Tentang kesungguhan berkurban

oleh Hanefiatni

Kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah melalui mimpi untuk mengurbankan anaknya, nabi Ismail, menjadi cerita yang telah banyak orang ketahui. Namun, penting untuk selalui mengambil Ibrahnya.

Cerita tersebut menyampaikan bagaimana ketaatan seorang hamba, meski anak menjadi taruhan. Bahkan kondisinya menjadi lebih berat ujiannya, ketika anak yang diperintahkan untuk dikorbankan itu adalah anak yang telah dinanti selama puluhan tahun. Anak satu-satunya yang sangat disayangi.

Nabi Ismail, sebagai anak yang akan dikorbankan, tak kalah taat. Begitu mendengar bahwa mimpi nabi Ibrahim yang telah terjadi berulang kali tersebut adalah perintah Allah, dengan hati yang mantap dia bersedia menjalankan perintah Allah. Subhanallah.

Kesungguhan bapak dan anak dalam berqurban demi perintah Allah SWT menghasilkan buah manis. ketika peristiwa itu terjadi, Nabi Ismail diganti dengan domba, sehingga Nabi Ismail selamat sedang yang dikorbankan adalah domba.

Peristiwa ini sangat luar biasa. Jangankan nyawa, terkadang harta, tenaga, pikiran, rasanya belumlah kita maksimalkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Memaksimalkan diri dalam mendekatkan diri kepada Allah, nampaknya merupakan pesan yang ingin disampaikan melalui kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail ini.

Itulah mengapa dalam teknis praktik berkurban pun kita diperintahkan untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Mulai dari memilih hewan qurban, mencari hewan terbaik dengan kecacatan seminim mungkin.

Dalam hal menyemblih kita dituntun untuk melakukannya sebaik mungkin. Jangan sampai kita menyemblih kurban dengan cara menyiksa.

“sesungguhnya Allah menetapkan ihsan pada segala sesuatu. Maka jika kamu membunuh, lakukanlah dengan cara terbaik (ihsan); jika kamu menyemblih binatang, sembelihlah dengan cara terbaik (ihsan), tajamkanlah pisaunya dan senangkanlah dia.” (HR Muslim)

Petunjuk dalam hadis tersebut sangat mempedulikan kondisi hewan kurban. Begitu pula beberapa hal lainnya dalam syariat penyemblihan hewan kurban.

Dalam islam, ternak sebelum dipotong harus dalam kondisi nyaman, menempatkan hewan kurban di tempat yang layak serta diberi minum adalah cara agar hewan qurban merasa nyaman. Pisau yang dipakai dalam menyemblih tidak boleh diperlihatkan. Lalu ketika disemblih, pisaupun harus ditajamkan agar mudah memutus tiga saluran yang ada dileher; kerongkongan, tenggorokan dan pembuluh darah kanan-kiri. Dengan begitu darah akan keluar secara maksimal. Semakin cepat darah keluar, maka semakin cepat hewan tersebut mati dan semakin sedikit rasa sakit yang dialaminya.

Memaksimalkan kurban tidak hanya dalam prosesnya (memilih hewan dan tata cara pemotongan). Namun, juga dimulai dengan niat. Bagaimana kita berniat dan berusaha untuk berkurban. Bisa jadi melalui tabungan setahun atau berbagai cara yang kita dapat upayakan.

Selain itu, kurban merupakan salah satu cara untuk membuktikan bagaimana ketaatan kita dan upaya kita dalam berkurban dijalan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang perlu kita kurbankan dijalan Allah. Seperti meluangkan waktu, menyumbangkan harta, dan masih banyak lagi perbuatan yang bisa kita lakukan di jalan Allah.

Disarikan dari bulletin pekanan salman tahun II edisi 76 dan berbagai sumber.

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>