KABHAR : “Menikah, Apa yang boleh dan tidak?”

Kajian Ba’da Ashar (KABHAR) KAMIL Pascasarjana ITB edisi kali ini bertemakan tentang MENIKAH, dengan pemateri yang luar biasa yaitu Ust. Tony Raharjo. Beliau banyak dikenal karena salah satu kesibukannya sebagai pengisi rubrik tentang keluarga di salah satu radio ternama di Bandung. Tak ayal banyak sekali yang menyempatkan diri hadir di GSS-E Salman ITB Kamis, 16/10/14 lalu.

Namun, ada yang spesial dalam KABHAR ini. Pertama, hadir di antara kami, keluarga baru, seorang muallaf yang sejak dua minggu lalu memeluk Islam. Keluarga baru kita ini adalah Reni dari Jurusan Fisika Angkatan 2013. Apa kisah menarik di balik keputusannya untuk masuk Islam? Reni bercerita, kisahnya bermula dalam sebuah pendakian. Ia tidak tahu mengapa, tiba-tiba dirinya menangis saat mendengar surat Al Fatihah yang dibaca rekan-rekannya saat shalat. Al Fatihah telah berhasil membuatnya tertarik untuk belajar Islam dan membukakan pintu hatinya untuk menerima hidayah. Subhanallaah, hidayah itu memang tidak bisa diperkirakan dari mana datangnya. Mari kita senantiasa mendo’akan saudara sesama Muslim lainnya, agar senantiasa istiqomah dalam Iman, Islam, dan Ihsan. Kedua, sesi yang tak kalah menarik adalah syukuran wisuda alumni KAMIL Pascasarjana ITB.

Kembali bahasan utama, yaitu tentang “Menikah, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan”. Dalam pokok bahasan ini, yang perlu senantiasa diingat adalah “Nikah itu Mudah, Jadi Jangan Dipersulit”.

  • Hukum Menikah

Banyak yang sudah mengetahui bahwa hukum asal menikah, menurut mayoritas ulama, adalah sunnah, tapi kita juga tahu bahwa bisa jadi menikah itu wajib, sunnah, bisa jadi mubah, makruh atau bahkan haram tergantung pada kondisi dari pelaku, penjelasannya sebagai berikut:

  1. Menikah WAJIB, bila orang tersebut sudah memiliki keinginan kuat untuk menikah plus sudah mampu baik fisik maupun mental, dan bila tidak segera menikah ditakutkan akan terjerumus pada hal maksiat seperti perzinaan.
  2. Menikah SUNNAH, bila orang tersebut sudah mau dan mampu, tetapi tidak akan khawatir akan terjerumus pada perzinaan alias masih bisa menjaga diri, menjaga hati dan sebagainya.
  3. Menikah MUBAH, jika antara mau dan mampu, salah satunya ada yang belum terpenuhi. Maksudnya, ada keinginan menikah tapi belum mampu. Atau mampu untuk menikah, tetapi belum ada keinginan.
  4. Menikah MAKRUH, bagi yang tidak mempunyai kemampuan dan tidak memiliki keinginan untuk menikah.
  5. Menikah HARAM, bila dengan menikah itu justru tujuan pernikahan tidak tercapai.
  •  Memahami Cinta dengan Iman

Orang berkata menikah itu dengan CINTA, cinta yang bagaimana yang benar? Yaitu cinta dengan iman. Cinta dan Iman, mungkin bisa dikatakan serupa tapi tak sama. Maksudnya begini, coba renungkan bagaimana mungkin seseorang yang beriman kepada Allaah tapi dia tidak cinta dengan Allaah? Tentunya bila ia beriman kepada Allaah, ia pasti cinta pada Allaah, betul tidak?

Jadi bila iman itu didefinisikan dengan membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilahirkan dalam tindakan atau amal perbuatan, maka cintapun demikian. Membenarkan dalam hati, sebagaimana dalam QS. Al Anfal (8): 2, tanda-tanda orang beriman kepada Allaah salah satunya adalah apabila disebut nama Allaah, maka bergetarlah hatinya. Bukankah juga begitu bila kita sedang jatuh cinta? Mendengar namanya saja hati bisa berdebar-debar. Berbicara tentang cinta, tentang hati, maka sebagai Muslim sudah seharusnya kita berhati-hati dalam menjaga hati supaya terhindar dari berbagai macam bentuk zina. SOLUSInya, “siapkan diri dulu sebaik-baiknya, baru jatuh cinta”. Jadi begitu jatuh cinta semuanya sudah siap, tinggal eksekusi, cintanya bisa dilisankan, pastinya dengan akad. Sebagaimana iman, cinta yang sudah diakadkan akan menjadi sebuah mitsaqan ghalidha atau perjanjian yang kokoh. Dalam hal ini, cinta mengandung konsekuensi adanya hak dan kewajiban sebagai pasangan suami istri dan adanya pertangggungjawaban. Lalu, cinta itu juga dibuktikan dengan tindakan atau amal perbuatan. Cinta itu adalah tindakan, cintailah pasangan kita dengan cara ia ingin dicintai bukan dengan cara kita ingin dicintai.

  •  Bersiap Menuju Pernikahan

Proses menuju pernikahan diawali dengan proses ta’aruf. Intinya, melihat calon suami/ istri, untuk mencari apa yang disukai, tapi tetap ingat pada tujuannya yaitu dalam rangka ibadah. Ust. Tony mengibaratkan cari jodoh itu bagaikan mencari Bus. Misalnya, mencari Bus tujuan Jatinangor, Bus 1, ber-AC tapi penuh sesak, akhirnya tidak jadi dipilih. Menunggu Bus berikutnya, ternyata Bus 2 longgar nih, tapi gak ber-AC, Bus 2 gak jadi ditumpangi. Saking udah terlalu lama nunggu dan harus segera ke Jatinangor, ada Bus berikutnya lewat, Bus 3 ber-AC plus longgar. Tapi setelah masuk, Bus 3 tujuannya bukan Jatinangor. Yah, ibaratnya seperti itu mencari jodoh, jangan mencari kesempurnaan. Bus 1 ber-AC tapi penuh sesak, berpikirlah bahwa nanti akan ada penumpang yang turun, sehingga tidak sesak lagi. Atau mungkin Bus 2 longgar tapi tak ber-AC, ya mungkin lain kali bisa merasakan AC-nya. Jangan sampai tersesat di Bus 3, meski sudah longgar dan ber-AC tapi tujuannya berbeda, pastinya tidak akan sampai pada tujuan yang kita inginkan. Jangan mencari cinta pada orang yang sempurna karena tidak ada orang yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allaah, tapi cobalah untuk mencintai dengan sempurna.

Kalo sudah ta’aruf dan cocok, sebelum lanjut ke akad nikah, bolehkah ada perjanjian pra nikah? Pada zaman Rasulullaah, istilah perjanjian pra nikah memang tidak ada, yang ada adalah mensyaratkan sesuatu sebelum nikah, tidak tertulis, dan itu diperbolehkan selama syarat tersebut tidak bertentangan dengan syari’ah. Misalnya si istri mensyaratkan agar diizinkan bekerja setelah menikah, atau sebaliknya suami meminta istri tidak bekerja setelah menikah, dan lain sebagainya. Syarat tersebut pada dasarnya dimaksudkan agar membantu tercapainya tujuan pernikahan, yaitu sakinah mawaddah wa rahmah, dan tidak untuk mempersulit pernikahan. Ingat kembali, menikah itu mudah, jadi jangan dipersulit.

Kalo sudah deal, baik dengan * atau tanpa * (*syarat dan ketentuan berlaku), lanjut ke akad nikah. Salah satu syarat akad nih adalah adanya mahar, yaitu sesuatu yang diberikan kepada istri yang tidak dapat diminta lagi, bisa berupa harta atau sesuatu yang bernilai ekonomis. Bagi kaum Adam, memberikan mahar yang sebaik-baiknya adalah yang paling utama. Kenapa? Karena itu adalah untuk bekal istri, sebagai antisipasi bila terjadi hal-hal yang kurang diinginkan, misalnya suami meninggal terlebih dahulu. Mahar Rasulullaah untuk Siti Khadijah dahulu adalah 40 ekor unta merah, kalau dirupiahkan sekarang bisa mencapai 40 milyar. Namun, memberikan mahar juga disesuaikan dengan kemampuan. Dikisahkan seorang sahabat Nabi yang menikahi seorang perempuan, maharnya berupa QS. Al Ikhlas yang dibaca sebanyak tiga kali, itu juga diperbolehkan jika memang orang tersebut benar-benar miskin. Bagi kaum Hawa, mau menerima mahar yang seperti itu adalah sebuah kebaikan. Intinya sebagai kaum Hawa, jangan mempersulit kaum Adam hanya karena mahar, dan bagi kaum Adam, sebaiknya mengertilah dan berikan yang terbaik. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa pernikahan itu bukan tentang harta semata, harta itu bisa menyertai dan bisa diikhtiarkan.

  • Dunia Pernikahan

Setelah akad nikah dilangsungkan dan resmi menjadi pasangan suami istri, akan muncul hak dan kewajiban baru di antara pasangan tersebut. Singkat, jelas, dan padatnya, kewajiban suami yang paling utama adalah menjaga agama/ keimanan istri dan anak-anaknya, tentang shalatnya, menjaga auratnya, puasanya, dan lain sebagainya adalah tanggung jawab sang suami. Intinya adalah kewajiban si suami untuk selalu memberikan hidayah, menunjukkan ke jalan yang benar.

Berbicara tentang berharap dan harapan, pada dasarnya harapan itu adalah satu hal yang harus ada dalam diri kita. Karena adanya harapan itu mendorong kita untuk senantiasa berikhtiar dan ikhtiar itu bukan sekedar usaha, tapi ikhtiar adalah tentang kesungguhan.

Selanjutnya, apa kewajiban istri? Kewajiban istri adalah taat pada suami dan menjaga harta suami. Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” cukup jelas bukan? Ketaatan istri pada suami adalah hal yang mutlak, selama tidak bertentangan dengan syari’at tentunya. Lalu harta suami yang dititipkan pada istri merupakan suatu amanah, di mana seorang istri wajib menjaganya.

Hal yang penting dalam pernikahan adalah jangan biarkan perasaan menghilangkan tanggung jawab, jangan sampai semarah-marah kita pada pasangan menyebabkan kita tidak melaksanakan kewajiban kita baik sebagai suami atau istri, tempatkanlah syari’at di atas perasaan pribadi. Meskipun ada perasaan tidak senang terhadap suami, seorang istri harus tetap taat dan tetap melayani sang suami. Begitu pula sebaliknya, bila ada perasaan tidak senang terhadap istri, sang suami harus tetap menjalankan kewajibannya terhadap istri. Apabila kita menempatkan syari’at di barisan depan, maka in syaa Allaah tujuan pernikahan itu akan tercapai.

Demikian sedikit yang dapat kami bagi. Ikuti terus Kajian Ba’da Ashar (KABHAR) Kamil Pascasarjana ITB dan kegiatan Kamil lainnya. Semoga bermanfaat.

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>