Results for category "Home"

124 Articles

Merawat Aset Terbaik di Internal Lembaga

+3

Hidupnya sebuah Lembaga adalah berkat adanya para pengurus, yakni keberadaan manusia-manusia di dalamnya yang menggerakkan aktivitas organisasi. Inilah satu landasan yang menjadikan pengurus/staf sebagai aset terpenting yang dimiliki organisasi, sehingga perlu menjadi prioritas untuk merawat kapasitas setiap individu pengurus. Merawat kapasitas, dalam artian agar setiap individu pengurus terus berkembang dan meningkat baik pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), serta keberadabannya (attitude).

Perihal merawat pengurus internal ini menjadi penting digaris-bawahi mengingat beragam problema organisasi bermula dari lupanya kita memperhatikan kebutuhan internal pengurus. Tidak jarang organisasi mengalokasikan waktu, perhatian dan sebagian besar sumber dayanya terlalu terfokus pada target/capaian program kerja dan semacamnya. Tidak jarang juga dengan melupakan kondisi dan kebutuhan internal. Dari sinilah mulai timbul banyak problema. Semisal, sedikitnya pengurus yang hadir pada agenda-agenda, semangat pengurus yang kian hari kian menurun, ada pula yang menghilang di tengah berjalannya amanah, seringnya mis-komunikasi, ataupun kinerja pengurus yang kurang optimal (under performance). Bermacam problema pengurus ini dipastikan akan berpengaruh pada kegagalan organisasi, yakni berjalan penuh hambatan  atau kemungkinan yang terburuk, organisasi bisa bubar sebelum selesai periodenya.

Unsur internal, yakni pengurus/staff adalah aset terpenting dan terbaik yang dimiliki sebuah lembaga. Oleh karenanya, perlu kesadaran bersama bahwa internal organisasi adalah penting, bahkan sama pentingnya dengan capaian-capaian organisasi yang sifatnya eksternal. Sebab pengurus adalah manusia, maka mari memperhatikan kebutuhan kemanusiaannya, agar para manusia ini tetap terjaga bertahan di organisasi, juga agar antar pengurus terus terjaga kesolidannya.

Untuk memberikan apa yang dibutuhkan pengurus bisa dengan merujuk pada firman Allah subhanahu wata’ala pada QS. Ibrahim : 24-25. Berisi perumpamaan yang Allah berikan untuk menjelaskan tentang manusia. Manusia dimisalkan umpama pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, serta pohon itu akan menghasilkan buah pada waktu yang tepat dengan izin Tuhannya. Perumpamaan ini menyimpan hikmah mendalam, yang jika mengambil penjelasan dari seorang ustadz, akar adalah representasi keyakinan, batang merepresentasikan kepatuhan/keta’atan manusia pada syari’at, dan buah adalah perumpamaan karya yang dihasilkan.

Adapun kaitannya dengan kehidupan sebuah Lembaga, kuatnya keyakinan dan bagusnya keta’atan para manusia di dalam Lembaga adalah seperti halnya akar dan batang (beserta cabang) pada pohon. Jika akarnya baik, tercukupi nutrisi dengan air dan pupuk, maka batangnya kokoh dan pohon itupun akan menghasilkan buah manis dan berkualitas pada waktunya. Demikianpun, manusia dengan keyakinan dan keta’atan yang baik, maka pada waktunya dia akan mampu menghasilkan karya/kebermanfaatan terbaik untuk organisasinya maupun manusia seluas-luasnya. Maka, hendaknya menjadi prioritas, untuk memastikan internal Lembaga, sebelum bergerak menuju capaian-capaian di luar sana. Allahu a’lam wahuwal musta’an.

  • PPSDM 2021
  • Referensi :

RMDKP 2018 FORSI HIMMPAS INDONESIA

Membangun Internal Organisasi. Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

+3
23 views

Abdullah bin Umar ra.

0

Nasab

Ciri Fisik

  • Berperawakan baik
  • Tubuhnya padat berisi
  • Tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek
  • Kulitnya berwarna gelap dan janggutnya disemir
  • Jika berpakaian, maka beliau senang memakai ‘imamah berwarna hitam, dan ujung jubahnya sampai pertengahan betisnya

Pertemuan dengan Rasulullah SAW

Suka meniru Rasulullah SAW 🡪 Abdullah bin Umar sehari-hari banyak menghabiskan waktu di masjid Nabawi, dan banyak merekam banyak hal baik dari Rasulullah SAW

Banyak meriwayatkan hadits 🡪 Abdullah bin Umar rajin bermajelis bersama Rasulullah dan sahabat senior lainnya. Dari kesungguhannya, beliau telah menjaga dan mengajarkan 2630 hadits Rasulullah SAW.

Perang Uhud dan Perang Khanda 🡪 Menawarkan dirinya yang masih 14 tahun, kepada Rasulullah untuk berjuang bersama di Perang Uhud, namun ditolak. Saat perang Khandaq baru Rasulullah SAW menerima keikutsertaannya.

Pendapat Rasulullah SAW dan Para Sahabat tentang Abdullah bin Umar

  • Sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik pria adalah ‘Abdullah, jika ia mendirikan qiyamullail.” (HR Bukhari No. 1121 dan Muslim No. 2479)
  • Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Sesungguhnya pemuda Quraisy yang paling menjaga dirinya dari fitnah dunia adalah ‘Abdullah bin ‘Umar.”
  • Jabir bin ‘Abdullah ra berkata, “Tak seorang pun dari kami yang memperoleh bagian dunia melainkan hatinya pasti memiliki kecondongan terhadapnya, kecuali Ibnu Umar.”

Menolak Menjadi Khalifah

Ibnu Umar sangat bergairah Ketika panggilan jihad berkumandang, namun ia anti kekerasan terlebih ketika yang bertikai adalah sesama golongan islam. Meskipun berulang kali diminta untuk menjadi khalifah, ia menolaknya dan berkata,

Demi Allah seandainya bisa, janganlah ada darah walau setetes pun tertumpah disebabkan karena aku.”

Saat itu, kondisi umat islam sedang terpecah  menjadi beberapa firqah dan saling mengangkat senjata. Sikap penolakan Abdullah, karena ia ingin netral di tengah kekalutan para pengikut Ali dan Muawiyah. Sikap itu diungkapkannya dengan pernyataan,

Siapa yang berkata ‘marilah salat’, akan kupenuhi. Siapa yang berkata ‘marilah menuju kebahagiaan’, akan kuturuti pula. Tetapi siapa yang mengatakan ‘marilah membunuh saudara kita seagama dan merampas hartanya, maka saya katakana: tidak!

Wafatnya

Beliau senantiasa iltizam dengan berbagai macam ibadah yang sangat banyak dan mengajarkan ilmu kepada para sahabat dan murid-muridnya, hingga ia bertemu ajalnya pada tahun 73 hijriyah dalam usia 86 tahun dan dikubur di kota Mekah, rahimahullah wa radhiya ‘anhu.

0
8 views

Syuro

+1
Oleh: Nugra A. Saragih (Ketua Umum Kamil Pascasarjana ITB 2021)

Syura atau syuro adalah Istilah yang berasal dari kata kerja syawara-yusyawiru yang berarti menjelaskan, menyatakan atau mengajukan dan mengambil sesuatu. Bentuk-bentuk lain yang berasal dari kata kerja syawara adalah asyara (memberi isyarat), tasyawara (berunding, saling tukar pendapat), syawir (meminta pendapat) dan mustasyir (meminta pendapat orang lain). Syura atau musyawarah adalah saling menjelaskan dan merundingkan atau saling meminta dan menukar pendapat mengenai suatu perkara [2]. Sedangkan, jika mengacu pada KBBI Musyawarah sendiri adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah. Qur’an sendiri memiliki Surah yang bernama Asy-Syura atau artinya Musyawarah Setidaknya ada tiga ayat dalam AlQur’an yang memuat tentang Syura ini yaitu:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

QS. Al Baqarah : 233

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

QS. Asy-Syura : 38

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

QS. Ali Imran 159

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Musyawarah atau Syura ini adalah nilai-nilai kemanusiaan dan sosial yang dibawa Islam, setidaknya Islam menyuruh kita bermusyawarah dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan Negara. Sebagaimanan disarikan dari Kitab Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim karya Yusuf Qardhawi.

Syuro dalam Kehidupan Individu

Ketika terdapat kegundahan dan keraguan mengambil keputusan terhadap sesuatu hendaklah melakukan dua langkah. Pertama, Istikarah kepada Allah dan berdoa kepada Allah untuk diberi pilihan yang terbaik,
dimana Rasullullah bersabda:

Ya Allah, aku beristikharah (meminta pilihan) dengan ilmu-Mu, aku memohon
kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon keutamaan-Mu.”

HR. BUKHORI

Kedua, bermusyawarah dengan orang yang dapat dipercaya pendapatnya, pengalaman, nasihat dan keikhlasannya. Fatimah binti Qais pada suatu waktu pernah meminta pendapat Rasulullah tentang pilihannya antara menikah dengan Mu’awiyah dan Abu Jahm. Kemudian Rasulullah menyarankan untuk menikah dengan Usamah Bin Zaid dengan pertimbangan dua orang tadi mempunyai keburukan bagi Fatimah bin Qais.

Syuro dalam Kehidupan Berkeluarga

Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya di QS. Al Baqarah 233, dalil pentingnya bermusyawarah antara suami-istri berkaitan tentang menyusui dan menyapih anak-anaknya, adalah salah satu contoh bagaimana aplikasi syura dalam keluarga. Selain itu, hadits Rasulullah,

Bermusya-warahlah dengan kaum perempuan (istri-istrimu) dalam urusan anak-anak”

HR. AHMAD

Dimana penjelasan hadits ini dimaksudkan para suami agar ermusyawarah dengan istrinya ketika ingin menikahkahkan anak gadisnya.

Syuro dalam Kehidupan Individu

Yusuf Qardhawi dalam kitabnya menjelaskan bahwa syura termasuk dalam sifat-sifat orang yang beriman dengan landasan QS. Asy-Syura ayat 36-38. Yang artinya:

[36] Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. [37] Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosadosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. [38] Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Maksud dari firman Allah “Sedang urusan mereka” disini adalah urusan yang bersifat umum dan sebagai kepentingan bersama.

Perintah bermusyawarah ini turun setelah perang Uhud, Ketika Rasulullah bemusywarah dengan sahabat-sahabatnya. Hasil dari musyawarah itu adalah kekalahan yang menimpa umat islam, Walaupun demikian Allah SWT tetap memerintahkan rasul-Nya untuk bermusyawarah, karena di dalamnya ada kebaikan dan keberkahan, meskipun sesekali hasilnya tidak menyenangkan, karena yang lebih penting adalah akibatnya. Islam juga memerintahkan seorang penguasa agar bermusyawarah (di satu sisi) dan
memerintahkan umat agar memberikan nasihat kepadanya (di sisi lain). Seperti diterangkan pada hadist berikut:

Agama adalah nasihat…, untuk Allah, rasul-Nya, kitab-kitabNya, para pemimpin kaum Muslimin dan rakyatnya”

(H.R. Muslim)

Rise and Fall Syuro

Rasulullah termasuk sering melakukan musyawarah. Selain pada perang Uhud tadi, beberapa keputusan penting saat perang juga dilakukan bermusyawarah saat Perang Khandaq dan peristiwa Hudaibiyah. Rentetan peristiwa tadi bisa dikatakan merupakan sebab dari keberhasilan Rasulullah dan umat islam saat itu yang bermuara pada Fathu Makkah.

Dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila juga disebutkan bahwa arah bernegara dan berbangsa kita juga berdasarkan pada musyawarah mufakat, namun sayang hal ini bertolak belakang dengan fakta kekinian dimana pihak yang memiliki kekuatan dan ‘Uang’ maka dia pula yang bisa menghasilkan keputusan, padahal Founding parents kita menunjukkan contoh yang luar biasa dalam syura atau musyawarah dimana penghapusan pada frasa “Menjalankan syariat islam” dikarenakan saudara-saudara non-muslim yang berkeberatan. Padahal, bisa
saja dengan kondisi mayoritas saat itu permintaan ditolak.

Sudah saatnya, kita sebagai generasi muda islam menyemai kembali syura atau musyawarah sebagai nilai-nilai kemanusian dan sosial yang dibawa oleh islam di setiap aktivitas, sebagai usaha agar kita termasuk dalam sifat-sifat orang yang beriman sebagaimana dijelaskan di QS. Asy-Syura ayat 38, dan sebagai usaha untuk membumikan Islam yang rahmatan lil alamin.
Allahu A’lam

Sumber tulisan:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi. 2013. Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim. Solo: Penerbit Era
    Adicitra Intermedia
  2. Syura. https://republika.co.id/berita/8100/syura . Diakses: 1 Februari 2021

+1
15 views