Author

32 posts

Literasi dengan Membaca dan Menulis Secara Tuntas

0

View post on imgur.com

Gambar ilustrasi membaca berita di media digital.

Sumber: https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/kontributor/membaca-lewat-gadget-lebih-asyik


Kegiatan membaca di kalangan anak muda Indonesia saat ini sebenarnya sudah mulai banyak dilakukan. Bukankah kita begitu sering menghabiskan waktu di depan gadget? Tentu saja salah satunya membuka media sosial untuk membaca apapun yang dapat dibaca.

Hanya saja, terkadang apa yang dibaca tidak diiringi dengan tingkat kualitas membaca dan kemampuan memahami isi bacaan yang baik.

Hanya saja, terkadang apa yang dibaca tidak diiringi dengan kualitas dan kemampuan memahami isi bacaan dengan baik

Tetapi kita ingin sekali bisa membagikan informasi tentang apapun sehingga seringkali terjadi begitu banyak berita hoax yang dengan cepat tersebar.

Hal ini disebabkan kebanyakan dari kita tidak pernah membaca sampai tuntas, kadang hanya membaca judul saja, kadang satu kalimat awal saja, ataupun satu paragraf dan bisa jadi kita membaca sampai akhir, tapi sayangnya, kita hanya berhenti sampai disana. Kita tidak benar-benar berniat utuk memahami bacaan dengan baik. Misalnya, mencari referensi lain yang merupakan salah satu cara memahami isi bacaan yang telah dibaca sehingga pengetahuan yang baru didapatkan dari membaca suatu berita bisa terintegrasi secara baik dan dapat diketahui kebenarannya.

Hal ini disebabkan karena kebanyakan dari kita tidak pernah membaca sampai tuntas, kadang hanya membaca judul saja, satu kalimat awal, ataupun satu paragraph. Walaupun dibaca sampai akhir, kita tidak benar-benar berniat utuk memahami bacaan dengan baik. Misalnya, mencari referensi untuk membandingkan isi bacaan yang telah dibaca, sehingga hasil dari bacaan yang kita dapatkan bisa terintegrasi secara baik dan dapat diketahui kebenarannya.

Menurut penulis, satu hal yang lupa kita sadari mengapa budaya literasi belum benar-benar melekat dalam diri anak muda Indonesia saat ini, yaitu kebutuhan.

Mengapa kita makan? Karena kita lapar.

Mengapa kita tidur? Karena kita lelah, ngantuk, dan lain-lain.

Jika kita menyadari apa yang kita butuhkan, seperti halnya lapar berarti kita butuh makan, ngantuk berarti kita butuh tidur atau istirahat.

Nah, begitu juga dengan budaya literasi. Mengapa kita butuh literasi? Untuk menjadi manusia yang beradab, salah satu caranya melalui literasi. Lalu, apa sebenarnya hubungan antara manusia beradab dan literasi. Mari kita sama-sama definisikan mereka satu persatu.

Istilah literasi atau dalam bahasa Inggris literacy berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti “a learned person” atau orang yang belajar. Pada bahasa latin juga dikenal dengan istilah littera (huruf) artinya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya. Sedangkan literasi menurut KBBI adalah kemampuan menulis dan membaca. Jadi dapat kita simpulkan bahwa literasi adalah kemampuan menulis dan membaca yang melibatkan konvensi-konvensi yang menyertainya. Kalau menurut Ketua Departemen Akademik dan Keprofesian (AKPRO) Kamil, Kang Bahary mengatakan bahwa dengan membaca kita dapat memahami dunia dan berfikir strategis terhadap permasalahan yang ada, dan dengan menulis kita dapat mempengaruhi dunia dan tercatat dalam sejarah. Layaknya Newton dengan “Philosophiae Naturalis Principia Mathematica” atau Ibn Khaldun dengan “Mukhadimah”-nya.

Beradab dalam pengertian KBBI yaitu mempunyai budi bahasa yang baik, berlaku sopan atau bisa juga memiliki pengertian telah maju tingkat kehidupan lahir batinnya. Manusia sesungguhnya adalah makhluk yang beradab sehingga mereka mampu menciptakan peradaban. Peradaban sebagai produk yang bernilai tinggi, halus, indah, dan maju menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Selain itu peradaban juga menunjuk pada wujud gagasan, ide, dan perilaku manusia yang tinggi, halus, dan maju.

Hubungan erat antara peradaban yang maju dengan budaya literasi dapat kita lihat dari jumlah peneliti di suatu negara. Data dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2016 menyebutkan bahwa kuantitas periset di negeri ini adalah yang paling sedikit di antara negara-negara anggota G-20. Rasio jumlah periset di Indonesia, menurut sumber tersebut, yaitu 89 peneliti untuk per 1 juta penduduk. Dibandingkan dengan Singapura—jawara ASEAN—yang memiliki 6.658 peneliti per 1 juta penduduk, Indonesia masih jauh tertinggal.

Ajaran Islam pun sangat menekankan sekali tentang budaya literasi ini. Seperti yang disampaikan oleh ketua KAMIL Pascasarjana ITB, Kang Reka bahwa di dalam Al Qur’an terdapat dua ayat yang menerangkan pentingnya literasi bagi umat manusia. Pertama, pada surah Al-‘Alaq ayat pertama, “Iqro’ bismirobbika lladzii kholaq” Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu, yang menciptakan.” dan kedua, terdapat pada awal-awal surat Al Qolam, “Nuun, wal qolami wa maa yasturuun”, yang artinya, “Nuun, Demi Pena, dan apa yang mereka tuliskan”. Dua ayat tersebut, memberikan kita informasi bahwa proses membaca dan menulis merupakan hal yang penting dalam Islam, karena disebut dalam Al Qur’an, sebagai ayat pembuka yang turun kepada kita semua (tentang Iqro’), dan juga sebagai sesuatu yang dianggap mulia atau besar, sehingga disebut dalam sumpahnya Allah swt (tentang “walqolami”).

Selanjutnya dijelaskan lagi olehnya bahwa ciri-ciri generasi pemimpin, salah satunya adalah generasi tersebut terbiasa melakukan proses literasi yang baik. Ketua KAMIL Pascasarjana ITB ini juga mengutip dari pernyataan Ust. Elvandi, salah seorang alumni Al-Azhar, ilmu politik di Manchester, dan filsafat di Prancis, bahwa ternyata agar kita bisa memiliki pemimpin terbaik, maka ciptakanlah generasi pemimpin melalui budaya literasi dan sejarah telah mencatat, bahwa pemimpin-pemimpin besar atau negarawan adalah orang-orang  yang memiliki wawasan sejarah, wawasan sastra, dan wawasan kebudayaan atau geopolitik, yang ketiga hal ini tidak akan bisa didapat jika tidak didasari budaya literasi yang baik.

Budaya literasi memiliki tujuan agar kita dapat melakukan kebiasaan berfikir dengan diikuti oleh proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang kita lakukan selama proses tersebut akan menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca tampaknya sudah tidak sulit lagi untuk generasi milenia sekarang namun membaca tuntas secara mandalam dan menuangkan hasil olah fikir dan bacaannya dalam bentuk tulisan itu perlu proses lebih lanjut lagi.

Bagaimana? Masih mau berdiam diri untuk tidak mulai membaca dan menulis secara tuntas??

                                                Penulis : Reny (Departemen Akademik dan Profesi)

0

Cerita Madrasah Cinta Teh Meyda Sefira

0

View post on imgur.com

Bandung – Semakin menjamurnya tren nikah muda dewasa ini, perlu diimbangi dengan kesiapan lahir dan batin dari para muslimah. Tidak sedikit seorang muslimah menjadi rentan baper, galau dan berkeluh kesah jika belum atau tak kunjung menemukan dan mendapatkan jodoh, sementara banyak teman sudah menyebar undangan, membuat gerah hati dan pikiran. Padahal ada hal terpenting yang senantiasa harus diingat adalah bahwa menikah merupakan separuh agama. Menikah menjadi salah satu ibadah dari sekian banyak ibadah yang dapat dilakukan seorang muslimah. Jikalau Allah belum mentakdirkan ia bertemu jodohnya, justru menjadi kesempatan yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya untuk terus memperbaiki ibadah yang separuh lagi; fokus kuliah, mengaji dan menambah hafalan alquran, berbakti kepada orang tua dan lain sebagainya. Bahwa menikah bukanlah perkara semudah yang dibayangkan. Belum tentu ketika sudah menikah, seseorang memiliki banyak kesempatan dan waktu lapang untuk mengaji jika baru saja satu ayat dibaca, anak menangis. Tidak bisa dengan leluasa keluar rumah selalu hadir di kajian-kajian atau mejelis ilmu. Saat di rumah, maksud hati hendak streaming kajian, suami mengetuk pintu, pulang bekerja. Maka dari itu, seorang muslimah sangat perlu menyiapkan perbekalan yang cukup dalam rangka perjalanan menuju menggenapkan separuh agamanya.

Mengusung tema “Membangun Madrasah Cinta Menuju Surga”, kajian Cakrawala perdana KAMIL Pascasarjana ITB 2018, Jumat, 23 Maret 2018, mengupas tuntas segala problematika pra nikah tersebut, bagaimana seorang muslimah memperbaiki kualitas diri—separuh agama—sebelum menggenapkan separuh agamanya yang lain, yaitu menikah. Menghadirkan teh Meyda Sefira sebagai pembicara, seolah menjadi magnet tersendiri bagi para muslimah, bertempat di GSG Masjid Salman ITB kajian Cakrawala dihadiri oleh 150 peserta muslimah dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa ITB, melainkan juga mahasiswa universitas lain maupun umum.

Pada kesempatan ini teh Meyda juga menyampaikan tentang bagaimana akhlak dan kiat-kiat terhadap pasangan. Sifat dan sikap apa yang harus ditunjukkan dalam menghadapi sebuah permasalahan dalam rumah tangga. Teh Meyda mencontohkan bagaimana harmonis dan besarnya rasa cinta Rasulullah terhadap Siti Khodijah. Bahkan jauh sepeninggal Siti Khodijah dan Rasulullah pun sudah menikah dengan Siti Aisyah, kenangan tentang segala sesuatu yang melekat pada Siti Khodijah tidak pernah Rasulullah lupakan, sampai-sampai Siti Aisyah merasa cemburu. Dari hal ini bisa diambil pelajaran apa yang membuat seorang suami begitu cintanya kepada istrinya meski telah tiada hingga terngiang-ngiang dan terkenang. Segala kebaikan dan kelembutan Siti Khodijah dan kesetiaan serta kecerdasan beliau dalam memperlakukan Rasulullah sebagai seorang suami dan juga pembawa risalah di awal-awal masa perjuangan begitu membekas dalam benak Rasulullah.

Hal penting yang juga teh Meyda sampaikan di akhir adalah beliau kembali mengingatkan tentang syukur dan menjaga kualitas diri. Salah satu cara menjaga kualitas diri adalah dengan menjaga makanan, bukan hanya halal namun juga thoyyib, dengan harapan mendapat keberkahan dalam segala aspek kehidupan. Karena dalam hidup, bukan bahagia yang dicari, melainkan keberkahan. Apalah arti kebahagiaan jika tidak berkah.

Penulis: Laksmiyanti Annake Harijadi Noor

0