Feodalisme, Modernitas, dan Titik Temunya dalam Dunia Pendidikan

Foto: theguardian.com

Foto: theguardian.com

Oleh: Hari Anggit Cahyo Wibowo

Dalam bukunya “Gelombang Ketiga” Pak Anis Matta presiden PKS mengatakan bahwa generasi pada gelombang ketiga adalah generasi yang telah terbebas dari feodalisme, merdeka. Generasi ini tumbuh dalam era demokrasi dengan sempurnanya. Pengalaman penulis ketika menjadi pengajar di sebuah SMP  setidaknya menjadi bukti bagi penulis pribadi bahwa generasi saat ini benar-benar “merdeka”. Kesan merdeka itu benar-benar tercermin dari kebebasannya dalam melakukan segala tingkah laku. Mungkin wajar saja, mengingat kebebasan semacam itu biasanya adalah produk dari “kekangan” pada masa-masa sebelumnya. Ataupun juga menjadi fitrah “ingin bebas” dari sistem pendidikan kita yang memang memaksa para siswa untuk hidup penuh tekanan dan tuntutan.

Saat ini, penulis melihat kebebasan tersebut tidak muncul pada tempatnya, terutama dalam urusan pendidikan (mencari ilmu). Salah satu kitab yang sangat baik, dan bagus untuk diamalkan para pencari Ilmu adalah kitab Ta’lim Muta’allim. Kitab ini mengajarkan segala hal yang patut dilakukan oleh para pencari ilmu. Namun melihat “kemerdekaan” dari para siswa ataupun juga mahasiswa saat ini, sepertinya sangat bertolak belakang dari isi kitab tersebut. Salah satu bagian dari kitab ini menjelaskan bagaimana akhlak seorang murid kepada guru, keutamaan memperlakukannya dengan baik dan seterusnya. Sangat indah, menarik dan masuk akal. Namun dengan “kemerdekaan” tersebut, sepertinya kondisi saat ini sangat jauh dari ideal bila dibandingkan dengan yang ada dalam kitab tersebut.

Lalu, mungkinkah ada titik temu antara keduanya? Mengingat feodalisme dalam makna ini memang benar-benar kuno, namun tidak salah pula jika dikatakan akan menjadi anti-produktif. Kreativitas sangat jauh dari ambang batas paling bawah sekalipun. Perkembangan menjadi sangat lambat. Kurang lebih seperti itulah pengaruh feodalisme yang dapat saya simpulkan dari sebuah buku tipis yang menarik karangan wartawan senior masa lalu Mochtar Lubis – Manusia Indonesia. Benturan dari keduanya dapat saya sederhanakan, bahwa modernitas menuntut generasi muda untuk merdeka, bebas, kreatif dan cepat. Namun pokok-pokok keberkahan dalam mencari ilmu seperti interaksi “senioritas” dalam makna tertentu serta penghormatan kepada guru/murobbi/pembimbing masih menjadi syarat wajib. Maka sangat menarik apabila kita mencoba mencari titik temu diantara keduanya, tanpa menghilangkan salah satu. Bukankah era modern manusia sekarang menuntut kita untuk selalu berfikir mencari titik temu tanpa meninggalkan salah satu?

Saya menyebut titik temu itu adalah kesesuaian antara kemampuan dan penghargaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa para “guru” pada masa dulu memperoleh penghargaan dan penghormatan yang luar biasa karena kapasitas keilmuan mereka yang relatif jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat pada umumnya. Di samping itu, kontribusi mereka juga bisa dianggap tidak sederhana. Maka sangat wajar jika itu terjadi penghormatan dan penghargaan. Namun, saat ini dari sisi perbandingan relatif terhadap masyarakat, para “guru” sangat jauh berbeda dengan masa itu. Meski tanpa data, namun dapat dipastikan banyak para “guru” yang memilih profesi itu karena tidak ada pilihan lain. Atau karena “keterimanya disitu” (jurusan, red). Ungkapan yang cukup sering saya dengan sebagai seorang pengajar.

Salah satu guru penulis pernah mengatakan bahwa filosofi orang hebat itu seharusnya seperti air, yang mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Dalam konteks ini, beliau menyinggung seorang guru besar yang tidak sungkan menyapa terlebih dahulu kepada para murid dan para juniornya. Apakah hal itu kemudian menurunkan harkat dan martabat maupun penghormatan kepadanya? Penulis juga memiliki seorang guru yang sangat penyayang terhadap murid-muridnya, tidak memunculkan jarak antara “murid” dan “guru”. Apakah itu mengurangi penghormatan kami terhadapnya? Sekali lagi tidak. Artinya akhlak dan adab mencari ilmu, interaksi antara guru dengan murid yang sering diidentikkan dengan feodalisme, memiliki suatu titik temu yang sangat romantis. Kesesuaian antara penghormatan dan kemampuan. Dalam konteks umum, sering kita menemui seseorang yang begitu disegani, tanpa adanya jabatan “mulia” dalam dirinya. Sekali lagi karena kebaikan dan kemampuannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah manusia sempurna, berakhlak sempurna dan kecerdasan sempurnah, bagaimana perlakuan para sahabat terhadap beliau? Begitu banyak cuplikan kisah yang menggambarkan betapa para sahabat rela bahkan tidak hanya memberikan suatu penghormatan, namun memberikan nyawa. Luar biasa.

Pada akhirnya penulis ingin mengatakan bahwa pembangunan titik temu ini menjadi konsekuensi bagi diri kita. Mengingat kita tidak bisa lepas dari modernitas dan kita selalu senantiasa berada dalam jalur interaksi guru dengan murid, senior dengan junior, serta mutarobbi dengan murobbi. Wallahualam (ang/run)

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>