Islam dan Tantangan Bahasa

  • 0

Islam dan Tantangan Bahasa

Category : Home

View post on imgur.com

Bahasa adalah elemen penting dalam aktivitas intelektual manusia. Lewat bahasa, kita memahami sesuatu, baik dalam bentuk komunikasi lisan maupun tulisan. Begitu pentingnya peran bahasa dalam kehidupan, ada sebuah ungkapan yang menyatakan “bahasa menunjukkan bangsa” atau “bahasa menunjukkan budaya”.

Lebih dari itu, bahasa dapat dijadikan tolok ukur kemajuan peradaban masyarakat pengguna bahasa tersebut. Di abad pertengahan, ketika Islam menjadi peradaban yang memimpin, bahasa Arab praktis menjadi bahasa internasional dalam bidang sains, teknologi, ketatausahaan, hubungan internasional, dan perdagangan.1 Oleh karena itu, bahasa lain – misalnya bahasa Inggris – harus menyesuaikan diri dengan temuan-temuan Muslim di bidang-bidang tersebut. Sebagai contoh, dalam bidang anatomi mata misalnya, kata kornea (cornea) yang merujuk pada bagian jernih mata yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu dan partikel membahayakan lainnya sebenarnya diambil dari bahasa Arab al-Qarniyyah, yang berarti tanduk. Penamaan al-Qarniyyah sendiri sebenarnya dicetuskan oleh Ibnu Haytsam dalam kitab Manāẓir, karena menemukan keserupaan warna kornea dan tanduk putih dari segi kejernihannya.2 Begitu juga ilmu aljabar (algebra), yang berasal dari kitab Al-Khawārizmī yang berjudul al-jabr wa’l-muqābala.3

Namun demikian, ibarat roda berputar, ada yang dinamakan kaidah pergiliran. Sekarang, peradaban Barat-lah yang sedang menjadi pemimpin. Jika dulu pada saat peradaban Islam sedang memimpin, temuan-temuan ilmiah terbaru selalu dalam bahasa Arab, maka sekarang ketika peradaban Barat yang memimpin, temuan-temuan ilmiah terbaru pun dinamai sesuai dengan bahasa peradaban Barat – katakan, bahasa Inggris misalnya. Ambillah contoh penemuan terbaru dalam beberapa puluh tahun terakhir, seperti televisi (television) dan sinar laser (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation). Kosakata dalam bahasa Inggris tersebut diserap ke dalam bahasa Arab menjadi تلفاز dan الليزر, berturut-turut.

Sesungguhnya kaidah “pinjam-meminjam” merupakan sesuatu yang wajar dalam kaidah bahasa. Hal ini juga menunjukkan bahwa bahasa tidaklah netral – ia sangat dipengaruhi oleh masyarakat penggunanya, baik dari segi konsep nilai yang dianut, kondisi sosiologis, kemajuan teknologi, dll. Akan tetapi, perlu diingat bahwa konsep “meminjam” hanya relevan untuk sesuatu yang tidak kita punyai (atau jumlahnya kurang) dan orang lain mempunyainya. Untuk kalimat yang memang sudah ada padanannya dalam bahasa setempat, “peminjaman bahasa” tidak perlu dilakukan.

Sayangnya, filosofi “meminjam” ini terkadang absen dari kalangan sebagian Muslim. Sebagian Muslim ada yang berhasrat untuk menyajikan kosakata kunci Islam4 dalam bahasa Inggris, namun tidak disertai dengan kehati-hatian sehingga distorsi makna terjadi.5 Sebagai contoh, ambillah kata “shalat”. Kalimat tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris secara sembrono sebagai “prayer”. Padahal, ada perbedaan kentara antara “shalat” dan “prayer”. “Prayer” adalah komunikasi dengan apapun yang dianggap sebagai Tuhan, tanpa memikirkan siapa Tuhan yang dimaksud, bagaimana cara komunikasinya, kapan komunikasi tersebut dilaksanakan, dan dimana komunikasi tersebut dilakukan.6 Sementara itu, “shalat” dalam syari’at Islam harus dilaksanakan lima kali sehari pada waktu yang ditentukan, memiliki rukun-rukun pelaksanaan, terdapat tempat yang boleh/tidak boleh dilakukan shalat, dan yang paling penting harus ditujukan semata-mata karena Allah dan bukan sembarang Tuhan.

Kata “zakat” juga tidak boleh diterjemahkan secara sembrono menjadi “charity”, “alms”, “poor-due”, atau “alms-giving”. Kata-kata bahasa Inggris tersebut digunakan untuk merujuk pada tindakan memberi (dengan jumlah yang cukup) secara sukarela dan dermawan, dan dengan niat untuk menolong orang-orang yang membutuhkannya. Konsep tersebut sebenarnya lebih cocok diterjemahkan sebagai “ṣadaqah”. Sementara itu, “zakat” memiliki nominal spesifik (2.5%) dan pelaksanaannya wajib bagi setiap Muslim (bukan sukarela).7 Kedua contoh inilah yang disebut Ismā’īl Rājī Al-Fārūqī sebagai distortion through translation (penyimpangan makna lewat penerjemahan).8

Selain distorsi lewat penerjemahan/translasi, distorsi lewat transliterasi pun patut diperhatikan. Ambillah misalnya, kata bahasa Arab  تعليم(pengajaran) yang terkadang salah ditransliterasikan sebagai taklīm. Padahal, taklīm (تكليم , menggunakan ك bukan ع) dalam bahasa Arab berarti percakapan. Oleh karena itu, majelis taklīm dapat berganti makna menjadi majelis obrolan, bukannya majelis pengajaran seperti yang dikehendaki.

Senada dengan Al-Fārūqī, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mencatat bahwa terjadi distorsi terhadap kosakata kunci Islam. Hal inilah yang beliau namakan sebagai deislamisasi bahasa (de-islamization of language).9 Makna dari kosakata kunci Islam tidak lagi dipahami berdasarkan pandangan alam (worldview) Islam, sehingga maknanya pun berubah total.

Ambillah contoh kata “Islam”. Menurut W.C. Smith (teolog terkemuka asal Kanada), Islam bukanlah nama suatu agama tertentu. Ia adalah kata kerja, yaitu sikap berserah diri secara total (aslama) kepada Tuhan.10 Definisi ini problematis, sebab definisi “Islam” versi W.C. Smith tidak menspesifikkan siapa Tuhan yang disembah dan bagaimana cara menyembahnya. Dari pemahaman mengenai “Islam” yang tidak komprehensif, dapat ditebak, lahir pula kesimpulan yang membingungkan. Hal ini dapat kita temukan misalnya, dalam penelitian Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari yang menempatkan New Zealand sebagai negara paling “Islami”. Negara-negara dengan mayoritas penduduk Non-Muslim mendapatkan peringkat atas sementara negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia harus puas berada di posisi 140.11 Sayangnya, penelitian tersebut hanya melihat tingkat keislaman (Islamicity Index) dari hal-hal yang sifatnya muʿāmalāt seperti aktivitas ekonomi, HAM, dll. Sayangnya, peneliti tersebut lupa bahwa dalam Islam, amal tanpa keimanan tidaklah berarti (Q.S. An-Nuur (24): 39).

Hal ini jauh berbeda dengan definisi “Islam” menurut Rasulullah SAW yang terdokumentasikan dengan baik dalam Hadits Arba’īn Nawawīyah no. 2 dan 3. Islam adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, mendirikan shalat, berzakat, shaum Ramadhan, dan berhaji jika mampu. Dapat kita pahami, bahwa dalam definisi ini syahadat ditempatkan sebagai unsur yang penting dalam keislaman, berbeda dengan “Islam” versi W.C. Smith dan Hossein Askari yang hanya fokus pada lini amaliyah tanpa mengabaikan aspek keimanan.

Itulah sekelumit contoh tentang bagaimana bahasa sangat dipengaruhi oleh peradaban dan worldview pengguna bahasanya. Sebagai seorang Muslim, sudah barang tentu kita harus memahami Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh. Dalam memahaminya, bahasa harus diperlakukan secara hati-hati karena ia merupakan salah satu medium sampainya makna dan pemahaman kepada jiwa. Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam berbahasa!

Penulis: Juris Arrozy (Departemen Syi’ar)

Daftar Pustaka:

[1] Ismā’īl Rājī Al-Fārūqī, Toward Islamic English, Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1995, hlm. 12.

[2] Usep Muhammad Ishaq, Ibn Al-Haytham Sang Pembawa Cahaya Sains, Depok: Indie Publishing, 2015, hlm. 94-95.

[3] Dr. Wido Supraha, M.Si., Pemikiran George Sarton & Panduan Islamisasi Sains, Depok: Yayasan Adab Insan Mulia, 2017, hlm. 176.

[4] seperti iman, Islam, adab, ilmu, shalat, zakat, dll.

[5] Lihat Ismā’īl Rājī Al-Fārūqī, Toward Islamic English, hlm. 11.

[6] Ibid.

[7] Ibid, hlm. 12.

[8] Ibid, hlm. 11.

[9] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1995, hlm. 32.

[10] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Jakarta: Gema Insani, 2005, hlm. 359.

[11] Lihat laporannya di Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari, How Islamic are Islamic Countries?, Global Economy Journal, Issue 2, Article 2, 2010.


Leave a Reply

Pencarian

Kalender

September 2018
M T W T F S S
« Aug    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com