Results for category "Karya Kamil"

5 Articles

Pertarungan Cinta di Malam Tahun Baru

Penulis: Khozinatus Sadah, FSRD, 2016, Anggota An-Nisa'


Say… Ayo nonton Panggung Hiburan, yuk, di dekat Tanggul Mojokerto..”

“Dengan siapa aja, Say?”

“Kita berdua ja lah, qulity time gitu..”

“Hmmm gimana ya? Aku masih banyak agenda lain.”

“Agenda apa emangnya?”

“Pokoknya ada-lah. Ya nanti tak kabarin lagi deh, bisa apa nggak…”

“Ok… jangan lama-lama ya….”

Tidak tahu kenapa, atas ajakan Dodi, aku malas menanggapinya. Mungkin dikarenakan skripsiku yang gak kelar-kelar, rasanya malam tahun baru ini terasa hampa. Masih ingat aku sloganku tempo hari “Menunda pengerjaan skripsi satu hari saja, berarti menunda usia pernikahan satu hari juga”. pikiran-pikiran untuk segera menikah bagi pasangan kekasih merupakan hal yang wajar. Apalagi hubungan pacaranku dengan Dodi sudah memasuki tahun ke tujuh. Maklum saja kami berpacaran sejak di bangku SMA.

Nduk.. Nduk….” Suara mbahku (nenek ku) dari dalam dapur terdengar nyaring

“Ada apa, Mbah….?” Tanyaku sambil mendekat ke kursi beliau.

Nduk…. ayo ikut mbah sholawatan di masjid”

“Kapan, Mbah…?”

“Ya tanggal 31, nanti malam”

“Wah mbah… kan malam tahun baru. Masa sholawatan di masjid kan gak seru mbah”

“Wah … wah…. anak muda zaman sekarang. Diajak menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dibilang gak seru”

“Ya memang gak seru, Mbah. Lagian ku sudah diajak Dodi keluar nanti malam”

“Ya keluarnya kan bisa ditunda kapan-kapan lagi toh, Nduk.., momen menyambut kelahiran nabi juga tidak bisa setiap saat, hanya di bulan maulud saja”

“Tahun baru juga sama, Mbah… Malah cuma nanti malam saja…”

“Ya sudah…. Mbah harap, ajakan Mbah tadi kamu fikirkan lagi ya”

“Ya.. ya… nanti saya fikirkan lagi, Mbah…”

“Melakukan hal baik itu tak perlu banyak fikir Nduk. Wong kematian saja ketika menghampiri setiap insan juga tidak pernah di fikir-fikir apalagi di tunda-tunda”

“Ya sudah deh mbah, Nindi masuk kamar dulu ya. …”

Aku mendinggalkan Mbahku yang sudah tua di dapur rumah. Malas rasanya mendengarkan ceramahnya di pagi hari seperti ini. Aku memasuki kamarku yang berada di lantai dua, dengan hati galau. Kalau ku keluar dengan Dodi pasti menyenangkan. Menyambut malam tahun berdua, sambil menikmati pertunjukan di panggung hiburan. Tapi ku sadar, pasti ada saja dosa yang kami perbuat. Ku jadi ragu, sebaiknya bagaimana. Ku mandi dulu saja deh, biar segar…..

***

Huruf per huruf, dan kata tiap kata telah aku tulis, guna menyempurnakan skripsiku yang telah sampai di bab III. Sedih rasanya, satu semester yang lalu aku telah mengambil mata kuliah skripsi tapi masih belum selesai. Kini ku sudah memasuki semester 8. Bayangan skripsi bagaikan “momok” dalam hidupku. Jika sampai di semester 8 belum selesai, maka terpaksa ku harus membiayai kuliahku sendiri. Maklum saja, sejak awal orang tuaku sudah berpesan, aku harus selesai kuliah tepat waktu.

Say… Gimana? Nanti malam keluar ya…”

Sms Dodi mebuyarkan lamunanku. Ku sengaja tidak menjawabnya. Ku masih belum bisa memutuskan antara ikut Dodi atau mbahku.

“Din… malam ini kamu ke mana?”

“Aku jalan-jalan dengan Andre ke alun-alun kota Mojokerto”

Balasan yang mengecewakan. Padahal aku mencari teman yang bisa menguatkan keputusanku untuk tidak berangkat bersama Dodi.

“Sep…. malam ini kamu rencananya ke mana?”

“Aku bersama ibuku, ke masjid, sholawatan”

“Kenapa ke sana? Roni gak ngajak kamu keluar kah?”

“Ngajak sih… Tapi ku gak mau. Tahun baru, aku semakin ingat mati. Berarti sudah setahun usia ku telah berkurang”

Ku tertegun membaca jawabannya Septy. Memang di antara teman kuliahku yang paling religius di Kota Mojokerto ini adalah dia. Meskipun godaan tahun baru yang lebih modern datang, seperti car free night, pesta kembang api, panggung hiburan dan lain-lain. Jadi iriku dengannya. Jarang ada mahasiswi yang seperti dia. Meskipun statusnya punya pacar. Tapi kurasa itu hanya sekedar status saja. Buktinya selama berpacaran tiga tahun, mereka hampir tidak pernah keluar bareng bersama. Terjaga dari hal-hal maksiat muda-mudi pada umumnya. Mungkin karena basic agama dari masing-masing pasangan adalah penyebabnya. Roni yang alumni santri di Ponpes Lirboyo Kediri, sedangkan Septy yang juga alumni santriwati dari pondok Muhibbin Jombang, adalah salah satu penyebabnya.

Say… Ayo berangkat…”

Sms dari dodi kembali memenuhi Inbox ku.

“Maaf say… rasanya ku gak bisa pergi. Ku ada kegiatan lain dengan Mbahku”

“Wah kok gitu say… Ini kan momen-momen yang Cuma satu tahun sekali. Belum tentu tahun depan kita ada kesempatan bersama”

“Maka dari itu, karena kesempatan yang mungkin kita tidak tahu kapan datangnya, Aku memutuskan untuk tidak pergi. Ini sama halnya dengan kesempatan hidup kita juga. Yang kita juga tak tahu kapan berakhirnya”

“Ya sudah. Ku mau keluar dengan Nita saja”

“Ya sudah hati-hati ya.. jaga Nita baik-baik”

“Jawabannya kok gitu? Kamu gak cemburu kah?”

“Tidak. Sebenarnya ku sudah tahu sejak lama bahwa kamu selingkuh dengan Nita. Tapi ku fikir, ya sudahlah. Mungkin suatu saat nanti kamu bisa berubah. Makanya ku tidak mau membahas lagi”

“Ya mau gimana lagi, kamu akademisi banget sih. Ketika ku meluangkan waktu di sela-sela kesibukan kerjaku buatmu, kamu sering gak bisa. Bilangnya mau ikut seminar kek, jadi pemakalah atau ikut lomba. Cowok mana yang betah di gitukan? Kayak ku gak punya pacar saja”

“Ok ku minta maaf jika sikapku kurang memperhatikanmu. Mungkin kita juga tidak jodoh. Ya sudah dari pada saling menyakiti satu sama lain, lebih baik kita udahan saja”

“Ok. Memang kurasa itu yang terbaik. Ku juga sudah mantapkan dan yakinkan hati dengan Nita. Minta do’anya saja deh, kemungkinan pertengahan tahun depan kami menikah”

“OK SIAP…..”

Ibarat gelas yang terisi penuh dengan air panas, kemudian langsung dicelupkan ke air dingin. Maka pecahlah gelas tersebut. Begitupun rasanya hatiku ini. cinta yang sudah lama ku bangun sejak SMA, nyatanya memang bukanlah jaminan. Mungkin ini adalah suatu pembelajaran kehidupan yang harus kujalani. Jodoh merupakan takdir Allah yang rahasia. Mengusahakannya adalah suatu kebaikan, tapi jika terlalu yakin dengan apa yang kita usahakan adalah suatu kenistaan. Lain kali mungkin aku tidak akan lagi pernah berpacaran, karena semakin banyak berpacaran dengan konten kemaksiatan yang selalu ada akan mengurangi kebaikan dari sang jodoh nantinya. Dari pada mengalokasikan cinta pada jodoh yang belum pasti, lebih baik mencurahkan cinta kepada sang kekasih yang haq, yakni nabi Muhammad SAW. Allahumma sholli A’la Sayyidina Muhammad….

23 views