Category Archives: Home

  • 0

Diskusi KALAM #1 : Asap-asap Tak Teranggap, Apakah Kita Hanya Bisa Berdoa?

Category : Home

Diskusi KALAM #1 : 13 September 2019, di GSS E Salman ITB, 16.15 – 17.30 WIB
Moderator & Notulen : Aditya Firman Ihsan
Peserta Diskusi : Vonny, Adit, Hanif, Faris, Imam, Aziz, Suryo, Meri, Fitri, Ihsanti, Rafika, Vemi.

View post on imgur.com

Permasalahan asap di Sumatra dan Kalimantan merupakan masalah yang berulang tiap tahun sejak 1997 (atau bahkan lebih lama). Berbagai pemerintahan berganti, berbagai aturan ditetapkan, tapi seperti tidak ada hasil berarti. Tahun ini, dengan adanya kemarau panjang, keadaan semakin parah.

Masalahnya sekarang bukan ganti-ganti undang-undang. Kalau kita bicara hukum, sebenarnya produk hukum itu ada, tapi tidak dijalankan. Mau bagaimanapun inpres segala macam diotak-atik, selama lobbying di daerah kuat, ya tetap sulit. Yang bakar hutan itu tidak sedikit merupakan pemain besar, baik lokal maupun internasional. Paling tidak kalau perusahaan Amerika masih memperhitungkan masalah lingkungan.

Produk hukum memang ada, tapi implementasinya sendiri bukan hal mudah. Misal pemerintah ingin bersikap tegas terhadap itu, tapi tangannya sebenarnya terikat, karena yang nge-funding mereka orang-orang itu sendiri.  Kalau nonton film Sexy Killer, kurang lebih seperti itulah, namun itu lebih ke tambang. Terkait pemerintah pun selalu terlihat seperti tidak ada niat baik. Bagaimana mau ada niat baik ketika banyak orang-orang pusat pun memiliki saham di sana. Sebenarnya ya ahli-ahli ekologi kita pintar-pintar, tapi ketika supply chain management bertemu dengan political lobbying, tidak bisa apa-apa.

Ini bisa dilihat secara riil di Riau sendiri. Ketika pemain-pemain besar itu mulai bakar, ya polisi itu cuma lihat . Ketika misal muncul berita pun bahwa “telah ditangkap pelaku pembakaran hutan”, tapi ya itu semua Cuma kulit, Cuma ujungnya saja. Yang dibalik layar yang justru berbahaya, yang tidak pernah ter-expose. Lebih bahaya lagi karena pemerintah pusat sangat bergantung pada investasi-investasi di situ.

Khusus untuk sawit juga memang masalah tersendiri, karena itu seperti komoditas utama. Kita sukar untuk menjadi terlalu naif dengan, misalnya, menolak sepenuhnya penanaman sawit, karena toh kita sehari-hari menggunakan produknya. Sayangnya, sawit itu memang tanaman yang secara spesifik sekali berbuah dan sekali berbunga, sehingga memang cara termudah untuk produksi ulang adalah dibakar, terlebih lagi abunya bisa jadi pupuk. Untuk mencari substitusi sendiri sulit, misal diminta untuk nanam karet ketimbang sawit, keuntungannya jauh berbeda. Tidak akan mau keluar dari kenyamanan.

Dampak di riau sendiri tidak bisa dilihat sesederhana mengakibatkan infeksi saluran pernafasan. Karena dalam long term, hal tersebut bisa mengakibatkan penurunan IQ dan juga penyakit otak lain  yang berpotensi. Padahal pemerintah seharusnya punya kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari segi pendidikannya, namun juga melindungi dan menjaga lingkungan belajar itu sendiri. Selain itu, masalah lingkungan tidak bisa dilihat terpisah-pisah, karena kerusakan satu bagian lingkungan bisa berimbas kemana-mana dalam suatu ekosistem.

Masalah lainnya lagi, adalah informasi sendiri seperti terkontrol. Bisa diperhatikan bahwa cukup sedikit media yang memberitakan tentang asap ini. Bisa-bisa, nanti kasusnya seperti Papua, ketika keadaan Riau terlalu parah, maka informasi di Riau di-contain, diputus aksesnya. Terlebih lagi, pemerintah (sekarang) tidak bisa membedakan mana kritik mana cacian, sehingga seakan-akan semua arus informasi harus terkontrol. Di Jakarta aja sehari, waktu itu, AQI-nya lagi tinggi, menyamai Riau, itupun karena asap kendaraan, langsung berbagai orang ribut, memberi opini buruk ke pak Anies. Begitu Riau yang parah, langsung pada diem, seakan informasi itu memang di-contain

Tapi sebenarnya juga tidak semua korporat itu buruk, karena ada juga yang bener-bener mempertimbangkan enviromental cost.

Ini bisa ditarik mundur hingga ke konsep bernegara kita sebenarnya seperti apa. Karena ketika kita melakukan eksploitasi alam, bagaimana kita melakukan itu, mengolanya, dan hasilnya akan dijadikan apa itu sangat bergantung konsep bernegara kita. Bisa aja kita fokus ke industri lain, seperti penerbangan misalnya, tapi Indonesia sebagai negara berkembang, memang akan selalu mengandalkan sumber daya alamnya. Ini sering disebut sebagai resource cure atau paradox of plenty.

Kita harus melihat pertama-tama bahwa kita memang negara yang kuat dengan sumber daya alamnya. Banyak yang menganggap bahwa kekuatan itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai andalan industri kita. Di sini pentingnya konsep bernegara, karena apa yang dimaksud dari memanfaatkan potensi ini bisa berarti banyak hal, seperti bahwa itu bisa jadi pemasukan utama buat APBN. Namun, seringkali ini dimaknai secara parsial sehingga hal-hal seperti analisis dampak lingkungan tidak terperhatikan, karena sebenanrya kerusakan lingkungan (dan juga manusia) itu bagian dari kerugian, tapi tidak dianggap. Lucunya adalah seperti itu, banyaknya manusia yang sakit, lingkungan yang rusak, tidak diperhatikan sebagai kerugian. Ketika kita berbicara statistik, jrang sekali faktor-faktor tersebut dilibatkan. Apakah kehilangan warga negaranya dianggap sebagai kerugian ekonomi?

Apalagi sekarang dengan indonesia mengadopsi INSW (Indonesia National Single Window). Kalau dulu, investor sebelum masuk ke Indonesia harus dinilai dulu segala macam. Sekarang, dengan adanya INSW itu, investasinya dulu yang diutamakan, kajian sosial-lingkungan lain tu seakan bisa “ditunda”, sehingga berpotensi untuk menipulasi berlebihan. Ini salah satu hal yang menunjukkan sebenarnya perangkat hukum kita belum lah kuat. Problemnya tidak hanya di manusia pelaksana, namun produk hukumnya sendiri tidak punya dasar yang tetap. Ini yang dimaksud ini sangat bergantu knsep bernegara yang dipegang sebenarnya apa, karena konsep bernegara ini akan menentukan hukum seperti apa yang dihasilkan

Konsep bernegara ini bukan sesederhana pancasila dan UUD, karena keduanya pun bisa ditafsirkan dengan banyak cara. Seperti misalnya pasal 33 UUD, bahwa kemakmuran rakyat yang dimaksud di situ maknaya apa. Karena bila yang dilihat Cuma segi ekonomi, ya ukuran kemakmuran rakyat hanya akan selalu berdasarkan statistik perdagangan.

Ketidakjelasan konsep bernegara ini diperparah dengan ketidakjelasan ideologi politik di Indonesia. Indonesia punya partai politik namun kebanyakan tidak punya sikap yang jelas dalam bernegara, lebih cenderung oportunis dan populis. Hal ini semakin menciptakan kebingungan besar akan sebenarnya konsep dasar bernegara Indonesia saat ini.

Balik lagi akhirnya, bagaimana kita mau membuat produk hukum yang benar bila kita sendiri masih krisis identitas politik. Terlebih lagi bagaimana kita mau bisa menegaskan produk hukum itu bila penegaknya sendiri tidak punya konsep bernegara yng jelas.

Krisis politik dan konsep bernegara ini kompleks banget, apalagi bila terkait manusia, ini bisa ditarik jauh hingga ke masalah pendidikan. Namun, berhubung ini masih jauh di luar jangkauan kita, kecuali kita punya cara untuk confront para regulator, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanya Cuma bisa berdoa? Muncul beberapa usulan untuk jangka pendek, antara lain:

  1. Adakan gerakan kemanusiaan (Penggalangan dana, dan lain-lain)
  2. Bikin petisi
  3. Mencari alternatif yang lebih efektif selain masker sederhana, dan memberikan pencerdasan ke masyarakat terkait itu.
  4. Melihat secara terstruktur dari 5 hirarki K3: Elimnasi, Substitusi, Rekayasa/Reorganisasi, pengenadalian adminstrasi, dan APD.
  5. Mencari solusi praktis secara keilmuan. Terkait ini ada beberapa potensi inovasi yang bisa diterapkan, seperti
  • air purifier,
  • penyerap CO2 di bawah tanah,
  • manipulasi cuaca,
  • alternatif pengelolaan sawit,

Terkait ini, akademisi-akademisi terkait bisa diundang untuk diskusi terbuka lebih lanjut bagaimana implementasinya. Tentu selain ini ada solusi jangka panjang, dimana kita harus meningkatkan partisipasi dan kesadaran aktif kita dan masyarakat dalam wilayah politik-sosial-pendidikan, sehingga akar dari masalah pun bisa terselesaikan hingga ke ranah kebijakan.


  • 0

Menjemput Ilmu, Departemen Media Kunjungi MQ FM

Category : Home , Media

Bandung-Syiar Islam kian berkembang seiring dengan perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi dari waktu ke waktu, baik itu melalui televisi, radio hingga media sosial. Departemen Media 2018 KAMIL Pascasarjana ITB, mengadakan kunjungan ke kantor Radio Manajemen Qalbu 102.7 FM (MQ FM) di Jalan Daarut Tauhid yang merupakan radio komersil mengingat akan pentingnya belajar langsung mengenai metode dakwah serta manajemennya guna memperbaharui departemen media ke depannya.  Kunjungan ini dimaksudkan sebagai salah satu agenda program kerja yakni Sekolah Media 5 yang bertujuan untuk mempelajari syiar / dakwah islam melalui media radio.

View post on imgur.com

Kunjungan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 19 Desember 2018, di mana dalam kesempatan tersebut, Departemen Media disambut oleh Kang Majid dan Kang Zikri selaku manajer program MQ FM yang memberikan pemaparan mengenai sejarah singkat MQ FM, yang dilanjutkaan dengan diskusi santai nan alot mengenai program-program dalam MQ-FM, respon masyarakat, kriteria penyiar, hingga membahas mengenai manajemen di MQ FM.

Radio yang memiliki prinsip BASIS (Benar, Aplikatif, Sederhana, Inovatif dan Solutif) ini telah berkembang selain on air juga memiliki berbagai kegiatan off air yang didukung dengan berbagai komunitas yang terbentuk dari program radio, selain itu juga didukung dengan perkembangan menggunakan media sosial yang semakin memperluas jangkauan syiar islam Radio MQ FM ini. Hal tersebut memberikan pelajaran berharga bagi Departemen Media, khususnya dalam memanfaatkan perkembangan tren yang ada untuk memperluas syiar islam KAMIL ke masyarakat.

View post on imgur.com

Acara kunjungan diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dan foto bersama dengan Kang Zikri sebagai bentuk apresiasi atas penyambutan yang hangat dan ilmu yang telah diberikan.

View post on imgur.com


  • 0

SERU! Adiwidya 6 x SILATNAS 2018

Category : Events , Home

BANDUNG– Agenda tahunan KAMIL Pascasarjana ITB, Adiwidya kembali diselenggarakan bersamaan dengan Silaturahmi Nasional pada 16-18 November 2018. Telah dilaksanakan untuk ke-6 kalinya, pada tahun ini, diusung tema Integrated Strategy to Establish National Security Food and Energy to Achieve SDGs 2030, dengan mengadakan beberapa acara berupa Seminar Nasional, Call For Paper dan dirangkaikan dengan Silaturahmi Nasional HIMMPAS Se-Indonesia.

Seminar Nasional (Sendipa)

Seminar Nasional Adiwidya 6 dilaksanakan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung yang dibuka secara resmi oleh Dekan SPS ITB, Prof. Pudji Astuti Waluyo MS,Ph.D dan dimeriahkan dengan penampilan Genta Musik Angklung UNISBA

View post on imgur.com

View post on imgur.com

Mengangkat dua tema penting yakni Energi dan Pangan, seminar diawali dengan Keynote Speech, yakni Dr. Ir. Rachmat Mandiana, MA., selaku Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informatika Kementerian PPN/Bappenas RI.

Berlangsung sejak pukul 8.00 WIB, acara kemudian dilanjutkan dengan Sesi Diskusi Panel 1 yang mengangkat tema terkait Ketahanan Pangan, dengan mengundang pemateri yakni Dr. Benny Rachman, M.Si (Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan dan Prof. Dr. Muhammad Firdaus, M.Si yang merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Dalam Panel Diskusi Sesi 1 yang membahas mengenai Ketahanan Pangan dan Upaya Penanggulangan Kemiskinan ini dipimpin oleh moderator Dr. Iwan Kustiawan, S.T., M.T. dan diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan kepada pemateri dan moderator.

View post on imgur.com

View post on imgur.com

Acara kemdian dilanjutkan pada Sesi 2 Panel Diskusi dengan tema Energi, di mana materi pertama disampaikan oleh Ir. Yudo Dwinanda Priaadi M.S (Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis pada Sekretariat Jenderal Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral) dan pemateri kedua ialah Dr. Marwan Batubara, M.Sc. Untuk sesi 2 Panel Diskusi ini, dibahas mengenai Tantangan dalam Upaya Pencapaian Ketahanan Energi Nasional yang dipimpin oleh moderator Brian Yuliarto, S.T., M.eng., Ph.D.

View post on imgur.com

Selain pemaparan materi-materi tersebut, diadakan pula lomba foto instagram dari berbagai sponsor Adiwidya.

View post on imgur.com

CFP

Bersamaan dengan berlangsungnya sesi diskusi panel 2 Seminar Nasional Adiwidya, diadakan pula lomba Call For Paper (CFP) bertema senada dengan Seminar Nasional, yakni Energi dan Pangan. dengan peserta lomba yang hadir yakni 16 tim untuk mempresentasikan paper yang telah melalui tahap seleksi.

Pada sesi presentasi ini, didatangkan juri yang memiliki latar belakang Energi dan Pangan yakni  Angga Dwiartama, Ph.D, Dr. Dian Shofinita, S.T, M.T, Dimas Taha Maulana, S.T, M.T.  Winny Wulandari, S.T, Ph.D, Dr. Efri Mardawati, STP., M.T, Rini Triani, S.Si., M.Sc., Ph.D, Burhanuddin Halimi, S.T, M.T., Ph.D, dan Helen Raflis, B.Sc., M.Eng

Dibagi dalam 4 ruangan (masing-masing 2 ruangan untuk tema Energi dan Pangan), terpilihlah para pemenang 1, 2 dan 3 yakni sebagai berikut:

Juara 1 : Sigit Cahyono, Ucik Ika Fenti Styana, Agus Prasetya, Mochamad Syamsiro (Pengaruh Tekanan Steam-Atomizing Burner terhadap Laju Kenaikan Suhu dan Rendemen Proses Pirolisis Sampah Plastik di dalam Reaktor Rotary Drum) dari Universitas Proklamasi 45
Juara 2 : Rizka Tamania Saptari dan Sumaryono (Kultur Cair Lapis Tipis Tanaman Stevia [Stevia rebaudiana Bert.] untuk Meningkatkan Efisiensi Penyediaan Bahan Pemanis Alami Tanpa Kalori) dari ITB/PPBBI
Juara 3 : Anggun Andreyani, Yanif Dwi Kuntjoro, Hilma Eka Masitoh (Pembangunan Ketahanan Energi Indonesia Berbasis Energi Baru Terbarukan dengan Manajemen Energi Kelistrikan Quintuple Helix Model) dari Universitas Pertahanan.

View post on imgur.com

Silatnas

Penyelenggaraan Adiwidya 6 dirangkaikan dengan Silaturahmi Nasional di mana ITB merupakan tuan rumah pada tahun 2018 ini. Silaturahmi Nasional ini dihadiri oleh berbagai Himmpas se-Indonesia yakni HIMMPAS UNP, HIMMPAS UGM, FOMMPAS UNS, KIPAS UNDIP, HIMMPAS UM, FORSIMMPAS ITS, HIMMPAS UPI, HIMMPAS UNY, HIMMPAS MAULANA MALIK IBRAHIM, HIMMPAS UI, HIMMPAS UNJ, dan HIMMPAS IPB.

Sebagai bagian pembukaan Silatnas, berangkat dari pertanyaan “what’s next?”, mahasiswa pascasarjana dituntut berperan aktif dalam upaya pembangunan negara salah satunya di bidang Energi dan Pangan sesuai dengan topik pembahasan dalam Seminar Nasional Adiwidya 6. Pada kesempatan tersebut, KAMIL Pascasarjana ITB mengajak teman-teman HIMMPAS se-Indonesia untuk duduk bersama, menelurkan pemikiran-pemikiran kritis mengenai hal tersebut dalam sebuah forum Mimbar Akademik. Buah pemikiran dikumpulkan dalam sebuah maha karya, antologi Gelisah dari Pascasarjana, berupa kumpulan esai mengenai Energi, Pangan, Pemuda dan Pembangunan.
Harapannya adalah memotivasi mahasiswa pascasarjana untuk berani menulis, berjuang dengan literasi untuk menyuarakan dan berkontribusi dalam pembangunan negara. Berikut esai terbaik yang mendapat pengharagaan pada acara Silaturahmi Nasional November kemarin sebagai berikut

  1. Widya Oktaviani – UNP Literasi Sains sebagai Solusi Ketahanan Energi Indonesia dalam Dunia Pendidikan
  2. Tri Asih Wismaningtyas – UI Kepada Pemuda : Sebuah Tinjauan Peran Pemuda dalam Pembangunan Masyarakat di Zaman Milenial
  3. Nurhijrianti Akib – UGM Bank Sampah Pesisir : Pengelolaan Sampah dengan Paradigma 3R di Wilayah Pesisir
  4. Muhammad Meiza Jolanda – ITB “ Sistem Integrasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Menjadikan Indonesia Menuju Ketahanan Pangan 2045

Acara inti Silaturahmi Nasional diadakan pada 17 November 2018 di gedung TVST-B ITB yakni Musyawarah Nasional Forsi HIMMPAS Indonesia, yang berlangsung selama satu hari. Sebagai pembukaan musyawarah disampaikan Tausiyah mengenai Adab-Adab Bermusyawarah terlebih dahulu oleh Ust. Nur Ihsan Jundullah.

View post on imgur.com

Dipenghujung Munas Forsi HIMMPAS Indonesia, HIMMPAS UNY terpilih sebagai tuan rumah SILATNAS 2019 dan KAMIL Pascasarjana ITB terpilih sebagai PUSKORNAS FORSI HIMMPAS 2019. Selain itu, diberikan pula beberapa award atau pengharagaan kepada HIMMPAS dengan kategori dan pemenangnya sebagai berikut:

  • HIMMPAS Terupdate: HIMMPAS UI
  • HIMMPAS Terinspiratif: Kamil ITB
  • HIMMPAS Teraktif: HIMMPAS UGM
  • HIMMPAS Termandiri: Kamil ITB

View post on imgur.com

View post on imgur.com

Akhirnya, pada tanggal 18 November 2018, Sebagai penutup rangkaian acara ADIWIDYA 6 X SILATNAS, dilakukan aksi sosial #IndonesiaBangkit di Car Free Day, Dago. Terdapat pula aksi sosial berupa penggalangan dana untuk korban bencana di Palu dan Tasikmalaya, Musikalisasi Puisi dan Teatrikal, menyuarakan saatnya #IndonesiaBangkit dari bencana sekaligus mengajak kepada seluruh masyarakat untuk bermuhasabah dan berbenah diri demi masa depan yang lebih baik serta membuka hati, mata dan telinga untuk tanggap dalam membantu meringankan beban musibah yang dirasakan oleh saudara setanah air.

View post on imgur.com

View post on imgur.com


Pencarian

Kalender

November 2019
M T W T F S S
« Oct    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com