Valuasi Ekonomi Ekosistem Lahan Basah

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM LAHAN BASAH

Aiman Ibrahim

Program Studi Magister Biologi

Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati (SITH) ITB

Email : aimanibrahim56@yahoo.com

 

 

Kehidupan manusia senantiasa tergantung kepada jasa atau layanan yang diberikan  ekosistem (ecosystem service) dalam biosfer. Komposisi atmosfer dan litosfer, siklus hara melalui udara dan air serta aset ekologi lainnya merupakan hasil dari proses-proses kehidupan  dan semuanya dipertahankan dan dilengkapi oleh ekosistem yang hidup. Manusia, walaupun telah memiliki kebudayaan dan teknologi yang tinggi, pada akhirnya akan sangat tergantung kepada aliran jasa ekosistem, salah satunya ekosistem lahan basah

Menurut Konvensi Lahan Basah Internasional, lahan basah (wetland) adalah daerah payau, rawa, lahan gambut atau air, baik alami atau buatan, permanen atau sementara, dengan air yang statis atau mengalir, tawar atau asin termasuk daerah air laut, kedalaman saat surut tidak melebihi 6 m. Wetland atau lahan basah merupakan zona transisi antara tanah kering dan sistem perairan. Indonesia memiliki lahan basah dengan luas sekitar 33,4 juta ha yang tersebar lebih dari 11 provinsi.  12,3 juta ha di antaranya berupa rawa yang ditemukan di Kalimantan dalam bentuk rawa pedalaman  6.437.000 ha dan 5.938.000 ha rawa pasang surut (Hamdani dkk., 2014).

Ekosistem lahan basah merupakan ekosistem paling produktif di bumi dan sangat penting bagi kehidupan manusia, karena secara langsung maupun tidak langsung dapat dipastikan selalu terkait dengan keberadaan lahan basah. Lahan basah memiliki manfaat langsung, termasuk air untuk keperluan rumah tangga dan pengairan ternak, pertanian, penyediaan  bahan bangunan, dan sumber daya makanan seperti ikan, ubi, sayuran, dan obat-obatan. Manfaat tak langsung, termasuk pengendalian banjir,  pengaturan iklim, dan perlindungan badai. Lahan basah juga berfungsi sebagai habitat flora dan fauna penting, memiliki nilai estetika, dan warisan (Kakuru dkk., 2013).

Besarnya peran penting lahan basah berarti memiliki nilai tinggi dalam hal ekonomi, lingkungan, dan budaya sehingga harus dilindungi. Hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah Indonesia tentang pentingnya lahan basah yang menyebutkan bahwa sumber daya alam dan lingkungan harus dikelola dengan bijaksana, terpadu, dan pengembangan menyeluruh serta keberlanjutan hidup manusia dapat dipertahankan, baik sekarang maupun masa depan. Pengelolaan suatu ekosistem perlu dilakukan, terutama bila ekosistem tersebut berkaitan dengan kegiatan ekonomi masyarakat.

Dalam upaya pengelolaan lahan basah, penting untuk menganalisis manfaat ekosistem lahan basah yang dapat diukur dengan nilai uang sebagai dasar untuk valuasi (perhitungan) ekonomi. Valuasi ekonomi lahan basah merupakan instrumen ekonomi untuk mengestimasi nilai uang barang dan jasa yang dihasilkan ekosistem lahan basah. Melalui valuasi ekonomi, nilai ekologis dari ekosistem dapat “diterjemahkan” ke dalam bahasa ekonomi dengan mengukur nilai uang barang dan jasa. Valuasi ekonomi dapat memberikan gambaran sejauh mana suatu ekosistem dapat dimanfaatkan atau sebaiknya dipertahankan dalam kondisi alaminya. Selain itu, valuasi ekonomi dapat dijadikan acuan bagi para pengambil keputusan, khususnya dalam hal perencanaan kegiatan  pengembangan atau pemanfaatan ekosistem.

Valuasi ekonomi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan Total Economic Value (TEV) atau nilai ekonomi total. Berdasarkan tipologi Barton (1994 dalam Bakosurtanal, 2011), TEV terdiri dari komponen Use Value (UV) atau nilai penggunaan (langsung, tidak langsung, dan nilai pilihan) dan Non Use Value (NUV) atau nilai non penggunaan  (nilai keberadaan dan warisan).

 

Tabel Nilai Ekonomi Total EkosistemRawa PedalamanKecamatanTapinTengahdanCandi

Laras Selatan Kecamatan Tapin Provinsi Kalimantan Selatan

Jenis Penggunaan Dasar Perhitungan Nilai (Rp)/10.000ha/tahun
Nilai Langsung
Sawah (Nilai rata-rata produksi — biaya produksi) X Jumlah petani 8.453.110.105
Kayu Galam 842.959.836
Perikanan beje 1.495.320.604
Perikanan umum 3.984.048.000
Tumbuhan Purun 405.782.576
Air rumah tangga 1.023.980.756
Nilai Tak Langsung
Nilai Biologi Nilai daya dukung biota setara produksi ikan per tahun, hasil kayu Galam, dan tumbuhan Purun 8.119.129.114
Nilai Penyimpanan dan Daur Ulang Air Nilai pengganti atas aset produktif yang rusak 104.125.000.000
Nilai Karbon Tersimpan Nilai jual ke pasar internasional melalui clean development mechanism (CDM) dari taksiran karbon 200 ton/ha 95.000.000.000
Nilai Pilihan Nilai  kesediaan individu atau masyarakat untuk membayar / dibayar dalam melindungi nilai keuntungan potensial hasil pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan masa depan 1.778.640.000
Nilai Warisan 1.788.862.000
 Nilai Ekonomi Total 227.016.833.000

 

Penelitian terkait valuasi ekonomi ekosistem lahan basah dilakukan Hamdani,dkk. (2012) berdasarkan studi kasus di rawa pedalaman (non-tidal swamp) Kecamatan Tapin Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan nilai ekonomi total ekosistem rawa pedalaman Kecamatan Tapin Tengah dan Candi Laras Selatan Kecamatan Tapin Provinsi Kalimantan Selatan seluas10.000 ha sebesar Rp 227.016.833.000 per tahun (lihat Tabel). Berdasarkan nilai ekonomi total tersebut, 7,14% adalah nilai-nilai ekonomi, dan  92,86 % adalah nilai-nilai ekologis. Hal tersebut  menunjukkan bila terjadi alih fungsi rawa, tidak hanya mengakibatkan hilangnya nilai ekonomi (manfaat langsung) yang telah diperoleh masyarakat sekitar, tetapi juga kerugian yang lebih besar dalam bentuk hilangnya nilai ekologi (manfaat tidak langsung). Valuasi ekonomi merupakan instrumen penting dalam perumusan kebijakan terkait pemanfaatan suatu ekosistem tanpa merusak fungsi ekologisnya sehingga dapat menyediakan jasa atau layanan ekosistem (ecosystem service) secara berkelanjutan.

 

Referensi

Bakosurtanal, 2011. Pengembangan Valuasi Ekonomi Spasial dengan Metode Benefit Transfer. Laporan Akhir. Cibinong.

Hamdani, I. Hanafi, A. Fitrianto, L. F. Arsyad, & B. Setiawan. Economic-Ecological Values of Non-Tidal Swamp Ecosystem: Case Study in Tapin District, Kalimantan, Indonesia. 2014. Modern Applied Science Vol. 8 No. 1.

Kakuru, W., N. Turyahabwe, & J. Mugisha. 2013. Total Economic Value of Wetlands Products and Services in Uganda. Research Article.  The Scientific World Journal. Hindawi Publishing Corporation.

Kelompok Kerja Conceptual Framework Millennium Ecosystem Assessment. Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia: Suatu Kerangka Pikir untuk Penilaian. Ringkasan. The United Nations Environment Programme (UNEP).

 

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>