Category Archives: Home

  • 0

Talkshow Annisa : “Menilik Kembali Kiprah dan Peran Wanita sebagai Pencetak Karakter Bangsa”

Pemaparan materi pada Talkshow Annisa Kamil Pascasarjana ITB

BANDUNG – Kamil Pascasarjana ITB kembali mengadakan kegiatan talkshow di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB pada Sabtu, 2 Desember 2017. Talkshow kali ini mengangkat isu perempuan dan perannya di tengah era globalisasi dengan tiga pemateri luar biasa yaitu Maimon Herawati, dosen Universitas Padjajaran (Unpad) sekaligus pendiri Forum Lingkar Pena (FLP); Nadia Karina Hakman, dosen Fakultas Ekonomi Unpad yang pernah menerima Beasiswa Foundation Sampoerna dan Ummu Balqis, penulis serta Co-Founder Smart Eduplace. Talkshow dihadiri kurang lebih 153 peserta dari berbagai universitas dan masayarakat umum di Bandung dan sekitarnya.

Talkshow dimulai pukul 08.40 WIB dengan pemateri pertama yaitu Teh Maimon. Akan tetapi beliau berhalangan hadir, sehingga peserta talkshow mendapat penjelasan melalui rekaman voice note Teh Maimon. Alumni Abertay University dan Newcastle University ini menjelaskan bagaimana peran wanita dalam mengubah dunia melalui tulisan, “Menulis itu penting karena dapat mengubah opini dunia. Namun, menulis harus diiringi dengan banyak membaca. Khususnya bagi wanita diharapkan mampu untuk lebih banyak membaca. Dengan banyak membaca, maka pengetahuan kita akan semakin bertambah dan kita mampu beropini berdasarkan landasan teori.” salah satu kutipan pernyataan Teh Maimon dalam voice note-nya.

Materi kedua disampaikan oleh Teh Karin tentang merajut asa di tanah impian. Beliau sempat dijuluki “ratu beasiswa” karena senang berburu info dan sering mendapat beasiswa. Dalam pemaparan materinya, Teh Karin menegaskan bahwa yang harus dibentuk terlebih dahulu adalah asa, “Ada dua hal yang perlu kita pahami dalam menentukan harapan. Yang pertama, kita harus mengetahui apa potensi diri yang dititipkan Allah kepada kita. Kedua, kita harus jujur melihat potensi diri, ikuti dan tidak perlu menjadi orang lain.” jelas Teh Karin.

Pemateri terakhir yaitu Ummu Balqis, mengambil tema tentang pentingnya peran seorang ibu dalam membangun generasi. Banyak tokoh hebat yang terlahir dari ibu yang tak kalah hebatnya. Misalnya ibunda dari Imam Syafii yaitu Fathimah binti Ubaidillah Azdiyah. Beliau mendidik Imam Syafii hingga mampu menghafal Al-Quran ada usia 7 tahun. Penulis buku “Bukan Ibu Biasa” ini juga menuturkan bahwa seorang ibu hendaklah memiliki aqidah yang kuat, ikhlas, penyayang, mengetahui bagaimana ilmu mendidik anak, amanah kemudian juga mampu memanajemen diri dan waktu dengan baik, “Jangan lupa untuk memberi reward pada diri sendiri saat semua tugas berjalan sesuai yang diinginkan. Selain itu, bangunlah konsep me time yang berkualitas dengan pasangan dengan cara tetap membahas perkembangan anak di sela percakapan. Dengan begitu kita dapat melakukan tindakan yang tepat.”

Di penghujung materi, dibuka kesempatan untuk berdiskusi. Tema kali ini sangat menarik. Hal ini terlihat dari antusias peserta saat sesi diskusi. Pertanyaan yang diajukan juga beragam, seperti pertanyaan tentang homeschooling, support system dalam keluarga dan pada intinya komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Talkshow ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pemateri dan dilanjutkan dengan foto bersama.

Peserta Talkshow Annisa memadati GSG Masjid Salman ITB

Nur Illahi, salah seorang peserta talkshow yang berasal dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Kota Bandung mengatakan bahwa kegiatan talkshow Annisa ini sangat bagus dan temanya sangat menarik, sehingga dapat menambah pengetahuan peserta yang hadir. Mulya, mahasiswi pascasarjana angkatan 2017 jurusan Fisika yang merupakan penanggung jawab kegiatan ini menjelaskan latar belakang diangkatnya tema “Menilik Kembali Kiprah dan Peran Wanita sebagai Pencetak Karakter Bangsa” ini yaitu berangkat dari kenyataan bahwa wanita merupakan kunci dalam membangun sebuah peradaban, “Dari rahim perempuan yang mulia akan dihasilkan generasi insan berkualitas yang mampu membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh umat. Harapannya kedepan semoga kegiatan ini menjadi lebih baik lagi. ” jelas Mulya.

Penulis: Mutiara


  • 0

Ngaji bareng Ust. Evie : Siapkan Bekal Kehidupan Di Hari Akhir

BANDUNG – Closer to the end, menjadi tema kajian islam tematik yang diadakan oleh Departemen Syiar Kamil Pascasarjana ITB. Kajian tematik kali ini menghadirkan Ustad Evie Effendie, Ustad gaul Bandung yang memiliki gaya penampilan kekinian dengan ciri khas kupluk. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diselenggarakan di ruang utama Masjid Salman ITB pada hari Sabtu, 25 November 2017 pukul 15.30 WIB. Acara ini dipandu oleh moderator, Rahmat Hidayat, Mahasiswa Pascasarjana jurusan Fisika ITB. Dalam materinya, Ust. Evie menyampaikan bahwa setiap orang memiliki kuota dalam kehidupannya, setiap saat kuota kehidupan itu akan berkurang, untuk itu persiapkanlah bekal sebelum kuota hidup kita habis karena kita tidak akan selamanya tinggal di dunia ini. Dunia ini bukan tempat tinggal tetapi tempat meninggal. Mari kita hisab diri kita sebelum Allah menghisab kita.

Foto : Ust. Evie Memberikan Materi (Fotografer : Dadang)

Kegiatan berlangsung dengan lancar. Peserta yang hadir lebih dari 250 orang. “Mereka terlihat sangat antusias,” ujar Nanda Hanyfya Maulida, Mahasiswa Pascasarjana jurusan teknik panas bumi ITB, Koordinator kegiatan ini. Nanda menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah sebagai pengingat bagi kita sebagai manusia bahwa kehidupan hanya sementara dan setiap harinya kita semakin dekat dengan akhir dari hidup kita. “Harapannya melalui kegiatan ini para peserta memahami pentingnya mempersiapkan bekal untuk hari akhir, tidak hanya sibuk dengan urusan dunia,” Ujar Nanda.

Foto : Antusias Peserta (Fotografer : Dadang)

Warsita, Peserta kegiatan ini, Mahasiswa Pascasarjana jurusan teknik lingkungan ITB, mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat sekali. Dengan ikut kegiatan ini, secara pribadi jadi bahan intropeksi diri, sebenarnya bekal apa yang yang sudah dipersiapkan untuk kehidupan setelah mati. “Semoga kita semua tetap istiqomah dan terus berusaha lebih baik lagi untuk mendapatkan kebahagiaan di akhir hidup kita,” tutup Warsita.

Penulis: Damara Saputra


  • 0

Cari Tau Lebih Dalam tentang Psikologi Keluarga Pra Nikah dan Pernikahan Bersama Teh Yunita

Suasana Kajian Cakrawala

Bandung – Berbicara tentang pernikahan, tentu bukan sekedar menyatukan dua insan, melainkan juga menyatukan dua keluarga. Menikahi pasangan, berarti menikahi keluarganya pula. Keluarga menjadi pondasi awal dalam sebuah pernikahan yang kelak akan membentuk sebuah keluarga yang baru. Sebagaimana yang diungkapkan teh Yunita dalam kajian psikologi keluarga pra nikah dan pernikahan bahwa keluarga adalah suatu sistem yang bergerak dinamis. Keluarga ideal, sakinah mawaddah wa rahmah, tidak tercipta dengan sendirinya, ia melalui proses tahapan dalam pernikahan itu sendiri, bahkan sejak pra nikah. Ada begitu banyak hal dan ilmu yang seharusnya dipahami oleh pasangan yang akan menikah dan dalam pernikahan demi terwujudnya keluarga bahagia yang diharapkan.

Berangkat dari kesadaran akan pentingnya ilmu tersebut, teh Yunita atau lengkapnya Yunita Sari, M.Psi, dosen Fakultas Psikologi UNISBA, dihadirkan menjadi pembicara dalam kajian psikologi keluarga pra nikah dan pernikahan pada Jumat, 24 November 2017 yang diadakan oleh Departemen Annisa Kamil Pascasarjana ITB melalui program Cakrawala edisi ke-6, yang merupakan edisi Cakrawala yang terakhir dari kepengurusan Kamil Pascasarjana periode 2017. Bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB, acara ini dihadiri oleh sekitar 120 peserta dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa ITB, melainkan juga mahasiswa universitas lain maupun umum.

Pada kesempatan ini, teh Yunita menyampaikan beberapa fokus permasalahan yang perlu diketahui dan dipahami oleh pasangan yang hendak menikah, yaitu fokus pengenalan diri sendiri dan pasangan, kesiapan dalam menghadapi perbedaan melalui komunikasi dan interaksi yang baik dan kesiapan untuk belajar berubah dan berkembang menuju lebih baik. Kesemuanya itu termasuk ke dalam pemegang peranan dalam menekan angka perceraian yang kian tinggi di Indonesia khususnya. Teh Yunita berharap agar pasangan yang hendak menikah atau sudah menikah lebih menyadari betapa pentingnya mengasah skill dalam membentuk keluarga, melingkupi segala aspek, komunikasi, interaksi, pengendalian emosi dan lain sebagainya.

Di akhir acara, teh Yunita memberikan quoteDon’t call it Dream, call it Plan” bahwa pernikahan bukanlah sebuah mimpi belaka, melainkan sebuah perencanaan yang matang dan penuh strategi dengan tidak mengabaikan pelbagai kebutuhan yang menyertainya.

Penulis : L. Annake Harijadi Noor