Kimiawi Asap

Penyusun: Nurlaida (Biokimia ITB)

Meningkatnya bencana kebakaran hutan skala besar pada beberapa tahun terkahir telah memicu perhatian terhadapa dampak potensial dari asap, terutama semenjak adanya peningkatan aktifitas di beberapa belahan dunia seperti di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Rusia (2) termasuk Indonesia. Pembakaran hutan dan lahan pertanian secara illegal di Indonesia telah menyelimuti sebagian besar Asia Tenggara dengan asap tebal, salah satu penyebab kelumpuhan terbesar dalam beberapa tahun ini (5). Peningkatan kebakaran hutan ini dapat disertai dampak lain seperti kondisi cuaca ekstrem, perubahan iklim, dan peningkatan populasi manusia yang berada di sekitar area rawan api. Penelitian menunjukkan bahwa emisi dari pembakaran biomassa menyebabkan gangguan terhadap komposisi kimiawi atmosfer global (2).

Indonesia mempunyai hutan ke-3 terluas dunia setelah Brazil dan Zaire. Luas hutan Indonesia diperkirakan mencapai 120,35 juta hektar atau 63 persen luas daratan (3). Indonesia merupakan Negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar kelima di dunia, berdasarkan data the World Resources Institute (5).

gambar1

Gambar 1. Kebakaran hutan di Sumatra (Indonesia) melepaskan senyawa organik dan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Page dkk., 2002, mengestimasikan sekitar 0.19-0.23 gigaton karbon dilepaskan pembakaran, dengan 0.05 Gt tambahan dari pembakaran lahan selama 1997-1998. Foto: B. Sanders, GMFC (4)

Selama tahun 1997 kebakaran hutan besar terjadi di Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Irian Jaya/Papua Nugini. Total kebakaran antara tahun 1997-1998, menyelimuti lebih dari 9.5 juta hektar, dengan 6.5 juta hektar terjadi di Kalimantan. Kebakaran yang menyebar ini semuanya disebabkan oleh aktifitas manusia, termasuk pada spekulasi konversi hutan skala besar, menyebabkan kabut asap disepanjang Asia Tenggara. Beberapa masalah pernafasan timbul serta masalah pada system transportasi. Total kerugian ditaksir mencapai 9.3 juta dollar AS (4).

gambar2

Gambar 2. Distribusi aktifitas api yang terdeteksi oleh sensor MODIS Terra di seluruh planet selama 10-19 Juli 2006, sumber: NASA/MODIS Rapid Response Team/Scientific Visualization Studio (1).

Efek Pembakaran Hutan: Asap

Penurunan kualitas udara sampai taraf membahayakan kesehatan dapat menimbulkan dan meningkatkan penyakit saluran napas seperti infeksi saluran napas akut (ISPA). Penderita ISPA di daerah bencana asap meningkat 1,8 – 3,8 kali dibandingkan jumlah penderita ISPA pada periode sama tahun-tahun sebelumnya.8,10Pada saat kebakaran hutan tahun lalu, kualitas udara di wilayah Kalimantan Barat sudah pada tahap membahayakan kesehatan dengan kadar debu >1.490 μg/m3 (batas yang diperkenankan 230 μg/m3). Kabut asap akibat kebakaran hutan telah merambah ke berbagai propinsi seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Utara dan Riau bahkan sudah mencapai Malaysia dan Thailand. Asap menimbulkan iritasi mata, kulit dan gangguan saluran pernapasan yang lebih berat, fungsi paru berkurang, bronkitis, asma eksaserbasi, dan kematian dini. Selain itu konsentrasi tinggi partikel-partikel iritasi pernapasan dapat menyebabkan batuk terus menerus, batuk berdahak, kesulitan bernapas dan radang paru. Materi partikulat juga dapat mempengaruhi system kekebalan tubuh dan fisiologi melalui mekanisme terhirupnya benda asing ke paru. Dampak yang ditimbulkan tergantung dari individu seperti umur, penyakit pernapasan sebelumnya, infeksi dan kardiovaskuler dan ukuran partikel (3).

Komposisi Asap (3)

 Asap merupakan perpaduan atau campuran karbon dioksida, air, zat yang terdifusi di udara, zat partikulat, hidrokarbon, zat kimia organik, nitrogen oksida dan mineral. Ribuan komponen lainnya dapat ditemukan tersendiri dalam asap. Komposisi asap tergantung dari banyak faktor, yaitu jenis bahan pembakar, kelembaban, temperatur api, kondisi angin dan hal lain yang mempengaruhi cuaca, baik asap tersebut baru atau lama. Jenis kayu dan tumbuhan lain yang terdiri dari selulosa, lignin, tanin, polifenol, minyak, lemak, resin, lilin dan tepung, akan membentuk campuran yang berbeda saat terbakar.
 Materi partikulat atau Particulate Matter (PM) merupakan bagian penting dalam asap kebakaran untuk pajanan jangka pendek (jam atau mingguan). Materi partikulat adalah partikel tersuspensi, yang merupakan campuran partikel solid dan droplet cair. Karakteristik dan pengaruh potensial materi partikulat terhadap kesehatan tergantung pada sumber, musim, dan keadaan cuaca.

KOMPONEN UTAMA ASAP PEMBAKARAN HUTAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESEHATAN MANUSIA (2)

tabel

Gambar 3. Skema Dampak Paparan Nanopartikel Terhadap Tubuh Manusia (1)

gambar3

Keterangan: Gambaran di atas tidaklah mutlak disebabkan oleh asap pembakaran hutan tetapi lebih kepada berbagai dampak kemungkinan dari berbagai macam partikel berukuran nano yang masuk ke tubuh manusia (penyusun).

Daftar Pustaka
1. Buzea, C., Blandino, I. I. P., dan Robbie, K., 2007, Nanomaterials and Nanoparticles: Sources and Toxicity, Biointerphases, vol. 2, issue 4 (2007), hal. MR17 – MR172.
2. Duran, S., 2014, Evidence Review: Wildfire Smoke and Public Health Risk, Environmental Health Services (www.bccdc.ca).
3. Faisal, F., Yunus, F., dan Harahap, F., 2012, Dampak Asap Kebakaran Hutan Pada Pernapasan, CDK-189, vol. 39 no. 1, hal. 31-35.
4. Goldammer, J. G., 2007, Forest Fires – A Global Perspective, SILVOTECNA XXII Incendios forestales: amenazas y desafíos en un escenario de calentamiento global, 8-9 November 2007, Concepción, Chile.
5. The Guardian, http://www.theguardian.com/environment/2015/oct/05/forest-fires-in-indonesia-choke-much-of-south-east-asia (diunduh tanggal 6 Oktober 2015).

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>