Membaca Zaman

Kajian Kamil Pascasarjana ITB kali ini diadakan ba’da dzuhur dengan topik pembahasan yaitu “Membaca Zaman”. Berikut catatan singkatnya. Semoga bermanfaat.

Membaca zaman melalui sejarah, diperlukan untuk mengetahui sudah berada di zaman apa umat Islam saat ini dan bagaimana seharusnya kontribusi kita agar tercapai kembali kejayaan Islam. Kajian mengenai hal tersebut dimulai dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ

كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Ath-Thoyalisiy telah menceritakan kepadaku Dawud bin Ibrahim Al-Wasithiy telah menceritakan kepadaku Habib bin Salim dari An-Nu’man bin Basyir ia berkata,

“Kami pernah duduk-duduk di dalam Masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian Basyir menahan pembacaan haditsnya. Kemudian datanglah Abu Tsa’labah Al Khusyani dan berkata, “Wahai Basyir bin Sa’d, apakah kamu hafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan Umara` (para pemimpin) ?” kemudian Hudzaifah berkata, “Aku hafal Khutbah beliau.” Maka Abu Tsa’labah pun duduk, kemudian Hudzaifah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya.  Kemudian berlangsung kekhilafahan sesuai manhaj kenabian selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kerajaan yang menggigit selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung pemerintahan yang menindas (diktator) selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian akan berlangsung kembali Khilafah sesuai manhaj kenabian. Kemudian beliau diam”. (H.R. Ahmad)

 

Dari hadits tersebut, kita tahu bahwa umat ini akan mengalami 5 zaman, yaitu :

1. Masa Nubuwwah (23 tahun masa kenabian).

Masa ini dimulai sejak diutusnya Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wassalam dan berakhir saat Nabi wafat, yaitu usia 63 tahun, pada hari Senin, 12 rabi’ul awal tahun 11 Hijriyah

2. Masa Kekhalifahan

Yaitu masa dengan manhaj (sistem aturan) nubuwwah sampai Allah kehendaki, kemudian dihilangkan sampai Ia kehendaki. Dimulai sejak diangkatnya Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai amirul mukminin. Dilanjutkan Khulafaur Rashidin.

Masa kekhalifahan ini terjadi selama 30 tahun, sesuai dengan yang dikatakan Rasulullah dalam hadits.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافَةُ النُّبُوَّةِ ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْمُلْكَ مَنْ يَشَاءُ أَوْ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ. [ سنن أبي داود 4029]

Rasulullah saw bersabda: “Khilafah kenabian itu (bertahan) selama 30 tahun kemudian Allah mendatangkan raja-raja kepada yang dikehendaki. (HR. Ahmad)

Terbukti masa ini berakhir pada saat penyerahan kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib ke Muawwiyah pada tahun 41 hijriyah (tepat 30 tahun), lalu berubah dari masa khalifah menjadi Mulk (kerajaan).

3. Masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adzon)

Tidak satu kepemimpinan, tapi terpecah. Dimulai dari ketika Muawwiyah jadi Raja sampai Abasiyah sampai masa runtuhnya Turki Utsmani 1924 (masa ini kurang lebih 13 Abad). Sistemnya mengikuti sistem kenabian, tapi sistem pengangkatan pemimpinnya seperti kerajaan.

Pada masa ini, ada tokoh yang baik ada pula yang dzolim. Misal pada masa Muawwiyah ada Umar bin Abdul Azis, masa Abasiyah Harun Ar Rosyid, masa Utsmani ada Muhammad Al Fatih.

4.  Masa Raja yang Diktator (Mulkan Jabariyyah)

Mulai dari tahun 1924 sampai sekarang. Masa dimana aturan yang ada cenderung dilanggar daripada dipatuhi. Rasulullah melalui sabdanya secara tidak langsung mengingatkan umatnya akan datangnya masa ini.

بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا

وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No. 8493)

Namun ketika sudah berlebihan, maka itulah tanda kehancurannya. Semua masa ada batas waktunya. Hingga akan datang kembali masa Nubuwwah setelahnya, dengan generasi-generasi terbaik.

5. Masa Khilafah kembali

Khilafah dengan manhaj (sistem aturan) nubuwwah. Artinya, pada masa ini kejayaan Islam akan kembali.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan masa kejayaan Islam? Bila menilik dari sejarah urutan turunnya ayat-ayat Al Qur’an, tahap yang harus dilakukan adalah :

  1. Perbaikan Individu
  2. Perbaikan Masyarakat
  3. Perbaikan Negara

Seseorang ketika belum mampu membina diri, maka jika ia diberi amanah membina negara, tidak akan berjalan baik. Kewajiban perbaikan diri ini menjadi tugas bagi semua muslim.

Pencapaian kejayaan Islam tidak terlepas dari persatuan umat. Rasulullah pernah berwasiat perihal persatuan umat ini.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”

(HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ No. 2549)

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>