Kajian Ba’da Ashar (KaBhar) KAMIL: Indahnya Ukhuwah dalam Islam

Suasana peserta KaBhar serius menyimak tausyiah dari Ustadz Abdul WahabBSCA ITB, Kamis 2 Mei 2013. Oleh Ustadz Abdul Wahab, Lc.

Ukhuwah, begitulah tema Kajian Ba’da Ashar (KaBhar) KAMIL Pascasarjana ITB kepengurusan 2012-2013 perdana kali itu, satu kata yang tingkatan paling dasarnya adalah ta’aruf (saling mengenal) dan tingkatan paling tingginya adalah ‘itsar (mendahulukan kepentingan orang lain). Ukhuwah identik dengan keharmonian, kerjasama dan persaudaraan; seperti dalam sebuah hadist yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Inilah islam, sebagaimana satu tubuh, apabila satu bagian saja merasakan sakit maka seluruh tubuh akan demam tidak bisa tidur”

Subhanallah…

Tidak hanya itu, dalam surat Al Hujurat ayat 10 kita juga bisa menemukan perihal yang sama tentang ukhuwah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

.. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Jika Anda mengartikannya “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara…”, maka mari kita perbaiki persepsi tersebut, karena kata “innama” dalam ayat tersebut memiliki fungsi “ad dawatu asr” yaitu sebagai pembatas. Sehingga, makna ayat ini menjadi sangat dalam, yaitu: “Sesungguhnya HANYA orang- orang yang beriman saja yang bersaudara..”

Jika dicermati, melalui ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala ingin menyampaikan bahwa hanya orang-orang yang  beriman sajalah yang mampu merasakan indahnya persaudaraan. Tidak ada jenis persaudaraan yang memiliki tingkatan lebih tinggi daripada ukhuwah orang-orang beriman. Mungkin kaum yang lain bisa bersaudara, tapi persaudaraan orang-orang beriman adalah yang paling dekat hubungannya dan yang paling dalam maknanya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Sebagai sebuah ilustrasi mengenai persaudaraan orang-orang yang beriman, mari kita merenungi sejenak kisah pasukan Muhajirin dan Anshar yang menyeberangi sungai Eufrat dalam rangka melawan pasukan Persia. Jika di Arab sungai adalah barang langka, maka di sini mereka menemukanya lengkap dengan arusnya yang deras, dan lihatlah saudaraku.. dengan “ukhuwah” mereka menjadi begitu berani menyeberanginya. Satu sama lain saling bergandengan, berjaga-jaga jika saudaranya terpeleset, atau terbawa arus. Lalu momen itu pun terjadi, satu peristiwa yang membuat terperangah kota Qadisyiah. Rombongan orang Arab itu tiba-tiba berhenti di tengah arus ganas Eufrat karena teriakan salah seorang dari mereka “Qa’abku! Qa’abku!, Kantong airku! Kantong airku!”, rupanya satu dari mereka kehilangan kantung airnya. Jadilah semuanya membungkuk meraba-raba dalam riak, mengaduk-aduk Eufrat untuk menemukanya. Sementara itu, panglima dan pasukan Persia di ujung sungai dengan pedang terhunus hanya bisa menelan ludah melihat tingkah Muhajirin dan Anshar. “Jika hanya karena sebuah kantong air semua pasukan mengaduk-aduk sungai raksasa yang berarus sangat deras, lalu bagaimana kalau salah satu dari mereka terbunuh oleh kita?”, seru mereka gentar.

Ya, mereka menelan ludah atas persaudaraan kaum muslimin. Mereka heran karena mereka tidak pernah dapat membayangkan bagaimana mungkin bersaudara bisa se-hebat itu. Maka, hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kembali  terngiang wahai saudaraku.. “Inilah islam, sebagaimana satu tubuh, apabila satu bagian saja merasakan sakit maka seluruh tubuh akan demam tidak bisa tidur”

Begitulah Al-Qur’an, Hadist dan sejarah telah mengajarkan kita betapa luas dan dalamnya ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah bukan sekedar solidaritas yang terjadi atas dasar kesamaan penderitaan, kesamaan masalah atau pun kesamaan perjuangan. Maknanya lebih dari sekedar itu, dialah bunga ibadah saat kewajiban saling menasehati tertunaikan, sedekah saat muncul di depan saudaramu dengan wajah ceria, juga saat membersihkan duri di tengah jalan, dia adalah istana di surga saat menghindari perdebatan, ladang amal saat mengurus yatim dan dhuafa, juga jihad saat membela saudaramu yang terzalimi.

Lihatlah yahudi Qoinuqo, salah satu suku yahudi Madinah yang telah menghianati perjanjian koeksistensi dengan Rasulullah hanya karena mereka membela Quraisy dan iri dengan kemenangan pasukan muslimin saat perang Badar. Saat itu, tiba-tiba mereka menjadi usil pada orang-orang muslim, seperti yang telah dilakukanya pada seorang muslimah Madinah yang datang ke wilayah mereka untuk menyepuh perhiasannya.

Pada awalnya mereka hanya iseng menggoda sang muslimah untuk membuka cadarnya, namun pada akhirnya keisengan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka mengaitkan kain sang muslimah hingga saat bangun dari duduknya, auratnya tersingkap. Bercampur aduk antara marah, malu dan tidak berdaya maka muslimahpun berteriak, dan seorang muslim yang kebetulan mendengar teriakan itu bersegera datang dan membela muslimah dengan memukul si yahudi jahiliyah. Apakah muslim ini mengenal muslimah? Tidak. Lalu mengapa ia membela sang muslimah? Jawabannya adalah karena Islam mengajarkannya wajib untuk membela saudaranya saat melihatnya terzalimi. Masya Allah, inilah indahnya ukhuwah wahai saudaraku.

Ukhuwah bukanlah tanpa ujian dan cobaan. Jangankan kita yang telah jauh dari masa Rasulullah,  kaum Anshor yang terkenal dengan ukhuwahnya yang luar biasapun gonjang-ganjing saat pembagian harta rampasan perang Hunain. Sangat manusiawi saat mereka merasa “janggal” saat Rasulullah membagikan ghanimah justru pada Thulaqaa, dan Mualaf Mekah yang terdepan melarikan diri saat perang berkecamuk. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah pun mengumpulkan mereka dengan bantuan Sa’ad bin Ubadah, lalu beliau berdialog dengan orang-orang Anshor.

“Wahai orang-orang Anshor, ada kasak kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian? ”

Mereka menjawab, “Begitulah Allah dan RasulNya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya”

“Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang-orang Anshar?”

Mereka ganti bertanya,”Dengan apa kami menjawabmu ya Rasulullah? Milik Allah dan RasulNya lah anugrah dan karunia”.

Beliau bersabda, ”Demi Allah, kalau kalian menghendaki dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa lalu kami memberikan tempat dan menampungmu”; air mata mulai bercucuran, nafas-nafas tertahan, mata mereka mulai panas dan isak mulai tersedan.

“Apakah di dalam hati kalian masih membersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk islam, sedangkan keislaman kalian tak mungkin kuragukan? Wahai semua orang Anshor, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba dan unta, sedang kalian kembali bersama Allah dan RasulNya ke tempat tinggal kalian?”; Isak tangis semakin terdengar, dan janggut-janggut sudah basah oleh air mata..

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshor. Jika manusia menempuh suatu jalan di celah gunung dan orang Anshar memilih celah gunung yang lain, tentulah aku pilih celah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah sayangilah orang-orang Anshar, anak orang-orang Anshar, dan cucu orang-orang Anshar”.

Dan cobaan ini pun berakhir dengan indah, seindah ukhuwah orang-orang Anshor,”Kami ridha kepada Allah dan RasulNya dalam pembagian ini, kami ridho Allah dan RasulNya menjadi bagian kami”. MasyaAllah…

Sungguh, Allah ilhamkan nikmat ukhuwah ini pada siapa yang Dia kehendaki dan menahannya dari siapa yang Dia kehendaki. Tugas kita adalah mengikhtiarkan eksistensinya, karena di dalamnya ada pahala ikhtiar, kesabaran, dan jidiyah (kesungguhan). Juga agar kita merasai ukhuwah sebagai kemenangan atas perjuangan panjang.

Jika ukhuwah itu mudah, wahai saudaraku, maka mungkin kita tidak berkesempatan mengecap manisnya pahala perjuangan untuk mendapatkanya.

Jika ukhuwah itu mudah, wahai saudaraku, maka mungkin dia menjadi kurang berharga untuk terus dijaga, dibina dan dikembangkan, lillah  dan fillah.

Sampai di sini, mari kita ikhtiarkan ukhuwah itu mulai dari dari sendiri, mulai dari yang paling kecil dan mulai dari sekarang. Jangan khawatir, Allah telah menjanjikan karunia bagi siapa saja yang ikhlas mengikhtiarkan ukhuwah.

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan para Nabi dan para Syuhada” (HR. At Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal)

Wahai saudaraku…

Siapkah hati, harta dan jiwa kita untuk bersaudara?

Siapkah?? Siapkah lisan, mata, telinga, tangan kita untuk bersaudara???

Jika semuanya telah siap wahai saudaraku, melangkahlah, dan mari kita tetap berdoa semoga Allah istiqomahkan kita untuk menjalani langkah-langkah berikutnya dengan lebih tegap hingga akhirnya Dia kumpulkan kita semua dalam fii jannatin na’im (surga yang penuh kenikmatan) di atas mimbar-mimbar cahaya. Aamiin, Insya Allah.

*Dirangkum dan disarikan kembali oleh Just_desy dari divisi Humas Kamil Pascasarjana ITB dengan perubahan seperlunya. Mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan, semoga bermanfaat.

-Syiar Kamil Pascasarjana ITB-

Comments ( 5 )

  1. / Replyyusi
    Alhamdulillah... I care about you and I wish you could realise There's no difference between us two We're part of one family No matter how far you are and even if we don’t know each other You and me, me and you, we are one
  2. / ReplyYudi Prasetyo
    Maher Zain - One Big Family
  3. / Replyucie
    Alhamdulillah makasih syi'ar.. yang g dateng masih bisa ngikutin materinya :D
  4. / ReplyBuletin Kamil Pascasarjana ITB Edisi 1, Rajab 1434 H | KAMIL ITB
    […] Ashar (KaBhar) pada Kamis, 2 Mei 2013 silam. Bahasan mengenai KaBhar ini tersaji lengkap di sini. Sebagai penutup, diberikan sejarah, visi, misi, dan kontak agar Kamil Pascasarjana ITB dapat […]
  5. / ReplyFajar Arianto
    Alhamdulillah, keren, nuhun Kamil :-) :-) :-)

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>