Tsunami dan Kearifan Lokal

Oleh: Muhammad Fawzy Ismullah M.*

Pasca 26 Desember 2004, nampaknya tak ada lagi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tak mengenal tsunami. Tsunami seolah memperkenalkan diri dengan ketinggian 24 – 30 meter yang diawali oleh gempa dengan kekuatan M9 (bukan 9 SR) pada tanggal tersebut1). Sebuah bencana alam, bukan, mega-bencana alam yang tidak hanya melumpuhkan sendi sendi masyarakat Aceh namun juga memberikan warna duka pada tanah air ini.

Sebelum melangkah lebih lauh, alangkah baiknya kita menonton video berjudul “What is a Tsunami? Facts & Information” yang diunggah oleh Mocomi Kids2). Dari judulnya, nampaknya mudah ditebak isi video ini. Sebenarnya video ini penulis pilih karena bahasanya yang lumayan mudah untuk dimengerti, karena sasarannya adalah anak anak, dan karena animasinya yang menarik. Maka mari mengenal tsunami dengan baik.

Kembali ke 26 Desember 2004, salah satu hal yang banyak menarik perhatian peneliti dan ilmuwan kala itu ada pada Pulau Simeuleu. Pulau ini memiliki jumlah penduduk sebesar 70000 jiwa3). Kerusakan di kawasan pantai Pulau Simeuleu cukup parah namun menariknya korban jiwa pada pulau ini berjumlah 7 orang.

Berbagai macam peneliti baik dari dalam negeri maupun luar datang ke pulau ini. Rasa keingintahuan mereka akan rasio korban jiwa terhadap jumlah penduduk yang tergolong sangat kecil, terjawab dengan sebuah istilah yakni “smong”. Istilah tersebut merupakan satu di antara beberapa kearifan lokal yang ternyata dapat menjadi senjata dalam menghadapi tsunami. Maka pada kesempataan kali ini, penulis akan menyampaikan beberapa di antaranya.

Smong

Smong pada masyarakat Simeuleu adalah sebuah syair yang disampaikan turun temurun. Berikut petikan syairnya.

Anak-Ö Anakku
SMONG, Dumek-dumekmo Tsunami, Mandi-mandimu
LINON, Uwak-uwakmo Gempa, Ayun-ayunanmu
AHOI, Ralang-ralangmo Api, Penghangat tubuhmu
ELAI,Kedang-kedangmo Guntur, Gendang-gendangmu
KILEK, Sulu-sulumo Kilat, Cahaya penerangmu

Menurut Eko Julianto dan Herry Yogaswara dari LIPI, istilah smong telah dikenal sejak gempa dan tsunami yang terjadi pada 1907. Beberapa catatan Belanda juga menuliskan istilah “SMONG07” yakni smong pada tahun tujuh4).

Kisah gempa dan tsunami yang melanda Simeulue tahun 1907 diwariskan dari generasi ke generasi. Tutur cerita smong didendangkan dalam bentuk syair yang berisikan gejala-gejala alam yang bisa mendatangkan tsunami. Sehingga jelas bahwa smong bukan sekedar tsunami5). Syair yang sering didendangkan untuk mengantar tidur anak merupakan syair nasehat untuk berbakti kepada kedua orang tua, dan sepenggal kisah tentang kepergian orang tua karena amukan gelombang laut smong. Selain itu, terdapat pula ajakan untuk lari ke tempat yang lebih tinggi jika ada goncangan tanah yang kuat. Hal ini menjadi kebiasaan masyarakat Simeuleu lari ke gunung jika terasa goncangan tanah akibat gempa. Menariknya ini adalah salah satu cara masyarakat Simeulue memahami proses dinamika alam dan berupaya melakukan mitigasi untuk mengurangi dampak risiko akibat bencana6).

Ekspedisi cincin api KOMPAS7) pernah mengulas tentang kearifan lokal smong dari masyarakat Simeulue. Jika Anda belum sempat melihat dan mendengarnya, tak ada salahnya menengok kearifan lokal yang dicatat ekspedisi ini.

Rumah Adat Omo Hada

Tsunami dan Kearifan LokalRumah adat Omo Hada (sidomi.com)

Rumah adah Omo Hada berasal dari Pulau Nias yang berusia sekitar 300 tahun. Rumah adat ini tetap berdiri kokoh walaupun diguncang gempa berkali-kali. Padahal 10 tiang (ehomo) yang menyangga rumah kayu tersebut sudah keropos dimakan usia.

Tiang rumah adat ini terbuat dari kayu bulat yang sangat keras dengan ketinggian empat meter tanpa menggunakan paku. Sedangkan tiang menyilang (diwa) dibuat tidak tertancap di tanah. Pondasi dibuat secara umpak, yaitu batu tersusun dan tidak ditanam di tanah. Lokasi bangunan di bukit, aman dari jangkauan tsunami.

Berdasarkan catatan sejarah, rumah adat ini dibangun sejak tahun 1715. Beberapa gempa telah terjadi sejak saat itu. Pada tahun 1851 Pulau Nias digoyang gempa berkekuatan M8.5. Begitu juga pada 28 Maret 2005 gempa mengguncang Nias dengan kekuatan M8.7 tidak merobohkan rumah ini. Kunci rumah adat omo hada ini ada pada kelenturan struktur bangunan yang dapat mengikuti getaran gempa, karena antara struktur bawah dan atas dibuat fleksibel8).

Arsitektur Masjid

Tsunami dan Kearifan Lokal1

Beberapa masjid yang tetap utuh pasca diterjang tsunami (masshar2000.com)

Hal menarik lainnya selain Smong pada tsunami Aceh tahun 2004 adalah bangunan masjid tetap berdiri kokoh di antara puing – puing bangunan yang hancur diterjang tsunami. Seperti Masjid Baiturahim di Ulhelhue dan Leumpeuk, Lhok Nga. Pelajaran menarik dapat dilihat pada arsitektur masjid tersebut.

Tiang – tiang masjid dibuat berbentuk silinder yang lebih hidrodinamis dan memiliki bidang benturan yang lebih kecil sehingga mengurangi risiko kerusakan akibat tekanan. Selain itu, bagian bawah masjid dibuat terbuka. Sehingga ketika tsunami menerjang tidak ada dinding penghalang yang mengakibatkan bengunan terhindar dari tekanan. Jadi, tsunami yang menerjang bangunan masjid ini akan lewat lebih leluasa8).

Mangrove/ hutan bakau

Indonesia merupakan negara dengan mangrove terluas di dunia9). Mangrove menjadi salah satu hal yang semestinya dijumpai di sekitar pantai atau rawa. Namun, akan sangat miris melihat Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki mangrove yang tak seberapa. Padahal sejak jaman dulu mangrove bebas tumbuh di Kepulauan Indonesia.

Sejak jaman dulu pula mangrove telah dimanfaatkan. Sudah barang tentu Indonesia seharusnya menjadi negara yang mengetahui seluruh manfaat dari mangrove. Dari segi kebencanaan, mangrove telah terbukti dapat melindungi warga pesisir dari badai.

Bagaimana dengan tsunami?

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Fadly Usman dari Universitas Brawijaya menghasilkan bahwa studi modifikasi topografi sebagai pendekatan terhadap kearfian lokal dapat mengurangi inundasi10). Inundasi adalah jarak horizontal antara ujung gelombang tsunami terjauh dengan garis pantai.

Dari simulasi yang dilakukan, terbukti bahwa vegetasi mangrove dapat menahan laju tsunami sehingga jarak inundasinya tidak terlalu jauh. Selain itu, penggunaan kombinasi dan vegetasi bisa meningkatkan pengurangan inundasi karena gelombang tsunami terefleksi.

Tsunami dan Kearifan Lokal3

Simulasi antara tsunami, mangrove dan modifikasi topografi10)

Beberapa kearifan lokal di atas bisa menjadi alternative langkah mitigasi tsunami. Selain itu dengan menjaga kelestarian kearifan lokak menunjukkan bahwa kita sebagai bagian dari Bangsa Indonesia masih memiliki ciri khas di tengah pusaran arus budaya luar yang memiliki efek positif dan negatif.

Sebagai penutup, sekuat apapun langkah kita dalam berencana, jangan lupa untuk mengikutsertakan Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena kita hanya berusaha sedang Ia lah Sang Maha Mengatur. Wallahu’alam bishshawab.

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004
  2. https://www.youtube.com/watch?v=tAlwAvdxQbI
  3. www.pusdiklat-geologi.esdm.go.id/index.php/artikel/publikasi-ilmiah/122-kearifan-lokal-smong-penyelamat-bencana-tsunami-di-pulau-simeulue-provinsi-nanggroe-aceh-darussalam
  4. http://www.ifrc.org/ar/noticias/noticias/asia-pacific/indonesia/the-story-that-saved-the-lives-of-the-people-of-simeuleu-indonesia/
  5. http://iloveaceh.org/2013/12/24/kearifan-lokal-simeulue-smong-bukan-sekedar-tsunami/
  6. http://www.kompasiana.com/zulfakriza/smong-kearifan-lokal-masyarakat-simeulue-menghadapi-tsunami_552b98686ea834352d8b4589
  7. http://ekspedisi.kompas.com/cincinapi/index.php/galeri/video/17.
  8. http://kupasbengkulu.com/membendung-kekuatan-gempa-dan-tsunami-dengan-kearifan-lokal
  9. https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau
  10. Usman F., Murakami K., Kurniawan E. B., Study on Reducing Tsunami Inundation Energy by the Modification of Topography Based on Local Wisdom, The 4th International Conference on Sustainable Future for Human Security, Procedia Environmental Sciences 20 ( 2014 ) 642 – 650

*Penulis merupakan mahasiswa program magister Teknik Geofisika FTTM ITB 2014 dan juga penerima Beasiswa Unggulan DIKTI 2014. Penulis dapat dihubungi di mallaniung@gmail.com

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>