Galau; Antara Karir Atau Ibu Rumah Tangga?

RuMah1_1Pilih mana, jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir? Jika dihadapkan pada pilihan tersebut, tidak sedikit muslimah yang merasa dilematis (baca: galau), dan tidak sedikit pula yang telah mantap menentukan pilihan. Bagaimana dengan Anda? Sudahkan Anda menentukan?

Bagi muslimah yang masih galau, dalam tulisan ini akan sedikit dirangkum sebuah diskusi dengan Ustadzah Dewi Larasati S.T, M.T, Ph.D mengenai “Wanita dan Karir” dalam Launching Forum Muslimah (RuMah) Kamil Pascasarjana ITB.

Acara yang dilaksanakan Jumat 1 Juni 2013 bertempat di Taman Ganesha ini bertujuan sebagai wadah muslimah pascasarjana ITB untuk berbagi ilmu dan informasi di berbagai bidang, sekaligus sebagai sarana saling menguatkan dan mengokohkan ukhuwah Islamiyah.

Dalam acara tersebut, Ustadzah Dewi yang berprofesi sebagai dosen ITB menekankan pertimbangan syari’ah dalam aktifitas muslimah sebagai ibu rumah tangga maupun berkarir. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) dengan sebuah tugas syar’i atau misi Rabbaniyah yaitu beribadah hanya kepada-Nya, ibadah di sini tentu saja tidak hanya yang bersifat mahdhoh (fisik) saja tetapi juga ghoirumahdhoh (non-fisik), tidak hanya ibadah ritual tapi juga mu’amalah. Kejelasan mengenai hal ini dapat dilihat dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56:

وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالْإِنسَإِلَّالِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzaariyaat : 56)

Berdasarkan ayat tersebut, misi hidup manusia sangatlah jelas. Manusia dan jin diciptakan sebagai pengemban misi Rabbaniyah tanpa membedakan laki-laki atau perempuan untuk mewujudkan sebuah visi, yaitu menjadi rahmatan lil ‘alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta). Dalam melaksanakan misi dan visi ini, manusia dibekali dengan kesempurnaan jasad, akal, hati dan nafsu. Allah bahkan bersumpah 4 kali dalam surat At-Tin 1-4 untuk menerangkan kesempurnaan penciptaan manusia. Dengan demikian, manusia tidak diperbolehkan memiliki perasaan rendah diri, terlebih lagi merendahkan orang lain, karena merasa rendah diri sama dengan meragukan kesempurnaan Allah dalam menciptakan dirinya.

Muslimah harus meyakini bahwa serendah apapun seseorang atau segolongan orang di hadapan manusia lainnya, namun di sisi Allah semua manusia adalah sempurna. Bisa jadi orang tersebut memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, sehingga dengan keutamaanya itu dia bisa mengisi posisi-posisi penting dalam mewujudkan misi Rabaniyah yang diembannya.

Selanjutnya, meskipun laki-laki dan perempuan mengemban misi yang sama, Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan keduanya dengan fisik dan fitrah yang berbeda untuk dapat saling melengkapi satu sama lain. Perbedaan fisik adalah sebuah hal yang cukup jelas, sedangkan perbedaan fitrah misalnya dapat dilihat pada kecenderungan anak-anak, di mana anak laki-laki lebih suka bermain mobil-mobilan dan berlatih beladiri, sedangkan anak perempuan lebih suka bermain boneka dan rumah-rumahan.

Usaha untuk menyamakan fisik dan fitrah yang sejak awal telah berbeda ini akan melahirkan sebuah ketidaknormalan, ketidaknyamanan, dan kegelisahan. Sebuah ilustrasi ekstrim ketika fitrah tersebut diingkari, misal dengan memberi anak perempuan mainan anak laki-laki dan sebaliknya adalah bisa jadi ada anak perempuan yang mengayun mobil-mobilannya, di sisi lain akan muncul anak laki-laki yang membanting-banting bonekanya karena fitrah mempersepsikan bonekanya sebagai lawan bermain beladiri, bukan sebagai prototype anak yang harus diayun dan disayang seperti yang dipersepsikan anak perempuan. Oleh karena itu, jauh sebelum pewacanaan penyetaraan gender dimulai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarangnya

لَعَنَرَسُولُاللهُصَلَّىاللهُعَلَيْهِوسلمالْمُتَشَبِّهِيْنَمِنَالرِّجَالِبِالنِّسَاءِ, وَالْمُتَشَبِّهَاتِمِنَالنِّسَاءِبِالرِّجَالِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. ” (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)

Adanya perbedaan fitrah inilah yang menyebabkan perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Laki-laki bertanggung jawab sebagai tulang punggung untuk mencukupkan nafkah keluarganya dengan rezeki yang halal dan cara yang baik, sementara perempuan diserahi tanggung jawab untuk memelihara kepercayaan dan kehormatan suami, sekaligus sebagai madrasatul ‘ula bagi anak-anaknya.

Kenyataannya, terdapat banyak kondisi yang membuat perempuan juga bekerja (berkarir). Alasannya boleh jadi untuk membantu suami memenuhi nafkah, untuk mengaktualisasikan diri, ataupun karena tuntutan dari orang tua dan lingkungan sekitar. Nah, mengingat fitrah muslimah bukanlah untuk mencari nafkah, apakah salah jika ada muslimah yang memilih berkarir walaupun suaminya telah mampu mencukupinya? Apakah memang muslimah hanya dihadapkan pada satu pilihan saja, antara menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir?

Seringkali muslimah menghadapi sebuah kondisi pelik saat berurusan dengan pilihan antara karir “atau” ibu rumah tangga. Kata sambung “atau” yang digunakan dalam kalimat tersebut seolah menunjukkan jika muslimah memilih bekerja atau berkarir maka dia tidak akan menyentuh urusan ibu rumah tangga, ataupun sebaliknya jika muslimah memilih menjadi ibu rumah tangga, maka dia tidak akan berkarir sama sekali.

Bagaimana menurut Anda, apakah muslimah hanya boleh memilih salah satu dari dua pilihan tersebut? Tentu saja tidak. Komunikasi dengan berbagai pihak akan dapat membuka pilihan-pilihan lain yang jauh lebih baik dan lebih syar’i, insya Allah. Meskipun demikian, memutuskan tentunya bukan sebuah hal yang mudah, terlebih pilihan tersebut akan muncul saat muslimah telah menikah, sehingga keputusanya akan berpengaruh bagi banyak pihak; seperti suami, anak, orang tua, mertua, saudara, dll. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan haruslah dipikirkan dengan bijak dan penuh pertimbangan matang.

Ustadzah Dewi menyebutkan setidaknya terdapat 3 hal yang menjadi pertimbangan penting dalam memutus ke-galauan antara karir atau menjadi ibu rumah tangga. Pertama, pertimbangan syari’ah yaitu apakah peran yang dipilih dapat memudahkan muslimah dalam pencapaian misi kehidupan, misi Rabbani sebagai rahmatan lil ‘alamin atau justru malah menjauhkannya dari misi Rabbani tersebut. Misalnya, muslimah dengan kapasitas profesionalnya memilih bekerja di bidang ekonomi karena ingin men”sibghoh” atau mewarnai ekonomi kapitalis dengan ekonomi islam, maka peran pekerjaanya tersebut akan mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia. Atau memilih menjadi ibu rumah tangga karena ingin membina anak-anaknya dan mewarnai masyarakat di sekitarnya dengan bi’ah islamiyah; kebiasaan Islami, dan insya Allah anak-anak yang dididik dengan islami ini di masa depan akan mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Pertimbangan yang kedua adalah tidak meninggalkan kewajiban sebagai istri dan ibu sehingga tidak ada yang terzolimi, termasuk di dalamnya adalah keridhoan suami atas pilihan peran yang akan diambil. Hal tersebut perlu dipertimbangkan karena syari’at mengajarkan muslimah untuk taat pada suami. Selain itu, menjalani peran apapun tanpa dukungan keluarga adalah pekerjaan yang tidak mudah.

Selanjutnya, pertimbangan yang terakhir adalah kemanfaatan yang diperoleh ketika muslimah mengisi peran tersebut, apakah peran yang dipilih adalah peran yang worth/sangat dibutuhkan atau tidak? Khoirulinnas anfa’uhum linnas– sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Semakin dibutuhkan peran tersebut, semakin bermanfaatlah muslimah, maka semakin mudah mencapai misi rabbani menjadi rahmat bagi alam semesta.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya menjadi ibu rumah tangga atau berkarir adalah pemilihan fokus kerja tanpa meninggalkan kewajiban sebagai istri dan ibu. Seorang muslimah yang berkarir tetap memiliki kewajiban untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Sebaliknya, seorang muslimah yang memilih menjadi ibu rumah tangga tetap memiliki kesempatan untuk beraktivitas pada kegiatan manapun dalam rangka memudahkan pencapaian misi rabbaninya. Oleh karena itulah, muslimah memang harus memiliki pemahaman yang baik terhadap misi kehidupannya, kapasitas manajemen waktu yang baik, cerdas dan memiliki stamina yang prima karena tugasnya sebagai istri, ibu dan agen perubahan adalah peran yang membutuhkan kemampuan multitasking yang tinggi.

Akhirnya, setiap pilihan tentu saja akan melahirkan konsekuensi. Akan tetapi, memilih peran apapun insya Allah akan dapat dijalani dengan mudah jika diniatkan untuk meraih keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala. Apapun pilihan Anda, pastikan itu berawal dari niat; dari misi rabbani dan sesuai syari’at. Kunci keberhasilannya terletak pada bagaimana muslimah dapat tetap tawazun (seimbang) dalam setiap peran yang dijalaninya, jangan sampai ada yang terzolimi dan jangan lupa berdoa memohon pertolongan Allah subhanahu wata’ala agar dimudahkan jalannya. Wallahu alam bishshowab. Laahaula wa laa quwwata illa billah. Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah. Semoga bermanfaat.

-Syiar Kamil Pascasarjana ITB-

Shortlink: http://wp.me/p3rEpE-1a

Comments ( 4 )

  1. / Replyyusi
    Apapun itu, kita sebagai agen dakwah harus bisa menyampaikan misi Robbaniyah. Ditunggu acara Kamil Pascasarjana ITB selanjutnya ya. ^^
  2. / ReplyAndi
    Memang sifatnya kondisional,saya pribadi merasa kalau wanita akan lebih banyak maslahatnya jika secara penuh melaksanakan tugas utamanya sebagai madrasah pertama bagi anak-anak untuk mencetak generasi yang Rabbani. Wallahu A'lam. :)
  3. / ReplyYudi Prasetyo
    setuju dengan pendapat mas Andi bahwa baiknya suatu bangsa bergantung dari baiknya aqidah dan akhlak dari anak-anak. nah, baiknya aqidah dan akhlak anak-anak adalah buah dari peran Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. tetapi dalam kondisi tertentu, saya pribadi tidak melarang wanita untuk bekerja asalkan syarat2 syariat terpenuhi, hehe Acara yang sangat bermanfaat, bukan begitu mbak Yusi? ^^ jadi ga sabaran nih nunggu upcoming event dari Kamil Pascasarjana ITB berikutnya
  4. / ReplyFajar Arianto
    Alhamdulillah, luar biasa :-)

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>