berada
  2. KAMIL Pascasarjana ITB yang besar
  3. Pengurus yang mewariskan Sistem
  4. KAMIL Pascasarjana ITB sebagai Keluarga
  5. Syiar yang menyeluruh dan Pelayanan yang luar biasa

Anggota Aktif KAMIL Pascasarjana ITB yang menjadi teladan di manapun ia berada

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl, 16:125)

Yang dimaksud dengan teladan adalah anggota aktif tersebut harus sebisa mungkin menunjukkan bagaimana pribadi muslim yang baik. Hal-hal tersebut di antaranya adalah menghargai waktu, amanah, ramah, terbina dengan baik, penampilannya baik, mampu memimpin, dsb.

Di manapun ia berada yang dimaksud adalah anggota aktif tersebut harus tetap menjadi teladan baik ia berada di lingkungan KAMIL, atau lingkungan lain misalnya di keluarganya, dalam aktivitas perkuliahan, laboratorium, maupun di organisasi lain yang ia ikuti.

KAMIL Pascasarjana ITB yang Besar

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran: 139).

KAMIL Pascasarjana ITB yang besar yang dimaksud di sini adalah KAMIL harus mampu bergerak sebagai organisasi yang seutuhnya, yang mampu bekerjasama dengan berbagai pihak yang bisa memperkuat gerak KAMIL Pascasarjana ITB. KAMIL harus mampu melakukan pendekatan dan bekerjasama dengan Rektorat, Forsi Himmpas, Himpunan Mahasiswa, Masyarakat, dan lembaga atau organisasi lainnya.

Selain itu, KAMIL Pascasarjana ITB yang besar ini juga ditunjukkan dengan kemampuan organisasi yang baik. Di antara kemampua organisasi yaitu terkait Human Resources (telah dibahas di bagian Kader KAMIL), Marketing (telah dibahas di bagian Syiar dan Pelayanan), Finance, Operational, dan Accounting. Yaitu bagaimana membuat KAMIL Pascasarjana ITB kuat keuangannya, lengkap perlengkapannya, dan baik dalam pencatatan administrasinya.

Pengurus yang mewariskan Sistem

KAMIL Pascasarjana ITB ini hanya kita “urus” dalam waktu tertentu, namun sungguh kita berharap bahwa KAMIL Pascasarjana ITB, jalan da’wah muslim di kampus ini akan terus berlanjut dan harus terus berkembang. Wariskanlah apa-apa yang sudah kita pelajari dari kepengurusan kita, wariskan lah juga sistem-sistem yang baik untuk penerus kita. Wariskanlah dokumentasi-dokumentasi perencanaan program, database, SOP, dan sebagainya. Perhatikan dan ingat baik-baik terminologi berikut: Kontinuitas Da’wah!

KAMIL Pascasarjana ITB sebagai Keluarga

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

KAMIL Pascasarjana ITB harus mampu menjadi wadah kembalinya setiap muslim Pascasarjana ITB. KAMIL Pascasarjana ITB harus mampu menjadi corong opini massa kampus terutama mahasiswa muslim pascasarjananya. KAMIL Pascasarjana ITB harus selalu ada sebagai organisasi yang bergerak dalam Keislaman. KAMIL Pascasarjana ITB harus bisa menjadi tempat mahasiswa Islam Pascasarjana ITB melihat berbagai persoalan yang terjadi di dunia, dalam kacamata Islam.

Selain itu, hendaklah KAMIL Pascasarjana ITB ini mampu membangun suasana kekeluargaan yang nyaman sebagai tempat berkumpul. Sebagaimana suatu keluarga yang kita idam-idamkan menjadi tempat kembali, di manapun posisi aktivitas kerja kita selama ini. Keluarga yang nyaman sehinggga kita bisa sebuat keluarga bisa muncul karena senantiasa muncul di dalamnya do’a-do’a yang terpanjatkan, perhatian yang dicurahkan, bantuan-bantuan yang tulus diberikan, dan kebijaksanaan yang senantiasa dicontohkan.

Syiar yang menyeluruh dan Pelayanan yang luar biasa

“Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri (Ashabul Qoryah), ketika utusan-utusan datang kepada mereka” QS Yaasiin: 13.

Kisah Ashabul Qoryah yang terdapat di dalam QS Yaasiin 13-30 menceritakan kepada kita bahwa risalah-risalah Islam itu harus tersebar sampai ke seluruh penjuru negeri, meskipun banyaak sekali orang-orang tidak menyukainya. Terbukti bahwa meskipun da’wah 3 utusan-utusan yang diutus kepada Ashabul Qoryah ini ditolak, tetapi ada buah da’wahnya, yaitu adanya seorang pemuda yang turut serta memperjuangkan da’wah para 3 utusan ini, dari Aqshol Madiinah: ujung kota.

‘Aisyah r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda di rumahku ini : Ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya. (HR. Muslim)

“Hendaklah kalian bersikap memudahkan dan jangan menyulitkan. Hendaklah kalian menyampaikan kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan.” (HR. Muslim)

Da’wah 3 utusan yang diceritakan dalam QS Yaasiin ini, tidak hanya menghasilkan pemuda yang semangat memperjuangkan da’wah, melainkan juga menghasilkan pemuda yang senantiasa mampu memberikan argumen-argumen, menjawab berbagai soal dari ummatnya, menjelaskannya dengan sangat baik.

Syiar dan Pelayanan ini biasa  digambarkan dengan perumpamaan orang-orang yang menawarkan cahaya lilin. Kita ini adalah yang melakukan syiar, yakni seperti seseorang yang membawa lilin  menyala. Setiap dari kita bertugas menyalakan lilin dari setiap massa kampus terutama kampus muslim Pascasarjana ITB. Kalaupun ternyata misi menyalakan lilin ini gagal, setidaknya kita ini sempat mengatakan, “Kalau nanti mau nyalakan lilinnya, hubungi kami ya!” Itu yang dimaksud dengan pelayanan yang luar biasa. Kita bimbing dengan sebaik-baiknya saat ada obyek da’wah kita yang tersentuh. Kita layani dengan sebaik-baiknya.

Perumpamaan lainnya, pelayanan kita adalah seperti jika ada yang bertanya kepada kita di mana toilet berada? Maka kita antarkan orang tersebut setidaknya sampai pintu toiletnya terlihat. Mari kita arahkan massa kampus yang tersentuh dengan sebaik-baiknya, setidaknya sampai dia mengetahui jawaban-jawaban pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benaknya.

Epilog

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”  

QS At-Taubah 105.

Penulis : Reka Ardi Prayoga


  • 0

  • 0

Agar Tidak Menjadi Buih [2]

Category : Home

Cerita ini ditulis oleh Zulkaida Akbar
Alumni ITB yang sedang mengambil program Phd di US, Florida State University.

________________________________________________________

Saya baru berbincang dengan kawan yg kini menjadi dosen di Malaysia; Negara tetangga yang kini mengungguli Indonesia di beberapa hal, termasuk riset dan jumlah publikasi ilmiah.

Kata kawan saya, secara Individu sebenarnya orang2 Indonesia lebih pandai dan kreatif. Namun Sistem dan budaya organisasi mereka lah yang membuat sekumpulan individu yang sebenarnya “kurang unggul” menjadi lebih unggul.

Kawan saya memang mendapat insentif yg lebih, mulai dari dana riset hingga akses data ke Petronas. Namun menyalahkan serta menganggap ketiadaan “insentif” sebagai faktor tunggal keTidak unggulan Indonesia saya kira tidak tepat.

“The first step to solve the problem is admitting that we DO have the problem.”

Sebenarnya saya tidak terkejut dengan pemaparan kawan saya, karena 9 tahun lalu ketika berkunjung ke Malaysia saya sudah membawa oleh2 sebuah hipotesis : Satu orang Indonesia jauh lebih unggul dibanding satu orang Malaysia, namun 10 orang Malaysia akan mengungguli 10 orang Indonesia.

Meski kita bisa bekerja sekeras China, seefisien Jerman dan sekreatif Amerika (seperti yang saya tulis di bagian pertama), Kita tetap akan kalah jika kita tidak memperbaiki hal2 terkait bagaimana kita berinteraksi, berOrganisasi (dalam apapun levelnya), atau dengan kata lain bagaimana BerMuamalah dengan sesama.

…………..

Di Amerika saya sering merasakan momen :”Ah, ternyata nggak segitunya.”, atau “Oh, gitu doang ternyata.”

Dulu saya punya imajinasi bahwa orang2 yg bekerja di Fermilab, Cern, SLAC, JLAB, atau accelerator partikel lainnya adalah orang2 Jenius. Namun setelah tiga tahun saya kerja di JLAB, juga setelah gaul dengan orang Fermilab dan Cern, terus terang kesan yg muncul adalah : “Ah, ternyata nggak segitunya.”

Setelah saya amati, orang2 disana sebenarnya punya skill yang spesifik dan biasa2 saja. Namun yang luar biasa adalah organisasi kerja mereka.

JLAB di desain tahun 1980an, dan Prof. Saya bilang kalau accelerator particle itu diDesain dengan teknologi yang belum ada pada saat itu. Hal ini dikarenakan pembangunan accelerator dengan berbagai part detectornya memerlukan waktu Belasan tahun. Jadi mereka harus “berspekulasi” terkait teknologi apa yang akan tersedia hingga 15 sampe 20 tahun kemudian.

Kira2 tim kerja seperti apa dibalik pembangunan Fasilitas yang jumlah part detector nya lebih banyak dibanding pesawat ulang alik? Bagaimana mereka bekerja membuat sesuatu yg diDidesain dengan teknologi yg belum ada pada saat desain diSahkan? Bagaimana mereka mengintegrasikan individu2 yg sebenarnya biasa saja?

Budaya Apresiasi

Akhirnya saya sadar, dibalik momen2 “Ah ternyata nggak segitunya” tersirat budaya organisasi yg luar biasa, yakni budaya apresiasi.

Saat saya baru melangkah riset, Prof. Saya sudah me”Marketing”kan saya dengan brand :”Zulkaida is the expert on the omega photoProduction .” Beliau mempromosikan saya kemana2, mempertemukan saya dengan theorist dari Rusia dan Jerman. Beliau juga mendorong saya untuk berbicara di konferensi internasional.

Bahkan, yang mengharukan adalah beliau mengalihkan undangan sebagai pembicara di Eropa ke senior saya yg mau lulus, untuk memberinya kesempatan membangun jejaring.

Padahal analisis saya masih jauh dari finish, dengan kata lain beliau mempertaruhkan reputasinya. Kan bisa saja akhirnya saya bikin malu beliau. Namun yang terjadi adalah satu lecutan agar saya bisa memenuhi ekspektasi Prof. Saya.

Seringkali kawan sekantor saya memanggil dengan antusias :”Hi zulkaida, Look what I have made!” Meski setelah saya lihat hanya sedikit improvisasi coding, tapi tetap saya bilang : “You did a great Job dude.”

Hal-hal semacam ini, alias budaya apresiasi lah yang membuat orang menjadi tekun dan bersenang2 dalam bekerja. Tak heran, alih2 “pembantaian” ketika sidang disertasi yang kita lihat malah bertaburan ungkapan2 “you did a wonderful job.”

Budaya apresiasi serta keberanian untuk memberi kesempatan pada anak muda untuk berbuat (termasuk berbuat salah) adalah salah satu kunci kreatifitas Amerika.

Ketika Leslie dewan membuat perusahaan pembangkit nuklir dengan teknologi salt molten reactor, selain usianya yg belum genap 30 dia juga belum PhD. Maka saya salut dengan beberapa Venture Capital yang mau meresikokan uangnya pada anak muda minim pengalaman.

Mungkin mereka sadar bahwa apresiasi dan memberi kesempatan adalah kunci pertumbuhan jangka panjang.

Bukankah Rasulullah juga mengangkat Usamah bin Zaid menjadi panglima saat usianya belum genap 20 tahun?

………….

Berbagai padahal?

Setiap manusia atau sekumpulan manusia (organisasi) tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya. Dan mohon maaf, saya amati orang Indonesia lebih jeli melihat keburukan alih2 kebaikan yang layak diApresiasi.

Padahal..
Bukankah Rahmat Allah mendahului Murka-Nya?

Padahal..
Ada riwayat tentang Hampir saja Allah menurukan Adzab, lalu Allah tahan karena ada hewan2 melata yang mencari Rezeki, orang2 tua yang berMunajat di waktu malam.

Padahal..
Ada riwayat tentang Malaikat yang diperintahkan untuk mengorek catatan kebaikan manusia, Allah memerintahkan malaikat untuk mencari alasan apapun agar si Manusia bisa masuk surga.

Bukankah itu semua anjuran agar kita lebih mengutamakan kebaikan yg kita lihat? Alih2 memperbesar besarkan keburukan? Mengedepankan Strength dibanding weakness? Opportunity dibanding threat?

Suatu saat ada seorang laki2 yang ingin mengadukan istrinya yang “rewel” ke Khalifah Umar. Namun ia urungkan, karena yg ia lihat justru Sayidina Umar yang diam saja ketika Istrinya ngomel2.

Kata Umar :” Saya berterima kasih karena istri saya sudah memasak, mencuci baju dsb. Jadi saya lebih baik diam bersabar saja.”

Bukankah itu anjuran untuk mengedepankan terima kasih (apresiasi) sebelum kemarahan?

………

Tiga tahun saya ngaji, inti pelajaran yg diajarkan guru saya hanya seputar : jangan membenci, jangan Suudzon, jaga Silaturahmi. Beliau jg mengajarkan tiga komponen dakwah : Benar, baik dan juga Indah.

Oleh karena itu, meski saya ini orang NU/Muhamaddiyah, tapi saya membenci dan menghindari wacana yang membenturkan antara Islam Nusantara dengan gerakan Islam TransNasional.

Meski kadang tidak sejalan dengan “political movementnya”, Namun saya mengApresiasi gerakan tarbiyah dimana bagian dari perjuangannya berbuah kebebasan BerJilbab (contohnya). Seingat saya, sampai tahun 2000an Foto ijazah mengharuskan telinga dan rambut terlihat, memaksa kawan2 putri melepas Jilbabnya.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski tidak setuju dengan ide pokok Hizbut Tahrir, Namun saya mengAmini bahwa Institusi Politik adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan dakwah. Bukankah Wali songo dulu juga mendirikan institusi politik bernama kerajaan Demak? Juga Cirebon?

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski kadang agak tidak sejalan dengan “rigid”nya kawan2 Salafi, namun saya mengApresiasi niat mereka untuk menjaga. Bukankah Lata, Uzza dan berhala2 lain di Jaman Rasul dulunya adalah orang2 sholeh? Mereka adalah orang Sholeh yang kemudian berevolusi dari dicintai, dikagumi, dikenang, hingga diJadikan berhala. Jadi saya berprasangka baik bahwa rigid nya kawan Salafi (diantaranya) adalah untuk menjaga agar kejadian memBerhalakan orang Sholeh tidak terulang lagi.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

……….

Kenapa ini penting?

Karena budaya apresiasi akan meminimalisir konflik2 yang tidak perlu alias tidak produktif.

Jaman saya kuliah, kami pernah mengadakan lokakarya yang berujung debat semalam suntuk membahas tata tertib. Seakan semuanya kompak mencari celah untuk dikritisi. Hasilnya : mangkrak!

Kini, dengan filosofi diatas saya dan satu orang kawan saya menginisiasi Indonesian student association disini. AD/ART dibuat sejam (tentu saja banyak celahnya). Lantas pelan2 mulai dari buat acara Indonesian night yang sederhana, berlanjut dengan menjalin kontak dengan persatuan Indonesia se Florida, mengundang mereka ke FSU, hingga bikin acara bareng dengan asosiasi student se-ASEAN, serta mengontak media kampus agar acara tersebut diLiput koran kampus. Semua terwujud dalam waktu kurang dari 6 bulan, dengan filosofi mengedepankan apresiasi diatas kritik.

………..

Epilog

Saat ini saya sedang membaca buku berjudul Organizing genius : The secret of Creative Collaboration. Buku ini menceritakan bagaimana cara kerja beberapa tim seperti Manhatan project (yang bikin bom atom) hingga tima rahasia “skunk works” (yang mendesain jet tempur US saat perang dunia).

Kesimpulan sederhananya, setelah memperbaiki produktifitas (inti dari tulisan saya di bagian pertama), Hal selanjutnya yg harus diperbaiki adalah tentang bagaimana sikap, mental dan attidude dalam berkelompok/organisasi (saya mulai dari budaya apresiasi di tulisan ini).

__________________________________________________________

Baca juga: Agar Tidak Menjadi Buih Part 1 : http://kamilpasca.itb.ac.id/agar-tidak-menjadi-buih-1/


Pencarian

Kalender

April 2018
M T W T F S S
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com