Results for category "artikel pekanan"

24 Articles

Hijab dan Perilaku Muslimah

0

Oleh: Departemen Kemuslimahan

Secara bahasa, hijab artinya penutup.

الحِجابُ: السِّتْرُ

Secara istilah, Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi. Diantara penerapan maknanya, hijab dimaknai dengan as-sitr (penutup), yaitu yang mengalangi sesuatu agar tidak bisa terlihat. Demikian juga al-bawwab (pintu), disebut sebagai hijab karena menghalangi orang untuk masuk.

Dengan demikian, hijab muslimah adalah segala hal yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi bagi seorang Muslimah. Jadi hijab muslimah bukan sebatas yang menutupi kepala, atau menutupi rambut, atau menutupi tubuh bagian atas saja. Namun hijab muslimah mencakup semua yang menutupi aurat dari wanita kecuali muka dan telapak tangan.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut merupakan suatu bentuk penjagaan Allah terhadap wanita-wanita Muslimah agar tetap selalu terlindungi dalam jilbab atau hijabnya. Sungguh, Allah menurunkan perintah berjilbab bukan untuk menghalangi dan mengekang wanita. Berhijab menjadi sebuah bentuk ketaatan seorang wanita muslimah kepada Allah, menunjukkan kebanggaan dan identitasnya sebagai seorang muslimah, dapat menjauhkan diri muslimah dari fitnah laki-laki fasik dan menambah pahala. Menutup aurat menjadi wajib karena saddu al-dzarī’ah, yaitu menutup pintu ke dosa yang lebih besar. Oleh karena itu, memakai jilbab (busana muslimah) adalah wajib bagi setiap pribadi muslimah.

Akhir-akhir ini, mengenakan hijab sudah menjadi sebuah trend fashion. Semakin banyak muslimah yang mengenakan hijab, baik dengan hijab syar’i ataupun hijab seadanya. Hijab syar’i adalah hijab yang sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah, yaitu menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi, kainnya tebal/tidak tipis dan transparan, longgar/tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak menyerupai pakaian lelaki, tidak menarik perhatian laki-laki yang bukan mahramnya, bukan dijadikan perhiasan dan tidak untuk tabarruj. Sementara hijab yang seadanya adalah hijab yang belum sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah, seperti tidak menutui aurat dengan benar, masih memperlihatkan lekukan tubuh dan berbahan tipis sehingga menerawang.

Prioritas utama dalam memilih pakaian adalah dapat menutup aurat dengan sempurna. Jangan sampai keinginan sebagai seorang muslimah ingin tampil menarik justru menggeser prioritas utama dalam memilih pakaian. Perintah berhijab diturunkan oleh Allah, hendaknya berhijab juga karena Allah.

Hijab dan akhlak seseorang adalah dua hal yang berbeda. Mungkin ada yang sudah berhijab namun hijabnya tidak berefek sama sekali pada akhlak dan imannya. Hijab bukan tanda muslimah menjadi malaikat atau menjadi manusia yang suci, namun sebuah proses menuju taat kepada Allah dan menutup satu pintu dosa. Yang berhijab belum tentu baik, tapi wanita muslim yang baik pasti berhijab.

Semoga kita bisa menjadi muslimah yang tetap istiqomah dan dimudahkan Allah untuk terus berproses ke arah yang lebih baik. Jangan pernah khawatir akan anggapan rezeki berkurang jika mengenakan hijab karena kesempatan kita jadi terbatas. Ingatlah bahwa Allah itu Maha Kaya, Maha Berkuasa. Jadi, jangan pernah ragukan kuasa Allah.

Jika berhijab syar’i adalah proses, yuk kita mulai prosesnya hari ini.

0
0 views

Semakin di depan dengan Kamil Mengajar

0

Gimana kabarnya akang dan teteh Kamilian? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. dimanapun kalian berada.

Ilmu manusia bisa dibilang aslinya sedikit. Jika dirunutkan, hanya sepersekian bagian dari ilmunya Allah SWT. Maka rasanya jauh terasa lebih bermanfaat hidup dengan berbagi ilmu yang kita punya. Percaya atau tidak, bahwa berbagi ilmu itu dapat menghasilkan energi positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Ketika berbagi diniatkan dengan niat yang lurus maka tanpa disadari banyak kebaikan bermunculan mulai dari rasa bahagia, kepuasan dalam benak diri, menjalin silaturahmi, membuka wawasan seseorang dan yang paling mulia adalah memberantas kebodohan, yaitu mengubah dari sebelumnya tidak tahu menjadi tahu karena berbagi ilmu salah satu bentuk usaha dalam belajar dan mengajarkan.

Seperti disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas RA., Rasul SAW. bersabda; “Barang siapa yang berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menunjukkan apa yang belum diketahuinya.” MasyAllah, ya… ternyata setelah kita kuak berbagi sebagai jalan baru dalam mengamalkan ilmu. Bisa jadi ilmu yang kita sampaikan menjadi amalan kebaikan yang membuka pintu surga untuk setiap orang yang ingin berbagi karena ilmu pun amalan yang tidak mengenal batas jarak dan waktu.

Alhasil konsep berbagi ilmu pun menyesuaikan kondisi agar tetap bisa memberikan semangat ditengah pandemi. Tahun 2021, melalui gerakan bersama, Kamil Mengajar hadir kembali dengan rangkaian acara untuk adik-adik Panti Asuhan Mitra Muslim Bandung maupun di rumah belajar non-formal Rita Home Library. Kegiatan sosial ini diharapkan menumbuhkan kembali semangat belajar mereka.

Lalu bagaimana konsep di tahun ini ? tetap stay tune di sosial media kami yah.

Departemen Eksternal
KAMIL Pascasarjana ITB 2021
#SharingIsCaring #KnowledgeSharing

0
6 views

Pentingnya Tahsinul Quran

0

Oleh: Auaradha Shukura Muji* 

*Kepala Departemen Syiar dan Pelayanan KAMIL 2021 

Kata tahsin berasal dari akar kata hassana-yuhassinu memiliki persamaan  makna dengan kata jawwada-yujawwidu, yang maknanya adalah memperbagus. Adapun menurut istilah, tahsin atau tajwid adalah mengeluarkan setiap huruf dari makhraj (tempat keluar)-nya dengan memberikan haq dan mustahaq-nya. Menurut Abdul Aziz Abdur Rauf (2017: 9), yang dimaksud dengan haq huruf adalah sifat asli yang selalu bersama dengan  huruf tersebut, seperti jahr, isti’la’, istifal dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan  mustahaq huruf adalah sifat yang nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa’ dan sebagainya. 

Berdasarkan Abdul Aziz Abdur Rauf (2017: 9), hukum mempelajari ilmu tajwid secara teori  adalah fardhu kifayah, sedangkan hukum membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah fardhu ‘ain. Hal ini juga dipertegas dalam firman Allah Surat Al-Muzzammil  Ayat 4 sebagai berikut.

“…dan bacalahَ Al-Quran denganَ tartil” 

Menurut Hardi Damri (2018: 29), fi’il amar yang terdapat pada ayat di atas menunjukkan  wajib,َ sehingga bermakna “…dan wajib membaca Al-Quran dengan tartil”.َ Adapun arti dari kata tartil menurut Ali bin Abi Thalib adalah pengetahuan tentang tajwid yang berkaitan  dengan makhraj dan sifat, serta mengetahui tentang waqaf (tempat berhenti). Imam Ibnu Al-Jazari dalam kitabnya An-Nasr berkata bahwa tartil lebih umum dari pada tingkatan atau  kadar kecepatan bacaan. Ketika bacaan cepat, sedang atau lambat, jika sesuai dengan tajwid,  tadabbur,َ dan khusyu’,َ maka itu adalah bacaan yang tartil. Selain firman Allah dalam Surat  Al-Muzzammil ayat 4 di atas, dalil kewajiban membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu  tajwid juga terdapat dalam hadits riwayat Thabrani, yang artinya,  “Bacalah Al-Quran sesuai dengan cara dan suara orang-orang Arab, dan jauhilah olehmu cara  baca orang-orang ahlul kitab dan orang fasik! Sesungguhnya akan datang beberapa kaum  setelahku melagukan Al-Quran seperti nyanyian, rahbaniah (membaca tanpa tadabbur) dan  berdendang. Suara mereka tidak dapat melewati tenggorokan (tidak dapat meresap ke dalam  hati), hati mereka dan orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari  jalan yang lurus.)” 

Kewajiban membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid juga dijelaskan oleh Imam  Ibnu Al-Jazari dalam Matan Jazariyyah sebagai berikut. 

“Membaca Al-Quran dengan bertajwid hukumnya wajib. Siapa yang membacanya dengan  tidak bertajwid, maka ia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah menurunkan Al-Quran, dan  dengan tajwid pula Al-Quran sampai dari-Nya kepada kita.”

Menurut (Abdul Aziz Abdur Rauf, 2017: 13) tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah menjaga  lidah agar terhindar dari kesalahan dalam membaca Al-Quran. Kesalahan dalam membaca  Al-Quran disebut lahn. Berdasarkan Aiman Rusydi Suwaid (2017:19), lahn menurut  etimologi artinya menyimpang dari kebenaran. Sementara menurut terminologi adalah  kekeliruan dalam membaca Al-Quran. Kesalahan dalam membaca Al-Quran terbagai menjadi  dua, yakni kesalahan jelas (al-lahnul jaliy) dan kesalahan tersembunyi (al-lahnul khafiy).  Kesalahan jelas adalah kesalahan yang terjadi pada lafal, sehingga merusak makna atau i’rab (hukum tata bahasa Arab), sedangkan kesalahan tersembunyi adalah kesalahan yang terjadi  pada lafal, sehingga merusak kesempurnaan sifat-sifat lafal tersebut, meskipun tidak  menyimpang dari tempatnya. 

Berdasarkan ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa memperbaiki dan memperbagus bacaan  Al-Quran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid atau yang saat ini lebih dikenal dengan Tahsinul  Quran merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Setiap muslim laki-laki maupun perempuan  memiliki kewajiban yang sama akan hal ini, sehingga dengan memperbaiki dan  memperbagus bacaan Al-Quran, dapat menjaga lidah seseorang dari kesalahaan dalam  membaca Al-Quran.  

“Apakah kita tidak merasa malu,َ jika saat ini kita telah lulus Sekolah Menengah Atas,  Sarjana, Magister, atau bahkan telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi sekelas  Doktoral pun, namun bacaan Al-Quran kita masih terbata-bata layaknya anak TPA?” 

“Jika tidak sekarang, lantas harus menunggu sampai kapan lagi? Apakah harus menunggu kematian untuk menyadarkan kita bahwa memperbaiki bacaan Al-Quran adalah sebuah  kewajiban yang perlu kita ikhtiarkan?” 

Selagi Allah masih memberikan nikmat waktu dan kesempatan kepada kita, mari bergegas  untuk memulai. Tidak ada kata terlambat bagi seseorang yang ingin memperbaiki diri demi menggapai ridha Illahi. 

DAFTAR RUJUKAN 

Damri, Hardi. 2018. Bimbingan Praktis Ilmu Tajwid. Pekanbaru: Tafaqquh Media. Rauf, Abdul Aziz Abdur. 2017. Panduan Ilmu Tajwid Aplikatif. Jakarta: Markaz Al-Quran. 

Suwaid, Aiman Rusydi. 2012. At-Tajwid Al-Mushawwar. Terjemahan oleh Mujtahid, Umar.  2017. Panduan Ilmu Tajwid Bergambar. Solo: Zamzam.

0
0 views