Harga Bensin Naik, Kenapa Takut? Bioetanol Solusinya

Oleh: Dewanto Kamas Utomo

Berdasarkan data produksi dan konsumsi  Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral jumlah produksi minyak bumi di indonesia terus mengalami penurunan. Di sisi lain, jumlah konsumsi minyak bumi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Menurut Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementrian ESDM Kardaya Warnika (2010), minyak bumi di prediksi akan habis 10 tahun ke depan. Permasalahan ini mengakibatkan harga minyak bumi naik bahkan berpegaruh pada kenaikan harga barang – barang pokok di Indonesia. Pelaksana Tugas Mentri ESDM Khairul Tanjung (2014) mengungkapkan jika produksi minyak Indonesia sebesar 845 ribu barel per hari, itu merupakan angka yang realistis bisa dicapai pada tahun 2015. Angka tersebut masih jauh dari tingkat konsumsi minyak dalam negeri yang mencapai angka 1,5 juta barel per hari, sehingga kekurangannya harus dipenuhi melalui impor minyak. Meninjau Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional bahwa Indonesia membutuhkan energi alternatif sebagai solusi kritis atas permasalahan kenaikan BBM. Salah satu energi alternatif yang dapat digunakan yaitu bioetanol. Apa itu bioetanol??

Data PRoduksi dan Konsumsi Minyak Bumi (Kementrian ESDM, 2012)

Data Produksi dan Konsumsi Minyak Bumi Di Indonesia (Kementrian ESDM, 2012)

Bioetanol merupakan senyawa etanol yang diproduksi melalui proses fermentasi dari beragam bagian tanaman umbi singkong, biji sorgum, atau molase alias limbah produksi gula tebu. Bioetanol memiliki potensi sangat mudah untuk diproduksi di Indonesia mengingat negara ini kaya akan biodiversity. Bioetanol dapat memiliki dampak positif dan negatif dalam penggunaanya. Jika dalam kadar rendah bioetanol cenderung memiliki dampak negatif untuk di konsumsi sebagai minuman keras atau yang biasa disebut “ciu”. Namun jika dalam kadar tinggi bioetanol dapat memiliki dampak positif sebagai energi alternatif dan terbarukan. Bioetanol tidak saja menjadi alternatif yang sangat menarik untuk menggantikan bensin. Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Yuli Setyo Indartono (2005) “bioetanol di Brazil mampu menurunkan emisi karbondioksida hinggal 18%”. Dalam hal prestasi kinerja mesin, bioetanol dan gasohol (campuran bioetanol dan bensin) tidak kalah dengan bensin bahkan dalam beberapa hal tidak kalah dengan bensin. Pada dasarnya pembakaran bioetanol tidak menciptakan karbondioksida jadi netto ke lingkungan karena zat yang sama (bioetanol dari zat tumbuhan) akan diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sebagai bahan baku bioetanol. Namun untuk digunakan sebagai sumber energi bioetanol perlu ditingkatkan kadarnya, untuk meningkatkan kadar bioetanol diperlukan suatu proses destilasi (pemurnian). Hasil penelitian penulis dan tim pada tahun 2012 yang notabene alumni mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan rancang bangun protoype destilasi vakum bioetanol berhasil menyulap minuman keras “ciu” menjadi bioetanol kadar tinggi hingga 95% hanya dengan satu kali proses destilasi. Kelebihan prototype ini yaitu hanya menggunakan konsumsi energi kalor yang sedikit karena pengaruh pengurangan tekanan pada sistem. Menurut Praktisi dan Inovator Bioetanol di karanganyar Jawa Tengah Soelaiman Budi Sunarto (2010), bioetanol kadar 80 – 85% untuk motor 2 tak dengan jarak tempuh hingga 30 – 35 km dan motor 4 tak dengan jarak tempuh hingga 35 – 40 km, bioetanol kadar 99,5 % hingga 100% mampu langsung diaplikasikan pada kendaraan bermotor dengan tingkat korosi yang kecil. (dew/run)

Jadi, BENSIN NAIK!! kenapa takut..?? Indonesia kaya sumber daya alam yang mampu dimanfaatkan sebagai solusi kritis bioetanol sebagai energi alternatif  dan terbarukan

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>