Kepemimpinan dari Hati

oleh : Dedi Cahyadi (@dedicahyad1)

 

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah SAW. Suri Teladan yang baik bagimu(AlAhzab:21)

Mari kita refleksikan kembali Perang Khandaq sekaligus mentadaburi Surah At Taubah: 128-129

Koalisi besar itu serentak menuju Madinah. Kaum Quraisy keluar dipimpin oleh Abu Sufyan, Kabilah Gathafan di bawah pimpinan Uyainah bin Hishin dan Al Harits bin Auf, beserta banyak Yahudi lain yang mengiringi. Pasukan koalisi besar (Pasukan Ahzab) itu berjumlah 10.000 personil, sementara kaum muslimin berjumlah 700 orang. Perbandingannya hampir 1:14. Dianalisa dari segi manapun, seharusnya kemenangan ada di tangan Pasukan Ahzab (sekutu). Bayangkan 1 pasukan muslimin dihadapkan dengan 14 musuh dengan persenjataan lengkap!

Selain jumlah yang kalah telak, masih ada lagi kondisi yang memperparah keadaan. Perang yang terjadi di Bulan Syawal tahun ke-5 Hijriyah ini terjadi saat musim yang teramat dingin, gagal panen kurma, krisis pangan, bencana kelaparan serta rangkaian perang-perang sebelumnya yang begitu menguras tenaga. Seakan hal ini belum cukup, masih ditambah lagi dengan hasutan musuh agar kaum Yahudi dari suku Bani Quraizhah yang saat itu tinggal di wilayah Madinah, dan memiliki perjanjian damai dengan Negara Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam agar berkhianat dan memerangi kaum muslimin.

Situasi benar-benar kritis, waktu yang tersedia tidaklah banyak, dan kabar dari intelijen Rasulullah, kurang lebih hanya satu minggu yang tersisa sebelum musuh benar-benar masuk dan menyerang Madinah. Apakah Rasulullah lari dan mencari tempat yang nyaman dalam menghadapi situasi ini?

Jawabannya TIDAK.

Sejenak marilah kita tadaburi ayat Al Qur’an di At-Taubah :128 – 129.

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu Alami,sangat menginginkan (keislaman dan keselamatan) bagimu, penyantun, dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.….

Dalam Tafsir Ibnu Katsir digambarkan bahwa Nabi SAW merasa terbebani jika orang-orang mukmin mengalami kesengsaraan dan penderitaan, tertindas oleh kekuasaan musuh, dan menjadi penghuni neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu-batu. Ini beliau rasakan karena beliau berasal dari kalangan bangsa Arab sendiri. Sehingga beliau ingin mendapatkan petunjuk dan bernasib baik (QS. Yusuf [12]: 103). Dan beliau sangat meyayangi orang-orang mukmin. Jadi seruan beliau kepada umatnya untuk menegakkan tauhid itu menjadi bukti bahwa beliau sangat menyayangi umatnya. Adapun cobaan yang begitu berat yang dialami mereka itu ternyata mencegah mereka dari menerima dari hal-hal yang lebih berat lagi.

Namun ternyata, inilah cara Allah untuk menguji dan memilah, mana yang benar-benar beriman, dan mana saja yang munafik. Ujian itu tidak tanggung-tangung Allah berikan. Kita akan sampai pada titik yang terlemah, baru kemudian Allah memberikan kabar gembira, berupa kemenangan yang gemilang. Dengan sigap, setelah mendengar kabar itu Rasulullah mengadakan Syura’ (Musyawarah) tertinggi dengan para Shahabat di Madinah untuk mengambil keputusan berperang atau tidak. Hingga pada akhirnya Salman Al Farisi R.A menyampaikan pendapatnya, “Ya Rasulullah, kami dulu berada di negeri Persia. Jika kami dikepung, kami membuat parit”. Berawal dari usul inilah kemudian Mega Proyek pembuatan Parit/Khandaq disepakati sebagai strategi perang kala itu.

Drg. Sukhri dalam bukunya “Manajemen Gerakan Dakwah di Masa Krisis, Belajar dari Sejarah Perang Khandaq” menyampaikan bahwa ada kisah-kisah inspiratif dalam proses pengerjaan mega proyek parit Madinah ini. Yakni Rasulullah sebagai pemimpin negara dan ummat tak mau berleha-leha menanti pekerjaan para sahabat selesai. Sahabat bekerja, Rasulullah pun juga bekerja; sahabat merasa kelaparan, Rasulullah juga merasakan lapar yang sama bahkan lebih. Hal ini berdasarkan dari pengajuan Jabir bin Abdullah bahwa ketika para sahabat mengganjal perutnya dengan sebuah batu untuk menahan lapar seperti apa yang diperintahkan oleh Rasulullah, namun ia melihat Rasulullah mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Subhanallahsehingga ini menjadi ciri pertama kepemimpinan dari hati. Pemimpin tidak hanya dilayani dan berdiam anggun dalam singgasana indahnya, tapi dia yang paling depan menghadapi musuh, yang paling lelah, dan yang paling berani menanggung resiko ummat. Sehingga  menurut hemat saya, beliau selalu menjadi yang pertama dalam kesulitan dan menjadi yang terakhir dalam kebahagiaan ummat.

Kisah inspiratif lainnya adalah ketika ada sekelompok sahabat sedang menggali parit, menemui satu buah batu yang sangat sulit untuk dihancurkan, sehingga menghalangi jalannya penyelesaian pekerjaan. Maka, sahabat melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah, dan beliau pun datang ke lokasi batu yang dimaksud. Rasulullah kemudian mengambil martil, dan mengangkatkan tinggi-tinggi seraya mengucapkan takbir, “Allahu Akbar!”. Dengan ayunan yang keras, maka satu bagian batu menjadi hancur, dan muncul kilatan percikan api akibat kerasnya pukulan beliau tersebut. Kemudian beliau berucap, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Syam telah diberikan kepadaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istananya yang berwarna kemerahan”. Pukulan kedua, menghancurkan satu bagian batu yang lain, dan menimbulkan kilatan percikan api yang serupa dengan sebelumnya, kemudian beliau berucap, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Persia telah diberikan kepadaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istana kota berwarna putih”. Dan kemudian pukulan yang ketiga hingga mampu menghancurkan batu penghalang, kemudian beliau berucap, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Yaman telah diberikan pula kepadaku. Demi Allah kini aku tengah melihat pintu-pintu kota Shan’a dari tempatku ini”. Ucapan dan aksi Nabi SAW ini menjadi pelecut semangat di tengah kelesuan para shahabat dalam beeperang kala itu. Serta inilah yang menjadi ciri kedua kepemimpinan dari hati. Pemimpin harus visioner dan bisa memotivasi jundi (bawahan/anggota), baik dari perkataan atau sikap.

Dan pada akhirnya. Waktu perang pun tiba. Pasukan Ahzab merasa terheran-heran dengan kenyataan yang ditemuinya. Pintu masuk satu-satunya memasuki Negara Madinah kini telah dikelilingi oleh parit selebar 4,6 meter dengan kedalaman 3,2 meter, sehingga menjadikan mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Ketika ada pasukan Ahzab hendak mendekati parit, pasukan kaum muslimin segera melancarkan aksi panah memanahnya, sehingga pasukan Ahzab pun kembali mundur. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah dengan berdiam di sekitar pintu masuk kota Madinah sembari memikirkan cara-cara alternatif untuk masuk menyerah ke dalam kota Madinah..

Namun, beginilah cara Allah memenangkan kaum muslimin. Perang itu tak sampai kontak fisik secara langsung. Dan Allah mengirimkan hawa dingin, dan angin topan untuk memporak-porandakan kemah serta bahan makanan para pasukan Ahzab setelah mereka bertahan selama 25 hari, bukan waktu yang sebentar. Tak ada lagi yang tersisa dari persediaan mereka untuk berperang. Dengan demikian, pulanglah pasukan Ahzab tersebut dengan tangan hampa..

Mengenai hal ini, Rasulullah bersabda, “Sekarang mereka tidak akan mendatangi kita lagi, namun kitalah yang akan mendatangi mereka” (HR. Bukhari). Subhanallah, inilah kemenangan yang agung. Dan merupakan titik tolak bahwa perang-perang yang dijalani oleh kaum muslimin pasca Perang Khandaq tak lagi perang bertipe bertahan, tapi tampil ke depan untuk memusnahkan kebatilan dan menggantinya dengan Islam yang lurus.

Sehingga dalam akhir ayat At-Taubah: 129 ini ayatnya berbentuk penegasan Allah SWT kepada kaum muslimin.

“….Kalau mereka berpaling dan tidak mau beriman maka katakanlah Muhammad “hasbiyallah”(cukuplah Allah bagiku) tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (At-Taubah:129).

Dalam penggalan kisah dan ayat terakhir At-Taubah ini tergambarkan ciri ketiga keemimpinan dari hati. Yaitu ketika pemimpin sudah berikhtiar semaksimal mungkin (bukan bersabar dalam diam, dan hanya berharap pada Allah SWT), tapi dia yang berjuang dalam keterbatasan yang ada sembari senantiasa bersandar kepada Allah SWT serta mampu meyakinkan kebesaran Allah SWT pada ummatnya.

Refleksi kepemimpinan ini menjadi hal yang sangat dirindukan di negeri ini, atau bahkan dunia. Sekarang saatnya Indonesia menanti dan mencari “Pemimpin” yang bekerja dengan sepenuh hati laiknya Rasulullah dan para Khalifah Islam. Seperti apa Pemimpin itu? Dialah yang yang menjadikan Rasulullah sebagai teladan dan Al-Qur’an sebagai pedoman. Pemimpin yang tidak hanya mengejar applause dari audiens, atau bahkan sebatas bongkahan berlian. Pemimpin yang mampu menyesuaikan dengan kondisi ummat, tidak hanya bekerja berdasarkan ego atau idealisme pribadi. Tapi (Dia) pemimpin yang sekarang bisa jadi sedang belajar tertatih, terbangun di sepertiga malam untuk berdoa dan bermunajah, melayani publik tanpa mengharap imbalan, dan senantiasa tersenyum ikhlas ketika ada coba dan rintang menghadang. Dialah engkau, aku, dan mungkin mereka. Tapi sekali lagi tegaskan, kalau mereka diluar sana belum bersiap, maka mari dengan segera kita nyatatakan bahwa minimal diri yang lemah ini yang akan berjuang melayani ummat ini dengan cinta. In syaa Allah….Allahu Akbar… (ded/run)

 

Referensi:

Wahid, Sukhri. Manajemen Gerakan Dakwah di Masa Krisis, Belajar dari Sejarah Perang

Khandaq

Ibnu Katsir. 1988. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir IV, Surabaya, PT. Bina Ilmu

 

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>