Produk Nata, Pupuk Za, dan Sikap Tabayyun

Oleh: Hanefiatni

wedang

Gambar: wongcoco.com

 

Akhir-akhir ini ramai media banyak memberitakan tentang polres Sleman yang menutup pabrik pembuatan nata dan mengamankan pemiliknya. Penutupan ini  disebabkan oleh laporan proses pembuatan nata yang memakai pupuk ZA. Pasca berita tersebut, ramai orang menjudge, menyalahkan dan menghakimi hal tersebut sebagai penyalahgunaan dan tindakan yang salah. Awamnya, tentu masyarakat akan protes dan tidak terima penggunaan pupuk sebagai bahan pembuat makanan. Namun, adilnya perlu diketahui zat apa dalam pupuk ZA  dan apa peranannya dalam pembuatan nata.

Pupuk ZA, Zwavelzure Amoniak, dari bahasa Belanda yang berarti Amonium Sulfat (NH4)2SO4 dengan kadar nitrogen 21% dan kadar sulfat 24%. Senyawa ammonium sulfat ini, berbentuk Kristal dan merupakan garam yang mudah larut dalam air, istilahnya di dalam air akan terion menjadi ion ammonium (NH4+) dan ion sulfat (SO42-).

Dari segi pembuatan nata, ZA diperlukan dalam proses pembentukan nata.  Nata itu sendiri adalah produk fermentasi yang berbahan selulosa. pembuatannya menggunakan jasa mikroorganisme, Acetobactre Xylinum. Ringkasnya, A.Xylinum mengeluarkan enzim yang dapat mempolimerkan glukosa menjadi selulosa.

Agar kerja bakteri ini efektif, maka diperlukan kondisi-kondisi tertentu untuk bakteri dapat hidup dan bekerja. Kondisi tersebut adalah pH sisterm adalah asam (3,5-7,5; tetapi optimum pada 4,5) sumber nutrisi (sumber carbon dan sumber nitrogen), suhu (28-31oC), dan keberadaan oksigen (karena bakteri A.Xylinum adalah Aerob, perlu oksigen). Maka dari itu, bahan dari nata tersebut adalah:

  1. bahan dasar yang memiliki kadar gula yang cukup (seperti air kelapa, air tahu, air nenas,dan sebagainya),
  2. asam asetat atau asam cuka sebagai control pH sisitem.
  3. Sumber nutrisi bakteri, carbon dari gula yang ditambahkan ke dalam larutan dan nitrogen dari ZA yang ditmbahakan ke dalam larutan.
  4. Stater, bibit dari bakteri Xylinum.

Proses pembuatan nata, mulai dari persiapan larutan, penanaman stater dan pemanenan nata berlangsung kurang lebih satu hingga dua minggu. Di saat pemanenan, nata masih asam akibat asam yang dihasilkan bakteri. Tetapi, nata ini dipotong (saya dulu bahkan membuang satu lapisan atas dari nata yang telah jadi sebelum dipotong) dan direbus hingga rasanya tawar. Proses ini berlangsung lebih dari sekali dan air rebusannya dibuang.

Di sini jelas, bahwa ammonium sulfat digunakan untuk keperluan hidup bakteri (boleh dikatakan tidak berhubungan dengan natanya sendiri). Sama hal nya dianalogikan seperti kita memberikan pupuk kandang ke tanaman kentang, misalnya. Nah, pupuk ini semata kita berikan untuk kelangsungan hidup tanaman kentang, bukan? Buah kentang nya siapa yang menghasilkan? Tentu tanamannya. Jadi, agar tanaman kentang menghasilkan kentang dia harus hidup dengan baik, agar dia hidup dengan baik kita kasih pupuk. Apakah kita makan kentang itu berarti kita makan pupuk? 🙂

Sementara nata itu berasal dari polimerisasi glukosa dengan bantuan enzim dari bakteri. Jadi, gukosa jadi selulosa butuh enzim, enzimnya hasil produksi bakteri, bakteri supaya hidup dan kerja butuh nutrisi, salah satu nutrisinya nitrogen, nitrogen dari ZA. Nah,  jika ada sisa ZA di saat pemanenan, sisa tersebut akan ada di dalam air  bukan di natanya (ingat di awal bahwa ZA itu merupakan garam yang mudah larut) yang airnya dibuang bahkan natanya direbus berkali-kali dan air rebusannya juga dibuang. Jadi kemungkinan untuk adanya sisa ZA di nata sangat kecil.

Mungkin, masalah sekarang adalah kenapa ZA yang digunakan dari pupuk? Memang, sebaiknya ZA yang digunakan adalah yang food grade, karena ada kemungkinan pupu ZA di pasaran tidak murni. Bisa jadi ada cemaran dari logam beratnya. Ini bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Maka tetap perlu dikaji apakah produk nata siap  pasar mengandung sisa ZA atau Logam berat.

Find-the-truth

Gambar: defirahadi.com

Hal pentingnya, tidak baik menjudge sesuatu tanpa mendalami dan mencari tahu kebenarannya. Seperti agama memerintahkan kita untuk selalu bersikap tabayyun, al Quran surat al Hujurat ayat 6 ;  “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.”

Perintah tabayyun atau mendalami masalah, merupakan peringatan, jangan sampai umat Islam melakukan tindakan yang menimbulkan dosa dan poenyesalan akibat keputusannya yang tidak adil atau merugikan pihak lain. Di dalam al Qur’an, perintah tabayyun juga terdapat pada QS. al Hujurat :6.
Dalam ayat tersebut tersirat suatu perintah Allah, bahwa setiap mukmin, yang sedang berjihad fi sabilillah hendaknya bersikap hati-hati dan teliti terhadap orang lain. Jangan tergesa-gesa menuduh orang lain, apalagi tuduhan itu diikuti dengan tindakan yang bersifat merusak atau kekerasan.

Pengertian lebih mendalam dari tabayyun adalah melakukan penelitian. Yaitu suatu kegiatan yang berupaya mendalami dan memecahkan suatu persoalan dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan. Ciri metodologi yang lazim dalam dunia ilmu pengetahuan bisa sebutkan di sini:

  1. Rasional; berpijak pada cara berpikir rasional.
  2. Obyektif; apapun yang ditelaah atau kaji harus sesuai dengan objeknya.
  3. Empiris; obyek yang dikaji merupakan realitas atau kenyataan yang dialami manusia.
  4. Kebenaran atau simpulannya bisa diuji. Bahwa kebenaran teori-teori atau hukum yang      diperoleh melalui proses analisa, harus sanggup diuji oleh siapa saja.
  5. Sistematis, semua unsur dalam proses kajian harus menjadi kebulatan yang konsisten.
  6. Bebas; dalam penganalisaan fakta-fakta, seseorang harus dalam keadaan bebas dari segala tekanan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan pihak tertentu.
  7. Berasas manfaaf; kesimpulannya harus bersifat umum dan bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dalam dakwah.
  8. Relatif; apa yang ditemukan atau yang disimpulkan tidak dimutlakkan kebenarannya, dalam arti memungkinkan untuk diuji oleh temuan berikutnya atau temuan orang lain.

Sumber:

http://regional.kompas.com/read/2015/04/01/10231091/Terbongkar.Pabrik.Nata.De.Coco.Dioplos.Pupuk.ZA

https://inacofood.wordpress.com/2008/01/30/bakteri-nata-de-coco/

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2015/04/01/peranan-pupuk-za-dalam-pembuatan-nata-de-coco–710050.html

https://zulliesikawati.wordpress.com/tag/amonium-sulfat/

http://www.daaruttaqwa.com/wawasan/petuah-kyai/161-sikap

Comment ( 1 )

  1. / ReplyTopan Setiawan
    Ada kmugkinan amonium sulfat trprngkap dlm pori2 nata dlm proses polimerisasinya. Dan ni susah dihilangkn jika hanya dgn perebusan. Klo demikian sperti apa efeknya? (Apalagi adanya sulfat) Bukankh bisa mnggunakan sumber nitrogen lain selain ZA? Dr asam amino atau protein yg ada dipasaran misalnya. Jenis bakterinya aerob, artinya bs hidup di udara terbuka. Bukankah bakteri bs memfiksasi nitrogen dr udara. Olehnya bs sj nitrogen diperoleh dr udara tanpa pnambahan ZA. Gimana solusinya? Klo ZA digunakan u/ pupuk digunakan pula u/ industri makanan bukankah akan timbul masalah ekonomi lagi. Permintaan naik harga naik, bukan begitu?

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>