Results for tag "cerpen"

2 Articles

Pertarungan Cinta di Malam Tahun Baru

Penulis: Khozinatus Sadah, FSRD, 2016, Anggota An-Nisa'


Say… Ayo nonton Panggung Hiburan, yuk, di dekat Tanggul Mojokerto..”

“Dengan siapa aja, Say?”

“Kita berdua ja lah, qulity time gitu..”

“Hmmm gimana ya? Aku masih banyak agenda lain.”

“Agenda apa emangnya?”

“Pokoknya ada-lah. Ya nanti tak kabarin lagi deh, bisa apa nggak…”

“Ok… jangan lama-lama ya….”

Tidak tahu kenapa, atas ajakan Dodi, aku malas menanggapinya. Mungkin dikarenakan skripsiku yang gak kelar-kelar, rasanya malam tahun baru ini terasa hampa. Masih ingat aku sloganku tempo hari “Menunda pengerjaan skripsi satu hari saja, berarti menunda usia pernikahan satu hari juga”. pikiran-pikiran untuk segera menikah bagi pasangan kekasih merupakan hal yang wajar. Apalagi hubungan pacaranku dengan Dodi sudah memasuki tahun ke tujuh. Maklum saja kami berpacaran sejak di bangku SMA.

Nduk.. Nduk….” Suara mbahku (nenek ku) dari dalam dapur terdengar nyaring

“Ada apa, Mbah….?” Tanyaku sambil mendekat ke kursi beliau.

Nduk…. ayo ikut mbah sholawatan di masjid”

“Kapan, Mbah…?”

“Ya tanggal 31, nanti malam”

“Wah mbah… kan malam tahun baru. Masa sholawatan di masjid kan gak seru mbah”

“Wah … wah…. anak muda zaman sekarang. Diajak menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dibilang gak seru”

“Ya memang gak seru, Mbah. Lagian ku sudah diajak Dodi keluar nanti malam”

“Ya keluarnya kan bisa ditunda kapan-kapan lagi toh, Nduk.., momen menyambut kelahiran nabi juga tidak bisa setiap saat, hanya di bulan maulud saja”

“Tahun baru juga sama, Mbah… Malah cuma nanti malam saja…”

“Ya sudah…. Mbah harap, ajakan Mbah tadi kamu fikirkan lagi ya”

“Ya.. ya… nanti saya fikirkan lagi, Mbah…”

“Melakukan hal baik itu tak perlu banyak fikir Nduk. Wong kematian saja ketika menghampiri setiap insan juga tidak pernah di fikir-fikir apalagi di tunda-tunda”

“Ya sudah deh mbah, Nindi masuk kamar dulu ya. …”

Aku mendinggalkan Mbahku yang sudah tua di dapur rumah. Malas rasanya mendengarkan ceramahnya di pagi hari seperti ini. Aku memasuki kamarku yang berada di lantai dua, dengan hati galau. Kalau ku keluar dengan Dodi pasti menyenangkan. Menyambut malam tahun berdua, sambil menikmati pertunjukan di panggung hiburan. Tapi ku sadar, pasti ada saja dosa yang kami perbuat. Ku jadi ragu, sebaiknya bagaimana. Ku mandi dulu saja deh, biar segar…..

***

Huruf per huruf, dan kata tiap kata telah aku tulis, guna menyempurnakan skripsiku yang telah sampai di bab III. Sedih rasanya, satu semester yang lalu aku telah mengambil mata kuliah skripsi tapi masih belum selesai. Kini ku sudah memasuki semester 8. Bayangan skripsi bagaikan “momok” dalam hidupku. Jika sampai di semester 8 belum selesai, maka terpaksa ku harus membiayai kuliahku sendiri. Maklum saja, sejak awal orang tuaku sudah berpesan, aku harus selesai kuliah tepat waktu.

Say… Gimana? Nanti malam keluar ya…”

Sms Dodi mebuyarkan lamunanku. Ku sengaja tidak menjawabnya. Ku masih belum bisa memutuskan antara ikut Dodi atau mbahku.

“Din… malam ini kamu ke mana?”

“Aku jalan-jalan dengan Andre ke alun-alun kota Mojokerto”

Balasan yang mengecewakan. Padahal aku mencari teman yang bisa menguatkan keputusanku untuk tidak berangkat bersama Dodi.

“Sep…. malam ini kamu rencananya ke mana?”

“Aku bersama ibuku, ke masjid, sholawatan”

“Kenapa ke sana? Roni gak ngajak kamu keluar kah?”

“Ngajak sih… Tapi ku gak mau. Tahun baru, aku semakin ingat mati. Berarti sudah setahun usia ku telah berkurang”

Ku tertegun membaca jawabannya Septy. Memang di antara teman kuliahku yang paling religius di Kota Mojokerto ini adalah dia. Meskipun godaan tahun baru yang lebih modern datang, seperti car free night, pesta kembang api, panggung hiburan dan lain-lain. Jadi iriku dengannya. Jarang ada mahasiswi yang seperti dia. Meskipun statusnya punya pacar. Tapi kurasa itu hanya sekedar status saja. Buktinya selama berpacaran tiga tahun, mereka hampir tidak pernah keluar bareng bersama. Terjaga dari hal-hal maksiat muda-mudi pada umumnya. Mungkin karena basic agama dari masing-masing pasangan adalah penyebabnya. Roni yang alumni santri di Ponpes Lirboyo Kediri, sedangkan Septy yang juga alumni santriwati dari pondok Muhibbin Jombang, adalah salah satu penyebabnya.

Say… Ayo berangkat…”

Sms dari dodi kembali memenuhi Inbox ku.

“Maaf say… rasanya ku gak bisa pergi. Ku ada kegiatan lain dengan Mbahku”

“Wah kok gitu say… Ini kan momen-momen yang Cuma satu tahun sekali. Belum tentu tahun depan kita ada kesempatan bersama”

“Maka dari itu, karena kesempatan yang mungkin kita tidak tahu kapan datangnya, Aku memutuskan untuk tidak pergi. Ini sama halnya dengan kesempatan hidup kita juga. Yang kita juga tak tahu kapan berakhirnya”

“Ya sudah. Ku mau keluar dengan Nita saja”

“Ya sudah hati-hati ya.. jaga Nita baik-baik”

“Jawabannya kok gitu? Kamu gak cemburu kah?”

“Tidak. Sebenarnya ku sudah tahu sejak lama bahwa kamu selingkuh dengan Nita. Tapi ku fikir, ya sudahlah. Mungkin suatu saat nanti kamu bisa berubah. Makanya ku tidak mau membahas lagi”

“Ya mau gimana lagi, kamu akademisi banget sih. Ketika ku meluangkan waktu di sela-sela kesibukan kerjaku buatmu, kamu sering gak bisa. Bilangnya mau ikut seminar kek, jadi pemakalah atau ikut lomba. Cowok mana yang betah di gitukan? Kayak ku gak punya pacar saja”

“Ok ku minta maaf jika sikapku kurang memperhatikanmu. Mungkin kita juga tidak jodoh. Ya sudah dari pada saling menyakiti satu sama lain, lebih baik kita udahan saja”

“Ok. Memang kurasa itu yang terbaik. Ku juga sudah mantapkan dan yakinkan hati dengan Nita. Minta do’anya saja deh, kemungkinan pertengahan tahun depan kami menikah”

“OK SIAP…..”

Ibarat gelas yang terisi penuh dengan air panas, kemudian langsung dicelupkan ke air dingin. Maka pecahlah gelas tersebut. Begitupun rasanya hatiku ini. cinta yang sudah lama ku bangun sejak SMA, nyatanya memang bukanlah jaminan. Mungkin ini adalah suatu pembelajaran kehidupan yang harus kujalani. Jodoh merupakan takdir Allah yang rahasia. Mengusahakannya adalah suatu kebaikan, tapi jika terlalu yakin dengan apa yang kita usahakan adalah suatu kenistaan. Lain kali mungkin aku tidak akan lagi pernah berpacaran, karena semakin banyak berpacaran dengan konten kemaksiatan yang selalu ada akan mengurangi kebaikan dari sang jodoh nantinya. Dari pada mengalokasikan cinta pada jodoh yang belum pasti, lebih baik mencurahkan cinta kepada sang kekasih yang haq, yakni nabi Muhammad SAW. Allahumma sholli A’la Sayyidina Muhammad….

23 views

CERPEN : ANRIL SUKSES

By : asmatuqa (Mahfudhotin)

Kicauan burung yang menggelitikkan telinga, cahaya yang memaksa masuk dari biasnya kaca jendela kamar, gemiricik air terdengar bak alunanan aliran air sungai nan jernih, terbangunkan akan sayup-sayupnya kegaduhan tiap paginya. Pelakunya tidak lain tidak bukan adalah dek kecil biasa kusapanya. Kubuka mataku perlahan dan kudapati kegelapan menyelimuti sekotak kamar berbentuk kubus “kepala danbo” itu, kacamata mana.
***
Telah sepertiga kilometer berjalan sambil mengucek mata menuju ruang kuliah analisis real yang bagaikan sebuah negeri antah berantah di hadapanku. Pasalnya tidak pernah nyambung dengan apa itu jarak yang dibuat sembarang dekat dengan menggunakan epsilon sebagai simbolnya. Meskipun ia sebagai kebanggan tertinggi di bidang ilmu matematika, tak bisa dipungkiri bahwa itu membuatku mati kutu ketika menghadapinya. Huwwaaa… pernah terbersit pula apa yang membuat diriku memasuki jurusan matematika sebagai tingkat sekolah lanjut selepas SMA dan ditambah yang seharusnya kulakukan ketika menjadi alumni anak pondok—madrasah kedua—sebagai kesempatan mengabdi, oohh ini hal yang tak seharusnya kulakukan. Apalagi melihat hubunganku dengan pak danang sebagai dosen pengajar mata kuliah tersebut merangkap jabatan sebagai ketua kemahasiswaan, yang biasa aku bantah gagasan beliau dengan kekejaman beliau dalam merubah sistem orientasi mahasisiswa baru oleh Senat di fakultas kami, mengingat aku sebagai ketua komisi A di badan legislatif mahasiswa yang bertugas menjadi pengontrol dan pelindung ide-ide dari menteri badan eksekutif mahasiswa. Kutarik nafasku dalam-dalam, “fiuuhhh”.

Tak ubahnya sahabat dekat yang selalu ada dikala suka dan duka, teman sekamar si kecil tadi menggenggam erat tanganku, seakan ia mengatakan ‘kuatkan dirimu, bahwa dengan berurusan dengan dosen satu ini tidak akan mengubah kebahagiaanmu selama-lamnya, ini hanya tentang 24 minggu atau sama dengan 6 bulan atau sama dengan 1 smester saja’. Iya ini adalah mata kuliah yang diwajibkan departemen sebagai bentuk pertanggungjawaban menjadi seorang mahasiswa di jurusan yang hanya di sukai orang para pemikir-pemikir waras yang sefase dengan einstain cs. Dia mulai memulihkan semangat itu, semangat yang sama-sama kami bangun. “Hei, aku tahu ini tidak mudah, dont say that u alone, Allah with us, akan ada jalan di ujung sana. Kita harus tetap berjuang, Ochin. Ingat, mimpi-mimpi kita!”, tahannya.

“Aku tahu ini memang sulit, aku sudah berusaha.. berjuang.. but, u know me so well, aku tetap seperti ini. Aku tidak sama seperti dirimu yang cerdas, mendengarkan di kelas saja sudah paham. Semakin lama aku semakin terpuruk, terlihat bahwa aku yang paling tidak bisa, apa aku salah masuk jurusan? Aku bukan dirimu aku tak bisa seperti dirimu. Ya Allah.. kulo kedah despundi niki Robb. Makhluk apa aku ini betapa bodohnya? Aku bingung terhadap diriku sendiri.. Dek Kecil, aku lelah, mimpi menjadi seorang pendidik itu rasa-rasanya semakin jauh bahkan semakin menghilang”, keluhku.
Dek kecil menghentikan langkahnya, aku juga. Dengan sigapnya dia melangkah tepat berada di hadapanku. Di genggamnya bahuku, hingga membuatku seakan tegak kembali seperti pohon kelapa lurus keatas. Di lain sisi, pintu ruangan sudah tinggal 3 meter dari tempat kami berhenti.

“Dengar! ”, ucapnya tegas namun wibawa. “Allah tidak menciptakan makhlukknya dengan sia-sia. Dia senang melihat hamba-Nya berusaha keras. Kita pernah gagal, kamu pernah gagal, begitupun dengan diriku. Tabarok, tabarokaladzi biyadihil mulk (Al Mulk : 1). Allah pemilik kerajaan ini semua, Allahlah yang menjatah kegagalan masing-masing orang. Allah ingin melihat kita mengusahakan yang ada di hadapan kita! ” tambahnya.
Ya begitulah si kecil,teman adu diskusi. Pembawaaanya yang keras sama seprtiku sama sama ngeyelnya, namun kali ini ngeyelnya mengalahkan kengeyelanku. Selalu aja bisa mem-pause keluh kesahku. Benar! Hanya bisa mem-pause, karna seperti yang kubilang tadi bahwa aku sama ngeyelnya dengan dia. Karena pada dasarnya akulah yang sangat gampang lelah sebenarnya. Padahal aku punya mimpi-mimpi besar!
Kemudian ia mengeluarkan sebuah note kecil dan menuliskan sesuatu. Dengan tatapan yang kosong aku melihat tingkah apa yang dilakukan sahabat kecilku yang satu ini, ia tuliskan sebuah kalimat..eh beberapa, huruf atau kata entahlah. Lagian ia menuliskannya begitu cepat, lalu melipatnya dan memberikannya padaku. Sambil mengenggam tanganku lagu diajaknya aku melangkah ke ruangan itu.
“.. sedemikian hingga bahwa xn dikurang xm dibuat smbarang dekat kurang dari epsilon.. 1/n dengan n elemen bilangan Asli.. ya mbk ochin silakan berikan saya alasan mengapa saya haru memilih 1/n sebagai epsilon? Pada pembuktian barisa cauchy itu” serang pak danang.
Kaget minta ampun. Apa gag ada yang lain gitu? Tiba-tiba dihadapkan pada pertanyaan itu jantungku kian lama kian tak teratur berdecak kencang, gawat.
“emmm anu ..”jawabku tergugup. Kuperas otakku supaya nyambung arah pembicaraan pak danang tadi sampai mana.. tik tok tik tok lama waktu dan aku hanya diam. Dan terdengar ledakan tawa di kelas. Oh tidak, ini adalah salah satu pertanyaanku semalam selama aku mempelajari bab ini di buku R.G. Bartle. Dan, seharusnya yang bertanya kepada beliau itu aku. Tapi ya begitulah selalu tak pernah ada keberanian untuk menuju ke ruangan dosen beliau untuk bertanya secara langsung, saking berkuasanya beliau dan julukan killer yang sudah melekat pada nama beliau.
“Nah, justru itu yang ingin saya tanyakan kepada bapak sebenarnya”, terdengar suara dari bibirku keluar begitu saja. Gelegar tawa kian nyaring membahana kembali.
Malunya.hufth hufth
Aku kikuk
“Saya khawatir apa kamu benar-benar menanyakannya kepada saya karena ketertarikanmu pada mata kuliah ini atau kamu yang memang tidak tahu apapun!”, terang beliau. Aiiihh kalimat itu..
Hatiku meleleh.. enggeh pak njenengan leres. Memang aku tak bisa apa-apa. Hampir mewek dalam kelas, tapi kutahan. Secara bersamaan si kecil menggemgam erat lagi jemari-jemariku di sebelah bangkuku. Chin, kuatkan hatimu!
“Mahmudah, bagaimna menurutmu?” bapak menanyakannya kepada si kecil yang duduk disebelahku.
***
Of course, she said right answer. Menjawabnya dengan lancar tadi pagi.
***
Sekarang aku bagaikan butiran debu. Kutatap lembaran kecil di meja belajarku, kubuka perlahan.
Sukses= G-n, untuk suatu n= 1, 2, … G.
Lama aku memikirkan apa yang ditulisakan Dek kecil untukku. I understaind! G adalah gagal, dan n adalah banyaknya gagal itu. Yang bisa aku maknai dari nasehatnya adalah semakin bnyak mengalami gagal maka semakin dekat dengan sukses. Karena gagal-gagal itu akan berkurang sedikit demi sedikit! Gagal dan sukses itu sudah menjadi takdir allah, bahwa semuanya ini berjalan sesuai dengan kehendaknya wahuwa alaa qulli syai’in qodir. Aihh..hehe aku sayang kamu kecil!
Kucari dia yang tengah asyik menonton acara matta najwa favorit program yang kami suka sembari kupeluk ia dan kubilang terimakasih.
Malamnya kami tinggal melangkah ke jemuran untuk melihat sesawahan disekitar rumah penduduk tempat kami ngekos. Tatapanku menewarang ke langit malam yang menjatuhkan buliran-buliran air, seakan mereka mendukung rasa syukurku memiliki sahabat seperti ia. Dingin sekali. Tapi seperti yang telah kukatakan bahwa aku sangat senang menikmati hujan. Hehe suasana ini nyaman bagiku. Dan malam ini.. kurasakan suara hujan seperti suara penyemangat atas mimpi-mimpi kami. ^^

10 views