Results for category "Dakwah Kreatif"

100 Articles

Hijab dan Perilaku Muslimah

0

Oleh: Departemen Kemuslimahan

Secara bahasa, hijab artinya penutup.

الحِجابُ: السِّتْرُ

Secara istilah, Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi. Diantara penerapan maknanya, hijab dimaknai dengan as-sitr (penutup), yaitu yang mengalangi sesuatu agar tidak bisa terlihat. Demikian juga al-bawwab (pintu), disebut sebagai hijab karena menghalangi orang untuk masuk.

Dengan demikian, hijab muslimah adalah segala hal yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi bagi seorang Muslimah. Jadi hijab muslimah bukan sebatas yang menutupi kepala, atau menutupi rambut, atau menutupi tubuh bagian atas saja. Namun hijab muslimah mencakup semua yang menutupi aurat dari wanita kecuali muka dan telapak tangan.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut merupakan suatu bentuk penjagaan Allah terhadap wanita-wanita Muslimah agar tetap selalu terlindungi dalam jilbab atau hijabnya. Sungguh, Allah menurunkan perintah berjilbab bukan untuk menghalangi dan mengekang wanita. Berhijab menjadi sebuah bentuk ketaatan seorang wanita muslimah kepada Allah, menunjukkan kebanggaan dan identitasnya sebagai seorang muslimah, dapat menjauhkan diri muslimah dari fitnah laki-laki fasik dan menambah pahala. Menutup aurat menjadi wajib karena saddu al-dzarī’ah, yaitu menutup pintu ke dosa yang lebih besar. Oleh karena itu, memakai jilbab (busana muslimah) adalah wajib bagi setiap pribadi muslimah.

Akhir-akhir ini, mengenakan hijab sudah menjadi sebuah trend fashion. Semakin banyak muslimah yang mengenakan hijab, baik dengan hijab syar’i ataupun hijab seadanya. Hijab syar’i adalah hijab yang sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah, yaitu menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi, kainnya tebal/tidak tipis dan transparan, longgar/tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak menyerupai pakaian lelaki, tidak menarik perhatian laki-laki yang bukan mahramnya, bukan dijadikan perhiasan dan tidak untuk tabarruj. Sementara hijab yang seadanya adalah hijab yang belum sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah, seperti tidak menutui aurat dengan benar, masih memperlihatkan lekukan tubuh dan berbahan tipis sehingga menerawang.

Prioritas utama dalam memilih pakaian adalah dapat menutup aurat dengan sempurna. Jangan sampai keinginan sebagai seorang muslimah ingin tampil menarik justru menggeser prioritas utama dalam memilih pakaian. Perintah berhijab diturunkan oleh Allah, hendaknya berhijab juga karena Allah.

Hijab dan akhlak seseorang adalah dua hal yang berbeda. Mungkin ada yang sudah berhijab namun hijabnya tidak berefek sama sekali pada akhlak dan imannya. Hijab bukan tanda muslimah menjadi malaikat atau menjadi manusia yang suci, namun sebuah proses menuju taat kepada Allah dan menutup satu pintu dosa. Yang berhijab belum tentu baik, tapi wanita muslim yang baik pasti berhijab.

Semoga kita bisa menjadi muslimah yang tetap istiqomah dan dimudahkan Allah untuk terus berproses ke arah yang lebih baik. Jangan pernah khawatir akan anggapan rezeki berkurang jika mengenakan hijab karena kesempatan kita jadi terbatas. Ingatlah bahwa Allah itu Maha Kaya, Maha Berkuasa. Jadi, jangan pernah ragukan kuasa Allah.

Jika berhijab syar’i adalah proses, yuk kita mulai prosesnya hari ini.

0
0 views

Pentingnya Tahsinul Quran

0

Oleh: Auaradha Shukura Muji* 

*Kepala Departemen Syiar dan Pelayanan KAMIL 2021 

Kata tahsin berasal dari akar kata hassana-yuhassinu memiliki persamaan  makna dengan kata jawwada-yujawwidu, yang maknanya adalah memperbagus. Adapun menurut istilah, tahsin atau tajwid adalah mengeluarkan setiap huruf dari makhraj (tempat keluar)-nya dengan memberikan haq dan mustahaq-nya. Menurut Abdul Aziz Abdur Rauf (2017: 9), yang dimaksud dengan haq huruf adalah sifat asli yang selalu bersama dengan  huruf tersebut, seperti jahr, isti’la’, istifal dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan  mustahaq huruf adalah sifat yang nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa’ dan sebagainya. 

Berdasarkan Abdul Aziz Abdur Rauf (2017: 9), hukum mempelajari ilmu tajwid secara teori  adalah fardhu kifayah, sedangkan hukum membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah fardhu ‘ain. Hal ini juga dipertegas dalam firman Allah Surat Al-Muzzammil  Ayat 4 sebagai berikut.

“…dan bacalahَ Al-Quran denganَ tartil” 

Menurut Hardi Damri (2018: 29), fi’il amar yang terdapat pada ayat di atas menunjukkan  wajib,َ sehingga bermakna “…dan wajib membaca Al-Quran dengan tartil”.َ Adapun arti dari kata tartil menurut Ali bin Abi Thalib adalah pengetahuan tentang tajwid yang berkaitan  dengan makhraj dan sifat, serta mengetahui tentang waqaf (tempat berhenti). Imam Ibnu Al-Jazari dalam kitabnya An-Nasr berkata bahwa tartil lebih umum dari pada tingkatan atau  kadar kecepatan bacaan. Ketika bacaan cepat, sedang atau lambat, jika sesuai dengan tajwid,  tadabbur,َ dan khusyu’,َ maka itu adalah bacaan yang tartil. Selain firman Allah dalam Surat  Al-Muzzammil ayat 4 di atas, dalil kewajiban membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu  tajwid juga terdapat dalam hadits riwayat Thabrani, yang artinya,  “Bacalah Al-Quran sesuai dengan cara dan suara orang-orang Arab, dan jauhilah olehmu cara  baca orang-orang ahlul kitab dan orang fasik! Sesungguhnya akan datang beberapa kaum  setelahku melagukan Al-Quran seperti nyanyian, rahbaniah (membaca tanpa tadabbur) dan  berdendang. Suara mereka tidak dapat melewati tenggorokan (tidak dapat meresap ke dalam  hati), hati mereka dan orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari  jalan yang lurus.)” 

Kewajiban membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid juga dijelaskan oleh Imam  Ibnu Al-Jazari dalam Matan Jazariyyah sebagai berikut. 

“Membaca Al-Quran dengan bertajwid hukumnya wajib. Siapa yang membacanya dengan  tidak bertajwid, maka ia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah menurunkan Al-Quran, dan  dengan tajwid pula Al-Quran sampai dari-Nya kepada kita.”

Menurut (Abdul Aziz Abdur Rauf, 2017: 13) tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah menjaga  lidah agar terhindar dari kesalahan dalam membaca Al-Quran. Kesalahan dalam membaca  Al-Quran disebut lahn. Berdasarkan Aiman Rusydi Suwaid (2017:19), lahn menurut  etimologi artinya menyimpang dari kebenaran. Sementara menurut terminologi adalah  kekeliruan dalam membaca Al-Quran. Kesalahan dalam membaca Al-Quran terbagai menjadi  dua, yakni kesalahan jelas (al-lahnul jaliy) dan kesalahan tersembunyi (al-lahnul khafiy).  Kesalahan jelas adalah kesalahan yang terjadi pada lafal, sehingga merusak makna atau i’rab (hukum tata bahasa Arab), sedangkan kesalahan tersembunyi adalah kesalahan yang terjadi  pada lafal, sehingga merusak kesempurnaan sifat-sifat lafal tersebut, meskipun tidak  menyimpang dari tempatnya. 

Berdasarkan ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa memperbaiki dan memperbagus bacaan  Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid atau yang saat ini lebih dikenal dengan Tahsinul  Quran merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Setiap muslim laki-laki maupun perempuan  memiliki kewajiban yang sama akan hal ini, sehingga dengan memperbaiki dan  memperbagus bacaan Al-Quran, dapat menjaga lidah seseorang dari kesalahaan dalam  membaca Al-Quran.  

“Apakah kita tidak merasa malu,َ jika saat ini kita telah lulus Sekolah Menengah Atas,  Sarjana, Magister, atau bahkan telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi sekelas  Doktoral pun, namun bacaan Al-Quran kita masih terbata-bata layaknya anak TPA?” 

“Jika tidak sekarang, lantas harus menunggu sampai kapan lagi? Apakah harus menunggu kematian untuk menyadarkan kita bahwa memperbaiki bacaan Al-Quran adalah sebuah  kewajiban yang perlu kita ikhtiarkan?” 

Selagi Allah masih memberikan nikmat waktu dan kesempatan kepada kita, mari bergegas  untuk memulai. Tidak ada kata terlambat bagi seseorang yang ingin memperbaiki diri demi menggapai ridha Illahi. 

DAFTAR RUJUKAN 

Damri, Hardi. 2018. Bimbingan Praktis Ilmu Tajwid. Pekanbaru: Tafaqquh Media. Rauf, Abdul Aziz Abdur. 2017. Panduan Ilmu Tajwid Aplikatif. Jakarta: Markaz Al-Quran. 

Suwaid, Aiman Rusydi. 2012. At-Tajwid Al-Mushawwar. Terjemahan oleh Mujtahid, Umar.  2017. Panduan Ilmu Tajwid Bergambar. Solo: Zamzam.

0
0 views

SJW Zaman Rasul

0

Social Justice Warior a.k.a SJW disematkan kepada para aktivis penegak keadilan, istilah ini jadi booming kembali di ruang siber. Sayangnya, saat ini konotasi SJW jadi negatif. Perkaranya, mereka yang notabene SJW dianggap sok benar dan berlebihan. Padahal, sejarah munculnya SJW “benar-benar” diperuntukan untuk menghargai para pembela keadilan.

Dimasa Rasul tidak dikenal istilah SJW tetapi ada kisah tentang Hilful Fudhul yang jadi tonggak landasan mengapa seorang muslim wajib, kudu dan mesti membela keadilan. *Dengan kekuatan bulan aku akan menghukumu, orang-orang dzolim!*

Sebelum ke kisah Hilful Fudhul, ada sebuah cerita menarik mengenai perang yang disebut sebagai Perang Fijar. Kisah Perang Fijar dan Hilful Fudhul ini terjadi sebelum fase kenabian Rasulullah. Kalau diikuti kisah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari lahir hingga sebelum kenabian, Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa menjaga dan mendidik beliau lewat lika-liku kehidupanya. Tujuanya, menempa seorang calon pemimpin. Rasul sudah sejak remaja sering mengikuti perang, salah satunya Perang Fijar ini.

Perang Fijar

Kita sering mendengar kisah tetang pasukan gajah yang hendak menyerang Ka’bah, dipimpin oleh Abrahah. Kemudian pasukan tersebut dibumi hanguskan dengan datangnya burung Ababil. Kisah ini tergambar dalam Surat Al-Fil. Dimasa kisah penyerangan Abrahah tersebut dikenal sebuah tradisi Ahlun Nasi’. Kelompok ini sangat mencintai Mekkah dan diceritakan mereka mengotori gereja Al-Qulais yang dibangun Abrahah. Nasi’, memiliki arti memperlambat sesuatu (mengundur-undur).

Buruknya kelompok ini adalah mereka suka sekali mengganti-ganti nama bulan. Pada masa ajaran Nabi Ibrahim AS hingga awal masuknya Islam diketahui ada empat bulan suci dimana peperangan dilarang terjadi di bulan tersebut yakni Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijah dan Muharram. Surah At-Taubah ayat 36 menjelaskanya :

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa (QS. At-Taubah : 36)

Dilematis bagi orang-orang Arab sebab berperang adalah sumber penghasilan mereka. Kelompok Ahlun Nasi’ ini diceritakan, untuk mensiasati aturan dilarang perang tersebut, mereka mengganti-ganti bulan. “Muharram ini gak haram, Safar yang haram. Yok, kita perang!”, kurang lebih begitulah *lucu juga sih*. Hal ini dijelaskan di Surah At-Taubah pada ayat berikutnya :

نَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. At-Taubah : 37)

Disamping tradisi Ahlun Nasi’, tradisi menyimpang lainya kaum Arab yang masih berhubungan adalah, ya tetap berperang meskipun di bulan haram. Perang di bulan haram disebut dengan Fujjar (pengkhiatan) *Kalau sekarang hukum bulan haram berperang ini sudah tiada, ini berlaku hanya sampai awal masuknya Islam saja*. Saat Rasulullah masih berusia lima belas tahun, zaman masih jahiliyah dimana siapa yang berduit, berkuasa dan gagah bebas bertindak sesuka hati *Gak cuma kera sakti ternyata yang begini*. Zaman sekarang juga masih seperti ini sih, toh kehidupan hanya sejarah yang berulang-ulang. Saat itu, meletus sebuah perang antara pihak Quraisy-Kinanah melawan Qais Ailan (Hawazin). Perang ini yang dikenal sebagai Perang Fijar karena melanggar kesucian tanah haram dan bulan suci. Rasulullah turut bergabung dalam perang ini sebagai pengumpul anak panah yang diberikan kepada paman-pamanya.

Pemicu perang adalah terbunuhnya seorang laki-laki dari Hawazin oleh seseorang Kinanah yang melarikan diri. Perang yang ditenggarai ketidakadilan ini kemudian memberikan pengaruh dimana sekelompok orang-orang di Mekkah dari beberapa kabilah Quraisy (Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib, Asad bin Abdul Uzza (Bani Asad), Zuhrah bin Kilab (Bani Zuhrah) dan Taimi bin Murrah (Bani Taimi)) berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an At-Taimi. Rasulullah, Abu Bakar turut hadir dalam pertemuan tersebut. Zubair bin Abdul Munthalib (Paman Rasul) mewakili Bani Hasyim menginisiasi pembentukan pakta kemuliaan. Hilful-Fudhul berlangsung di bulan suci, Dzulqa’dah.

Hilful-Fudhul

Hilf (sumpah, Halafah). Fudhul memiliki serangkaian makna diantaranya Haq, Hak orang-orang. Perkumpulan di rumah Abdullah bin Jud’an At-Taimi mengukuhkan sebuah kesepakatan dimana penduduk Mekkah ataupun orang-orang diluar Mekkah, siapapun mereka tidak diperkenankan teraniaya. Mereka sepakat untuk berdiri di pihak orang-orang teraniaya dan membalaskan para pelaku kezhaliman. Kesepakatan itu yang dikenal sebagai Hilful-Fudhul.

Sebab musabab Hilful-Fudhul disamping berakhirnya perang fijar dan segala ketidakadilan yang selama ini bebas melangeng ialah sebuah kejadian yang menjadi titik balik dibentuknya perjanjian bersama demi menjadi pijakan penegakan keadilan. Peristiwa itu bermula dari seorang Zubaib, pedagang dari Yaman sampai ke Mekkah membawa daganganya. Dagangan tersebut dibeli oleh Al-Ash bin Wa’il As-Sahmi ayah dari sahabat nabi Amr bin Al’Ash yang masuk islam. Al-Ash mendapatkan barang daganganya namun ia tidak mau memenuhi hak sang pedagang, ia tidak mau membayar. Al-Ash juga dikatakan berkhianat kepada sekutunya Abdud-Dad, Makhzum, Jumah, Sahm dan Adi. Sang pedangan mengadu kepada para pembesar Quraisy sayangnya tak digubris. Iapun bersyair :

ياآل فهر لمظلوم بضاعتـه.. ببطن مكة نائي الدار والنفر
ومحرم أشعث لم يقض عمرته .. يا للرجال وبين الحِجر والحَجر
البيت هذا لمن تمت مروءته .. وليس للفاجر المأفـون والغدر

Wahai keturunan Fihr! Tolonglah orang yang perdagangannya dizhalimi
Di tengah kota Mekkah, sementara ia jauh dari rumah dan sanak keluarga
Dalam kondisi berihram, rambut kusut, dan belum menyelesaikan umrahnya
Wahai para pembesar di antara dua batu (hajar Ismail dan hajar Aswad)
Sesungguhnya Baitullah ini hanya pantas untuk orang yang sempurna kehormatannya
Bukan untuk orang yang jahat dan suka berkhianat

yair saat itu selayaknya media sosial masa kini, selayaknya yang orang-orang lakukan lewat twitter do your magic. Sudah banyak kita saksikan netijen saat ini tak mengadu di pengadilan tapi berkoar lewat jari jempol. Syair memiliki kekuatan seperti itu dimasa nabi. Dikisahkan saat itu Az-Zubair bin Abdul Munthalib lewat didekatnya dan mendengar syair tersebut, dilaksanakanlah Hilful-Fudhul dan dihampirilah Al-Ash hingga hak sang pedagang terpenuhi.

Menegakan keadilan kemudian menjadi hukum syar’i bagi seorang muslim ditegaskan lewat perkataan Rasulullah,

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الإِسْلامِ لأَجَبْتُ

Aku menghadiri sebuah perjanjian di rumah Abdullah bin Jud’an. Tidaklah ada yang melebihi kecintaanku pada unta merah kecuali perjanjian ini. Andai aku diajak untuk menyepakati perjanjian ini di masa Islam, aku pun akan mendatanginya” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra no 12110, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.1900)

Setelah islam datangpun, kesepakatan Hilful-Fudhul tetap ditegakkan. Dikisahkan Husein (cucu nabi) pernah memiliki hak yang diambil oleh Gurbernur Kota Madinah, Husein berkata “bila engkau tidak beri hakku, maka aku akan mengiklankan Hilful Fudhul”. Abdulah bin Zubair yang mendengarkanya bertutur, “aku pasti membelanya meski terbunuh”.

Hilful Fudhul bermakna bekerjasama untuk menghentikan ketidakadilan, membela siapapun yang terdzolimi tanpa pandang status, sekalipun bukan umat islam. Pada masa Abasiyah sedang berjaya, pasukan Abasiyah begitu besar. Sewaktu-waktu terjadi cekcok antara beberapa orang non muslim dan berdampak hendak perang, kedua kubu yang bermusuhan tersebut memberikan surat kepada Khalifah Abasiyah. Saat itu digelar semacam pertemuan untuk mengumpulkan saran. Semua menyarankan untuk membiarkan saja, toh keduanya bukan dari golongan muslim. Namun, satu orang diantaranya memberikan suara yang berlainan. Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi seluruh umuat. Kewajiban dari kita untuk membela siapa yang benar. Akhirnya, diantara kedua kubu tersebutpun ditentukan siapa yang teraniaya dan ialah yang dibela.

SJW atau bukan, power ranger atau tidak. Kita berhak menegakan keadilan dan berdiri disamping mereka yang teraniaya, mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah.

Sumber :

Sirah Nabawiyah, ditulis oleh Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri tahun 2008 (Halaman 54-55)

Kajian Sirah Nabawiyah oleh Ust. Khalid Basalamah, Sirah Nabawiyah 5 (Fase-fase Sebelum Kenabian)

Kajian Sirah Nabawiyah oleh Ust. Muh. Elvandi di Masjid Al-Murabi, Bandung (Muhammad Muda)

Link website :

https://muslim.or.id/13509-peristiwa-hilful-fudhul.html

https://islam.nu.or.id/post/read/100414/rasulullah-hilful-fudhul-dan-upaya-menegakkan-keadilan

Artikel serupa dimuat pada blog pribadi penulis (MK)

0
23 views