Tanpa Handphone saat Jumat, Sanggupkah?

 

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Dewasa ini segala aspek kehidupan manusia seolah tidak dapat dipisahkan dengan gadget. Mobilitas tinggi manusia menuntut kebutuhan akan eksistensi gadget semisal handphone untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari. Namun tak dapat dipungkiri pula bahwa penggunaan handphone kini sering disalahgunakan atau dalam penggunaannya acapkali berlebihan tanpa memperhatikan waktu, tak terkecuali saat beribadah. Penggunaan handphone yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor pembuat lalai manusia dalam beribadah. Kelalaian beribadah sebab tidak bijaknya dalam penggunaan handphone jelas dapat merugikan diri sendiri dengan menurunnya kualitas ibadah yang dilakukan.

Fitnah penggunaan handphone yang tengah melanda umat muslim saat ini salah satunya adalah menggunakan atau memainkannya saat khutbah Jumat berlangsung. Mendengarkan khutbah Jumat merupakan bagian dari syariat pelaksanaan shalat Jumat sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw. :

وحدثنا يحيى بن يحيى وأبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قال يحيى أخبرنا وقال الآخران حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من توضأ فأحسن الوضوء ثم أتى الجمعة فاستمع وأنصت غفر له ما بينه وبين الجمعة وزيادة ثلاثة أيام ومن مس الحصى فقد لغا (رواه المسلم)

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib, Yahya berkata : telah mengabarkan kepada kami—sementara dua orang yang lain berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang berwudlu, lalu ia menyempurnakan wudlunya, kemudian mendatangi Jumat, mendengarkan (khutbah) tanpa berkata-kata, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dengan hari Jumat selanjutnya, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang memainkan batu kerikil, maka ia telah berbuat kesia-siaan." (HR. Muslim)[1]

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa mendatangi Jumat dengan mendengarkan khutbah (kemudian melaksanakan shalat) merupakan satu kesatuan syariat yang tidak terpisahkan sehingga mendapatkan keutamaan diampuni dosa-dosa selama hari Jumat tersebut sampai hari Jumat berikutnya ditambah tiga hari. Adapun adab mendengarkan khutbah Jumat dalam hadits tersebut dijelaskan pula dengan tanpa berkata-kata atau berarti diam dan tidak memainkan kerikil[2] yang merupakan perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Hal ini mengindikasikan adanya larangan melakukan perbuatan lain yang dapat mengganggu kekhusyukan pada saat khutbah berlangsung dan menjadikan hilangnya pahala ibadah Jumat[3].

Mengenai diam tanpa berkata-kata dalam mendengarkan khutbah Jumat telah dijelaskan pula dalam hadits Rasulullah saw. :

وحدثنا قتيبة بن سعيد ومحمد بن رمح بن المهاجر قال بن رمح أخبرنا الليث عن عقيل عن بن شهاب أخبرني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة أخبره أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت وحدثني عبد الملك بن شعيب بن الليث حدثني أبي عن جدي حدثني عقيل بن خالد عن بن شهاب عن عمر بن عبد العزيز عن عبد الله بن إبراهيم بن قارظ وعن بن المسيب أنهما حدثاه أن أبا هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول بمثله (رواه المسلم)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Muhammad bin Rumh bin Muhajir, Ibnu Rumh berkata : telah mengabarkan kepada kami Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Bila kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah!” pada hari Jumat padahal Imam sedang berkhutbah, maka sungguh telah sia-sialah ibadah Jumatmu." Dan telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Syu'aib bin Laits telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku, Uqail bin Khalid, dari Ibnu Syihab dari Umar bin Abdul Aziz dari Abdullah bin Ibrahim bin Qarizh dan dari Ibnul Musayyab bahwa keduanya telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Hurairah berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, yakni dengan hadits semisalnya. (HR. Muslim)[4]

Hadits ini menunjukkan bahwa mengatakan sesuatu yang bahkan perkataan tersebut merupakan bentuk amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan agar diam kepada orang lain yang berbicara pada saat khutbah Jumat) termasuk ke dalam perbuatan yang dapat menjadikan ibadah Jumatnya sia-sia atau sebab hilangnya pahala. Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menjelaskan bahwa bila ingin memerintahkan supaya diam kepada orang yang berbicara hendaknya cukup menggunakan isyarat.

Logikanya adalah jika hanya sekedar memainkan kerikil dan berkata-kata yang bahkan sebenarnya merupakan sebuah kebaikan, lantas bagaimana dengan perbuatan lain yang lebih dari sekedar itu? Memainkan handphone saat khutbah berlangsung bukan hanya dapat mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan serta melalaikan hati dan pikiran dari mengingati Allah, namun juga dapat merusak kesempurnaan ibadah Jumat.

Kedua hadits Rasulullah saw yang telah disebutkan, sangat jelas mengisyaratkan bahwa melakukan perbuatan maupun berkata-kata yang dapat mengganggu kekhusyukan selama khutbah berlangsung merupakan perbuatan yang dilarang atau diharamkan sebab dapat menghilangkan pahala dan menjadikan ibadah Jumat bernilai sia-sia[5] dan tidak ada yang didapatkan oleh seseorang melainkan hanyalah kerugian. Untuk hal-hal bersifat keduniawian saja sebagai manusia tentu tidak ingin mengalami kerugian, apalagi untuk hal-hal bersifat ukhrawi yang kelak dituntut pertanggungjawabannya. Sepenting-pentingnya informasi atau pekerjaan di dalam handphone, tidak ada yang lebih penting selain kepentingan akhirat—yang bahkan ibadah Jumat secara keseluruhan sebenarnya berlangsung tidak lebih dari 1 jam. Sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak sanggup tanpa handphone saat ibadah Jumat.

Maka hendaknya perlu direnungkan kembali dan bijak dalam penggunaan handphone demi selamatnya diri di akhirat. Apakah handphone kelak dibawa mati? Apakah handphone dapat menjadi penyelamat di akhirat? Apakah Allah butuh handphone? Jawaban dari kesemuanya tentu tidak.

 


[1] HR. Muslim no. 1419.

[2] Lantai masjid pada zaman Rasulullah masih berupa tanah berkerikil.

[3] Penjelasan Imam an Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, makna lagha yaitu ibadah Jumat yang dilakukan tetap sah namun hilang pahalanya sebab melakukan perbuatan batil yang tercela (perbuatan sia-sia).

[4] HR. Muslim no. 1404.

[5] Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama dalam menyepakati istinbath hukum dari hadits yang menjelaskan tentang perbuatan yang dilarang untuk dilakukan saat khutbah Jumat.

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>