Menjemput Berkah Majelis Ilmu

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Alhamdulillah wa syukurillah, kita hidup di zaman sekarang yang serba mudah dan canggih dengan teknologi. Islam pula telah berkembang pesat ke seluruh penjuru dunia. Tak lagi sulit dalam mempelajari Islam dan mencari-cari majelis ilmu hingga menempuh perjalanan jauh. Tidak seperti saat zaman Nabi Muhammad saw, orang-orang yang hendak mempelajari Islam kala itu mendatangi beliau, tidak peduli harus menempuh perjalanan yang jauh lagi sulit dengan berjalan kaki maupun menunggang unta atau kuda. Kini, ulama telah banyak dan majelis ilmu bertebaran dimana-dimana.

Namun di tengah “kemudahan” saat ini, semakin dimudahkan pula dengan adanya media sosial sebagai media penyebaran segala bentuk informasi tak terkecuali da’wah Islam. Orang-orang menjadi mudah mengakses video da’wah dimana dan kapan saja dari seorang ulama melalui berbagai media semisal youtube, live instagram dan lain sebagainya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Tentu bentuk positif dari kemudahan ini dimaksudkan agar da’wah Islam, majelis ilmu yang disiarkan secara streaming tersebut bisa menjangkau orang lebih luas dan leluasa dalam mengakses ilmu agama. Tetapi, apakah dapat dibenarkan jika seseorang kemudian berpikir daripada susah payah menghadiri majelis ilmu, cukuplah baginya melihat dan mengakses melalui media-media tersebut. Atau seperti di kalangan remaja saat ini dikenal istilah “mager” (malas gerak), lebih memilih cukup dengan mengaksesnya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Nabi Muhammad saw dalam haditsnya menyebutkan mengenai keutamaan mendatangi majelis ilmu :

حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِالۡهَمۡدَانِيُّ. وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ. قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :…… وَمَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىٰ الۡجَنَّةِ. وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ، يَتۡلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيۡنَهُمۡ، إِلَّا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتۡهُمُ الرَّحۡمَةُ وَحَفَّتۡهُمُ الۡمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنۡ عِنۡدَهُ. وَمَنۡ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمۡ يُسۡرِعۡ بِهِ نَسَبُهُ. (رواه المسلم)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad ibnul 'Ala` Al-Hamdani, dan lafazh ini milik Yahya, Yahya berkata : telah mengabarkan kepada kami, dua yang lain berkata : mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “…… Dan barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), nasabnya tidak akan bisa menyempurnakannya.” (HR. Muslim)[1]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mendatangi majelis ilmu akan Allah mudahkan jalan menuju surga, mendapatkan ketenangan, senantiasa diliputi oleh rahmat dan dikelilingi malaikat—disebutkan bahwa malaikat ridla dan mendoakan orang tersebut, sementara kita ketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang paling taat dan doanya diijabah oleh Allah.

Terlampau banyak keutamaan menghadiri majelis ilmu, selain kita akan menuai pahala yang besar darinya. Di dalamnya melimpah manfaat dan keberkahan yang tentu hanya bisa kita dapatkan jika kita menghadirinya—menjemputnya. Sehingga dirasa tidak tepat jika dicukupkan mengakses majelis ilmu melalui media tanpa mendatanginya.

Sebagaimana yang diungkapkan salah seorang pengurus KAMIL, “Bisa, sih, streaming, tapi pasti berkahnya beda.” (Barri, 2017)

 

 


[1] Hadits Arbain an Nawawiyah, nomor 36, h. 41-42.

 

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>