Results for category "Home"

82 Articles

Tema Halal Lifestyle di Adiwidya 5, Kamil Pascasarjana ITB

Foto Kegiatan berlangsungnya acara Adiwidya 5

BANDUNG – Menghadapi tren global halal lifestyle dewasa ini, Selasa, 31 Oktober 2017, bertempat di Aula Timur ITB, Adiwidya 5 Kamil Pascasarjana ITB menghelat seminar nasional halal lifestyle dengan tema “Innovation in Halal Industry towards Indonesia as the World Halal Lifestyle Center“. Acara ini dibuka dengan penyampaian laporan ketua panitia, Subhan Arif, S.T, Mahasiswa Magister Geologi ITB. Selanjutanya penyampaian sambutan dari Dekan pascasarjana ITB oleh  Prof. Dr. Pudji Astuti Waluyo, MS., dan dibuka langsung secara simbolis oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, Dr. Hening Widiatmoko, MA.

Seminar ini menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten dibidang Industri halal. Pemaparan materi diawali oleh Keynote speaker dari Kementrian Pariwisata republik Indonesia, Riyanto Sofyan, B.S.E.E., M.B.A (Ketua Tim Percepatan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata) yang membawakan topik "Peran pemerintah dalam perkembangan industri halal". Selanjutnya disesi seminar, yang menjadi pembicara pertama adalah Dr. Sapta Nirwandar, SE (Ketua Indonesia Halal Lifestyle) dengan topik "Konsep industri halal, peluang dan tantangannya". Pembicara kedua oleh Drs. K.H. ABD Amri Siregar (Ketua Pusat Pembinaan dan Pengawasan Jaminan Produk Halal) dengan topik "Implementasi kebijakan UU No. 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal". Pembicara ketiga oleh Ir. Sumunar Jati (Wakil Direktur III Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetik (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia Pusat) dengan topik "Sertifikasi halal, metode dan prosesnya". Pembicara keempat adalah paraktisi dibidang industri halal yakni Elidawati (CEO Alcorps Group) dengan topik "Formulasi dan strategi persaingan industri halal", dan pembicara kelima adalah start up muslim muda bisnis halal, Muhammad Senoyodha Brennaf (CEO PT. Astrajingga) dengan topik "Tips dan trik memulai bisnis dan mendapatkan investor".

Kegiatan seminar ini paralel dengan beberapa kegiatan lainnya seperti presentasi paper oleh peserta Call For Paper dari berbagai kampus di Indoensia bahkan ada satu tim dari negara jiran, Malaysia. Ada juga kegiatan pitching day oleh para start up bisnis halal dari pebisnis pemula yang mempresentasikan ide bisnis halal mereka dihadapan para investor. Beberapa investor yang hadir seperti dari Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB, PT. Cubic ID Highway, dan dari Komisaris PT. Elcorps. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan stand-stand pameran produk-produk halal dari berbagai brand produk halal seperti BNI Syariah, Wardah Kosmetik, Gema Insani, Ayo Hijrah, Nomu Cream, dan Departement Fund Rising Kamil Pascasarjana ITB. 

Acara ini dihadiri oleh 346 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen dan umum. Acara ini juga dihadiri oleh Pejabat LPPOM MUI Jawa Barat, Dekan Pascasarjanan ITB, dan Pusat Halal Salman ITB. Damara Saputra, Mahasiswa Magister Perencanaan Kepariwisataan ITB, Koordinator acara dalam seminar ini menyampaikan bahwa acara Adiwidya ini merupakan acara tahunan oleh Keluarga Mahaiswa Islam (Kamil ) Pascasarjana ITB. Tahun ini diadakan untuk yang kelima kalinya. Tujuan diadakan acara ini adalah memberikan informasi yang berbentuk persuasif dan edukatif kepada masyarakat dan mahasiswa terkait inovasi-inovasi industri halal yang harapan kedepannya dapat memberi sumbangsih dalam perkembangan industri halal. “Kita sangat menyadari bahwa potensi Indonesia untuk menjadi pusat industri halal global sangat besar, untuk itu kita harus bersama-sama mengambil peran dalam mewujudkannya,” ujar Damara.

Penulis: Damara

48 views

Menjemput Berkah Majelis Ilmu

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Alhamdulillah wa syukurillah, kita hidup di zaman sekarang yang serba mudah dan canggih dengan teknologi. Islam pula telah berkembang pesat ke seluruh penjuru dunia. Tak lagi sulit dalam mempelajari Islam dan mencari-cari majelis ilmu hingga menempuh perjalanan jauh. Tidak seperti saat zaman Nabi Muhammad saw, orang-orang yang hendak mempelajari Islam kala itu mendatangi beliau, tidak peduli harus menempuh perjalanan yang jauh lagi sulit dengan berjalan kaki maupun menunggang unta atau kuda. Kini, ulama telah banyak dan majelis ilmu bertebaran dimana-dimana.

Namun di tengah “kemudahan” saat ini, semakin dimudahkan pula dengan adanya media sosial sebagai media penyebaran segala bentuk informasi tak terkecuali da’wah Islam. Orang-orang menjadi mudah mengakses video da’wah dimana dan kapan saja dari seorang ulama melalui berbagai media semisal youtube, live instagram dan lain sebagainya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Tentu bentuk positif dari kemudahan ini dimaksudkan agar da’wah Islam, majelis ilmu yang disiarkan secara streaming tersebut bisa menjangkau orang lebih luas dan leluasa dalam mengakses ilmu agama. Tetapi, apakah dapat dibenarkan jika seseorang kemudian berpikir daripada susah payah menghadiri majelis ilmu, cukuplah baginya melihat dan mengakses melalui media-media tersebut. Atau seperti di kalangan remaja saat ini dikenal istilah “mager” (malas gerak), lebih memilih cukup dengan mengaksesnya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Nabi Muhammad saw dalam haditsnya menyebutkan mengenai keutamaan mendatangi majelis ilmu :

حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِالۡهَمۡدَانِيُّ. وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ. قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :…… وَمَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىٰ الۡجَنَّةِ. وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ، يَتۡلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيۡنَهُمۡ، إِلَّا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتۡهُمُ الرَّحۡمَةُ وَحَفَّتۡهُمُ الۡمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنۡ عِنۡدَهُ. وَمَنۡ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمۡ يُسۡرِعۡ بِهِ نَسَبُهُ. (رواه المسلم)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad ibnul 'Ala` Al-Hamdani, dan lafazh ini milik Yahya, Yahya berkata : telah mengabarkan kepada kami, dua yang lain berkata : mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “…… Dan barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), nasabnya tidak akan bisa menyempurnakannya.” (HR. Muslim)[1]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mendatangi majelis ilmu akan Allah mudahkan jalan menuju surga, mendapatkan ketenangan, senantiasa diliputi oleh rahmat dan dikelilingi malaikat—disebutkan bahwa malaikat ridla dan mendoakan orang tersebut, sementara kita ketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang paling taat dan doanya diijabah oleh Allah.

Terlampau banyak keutamaan menghadiri majelis ilmu, selain kita akan menuai pahala yang besar darinya. Di dalamnya melimpah manfaat dan keberkahan yang tentu hanya bisa kita dapatkan jika kita menghadirinya—menjemputnya. Sehingga dirasa tidak tepat jika dicukupkan mengakses majelis ilmu melalui media tanpa mendatanginya.

Sebagaimana yang diungkapkan salah seorang pengurus KAMIL, “Bisa, sih, streaming, tapi pasti berkahnya beda.” (Barri, 2017)

 

 


[1] Hadits Arbain an Nawawiyah, nomor 36, h. 41-42.

 

3 views

Kajian Islam Tematik: Let’s Move Up!

Kajian Islam Tematik Departemen Syiar dan Pelayanan Kamil Pascasarajana ITB bersama Kang Abe. Foto: Kamal

BANDUNG – Departemen Syiar dan Pelayanan kembali mengadakan Kajian Islam Tematik pada Sabtu, 28 Oktober 2017 bertempat di ruang utama Masjid Salman ITB, Jl. Ganeca No.7, Lb. Siliwangi, Coblong Kota Bandung. Tema kajian kali ini yaitu “Let’s move up!” bersama Ustadz Nur Ihsan Jundullah, Lc atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Abe. Beliau merupakan alumni Ummul Quro’ Mekkah dan juga menjadi pemateri pada Kajian Islam Tematik pada bulan sebelumnya, yaitu pada tanggal 26 September 2017. Kang Abe menjelaskan mengenai urgensi hijrah, tingkatan hijrah serta tips agar istiqomah dalam berhijrah.

“Ada lima tips yang dapat dilakukan apabila ingin terus beristiqomah dalam hijrah. Pertama, siapkan orang yang mau menegur kita. Lebih baik orang tersebut ialah yang dekat dengan kita, yang mengerti diri kita. Kemudian sadarlah bahwa istiqomah itu harus dipaksa dan rajinlah mencari ilmu. Selanjutnya, bergaul dengan orang-orang yang sedang hijrah. Caranya adalah dengan berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan mereka. Yang keempat, jangan melebihi batas. Maksudnya adalah beramal sesuai dengan kesanggupan kita. Lebih baik sedikit tetapi continue. Dan yang terakhir adalah beramal dan percaya bahwa Allah sedang melihat kita.” jelas Kang Abe dalam petikan kajiannya kepada lebih dari 100 peserta yang hadir.

Suasana Kajian “Lets Move Up!” di Ruang Utama Masjid Salman ITB

Kajian dimulai setelah shalat Ashar dan diakhiri pada pukul 17.15 dengan diskusi seputar materi. Peserta tampak serius dan menyimak setiap penjelasan dari Kang Abe karena tema kajian kali ini dinilai sangat penting, khususnya untuk anak muda yang sedang mencari jati diri. Bagaimana untuk dapat mempertahankan serta meningkatkan kualitas iman setiap harinya.

Nanda, Sekretaris Departemen Syiar dan Pelayanan menyatakan bahwa kajian ini merupakan kajian kelima yang diadakan Departemen Syiar dan Pelayanan, “Alhamdulillah, berjalan lancar dan semakin bertambah antusiasme peserta di setiap kajiannya. Semoga peserta dapat mengambil ilmu dan manfaat dari kajian ini untuk meningkatkan diri, berhijrah ke kondisi yang lebih baik dan istiqomah dalam hijrah.” pungkasnya.

Penulis: Mutiara Fajar

16 views