Results for tag "kamil-pascasarjana-itb"

36 Articles

Gema Berhijab: Satu Hijab Beribu Kebaikan

Berbagi hijab dalam aksi Gema Berhijab Foto: Departemen An-Nisa

BANDUNG – Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q. S Al-Ahzab : 59). Penggalan ayat suci Al-Quran tersebut menjadi latar belakang kegiatan yang diadakan oleh Departemen An-Nisa dan Eksternal Kamil Pascasarjana ITB 2017. Ahad, 15 Oktober 2017, menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi para peserta aksi Gema Berhijab yang diadakan di lokasi Car Free Day (CFD) Dago, Kota Bandung. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB dan berhasil membagikan 137 buah hijab kepada pengunjung CFD. Target utama penerima hijab ialah mereka yang muslim dan belum berhijab. Namun, mereka yang sudah berhijab dan membutuhkan juga berkesempatan untuk mendapatkan hijab agar lebih menyempurnakan hijabnya. Penerima hijab pun beragam, mulai dari remaja, dewasa, ibu-ibu dan juga petugas Satpol PP wanita yang berada di lokasi.

“Acara ini mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari masyarakat target maupun non target (laki-laki). Hal ini ditunjukkan dengan kedatangan dan antusiasme mereka ke stand bagi hijab, serta saat kami berkeliling membagikan hijab hingga dukungan yang diberikan secara langsung di lokasi terkait pentingnya menutup aurat bagi muslimah yang belum berhijab.” tutur Ira, salah satu anggota Departemen An-Nisa yang menjadi penanggung jawab kali ini, bersama rekannya Indah, anggota Departemen Eksternal. “Masyarakat berharap agar kegiatan berbagi hijab dapat selalu mendukung upaya muslimah dalam menutup aurat dan menyempurnakannya,” tambahnya.

Hijab yang dibagikan merupakan donasi yang telah dikumpulkan dari berbagai donator. Hingga saat ini donasi hijab masih dibuka yaitu bisa langsung diantarkan ke secretariat Kamil di gedung kayu lantai 2 Masjid Salman ITB atau dapat menghubungi nomor 085326394704 atau 081268880923.Mari berbagi hijab. Satu hijabmu sangat berarti.

26 views

Tanpa Handphone saat Jumat, Sanggupkah?

 

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Dewasa ini segala aspek kehidupan manusia seolah tidak dapat dipisahkan dengan gadget. Mobilitas tinggi manusia menuntut kebutuhan akan eksistensi gadget semisal handphone untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari. Namun tak dapat dipungkiri pula bahwa penggunaan handphone kini sering disalahgunakan atau dalam penggunaannya acapkali berlebihan tanpa memperhatikan waktu, tak terkecuali saat beribadah. Penggunaan handphone yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor pembuat lalai manusia dalam beribadah. Kelalaian beribadah sebab tidak bijaknya dalam penggunaan handphone jelas dapat merugikan diri sendiri dengan menurunnya kualitas ibadah yang dilakukan.

Fitnah penggunaan handphone yang tengah melanda umat muslim saat ini salah satunya adalah menggunakan atau memainkannya saat khutbah Jumat berlangsung. Mendengarkan khutbah Jumat merupakan bagian dari syariat pelaksanaan shalat Jumat sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw. :

وحدثنا يحيى بن يحيى وأبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قال يحيى أخبرنا وقال الآخران حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من توضأ فأحسن الوضوء ثم أتى الجمعة فاستمع وأنصت غفر له ما بينه وبين الجمعة وزيادة ثلاثة أيام ومن مس الحصى فقد لغا (رواه المسلم)

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib, Yahya berkata : telah mengabarkan kepada kami—sementara dua orang yang lain berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang berwudlu, lalu ia menyempurnakan wudlunya, kemudian mendatangi Jumat, mendengarkan (khutbah) tanpa berkata-kata, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dengan hari Jumat selanjutnya, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang memainkan batu kerikil, maka ia telah berbuat kesia-siaan." (HR. Muslim)[1]

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa mendatangi Jumat dengan mendengarkan khutbah (kemudian melaksanakan shalat) merupakan satu kesatuan syariat yang tidak terpisahkan sehingga mendapatkan keutamaan diampuni dosa-dosa selama hari Jumat tersebut sampai hari Jumat berikutnya ditambah tiga hari. Adapun adab mendengarkan khutbah Jumat dalam hadits tersebut dijelaskan pula dengan tanpa berkata-kata atau berarti diam dan tidak memainkan kerikil[2] yang merupakan perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Hal ini mengindikasikan adanya larangan melakukan perbuatan lain yang dapat mengganggu kekhusyukan pada saat khutbah berlangsung dan menjadikan hilangnya pahala ibadah Jumat[3].

Mengenai diam tanpa berkata-kata dalam mendengarkan khutbah Jumat telah dijelaskan pula dalam hadits Rasulullah saw. :

وحدثنا قتيبة بن سعيد ومحمد بن رمح بن المهاجر قال بن رمح أخبرنا الليث عن عقيل عن بن شهاب أخبرني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة أخبره أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت وحدثني عبد الملك بن شعيب بن الليث حدثني أبي عن جدي حدثني عقيل بن خالد عن بن شهاب عن عمر بن عبد العزيز عن عبد الله بن إبراهيم بن قارظ وعن بن المسيب أنهما حدثاه أن أبا هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول بمثله (رواه المسلم)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Muhammad bin Rumh bin Muhajir, Ibnu Rumh berkata : telah mengabarkan kepada kami Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Bila kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah!” pada hari Jumat padahal Imam sedang berkhutbah, maka sungguh telah sia-sialah ibadah Jumatmu." Dan telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Syu'aib bin Laits telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku, Uqail bin Khalid, dari Ibnu Syihab dari Umar bin Abdul Aziz dari Abdullah bin Ibrahim bin Qarizh dan dari Ibnul Musayyab bahwa keduanya telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Hurairah berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, yakni dengan hadits semisalnya. (HR. Muslim)[4]

Hadits ini menunjukkan bahwa mengatakan sesuatu yang bahkan perkataan tersebut merupakan bentuk amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan agar diam kepada orang lain yang berbicara pada saat khutbah Jumat) termasuk ke dalam perbuatan yang dapat menjadikan ibadah Jumatnya sia-sia atau sebab hilangnya pahala. Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menjelaskan bahwa bila ingin memerintahkan supaya diam kepada orang yang berbicara hendaknya cukup menggunakan isyarat.

Logikanya adalah jika hanya sekedar memainkan kerikil dan berkata-kata yang bahkan sebenarnya merupakan sebuah kebaikan, lantas bagaimana dengan perbuatan lain yang lebih dari sekedar itu? Memainkan handphone saat khutbah berlangsung bukan hanya dapat mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan serta melalaikan hati dan pikiran dari mengingati Allah, namun juga dapat merusak kesempurnaan ibadah Jumat.

Kedua hadits Rasulullah saw yang telah disebutkan, sangat jelas mengisyaratkan bahwa melakukan perbuatan maupun berkata-kata yang dapat mengganggu kekhusyukan selama khutbah berlangsung merupakan perbuatan yang dilarang atau diharamkan sebab dapat menghilangkan pahala dan menjadikan ibadah Jumat bernilai sia-sia[5] dan tidak ada yang didapatkan oleh seseorang melainkan hanyalah kerugian. Untuk hal-hal bersifat keduniawian saja sebagai manusia tentu tidak ingin mengalami kerugian, apalagi untuk hal-hal bersifat ukhrawi yang kelak dituntut pertanggungjawabannya. Sepenting-pentingnya informasi atau pekerjaan di dalam handphone, tidak ada yang lebih penting selain kepentingan akhirat—yang bahkan ibadah Jumat secara keseluruhan sebenarnya berlangsung tidak lebih dari 1 jam. Sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak sanggup tanpa handphone saat ibadah Jumat.

Maka hendaknya perlu direnungkan kembali dan bijak dalam penggunaan handphone demi selamatnya diri di akhirat. Apakah handphone kelak dibawa mati? Apakah handphone dapat menjadi penyelamat di akhirat? Apakah Allah butuh handphone? Jawaban dari kesemuanya tentu tidak.

 


[1] HR. Muslim no. 1419.

[2] Lantai masjid pada zaman Rasulullah masih berupa tanah berkerikil.

[3] Penjelasan Imam an Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, makna lagha yaitu ibadah Jumat yang dilakukan tetap sah namun hilang pahalanya sebab melakukan perbuatan batil yang tercela (perbuatan sia-sia).

[4] HR. Muslim no. 1404.

[5] Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama dalam menyepakati istinbath hukum dari hadits yang menjelaskan tentang perbuatan yang dilarang untuk dilakukan saat khutbah Jumat.

43 views

Syiar Kamil Pascasarjana ITB Adakan Kajian Tematik Bersama Kang Abe

Foto : Kegiatan Kajian Tematik Syiar Kamil Pascasarjana ITB di Gedung Serba Guna Salman ITB (Fotografer : Dadang)

BANDUNG – Menjadi cermin yang baik, kalimat tersebut menjadi tema acara kajian Islam tematik yang diadakan oleh Departemen Syiar dan Pelayanan Kamil Pascasarjana ITB. Kajian ini diisi oleh Ustadz Nur Ihsan Jundullah, Lc  atau yang familiar dengan panggilan Kang Abe. Beliau merupakan alumni Ummul Quro’ Mekkah. Dalam materinya, Kang Abe menjelaskan tentang sirah nabawiyah nabi Muhammad SAW yang hijrah ke Gua Tsur bersama Abu Bakar. Selain itu Kang Abe juga menyampaikan tentang hubungan konsep integritas dalam Islam yang terdiri dari tiga komponen yakni akhlaq, ibadah dan aqidah. Dalam materinya ketiga komponen ini dianalogikan dengan sebatang pohon yang mana aqidah itu sebagai akar pohon yang mencerminkan pola pikir manusia, ibadah itu sebagai batang pohon yang mencerminkan pola perilaku manusia dan akhlaq itu sebagai daun yang mencerminkan pola sikap manusia.

Acara ini diadakan di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB pada Selasa, 26 September 2017 yang dihadiri kurang lebih 118 peserta yang merupakan mahasiswa ITB dan umum. Hablul Barri atau yang biasa dipanggil Cak Barri ini, Mahasiswa Pascasarjana ITB Jurusan Instrumentasi dan Kontrol Fakultas Teknik Industri, yang merupakan koordinator acara ini mengungkapkan bahwa tujuan acara ini sebagai penyeimbang antara kehidupan dunia kampus dengan agama bagi para mahasiswa khususnya mahasiswa pascasarjana ITB. ”Mahasiswa diharapkan dapat mencontoh ilmuan-ilmuan muslim terdahulu seperti Imam Aljazari, Ibnu Sina, Alkhawarizmi dan lain sebagainya,” ungkap Barri. “Jadi bukan hanya sainteknya yang di tonjolkan tapi aqidah dan akhlaq juga harus seimbang, kebetulan sekarang lagi momentum tahun baru Hijriah jadi peserta diharapkan dapat memulai hidup yang lebih positif kedepannya dan bisa menularkan ke teman-teman di sekitarnya dan lingkungannya,” tambah Barri. La Ode Hilman Kurnia, mahasiswa Pascasarjana ITB jurusan Rekaya Tambang Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan yang merupakan peserta acara ini mengungkapkan bahwa materi acaranya bermanfaat sekali. Sesuai dengan kebutuhan sekarang. “Semoga Kamil sering sering lagi bikin acara seperti ini,” ungkap Hilman.

Penulis: Damara

19 views