Blog

Ngaji bareng Ust. Evie : Siapkan Bekal Kehidupan Di Hari Akhir

BANDUNG – Closer to the end, menjadi tema kajian islam tematik yang diadakan oleh Departemen Syiar Kamil Pascasarjana ITB. Kajian tematik kali ini menghadirkan Ustad Evie Effendie, Ustad gaul Bandung yang memiliki gaya penampilan kekinian dengan ciri khas kupluk. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diselenggarakan di ruang utama Masjid Salman ITB pada hari Sabtu, 25 November 2017 pukul 15.30 WIB. Acara ini dipandu oleh moderator, Rahmat Hidayat, Mahasiswa Pascasarjana jurusan Fisika ITB. Dalam materinya, Ust. Evie menyampaikan bahwa setiap orang memiliki kuota dalam kehidupannya, setiap saat kuota kehidupan itu akan berkurang, untuk itu persiapkanlah bekal sebelum kuota hidup kita habis karena kita tidak akan selamanya tinggal di dunia ini. Dunia ini bukan tempat tinggal tetapi tempat meninggal. Mari kita hisab diri kita sebelum Allah menghisab kita.

Foto : Ust. Evie Memberikan Materi (Fotografer : Dadang)

Kegiatan berlangsung dengan lancar. Peserta yang hadir lebih dari 250 orang. “Mereka terlihat sangat antusias,” ujar Nanda Hanyfya Maulida, Mahasiswa Pascasarjana jurusan teknik panas bumi ITB, Koordinator kegiatan ini. Nanda menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah sebagai pengingat bagi kita sebagai manusia bahwa kehidupan hanya sementara dan setiap harinya kita semakin dekat dengan akhir dari hidup kita. “Harapannya melalui kegiatan ini para peserta memahami pentingnya mempersiapkan bekal untuk hari akhir, tidak hanya sibuk dengan urusan dunia,” Ujar Nanda.

Foto : Antusias Peserta (Fotografer : Dadang)

Warsita, Peserta kegiatan ini, Mahasiswa Pascasarjana jurusan teknik lingkungan ITB, mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat sekali. Dengan ikut kegiatan ini, secara pribadi jadi bahan intropeksi diri, sebenarnya bekal apa yang yang sudah dipersiapkan untuk kehidupan setelah mati. “Semoga kita semua tetap istiqomah dan terus berusaha lebih baik lagi untuk mendapatkan kebahagiaan di akhir hidup kita,” tutup Warsita.

Penulis: Damara Saputra

17 views

Cari Tau Lebih Dalam tentang Psikologi Keluarga Pra Nikah dan Pernikahan Bersama Teh Yunita

Suasana Kajian Cakrawala

Bandung – Berbicara tentang pernikahan, tentu bukan sekedar menyatukan dua insan, melainkan juga menyatukan dua keluarga. Menikahi pasangan, berarti menikahi keluarganya pula. Keluarga menjadi pondasi awal dalam sebuah pernikahan yang kelak akan membentuk sebuah keluarga yang baru. Sebagaimana yang diungkapkan teh Yunita dalam kajian psikologi keluarga pra nikah dan pernikahan bahwa keluarga adalah suatu sistem yang bergerak dinamis. Keluarga ideal, sakinah mawaddah wa rahmah, tidak tercipta dengan sendirinya, ia melalui proses tahapan dalam pernikahan itu sendiri, bahkan sejak pra nikah. Ada begitu banyak hal dan ilmu yang seharusnya dipahami oleh pasangan yang akan menikah dan dalam pernikahan demi terwujudnya keluarga bahagia yang diharapkan.

Berangkat dari kesadaran akan pentingnya ilmu tersebut, teh Yunita atau lengkapnya Yunita Sari, M.Psi, dosen Fakultas Psikologi UNISBA, dihadirkan menjadi pembicara dalam kajian psikologi keluarga pra nikah dan pernikahan pada Jumat, 24 November 2017 yang diadakan oleh Departemen Annisa Kamil Pascasarjana ITB melalui program Cakrawala edisi ke-6, yang merupakan edisi Cakrawala yang terakhir dari kepengurusan Kamil Pascasarjana periode 2017. Bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB, acara ini dihadiri oleh sekitar 120 peserta dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa ITB, melainkan juga mahasiswa universitas lain maupun umum.

Pada kesempatan ini, teh Yunita menyampaikan beberapa fokus permasalahan yang perlu diketahui dan dipahami oleh pasangan yang hendak menikah, yaitu fokus pengenalan diri sendiri dan pasangan, kesiapan dalam menghadapi perbedaan melalui komunikasi dan interaksi yang baik dan kesiapan untuk belajar berubah dan berkembang menuju lebih baik. Kesemuanya itu termasuk ke dalam pemegang peranan dalam menekan angka perceraian yang kian tinggi di Indonesia khususnya. Teh Yunita berharap agar pasangan yang hendak menikah atau sudah menikah lebih menyadari betapa pentingnya mengasah skill dalam membentuk keluarga, melingkupi segala aspek, komunikasi, interaksi, pengendalian emosi dan lain sebagainya.

Di akhir acara, teh Yunita memberikan quoteDon’t call it Dream, call it Plan” bahwa pernikahan bukanlah sebuah mimpi belaka, melainkan sebuah perencanaan yang matang dan penuh strategi dengan tidak mengabaikan pelbagai kebutuhan yang menyertainya.

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

36 views

Langit Bulan November

Credit: cerita.picmix.it

Apa kabar langit?

Kau tau sekarang bulan sudah berganti. Oktober telah berlalu dan kini November datang menyapa. Tentu dengan tawaran kenampakan yang berbeda di langitmu. Sang pemburu bersabuk deretan tiga bintang pun muncul menggantikan posisi musuh besar yang mengejarnya, sang kalajengking berjantung Antares. Pun dengan tawaran kisah yang berbeda yang terjadi di bawah naunganmu.

It was dawn at that time. Aku mengamati langit di balkon atap rumah seperti biasa, ditemani beberapa potong roti. Sirius yang tertangkap indra penglihatku tepat di zenith, rupanya malu-malu untuk kutatap lebih lama lagi, karena saat itu juga gawaiku tiba-tiba berdering.

Tidak biasanya, batinku.

Pikir saja siapa yang menelepon dini hari begini kalau bukan karena barangkali dia mengigau. Mau tak mau kuraih gawai, layarnya berkedip, menampilkan sederet nomor sang penelepon. Kuberanikan diri mengangkat, meskipun agak sedikit takut.

“Halo? Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam, benar ini Kisya?”

Deg, aku terkejut. Kenapa dia bisa tau namaku, batinku.

“Si, siapa ini?” aku agak terbata-bata.

“Ini bener Kisya, kan? Aku Faris. Do you still remember me?”

Tepat setelah kalimat pertanyaannya selesai sempurna tertangkap oleh indra pendengarku, memoriku sekejap memburat. Seakan berputar-putar di sebuah lorong waktu dan akhirnya terlempar ke waktu 9 tahun yang lalu. Masa SMP.

“Halo? Kisya? Masih disitu, kan?”

“Eh… I, iya…” aku gelagapan,”Faris? Iya, aku ingat…”

“Syukurlah…” terdengar ia seperti menghela nafas lega, sedang aku masih terdiam, bingung.

“Apa kabar, Kisya?” pertanyaannya memecah keheningan. Lebih tepatnya memecah lamunanku.

“Eh, baik,” spontan saja kemudian beberapa pertanyaan meluncur deras dari lisanku,”Faris, ada apa, ya? Kenapa menelepon dini hari begini? Bagaimana kamu bisa tau kalau aku terjaga?”

Hening sejenak.

“Aduh, Kisya… Satu-satu dong tanyanya.”

Aku nyengir.

Well, Kisya, semua pertanyaanmu jawabannya hanya satu.”

Aku mengernyitkan dahi, heran, “Apa?”

Social Media,” ucapnya singkat, kemudian terdengar seperti suara terkekeh.

“Selama 2 bulan terakhir ini aku mengikutimu di hampir semua media sosialmu,” lanjutnya cepat, seakan tidak mau membuatku lama-lama dirundung keheranan, “Dan aku mendapat kontak dari sahabatmu, Siera. Terdengar seperti seorang stalker?

Whaat?” aku terkejut,”Are you kidding me? Faris, kamu gak ada habisnya buat aku terkejut-kejut dan jadi keheranan. God, mimpi apa aku semalam.” Tanpa sadar aku menepuk jidat.

Lagi-lagi terdengar suara terkekeh dari seberang telepon.

“Medial sosialmu, Kisya. Aku tau kamu suka mengamati langit malam…”

*

Seminggu berselang sejak Faris meneleponku untuk pertama kali dan sudah seminggu itu pula malam-malam pengamatanku menjadi lebih ramai. Bukan hanya oleh “celotehan” bintang-bintang seperti biasanya, tetapi juga oleh celotehan dua anak manusia yang dipertemukan oleh sebuah alat komunikasi ajaib bernama gawai.

Banyak cerita yang bergulir selama seminggu ini. Saling bertukar pengalaman, bercerita tentang perjalanan hidup, rutinitas sehari-hari dan apapun, basa-basi, mungkin. Hingga bercerita tentang bintang-bintang. Menerjemahkan apa yang menjadi “celotehan” mereka ke dalam bahasa manusia. Suatu saat aku pernah bercerita tentang bagaimana sang pemburu bangsa Boetia yang tampan dan perkasa, Orion, dengan angkuhnya mengatakan akan memusnahkan semua hewan buas di Bumi dan mempersembahkannya kepada Aurora, kekasihnya. Namun pada akhirnya Orion justru tewas akibat lesatan anak panah Diana yang dikaburkan pandangannya oleh Apollo saat akan menolong Orion dari kejaran seekor kalajengking raksasa, Scorpio. Tragis. Sebuah cerita kolosal khas mitologi Yunani yang bertahan sampai sekarang.

“Kalau aku jadi Orion, aku tidak akan melakukan hal yang seperti itu…”

Suara dari seberang telepon itu membuatku terhenyak.

“Lantas?” aku bertanya usil.

“Daripada harus mengumbar perkataan akan memusnahkan semua hewan buas di Bumi, lebih baik aku katakan akan mempersembahkan semua bintang di langit kepada kekasihku,” Faris terdengar berapi-api.

“Kamu punya kekasih?” tanyaku spontan. Hampir tak sadar aku melontarkan pertanyaan itu.

“Eh?”

*

12 November 2018. Tepat pukul 2:00 dini hari. Aku terbangun. Seperti hari-hari sebelumnya. Yang berbeda mungkin gawai akan kembali berdering beberapa menit setelah ini. Faris akan meneleponku. Dan seperti biasa, sembari menunggu, aku mengambil air wudlu dan melaksanakan qiyamul lail terlebih dulu.

Pukul 2:30 dini hari.

Aku telah selesai melaksanakan shalat. Namun gawai bergeming tak kunjung berdering. Aku memasak air untuk membuat segelas teh sekedar menemani pengamatanku hari ini, sembari sesekali melihat layar gawai—berharap Faris segera meneleponku.

Segelas teh hangat kini sudah menemaniku duduk di balkon, bersebalahan dengan gawai yang kubiarkan tegeletak begitu saja. Sesekali kutatap langit, mengintip teropong bintang, kemudian mencuri-curi pandang ke arah gawai. Planisfer masih saja kugenggam, bersanding dengan gadget layar lebar yang tengah menampilkan peta langit digital. Perasaan gelisah mulai menjalari hati yang sudah lebih dulu dipenuhi tanda tanya.

Akhirnya aku tidak bisa menahan kegelisahanku. Kuketik sebaris kalimat pesan singkat untuk Faris.

Kemana? Belum bangun kah?|

Namun kuurungkan niat untuk mengirimnya. Agak canggung memang. Karena aku sendiri tidak terbiasa berkirim pesan singkat dengan Faris. Komunikasi kami hanyalah telepon dini hari. Hingga akhirnya aku cukupkan pengamatan kali ini. Kuputuskan untuk tidak melanjutkannya hingga adzan Shubuh menjelang seperti biasanya.

*

Adzan Shubuh membangunkanku. Ternyata tak sadar aku malah terlelap. Masih mengerjap-ngerjap dan berusaha bangun mengambil wudlu. Seusai shalat Shubuh, aku kembali naik ke balkon. Menggenggam al Quran, berusaha menenangkan hati penuh tanya. Membaca ayat-ayat Allah yang indah seolah turut bertasbih mengagungkan nama Allah bersama seluruh makhluk di bawah langit fajar bulan November. Kemudian menunggu hingga menyembulnya matahari dari ufuk timur. Sejak dini hari ini, sejak Faris tidak menelepon, entah perasaan macam apa yang tengah mengusik hati. Suasana yang tidak biasa.

Huff… aku menghela nafas, membaringkan tubuh di balkon. Menjelang akhir pekan selalu terasa santai, sejenak melepas penat rutinitas memperjuangkan tahun terakhir di perkuliahan, membuatku bisa lebih lama bercengkrama dengan langit, dengan Matahari, hingga aku turun ke dalam rumah tatkala ia setinggi sepenggala tombak.

“Kisya..!”

Terkejut, aku beranjak. Suara ibuku terdengar memanggilku.

“Iya, bu…” aku segera mendatangi ibu yang tengah berdiri menungguku di ruang depan. Sudut mataku menangkap sesuatu yang ibu bawa. Sebuah amplop coklat besar. Seakan bisa membaca pikiranku, ibu langsung menyodorkannya padaku.

“Ini ada surat, sepertinya dari kemarin. Maaf kemarin ibu tidak sempat mengecek kotak surat,” ibu berucap tanpa sempat aku mengeluarkan sebuah pertanyaan.

Aku hanya mengangguk.

Segera setelah pamit ke dalam kamar, amplop coklat kubuka. Benar. Secarik kertas. Sebuah surat.

“Bismillah,

Assalamualaikum, Kisya.

Maaf mungkin ini akan membuatmu sedikit terkejut. Dari tempatku disini, di kota batik akan kusampaikan sesuatu hal menuju tempatmu disana, di kota kembang. Sengaja aku menulis surat, dengan tega tanpa mempedulikan arus kecanggihan teknologi yang deras demi niatku ini.

Kisya… Maaf sekali lagi kalau mungkin aku sudah bersikap lancang dan membuatmu jadi merasa tidak nyaman. Sejak aku mengenalmu dan pada akhirnya selama seminggu kemarin kita bisa berkomunikasi kembali, aku merasakan hal yang berbeda. Ada sesuatu yang menelisik dan menggelitik perasaanku. Aku mencoba mencari-cari apa itu dan setelah sekian lama aku memikirkannya, aku merasa semakin yakin. Bahwa sebenarnya apa yang kucari itu sesuatu yang mungkin kita sebut ‘cinta’.

Kita sama-sama tau, baru seminggu kemarin kita berkomunikasi kembali setelah 9 tahun kita terpisah. Dan sangat tidak logis kalau waktu yang singkat itu bisa menumbuhkan perasaan cinta. Tapi sayangnya, cinta barangkali tidak mengenal kata ‘logis’. Cinta bisa tumbuh dimana saja dan kapan saja. Bahkan di atas tanah yang tandus ketika kemarau sekalipun.

Aku tidak berharap banyak. Karena aku sadar betul siapa aku, dan siapa kamu. Aku tidak memaksamu untuk bisa menerima keberadaanku. Hanya kalau kamu mau menerimaku, balaslah surat ini.

Segera setelah surat balasanmu sampai padaku, aku akan pergi kesana, menuju kotamu. Menuju rumahmu. Kuajak kedua orangtuaku untuk menemuimu. Akan aku perkenalkan seorang dewi yang kecantikannya melebihi Aurora kepada mereka, yang kepadanya akan aku persembahkan semua bintang di langit.

Salam, Faris.”

Tanpa sadar air mataku sudah mengucur membasahi sebagian badan surat. Entah kemudian perasaan apa lagi yang tengah tercampur aduk di dalam hati. Sebentar saja akan aku ceritakan isi surat ini kepada ibu dan aku akan menyiapkan selembar kertas dengan tintanya.

*

Karena kami menatap langit yang sama. Langit bulan November.

 

L. Annake Harijadi Noor. 11/11/17.

Di bawah naungan langit pagi hari bulan November.

31 views