Author

32 posts

Agar Tidak Menjadi Buih [1]

0

Cerita ini ditulis oleh Zulkaida Akbar
Alumni ITB yang sedang mengambil program Phd di US, Florida State University.

__________________________________________________________

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan-kawan di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan-kawan sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me”Like” berita-berita republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Mudah diterka, karena  bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube-nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan-kawannya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siangnya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama-sama menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :”If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :”If I can work as efficient as you, I  will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBook-an, Youtube-an dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

 ………….

 Bagaimana dengan Amerika?

Sekarang sedang demam Pokemon-Go, Game yang diprediksi kelak akan sepowerful Facebook, Sampai ada tulisan “Macroeconomic analysis of Pokemon Go”. Nyatanya, meski si pokemon didapat dari Nintendo (jepang) namun basis google earth dan augmented reality nya dari Amerika.

Dan semua trend semisal data science, uber, big data, crowdfunding, AirBnB, Tesla sampai flying car juga berasal dari Amerika.

Kekuatan Amerika terletak pada keberaniannya untuk mencipta apa yang belum ada. Meski kesenjangan disini sangat tinggi, Amerika punya orang2 dengan kreatifitas dan keberanian luar biasa untuk mencipta sesuatu yang sama sekali baru.

Tengoklah keberanian leslie dewan, pemudi lulusan MIT yang mendirikan perusahaan pembangkit Nuklir yang menjanjikan terobosan2 teknologi dalam usia yang belum genap 30 tahun (transatomic energy). Tentu tengok pula keberanian venture capital yang mendanainya.
………….

 Bagaimana dengan China?

 Dua nama yang saling bertegur sapa dengan Si Indonesia, dini hari di Nuclear Research Building adalah Wei Cha dan Jun Ji.

 Memang tidak ada yang meragukan etos dan jam kerja sang Naga.
………….

 Mantra?

 Almarhum Prof. Iskandar Alisjahbana, rektor ITB yang legendaris tersebut terkenal dengan jargon dan visinya untuk “MenYahudikan Pribumi”.

 Tapi si Indonesia punya mantra yang lain : Jam Kerja China, Efisiensi Jerman, Kreatifitas dan Keberanian Amerika.
…………

 Epilog? Berbagai padahal.

 Apa kaitannya dengan judul postingan : Agar tak menjadi buih?

 Merupakan nubuwat Kanjeng Nabi bahwa Umat Islam ini jumlahnya banyak, tapi ibarat buih; tak berkualitas.

 Padahal..
Dalam surat Al Ashr Allah bersumpah demi sang waktu.

 Padahal..
Orang Sholeh dulu jika siang ibarat singa dan jika malam ibarat Rahib (pembagian waktu yang clear, distinct).

 Padahal..
Bagian dari iman adalah menjauhi hal yang sia sia (selalu produktif).

 Padahal..
Kanjeng Nabi sudah memperingatkan kalau nikmat yang sering terlupakan adalah waktu luang, kesempatan (Nasihat untuk deadliner seperti saya).

 Padahal..
Allah sudah mempersilahkan/menantang hamba-Nya untuk menembus langit, dan tidaklah kita dapat menembusnya “illa Bi Shulthon” , kecuali dengan kekuatan/ilmu pengetahuan (Keberanian untuk mencoba, termasuk hal2 yg sebelumnya belum pernah ada).

 Padahal..
Dalam surat Al Inshirah Allah berfirman : “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh2 (Urusan yang lain).”   (Perintah untuk tidak menunda2).
………..

Maka si Indonesia yang beragama Islam ini pun kemudian berpikir bahwa tidaklah perlu menjadi Jerman, China, atau american.

 Cukup menjadi Islam saja.

Si Indonesia ini juga tersadar, bahwa mengubah peradaban mustahil tanpa mengubah diri sendiri.

Gagasan memang Memiliki kuatan, namun Keteladanan jauh lebih kuat dibanding gagasan.

Dan Allah mencintai Hamba-Nya yang produktif (self reminder).

Semoga tangan ini dapat merengkuh dunia, namun tidak satu biji zarah pun masuk ke hati.

__________________________________________________________

Baca juga: Agar Tidak Menjadi Buih Part 2 http://kamilpasca.itb.ac.id/agar-tidak-menjadi-buih-2/

0

Rapat Pleno dan Audiensi Adiwidya6xSilatnas

0

Alhamdulillah acara Rapat Pleno dan Audiensi Adiwidya6xSilatnas telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 April 2018 di GSS D (Gedung Sayap Selatan) Salman ITB. Acara tersebut dimulai dari pukul 06.30 s/d 11.45 WIB.

Tujuan dari acara Rapat Pleno adalah sebagai refleksi sekaligus evaluasi kinerja selama 3 bulan kebelakang bagi kepengurusan KAMIL Pascasarjana ITB 2018. Acara Rapat Pleno ini juga mewadahi beberapa program dari MPO, yaitu pendampingan dan audit program kerja secara berkala, terutama dalam hal ketercapaian KPI (Key Performance Indicator) dan keuangan internal. Sedangkan untuk acara Audiensi Adiwidya6xSilatnas atau yang disingkat Asixs adalah sebagai langkah awal penguatan konsep acara, kepanitiaan, ruang kontribusi dan hal-hal terkait lainnya.

Acara Rapat Pleno dimulai paling awal yakni dari jam 06.30 s/d 09.00 WIB yang dihadiri oleh para BPH dan perwakilan MPO yakni Bung Decky, Teh Nita, dan Pak Ismail. Pada sesi sambutan atau sharing dari MPO, Bung Decky sebagai perwakilannya menyampaikan hal-hal yang menarik mengenai Amal Jama’i yakni bersama-sama bekerja secara sadar dan bekerja secara jelas, terarah, serta ada tujuannya. Beliau juga menyampaikan bahwa sangat penting bekerjasama dan sama-sama bekerja di dalam semua hal, karena KAMIL merupakan organisasi kumpulan manusia yang sama-sama dalam proses pembelajaran, bukan seperti robot yang mekanistik, sehingga perlu disempurnakan dengan Amal Jama’i agar bisa menguatkan poin-poin kekeluargaan yang nantinya akan berkesan di masa depan.

Selanjutnya selepas sesi sharing dari Bung Decky dilanjutkan oleh acara sesi 1 yakni pemaparan laporan dari Ketum, Sekum, dan Bendum. Lalu pada sesi 2 dilanjutkan dengan pemaparan laporan dari PPSDM, Media, Akpro, dan Kemuslimahan. Kemudian dilanjutkan pada sesi 3 yang sekaligus penutup acara Rapat Pleno ini dengan memparkan laporan dari FundRising, Eksternal, Syiar dan Pelayanan.

Tidak terasa, waktu pun menunjukan pukul 09.20 WIB, maka  acara Rapat Pleno pun selesai yang kemudian dilanjutkan dengan acara Audiensi AdiwidyaxSilatnas yang menghadirkan ‘panglima-panglimanya’. Sesi pertama dimulai dengan pemaparan umum konsep acara yang disampaikan langsung oleh ketua Asixs yaitu mas Nandar, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab seputar acara Asixs ini. Dalam sesi tanya jawab, banyak hal menarik yang disampaikan baik itu dari MPO, peserta, BPH, bahkan dari Alumni yang memperkuat konsep dari acara Asixs ini, yang akan dilaksanakan pada bulan November mendatang.

Semoga niat baik anggota beserta panglima-panglima Asixs ini membawa pada kesuksesan acara nantinya. In Syaa Allah.

Penulis: Mushthofa Kamal (Magister Perencanaan Kepariwisataan ITB)

0

Kajian Tematik Memperingati Hari Isra’ Mi’raj

0

View post on imgur.com

BANDUNG – Departemen Syiar dan Pelayanan KAMIL Pascasarjan ITB yang berkolaborasi dengan OASE Salman (Lingkar Pembelajar), YPM Salman ITB dan Rumah Amal Salman kembali menyelenggarakan kajian tematik yang berlangsung pada Sabtu, 14 April 2018 di Ruang Utama Mesjid Salman ITB. Pemateri kajian kali ini adalah Dr. H. Asep Zaenal Ausop, M.Ag (Dosen Agama Islam ITB) dengan tema materi “Isra’ Mi’raj, Perjalanan Agung Menuju Kesempurnaan Iman”.

Kajian yang berlangsung dari pukul 09.00-11.00 ini dihadiri oleh seratus lebih peserta. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Bani Asroff dari Departemen PPSDM KAMIL ITB dan dipandu moderator oleh Imam Wijaya dari Departemen Syiar KAMIL ITB. Materi kajian dibuka dengan membahas Surah Al-Isra’ ayat 1;

Subhaana alladzii asraa bi’abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii’u albashiiru

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya* agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Isra’ dan Mi’raj merupakan dua peristiwa berbeda. Namun dua peristiwa ini terjadi pada waktu yang bersamaan maka disebut Isra’ Mi’raj. Isra’ merupakan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerussalem), sedangkan Mi’raj merupakan kisah perjalanan Nabi Muhammad dari bumi naik ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (paling ujungnya ujung/akhir penggapaian yang dekat dengan surga). Rasulullah malam itu di naikkan ke langit untuk bertemu dengan Allah menggunakan Barqu (kilat) bersama malaikat jibril yang tercipta dari cahaya (tanpa beban).

Dalam kajian ini juga dijelaskan bahwa Isra’ Mi’raj termasuk supra fenomena alam yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Keilmuannya disebut supra-rasional, yaitu ilmu-ilmu yang tidak dapat dipahami dengan mata dan akal namun hanya dapat dipahami dengan hati (qolbu). Empat hakikat dari peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu termasuk peristiwa Supra-Natural, Spiritual, Fenomenal dan Kontroversial.

Hikmah dari perjalanan Isra’ Mi’raj ini adalah Allah menampakkan kebesaran-Nya dengan menunjukkan miniatur alam lain di luar bumi dan diberikannya perintah menjalankan sholat 5 waktu dalam sehari semalam. Sholat juga disebut sebagai Mi’rajnya orang mukminin, karena sholat dapat menjadi kendaraan seorang mukmin menuju Surga-Nya. Maka, sangat ditekankan untuk seorang mukmin menjaga dan memperbaiki sholatnya dengan baik. Karakter sholat yang baik adalah yang rutin 5x, tenang, khusyuk dan terjaga.

Sebagai penutup kajian Ustadz Zaenal memberikan pesan terkait kiat menjadi sukses yaitu, rutin membaca Al-Qur’an dengan baik beserta artinya, merutinkan sholat tahajud dan dhuha, dan bersedekah secara terbuka dan tersembunyi.

                                                                                                        Penulis: Khairu Zeta Leni

0