Injury Time… (The Last 10 Nights)

sumber: dakwatussalafiyah.wordpress.com

Oleh: Muhammad Fawzy Ismullah*

Akhirnya tibalah kita di saat saat harus mangap depan kalender! Eh, kenapa? (bacanya ala iklan biskuit ya :D) Ya iyalah, musti liat kapan el e be a er a en! LEBARAN!!! Musti ngatur jadwal mudik lah, ngatur biaya beli baju baru lah de el el. emang gitu yaa???

Yupz, itulah isi pikiran sebagian dari kita. Padahal tamu yang ditunggu 11 bulan lamanya belum kelar. Woi, kita masih di Ramadhan cuy!!! Bonus spesial berkali kali lipat masih bisa didapetin. Pertanyaannya, apa salah kita mikir kayak gituan tadi???

Ga juga sih. But, kita masih ada di Ramadhan dan seyogyanya pikiran kita masih fokus berburu amal. Nah, sebelum tamu agung tersebut betul betul meninggalkan kita (hiks…), kita masih punya beberapa senjata pamungkas yang siap dikeluarkan. Kayak lagi main bola, biasanya pelatih nurunin pemain (supersub, kata si maniak bola lorong sebelah) di saat saat terakhir, ga musti pas Injury Time sih, yang jelas saat masih bisa menang. Nah, kita juga gitu. Semangat kita musti ditingkatkan lagi saat sekarang ini. Mo tau caranya gimana? Ok, yang masih mangap pantengin kalender, yuk mari dibaca 😀

Senjata pertama kita adalah “muhasabah” or “evaluation” ibadah kita. Yuk kita tengok apa aja yang udah dilakukan selama Ramadhan kali ini. Gimana dengan target di awal Ramadhan kita? Progresnya udah berapa persen? Mulai dari puasa, tilawah, ikut tarwih berjamaah, shadaqoh, sahur dan seabrek ibadah kita lainnya perlu dievaluasi. Dengan evaluasi kayak gini, kita bisa tau apa yang musti dilakukan. Contoh nih ye, target khotamin Al-Qur’an 2 kali. Eh, taunya sampe saat ini belum 1 kali pun khotam. Nah, kita udah yang musti dilakukan. Hajar deh ngaji sampe target dicapai. Klo bisa lebih. Eits, jangan lupa, jangan cuma kuantitas yang dievaluasi. Kualitas juga perlu dievaluasi. Klo kuantitas bagus plus kualitas jempolan, wuih bonus spesialnya dobel berkali kali dong. Good…

Senjata kedua kita adalah menegakkan ibadah ibadah di akhir Ramadhan. Apa aja tuh? Nah, klo ada yang masih bertahan hidup sampai matahari terbenam di akhir Ramadhan (survival, bro? :D) maka bagi yang punya rejeki nih wajib ngeluarin zakat fitrah sebesar 1 sha. Yaa kira kira 2,5 kg bahan makanan yang biasa kita makan selama ini. Contoh nih, biasa makan nasi dari beras merk “KAMIL” maka zakat fitrahnya juga harus beras merk “KAMIL”. Ingat, zakat fitrah ini dilakukan sebelum lebaran sesuai hadits nabi dari Ibnu Abbas berikut:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan diri orang yang berpuasa dari perkataan kotor dan sia sia serta untuk memberi makan orang orang miskin. Maka siapa yang melakukannya sebelum sholat ‘Id, itulah zakat yang diterima. Sedang yang melakukannya settelah sholat maka itu disebut sebagai sekedar shadaqoh (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim)

Teknis penyerahannya gimana nih? Wah, ada yang udah ga sabar nih. Biasanya tuh, di masjid masjid udah ada pansus zakat. Pansus ini selain bertugas untuk menerima zakat juga untuk menyalurkan kepada yang berhak. Selain itu, ada juga beberapa lembaga yang menerima dan menyalurkan zakat tersebut seperti Rumah Zakat, PKPU atau di masjid kita ini ada Rumah Amal Salman ITB yg udah dapat izin dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) tingkat provinsi untuk menjadi Lembaga Amil Zakat (LAZ). Next question is, sapa aja sih yang berhak nerima zakat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjawabnya melalui QS. At-Taubah ayat 60

Sesungguhnya zakat zakat itu hanyalah untuk orang orang fakir, orang orang miskin, pengurus pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

Seorang ulama dari Mesir bernama Sayyid Quthb memberi pendapat dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, yang beliau sendiri tak menyebutnya sebagai sebuah tafsir, “… Pembagian zakat itu merupakan kewajiban yang telah ditetapkan-Nya dan pembagian yang ditentukan juga oleh-Nya. Rasul hanya bertugas melaksanakan kewajiban yang telah ditentukan pembagiannya dari Tuhan semesta alam. Maka zakat-zakat ini diambil dari orang orang kaya sebagai kewajiban dari Allah dan dibagikan kepada orang orang miskin sebagai ketentuan dari Allah. Zakat ini terbatas pendistribusiannya untuk beberapa golongan tertentu sebagaimana ditetapkan oleh Al-Qur’an, tidak diserahkan penentuan pendistribusiannya kepada seorang pun untuk menentukannya, termasuk Rasul. Dengan demikian, zakat itu ditempatkan pada posisinya menurut syariat Allah dan menurut aturan Islam, bukan sebagai perbuatan sukarela dari orang yang berkewajiban menunaikannya. Ia adalah sebuah kewajiban yang pasti, bukan hadiah dan pemberian tanpa ukuran dari distributor. Ia adalah kefardhuan yang sudah ditentukan. Ia adalah salah satu kefardhuan dalam Islam, yang dihimpun oleh pemerintah Islam dengan cara tertentu untuk memberikan pelayanan sosial tertentu. Zakat bukanlah tindakan sukarela dari pembeli dan bukan pula desakan si pemungut. Tidak! Tidak demikian, sistem sosial dalam Islam tidak ditegakkan dengan meminta minta, tidak akan begitu”. Wuits, udah jelas begete khan? Nah, selain zakat fitrah ada juga zakat maal yakni zakat harta. Biasanya sih ada yang ngeluarin zakat maal bersamaan dengan zakat fitrah. Di bukunya Bang Shofwan Al-Banna ditulis zakat maal dikeluarkan karena seseorang memiliki hasil pertanian, binatang ternak, emas dan perak, perusahan dan pendapatan, serta barang tambang

Selain ngeluarin zakat, ada lagi ga yang bisa dilakukan untuk dapat pahala? Yup, jadi pengurus zakat atau amil. Rasakan deh uniknya pengalaman jadi amil zakat. Ikut menimbang beras or langsung terjun ke lapangan saat ngebagiin zakat. Mantab dah!

QS. Al-Baqarah ayat 187: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu, Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang, campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam; (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu ketika kamu sedang ber-i’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa

Nah loh, i’tikaf itu apaan sih? Kata Bang Shofwan Al-Banna lagi nih: I’tikaf itu klo diartikan secara bahasa artinya “berdiri dan tegak atas sesuatu”. Klo dari syariat, artinya ”diam atau berhenti di dalam masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya”. Jadi ceritanya selama 10 hari terakhir, semuanya dilakuin di masjid terutama ibadah. Hal hal berbau keduniaan (emang baunya gimana bro? :D) dipending dulu pake ketuk palu sidang deh. Boleh sih keluar dari masjid, klo ada keperluan yg ga bisa ditolerir kayak yg berhubungan dengan kamar mandi or toilet.

Hukum i’tikaf ini sunnah muakkad or sunnah yg diutamakan. Alasannya dari hadits “Dari Ibnu Umar Anas dan ‘Aisyah, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sejak hijrah hingga beliau wafat”. (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu, di hadits lain disebutkan klo pahala yg ngelakuin i’tikaf itu sama dengan dua haji dan umrah. Ga percaya? Nih haditsnya

“Barangsiapa menjalankan I’tikaf selama 10 hari di bulan Ramadhan, maka amalan itu seperti dua haji dan umrah”. (Riwayat Baihaqi).

I’tikaf ini boleh untuk kaum wanita juga lho. Yg jelas perhatikan tempatnya dan sudah dapat izin dari “pihak yang berwajib”. Nah loh ?!? Nah, ternyata ada bonus lagi nih di i’tikaf. Bukan cuma dapat “tempat tidur” baru, tapi i’tikaf ini ajang mencari si laila. Huss, sapa lagi tuh si laila? Anak lorong sebelah lagi? Bukan, cek deh di QS Al-Qadr: 1-5 yang artinya gini

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatur Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Gimana? Kece ga, genks? Nah saking kecenya nih, tulis Thoriq di Suara Hidayatullah, Sahabat dan tabi’in (generasi yang bertemu dengan Sahabat) sampe menghias diri sambil ngarep ketemu Lailatul Qadr. Mereka mandi di setiap malam selama 10 malam terakhir dan memakai wewangian. Sebagaimana Malik melakukannya pada malam ke-24 Ramadhan, meski di pagi harinya beliau memakai pakaian biasa. Demikian juga Ayub As-Sakhtiyani, ia juga mengenakan dua baju baru di malam ke-23 dan ke-24. Bahkan Tamim Ad-Dari membeli pakaian seharga 1000 dirham yang ia pakai khusus di malam yang diharapkan bertepatan dengan malam Lailatul Qadr. Hayooo, yg udah beli baju baru. Mau dipakai di 10 malam terakhir Ramadhan or pas lebaran nih :D?

Bro, kok ada tulisan “diharapkan bertepatan dengan Lailatul Qadr”, artinya kita belum tau dong Lailatur Qadr ada di malam ke berapa? Memang sih tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam udah ngasih clue nih ke kita. Ini nih beberapa antaranya yg dikutip dari eramuslim.com :

Hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan beliau bersabda “Carilah malam Lailatul Qadr di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, dari dua hadist itu kesimpulannya Lailatul Qadr memang harus dicari di malam ganjil pada 10 malam terakhir or 7 malam terakhir. Intinya, klo mau dapat hasil maksimal yaa usahanya juga harus maksimal dong. Kencengin tuh doa, kuatin tuh ibadah. Hmm, udah nemu tempat i’tikaf yg cocok?

Nah, itu tadi dua senjata pamungkas yg masih bisa kita pake saat injury time. Dan tentunya doa adalah senjata utama orang orang yang beriman. Sebagai penutup, yuk kita semua evaluasi diri. Mari berdoa agar terhindar dari kategori yg ada pada hadits ini.

Rasulullah Shallalllu ‘Alaihi Wasallam menaiki mimbar (untuk berkhutbah). Menginjak anak tangga pertama beluam mengucapkan aamiinn. Begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat Sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan aamiinn? Beliau menjawab “Malaikat Jibril datang dan berkata, ‘Kecewa dan merugi orang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucapkan shalawat atasmu.’ Lalu aku berucap aamiinn.”. “Kemudian malaikat berkata lagi, ‘Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tapi dia tidak sampai bisa masuk surga.’ Lalu aku mengucapkan aamiinn.”. “Kemudian katanya lagi, “kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan Ramadhan tapi tidak terampuni dosa dosanya.’ Lalu aku mengucapkan aamiinn”.

Sesaat sebelum adzan ashar berkumandang

16 Ramadhan 1436 H

di kolong langit Kota Daeng

Shofwan Al-Banna (2007): Ramadhan Returns. Pro-U Media. Yogyakarta.

Sayyid Quthb (2003): Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di bawah naungan Al-Qur’an. Gema Insani

www.eramuslim.com/editorial/membidik-malam-lailatul-qadr.htm

Thoriq (2012): Amalan Sahabat dan Ulama di Bulan Ramadhan. Dalam majalah Suara

Hidayatullah edisi 4/XXV/Agustus 2012/Ramadhan 1433/ISSN 0863 – 2367

* Penulis merupakan mahasiswa program magister di teknik geofisika ITB angkatan 2014 yang juga tercatat

sebagai penerima Beasiswa Unggulan DIKTI. Penulis dapat dihubungi di mallaniung@gmail.com.

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>