Memahami Kembali Hakikat Kemanusiaan Kita

(Edisi khusus untuk para manusia)

Assalaamualaykum, ….
Bro… kali ini kita coba memahami kembali hakikat diri kita dan mencoba menjawab makna kita sebagai manusia (sebuah pertanyaan yang telah banyak membingungkan para ahli filsafat). Sebenarnya pembahasan tentang hal ini sangat panjang, namun karena dibuat versi kultum, maka pembahasannya kita coba seringkas mungkin tanpa mengurangi makna yang ada.

Hakikat manusia :

1. Manusia adalah makhluk (sesuatu yang diciptakan). Jadi kita semua ini adalah hasil ciptaan dari Sang Maha Pencipta (Allah). Karena kita hanya makhluk, maka melekatlah sifat – sifat makhluk pada diri kita, yaitu : lemah, bodoh dan fakir.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa ‘: 28)

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” [Q.S. Al Ahzab: 72]

“Wahai manusia! Kamulah yang fakir (memerlukan Allah), dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS. Fathir : 15)

Di sisi lain, Allah Yang Maha Pengasih juga telah menjadikan kita dalam keadaan fitrah.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS Ar Ruum : 30)

Jadi sob …, semoga dengan menyadari bahwa kita hanyalah makhluk maka kita akan dijauhkan dari sifat sombong dan membesarkan diri.

2. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah di antara makhluk – makhluk-Nya yang lain. Oleh karena itu janganlah kita merendahkan / menghinakan diri kita sendiri kita harus tetap percaya diri (walaupun wajah kurang ganteng wkwkwkwkwk 🙂 ), dan jangan pula kita merendahkan serta menghinakan orang lain. Dari sinilah islam telah membebaskan manusia dari penghambaan terhadap manusia atau makhluk lain.

“… dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan “. (Al Israa’ : 70)

Karena kemuliaan inilah, maka Allah menundukkan alam ini untuk dikelola sebaik – baiknya oleh manusia.

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir (QS. al-Jatsiyah (45) : 13)

3. Sebagai makhluk yang dimuliakan, Allah memberikan beban (baca: tanggung jawab) kepada manusia. Manusia dibebani untuk beribadah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi. Tuh … kan sob…. kita diciptakan bukan untuk sekedar main – main menghabiskan umur kita di dunia, tapi kita punya tanggung jawab yang harus kita tunaikan.

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat: 56)

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada para Malaikat: ’Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi … “ (QS Al Baqarah: 29)

4. Dalam menunaikan tanggung jawab tersebut, manusia diberikan kebebasan untuk memilih, oleh karena itu akan ada manusia yang beriman (yang menunaikan tanggung jawab tersebut dengan sebaik – baiknya), dan ada pula manusia yang kafir (yang mengingkari tanggung jawab yang diberikan). Bagi orang – orang yang beriman akan diberikan balasan berupa surga dengan segala kenikmatannya, sedangkan bagi orang – orang kafir akan dilemparkan ke neraka yang penuh dengan siksaan. Jadi pilih mana kawan? Mau golongan yang pertama (beriman) atau yang kedua (kafir)? Jelas bahwa yang pertama itu yang paling baik.

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. ” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS 18 Al-Kahfi: 29).

Demikianlah sedikit uraian tentang hakikat kemanusiaan kita, penulis yakin bahwa yang membaca tulisan ini pasti manusia (ya iyalah … wkwkwk penulisnya mulai stress kehabisan bahan), semoga dengan semakin menyadari hakikat kemanusiaan kita akan menyadarkan kita tentang hakikat eksistensi kita di dunia ini.

# Salam cinta untuk semua dari Kamil Pascasarjana ITB.

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>