Cari Tau Lebih Dalam tentang Psikologi Keluarga Pra Nikah dan Pernikahan Bersama Teh Yunita

Suasana Kajian Cakrawala

Bandung – Berbicara tentang pernikahan, tentu bukan sekedar menyatukan dua insan, melainkan juga menyatukan dua keluarga. Menikahi pasangan, berarti menikahi keluarganya pula. Keluarga menjadi pondasi awal dalam sebuah pernikahan yang kelak akan membentuk sebuah keluarga yang baru. Sebagaimana yang diungkapkan teh Yunita dalam kajian psikologi keluarga pra nikah dan pernikahan bahwa keluarga adalah suatu sistem yang bergerak dinamis. Keluarga ideal, sakinah mawaddah wa rahmah, tidak tercipta dengan sendirinya, ia melalui proses tahapan dalam pernikahan itu sendiri, bahkan sejak pra nikah. Ada begitu banyak hal dan ilmu yang seharusnya dipahami oleh pasangan yang akan menikah dan dalam pernikahan demi terwujudnya keluarga bahagia yang diharapkan.

Berangkat dari kesadaran akan pentingnya ilmu tersebut, teh Yunita atau lengkapnya Yunita Sari, M.Psi, dosen Fakultas Psikologi UNISBA, dihadirkan menjadi pembicara dalam kajian psikologi keluarga pra nikah dan pernikahan pada Jumat, 24 November 2017 yang diadakan oleh Departemen Annisa Kamil Pascasarjana ITB melalui program Cakrawala edisi ke-6, yang merupakan edisi Cakrawala yang terakhir dari kepengurusan Kamil Pascasarjana periode 2017. Bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB, acara ini dihadiri oleh sekitar 120 peserta dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa ITB, melainkan juga mahasiswa universitas lain maupun umum.

Pada kesempatan ini, teh Yunita menyampaikan beberapa fokus permasalahan yang perlu diketahui dan dipahami oleh pasangan yang hendak menikah, yaitu fokus pengenalan diri sendiri dan pasangan, kesiapan dalam menghadapi perbedaan melalui komunikasi dan interaksi yang baik dan kesiapan untuk belajar berubah dan berkembang menuju lebih baik. Kesemuanya itu termasuk ke dalam pemegang peranan dalam menekan angka perceraian yang kian tinggi di Indonesia khususnya. Teh Yunita berharap agar pasangan yang hendak menikah atau sudah menikah lebih menyadari betapa pentingnya mengasah skill dalam membentuk keluarga, melingkupi segala aspek, komunikasi, interaksi, pengendalian emosi dan lain sebagainya.

Di akhir acara, teh Yunita memberikan quoteDon’t call it Dream, call it Plan” bahwa pernikahan bukanlah sebuah mimpi belaka, melainkan sebuah perencanaan yang matang dan penuh strategi dengan tidak mengabaikan pelbagai kebutuhan yang menyertainya.

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>