Author

66 posts

Hijab dan Perilaku Muslimah

0

Oleh: Departemen Kemuslimahan

Secara bahasa, hijab artinya penutup.

الحِجابُ: السِّتْرُ

Secara istilah, Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi. Diantara penerapan maknanya, hijab dimaknai dengan as-sitr (penutup), yaitu yang mengalangi sesuatu agar tidak bisa terlihat. Demikian juga al-bawwab (pintu), disebut sebagai hijab karena menghalangi orang untuk masuk.

Dengan demikian, hijab muslimah adalah segala hal yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi bagi seorang Muslimah. Jadi hijab muslimah bukan sebatas yang menutupi kepala, atau menutupi rambut, atau menutupi tubuh bagian atas saja. Namun hijab muslimah mencakup semua yang menutupi aurat dari wanita kecuali muka dan telapak tangan.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut merupakan suatu bentuk penjagaan Allah terhadap wanita-wanita Muslimah agar tetap selalu terlindungi dalam jilbab atau hijabnya. Sungguh, Allah menurunkan perintah berjilbab bukan untuk menghalangi dan mengekang wanita. Berhijab menjadi sebuah bentuk ketaatan seorang wanita muslimah kepada Allah, menunjukkan kebanggaan dan identitasnya sebagai seorang muslimah, dapat menjauhkan diri muslimah dari fitnah laki-laki fasik dan menambah pahala. Menutup aurat menjadi wajib karena saddu al-dzarī’ah, yaitu menutup pintu ke dosa yang lebih besar. Oleh karena itu, memakai jilbab (busana muslimah) adalah wajib bagi setiap pribadi muslimah.

Akhir-akhir ini, mengenakan hijab sudah menjadi sebuah trend fashion. Semakin banyak muslimah yang mengenakan hijab, baik dengan hijab syar’i ataupun hijab seadanya. Hijab syar’i adalah hijab yang sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah, yaitu menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi, kainnya tebal/tidak tipis dan transparan, longgar/tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak menyerupai pakaian lelaki, tidak menarik perhatian laki-laki yang bukan mahramnya, bukan dijadikan perhiasan dan tidak untuk tabarruj. Sementara hijab yang seadanya adalah hijab yang belum sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah, seperti tidak menutui aurat dengan benar, masih memperlihatkan lekukan tubuh dan berbahan tipis sehingga menerawang.

Prioritas utama dalam memilih pakaian adalah dapat menutup aurat dengan sempurna. Jangan sampai keinginan sebagai seorang muslimah ingin tampil menarik justru menggeser prioritas utama dalam memilih pakaian. Perintah berhijab diturunkan oleh Allah, hendaknya berhijab juga karena Allah.

Hijab dan akhlak seseorang adalah dua hal yang berbeda. Mungkin ada yang sudah berhijab namun hijabnya tidak berefek sama sekali pada akhlak dan imannya. Hijab bukan tanda muslimah menjadi malaikat atau menjadi manusia yang suci, namun sebuah proses menuju taat kepada Allah dan menutup satu pintu dosa. Yang berhijab belum tentu baik, tapi wanita muslim yang baik pasti berhijab.

Semoga kita bisa menjadi muslimah yang tetap istiqomah dan dimudahkan Allah untuk terus berproses ke arah yang lebih baik. Jangan pernah khawatir akan anggapan rezeki berkurang jika mengenakan hijab karena kesempatan kita jadi terbatas. Ingatlah bahwa Allah itu Maha Kaya, Maha Berkuasa. Jadi, jangan pernah ragukan kuasa Allah.

Jika berhijab syar’i adalah proses, yuk kita mulai prosesnya hari ini.

0
0 views

Semakin di depan dengan Kamil Mengajar

0

Gimana kabarnya akang dan teteh Kamilian? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. dimanapun kalian berada.

Ilmu manusia bisa dibilang aslinya sedikit. Jika dirunutkan, hanya sepersekian bagian dari ilmunya Allah SWT. Maka rasanya jauh terasa lebih bermanfaat hidup dengan berbagi ilmu yang kita punya. Percaya atau tidak, bahwa berbagi ilmu itu dapat menghasilkan energi positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Ketika berbagi diniatkan dengan niat yang lurus maka tanpa disadari banyak kebaikan bermunculan mulai dari rasa bahagia, kepuasan dalam benak diri, menjalin silaturahmi, membuka wawasan seseorang dan yang paling mulia adalah memberantas kebodohan, yaitu mengubah dari sebelumnya tidak tahu menjadi tahu karena berbagi ilmu salah satu bentuk usaha dalam belajar dan mengajarkan.

Seperti disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas RA., Rasul SAW. bersabda; “Barang siapa yang berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menunjukkan apa yang belum diketahuinya.” MasyAllah, ya… ternyata setelah kita kuak berbagi sebagai jalan baru dalam mengamalkan ilmu. Bisa jadi ilmu yang kita sampaikan menjadi amalan kebaikan yang membuka pintu surga untuk setiap orang yang ingin berbagi karena ilmu pun amalan yang tidak mengenal batas jarak dan waktu.

Alhasil konsep berbagi ilmu pun menyesuaikan kondisi agar tetap bisa memberikan semangat ditengah pandemi. Tahun 2021, melalui gerakan bersama, Kamil Mengajar hadir kembali dengan rangkaian acara untuk adik-adik Panti Asuhan Mitra Muslim Bandung maupun di rumah belajar non-formal Rita Home Library. Kegiatan sosial ini diharapkan menumbuhkan kembali semangat belajar mereka.

Lalu bagaimana konsep di tahun ini ? tetap stay tune di sosial media kami yah.

Departemen Eksternal
KAMIL Pascasarjana ITB 2021
#SharingIsCaring #KnowledgeSharing

0
6 views