Results for category "Islamic Corner"

38 Articles

Tsunami dan Kearifan Lokal

Oleh: Muhammad Fawzy Ismullah M.*

Pasca 26 Desember 2004, nampaknya tak ada lagi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tak mengenal tsunami. Tsunami seolah memperkenalkan diri dengan ketinggian 24 – 30 meter yang diawali oleh gempa dengan kekuatan M9 (bukan 9 SR) pada tanggal tersebut1). Sebuah bencana alam, bukan, mega-bencana alam yang tidak hanya melumpuhkan sendi sendi masyarakat Aceh namun juga memberikan warna duka pada tanah air ini.

Sebelum melangkah lebih lauh, alangkah baiknya kita menonton video berjudul “What is a Tsunami? Facts & Information” yang diunggah oleh Mocomi Kids2). Dari judulnya, nampaknya mudah ditebak isi video ini. Sebenarnya video ini penulis pilih karena bahasanya yang lumayan mudah untuk dimengerti, karena sasarannya adalah anak anak, dan karena animasinya yang menarik. Maka mari mengenal tsunami dengan baik.

Kembali ke 26 Desember 2004, salah satu hal yang banyak menarik perhatian peneliti dan ilmuwan kala itu ada pada Pulau Simeuleu. Pulau ini memiliki jumlah penduduk sebesar 70000 jiwa3). Kerusakan di kawasan pantai Pulau Simeuleu cukup parah namun menariknya korban jiwa pada pulau ini berjumlah 7 orang.

Berbagai macam peneliti baik dari dalam negeri maupun luar datang ke pulau ini. Rasa keingintahuan mereka akan rasio korban jiwa terhadap jumlah penduduk yang tergolong sangat kecil, terjawab dengan sebuah istilah yakni “smong”. Istilah tersebut merupakan satu di antara beberapa kearifan lokal yang ternyata dapat menjadi senjata dalam menghadapi tsunami. Maka pada kesempataan kali ini, penulis akan menyampaikan beberapa di antaranya.

Smong

Smong pada masyarakat Simeuleu adalah sebuah syair yang disampaikan turun temurun. Berikut petikan syairnya.

Anak-Ö Anakku
SMONG, Dumek-dumekmo Tsunami, Mandi-mandimu
LINON, Uwak-uwakmo Gempa, Ayun-ayunanmu
AHOI, Ralang-ralangmo Api, Penghangat tubuhmu
ELAI,Kedang-kedangmo Guntur, Gendang-gendangmu
KILEK, Sulu-sulumo Kilat, Cahaya penerangmu

Menurut Eko Julianto dan Herry Yogaswara dari LIPI, istilah smong telah dikenal sejak gempa dan tsunami yang terjadi pada 1907. Beberapa catatan Belanda juga menuliskan istilah “SMONG07” yakni smong pada tahun tujuh4).

Kisah gempa dan tsunami yang melanda Simeulue tahun 1907 diwariskan dari generasi ke generasi. Tutur cerita smong didendangkan dalam bentuk syair yang berisikan gejala-gejala alam yang bisa mendatangkan tsunami. Sehingga jelas bahwa smong bukan sekedar tsunami5). Syair yang sering didendangkan untuk mengantar tidur anak merupakan syair nasehat untuk berbakti kepada kedua orang tua, dan sepenggal kisah tentang kepergian orang tua karena amukan gelombang laut smong. Selain itu, terdapat pula ajakan untuk lari ke tempat yang lebih tinggi jika ada goncangan tanah yang kuat. Hal ini menjadi kebiasaan masyarakat Simeuleu lari ke gunung jika terasa goncangan tanah akibat gempa. Menariknya ini adalah salah satu cara masyarakat Simeulue memahami proses dinamika alam dan berupaya melakukan mitigasi untuk mengurangi dampak risiko akibat bencana6).

Ekspedisi cincin api KOMPAS7) pernah mengulas tentang kearifan lokal smong dari masyarakat Simeulue. Jika Anda belum sempat melihat dan mendengarnya, tak ada salahnya menengok kearifan lokal yang dicatat ekspedisi ini.

Rumah Adat Omo Hada

Tsunami dan Kearifan LokalRumah adat Omo Hada (sidomi.com)

Rumah adah Omo Hada berasal dari Pulau Nias yang berusia sekitar 300 tahun. Rumah adat ini tetap berdiri kokoh walaupun diguncang gempa berkali-kali. Padahal 10 tiang (ehomo) yang menyangga rumah kayu tersebut sudah keropos dimakan usia.

Tiang rumah adat ini terbuat dari kayu bulat yang sangat keras dengan ketinggian empat meter tanpa menggunakan paku. Sedangkan tiang menyilang (diwa) dibuat tidak tertancap di tanah. Pondasi dibuat secara umpak, yaitu batu tersusun dan tidak ditanam di tanah. Lokasi bangunan di bukit, aman dari jangkauan tsunami.

Berdasarkan catatan sejarah, rumah adat ini dibangun sejak tahun 1715. Beberapa gempa telah terjadi sejak saat itu. Pada tahun 1851 Pulau Nias digoyang gempa berkekuatan M8.5. Begitu juga pada 28 Maret 2005 gempa mengguncang Nias dengan kekuatan M8.7 tidak merobohkan rumah ini. Kunci rumah adat omo hada ini ada pada kelenturan struktur bangunan yang dapat mengikuti getaran gempa, karena antara struktur bawah dan atas dibuat fleksibel8).

Arsitektur Masjid

Tsunami dan Kearifan Lokal1

Beberapa masjid yang tetap utuh pasca diterjang tsunami (masshar2000.com)

Hal menarik lainnya selain Smong pada tsunami Aceh tahun 2004 adalah bangunan masjid tetap berdiri kokoh di antara puing – puing bangunan yang hancur diterjang tsunami. Seperti Masjid Baiturahim di Ulhelhue dan Leumpeuk, Lhok Nga. Pelajaran menarik dapat dilihat pada arsitektur masjid tersebut.

Tiang – tiang masjid dibuat berbentuk silinder yang lebih hidrodinamis dan memiliki bidang benturan yang lebih kecil sehingga mengurangi risiko kerusakan akibat tekanan. Selain itu, bagian bawah masjid dibuat terbuka. Sehingga ketika tsunami menerjang tidak ada dinding penghalang yang mengakibatkan bengunan terhindar dari tekanan. Jadi, tsunami yang menerjang bangunan masjid ini akan lewat lebih leluasa8).

Mangrove/ hutan bakau

Indonesia merupakan negara dengan mangrove terluas di dunia9). Mangrove menjadi salah satu hal yang semestinya dijumpai di sekitar pantai atau rawa. Namun, akan sangat miris melihat Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki mangrove yang tak seberapa. Padahal sejak jaman dulu mangrove bebas tumbuh di Kepulauan Indonesia.

Sejak jaman dulu pula mangrove telah dimanfaatkan. Sudah barang tentu Indonesia seharusnya menjadi negara yang mengetahui seluruh manfaat dari mangrove. Dari segi kebencanaan, mangrove telah terbukti dapat melindungi warga pesisir dari badai.

Bagaimana dengan tsunami?

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Fadly Usman dari Universitas Brawijaya menghasilkan bahwa studi modifikasi topografi sebagai pendekatan terhadap kearfian lokal dapat mengurangi inundasi10). Inundasi adalah jarak horizontal antara ujung gelombang tsunami terjauh dengan garis pantai.

Dari simulasi yang dilakukan, terbukti bahwa vegetasi mangrove dapat menahan laju tsunami sehingga jarak inundasinya tidak terlalu jauh. Selain itu, penggunaan kombinasi dan vegetasi bisa meningkatkan pengurangan inundasi karena gelombang tsunami terefleksi.

Tsunami dan Kearifan Lokal3

Simulasi antara tsunami, mangrove dan modifikasi topografi10)

Beberapa kearifan lokal di atas bisa menjadi alternative langkah mitigasi tsunami. Selain itu dengan menjaga kelestarian kearifan lokak menunjukkan bahwa kita sebagai bagian dari Bangsa Indonesia masih memiliki ciri khas di tengah pusaran arus budaya luar yang memiliki efek positif dan negatif.

Sebagai penutup, sekuat apapun langkah kita dalam berencana, jangan lupa untuk mengikutsertakan Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena kita hanya berusaha sedang Ia lah Sang Maha Mengatur. Wallahu’alam bishshawab.

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004
  2. https://www.youtube.com/watch?v=tAlwAvdxQbI
  3. www.pusdiklat-geologi.esdm.go.id/index.php/artikel/publikasi-ilmiah/122-kearifan-lokal-smong-penyelamat-bencana-tsunami-di-pulau-simeulue-provinsi-nanggroe-aceh-darussalam
  4. http://www.ifrc.org/ar/noticias/noticias/asia-pacific/indonesia/the-story-that-saved-the-lives-of-the-people-of-simeuleu-indonesia/
  5. http://iloveaceh.org/2013/12/24/kearifan-lokal-simeulue-smong-bukan-sekedar-tsunami/
  6. http://www.kompasiana.com/zulfakriza/smong-kearifan-lokal-masyarakat-simeulue-menghadapi-tsunami_552b98686ea834352d8b4589
  7. http://ekspedisi.kompas.com/cincinapi/index.php/galeri/video/17.
  8. http://kupasbengkulu.com/membendung-kekuatan-gempa-dan-tsunami-dengan-kearifan-lokal
  9. https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau
  10. Usman F., Murakami K., Kurniawan E. B., Study on Reducing Tsunami Inundation Energy by the Modification of Topography Based on Local Wisdom, The 4th International Conference on Sustainable Future for Human Security, Procedia Environmental Sciences 20 ( 2014 ) 642 – 650

*Penulis merupakan mahasiswa program magister Teknik Geofisika FTTM ITB 2014 dan juga penerima Beasiswa Unggulan DIKTI 2014. Penulis dapat dihubungi di mallaniung@gmail.com

265 views

Dua Isyarat

oleh : annisa

Dahsyatnya natijah hijrah
Yang membuat syahdu setiap jiwa yang beriman
Yang terarah pada satu objek, yaitu Allah
Semoga kalian juga rindu

Hanya Dia yang memilih. Ada dua isyarat, cinta dan azab dari Allah, coba kita renungkan sejarah yang bertepatan dengan Muharram.

Dan Nuh memanggil anaknya, Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang kafir (Hud:42)
dia (anaknya) menjawab, aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah (Hud:43)
(Nuh) berkata ‘’Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang. ‘’Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan (Hud:43)

Begitulah dialog antara seorang yang beriman dan samar-samar imannya. Malangnya sang anak, bahkan istri Nabi Nuh pun tak beriman. Ibnu Abbas berkata hanya delapan puluh orang yang ikut berlayar bersama Nabi Nuh as. Sungguh jumlah yang sedikit, hanya Dien yang Allah memuliakan kita dengannya saja. Kaum Nabi Nuh as diselamatkan oleh Allah dari banjir yang dahsyat, sekaligus menjadi azab bagi kaumnya yang kafir. Peristiwa ini terjadi di bulan muharram. Ada lagi, peristiwa diselamatkannya Bani Israil dari kerajaan Fir’aun di laut merah. Allah menyelamatkan orang-orang yang istiqomah dengan misi Nabi Musa as.

Bayangkan dengan media, waktu, cara (histori) yang berbeda, di satu sisi Allah mengisyaratkan dua hal yaitu ada pihak yang mendapat rahmat dan menerima azab. Ada selektivitas di bulan muharram, jadi Allah ingin menyelamatkan orang-orang yang beriman dan mengazab orang-orang yang mengingkariNya.

Duhai Allah, lindungi kami dari azabMu,

Momen besar lainnya, di era Rasulullah SAW, peristiwa hijrah dari mekkah ke yastrib. Dengan diusirnya Rasulullah dari mekkah menjadi media pertolongan dari Allah dan menjadi azabnya bagi orang Mekkah. Mengapa demikian ? Karena ada kejelasan sikap ! furqon (terpisah) antara haq dan batil lalu lahirlah kedaulatan di Madinah, sebuah tatanan islam yang dibangun oleh orang-orang yang amanat. (Madina berasal dari kata Ma:tempat, dina: dien)

Allah berfirman :

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khwatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh (Al-ahzab:72). Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-ahzab:73).

Allah memberikan amanat kepada manusia dan juga mau menimpakan azab kepada manusia. Lalu, apa amanat itu ? yakni Al-Qur’an, amanat dari Allah yang harus ditegakkan oleh sekelompok orang, nah ada orang yang sadar tapi tidak mau memikul amanat, sungguh ia dzolim terhadap dirinya sendiri. Maka hijrah menjadi media menegakkan amanat islam, qur’an harus tegak, otomatis ini akan menjadi siksaan bagi orang yang menentang.

Peristiwa hijrah oleh khalifah Umar bin Khattab ditetapkan sebagai momentum dasar untuk menetapkan tahun baru dalam islam, karna begitu dahsyatnya natijah hijrah;terpisahnya hak dan batil. Muharram juga mengingatkan pada peristiwa yang menimpa cucu Rasul dan 10 sahabat yang dibantai oleh khalifah Yazid bin Muawiyah di era setelah Rasulullah hidup. Sungguh ironi, pembantaian terhadap cucu Rasul dengan kepalanya yang dipenggal lalu diarak, tubuh dipenuhi panah padahal Husein bin Ali hanya ingin menunjukkan kebenaran meski resikonya nyawa.

Sunatullah itu terjadi, tidak akan ada perubahan padanya. Saatnya kita introspeksi, menjadi orang yang layak dipilih atau dibuang oleh Allah. Mungkin saja hari ini Allah menyeleksi mana orang yang beriman atau yang samar-samar imannya. Lalu konteks hari ini seperti apa?

‘’Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia membedakan yang buruk dan yang baik. Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasulnya. Jika kamu beriman dan bertakwa, maka kamu akan mendapat pahala yang besar (Al-Imran:179)

Ternyata pada perjuangan yang dialami Rasulullah termasuk hari ini adalah seleksi. Ada orang-orang yang lurus niatnya, juga ada orang-orang munafik. Sampai Allah memilih mana yang pantas. Contoh, orang-orang yang tidak mau ikut dalam perang badar, hal itu tidak luput dari infiltrasi orang-orang jahat. Sedang orang-orang terpilih akan muncul, mereka yang lurus dan bersih. Islam sebagai sistem hidup yang bersih maka orang-orang yang bisa memanggulnya adalah orang yang bersih. Proses seleksi menjadi letupan semangat, berusaha memantaskan diri sebagai pemegang amanat dari Allah karna Allah membutuhkan pejuang yang sanggup menjadi payung umat.

Di tangan kitalah tanggung jawab risalah rasul. Lalu kenapa kita jarang menghadirkan getirnya perjuangan Rasul, yang kita lihat hanya kemenangannya saja, seolah-olah lebih indah hidup di zaman Rasul. Bayangkan saat Rasul di boikot oleh seisi mekkah, keluarga juga kena imbasnya, untuk apa Rasul berhadapan dengan semua itu? Sampai harus hijrah. Lalu, manusia kini dengan sombongnya selalu meminta surga

Hijrah selalu mengoyak perasaan. Dalam hijrah ada semangat yang tak semua orang bisa melakukannya. Rela meninggalkan sesuatu yang dicintainya seperti harta, keluarga, jabatan, dan berhala hawa nafsu lainnya. Karna perjuangan bukan persoalan main-main, ia hadir dengan konsepNya :

‘’sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Baqarah:218).

Kalau tidak hijrah bagaimana bisa jihad? Sebelum ada madinah tidak ada makna jihad karna di mekkah tidak ada yang dibela. Jika seseorang punya keyakinan, maka ia juga bisa menolak sesuatu. Logis

Muharram, seharusnya menjadi awal gelombang perubahan drastis yang bisa menyingkirkan hijab-hijab dalam umat islam yang tidak bersatu agar bersatu. Kira-kira dibarisan manakah harus mawas diri, apakah masih abai atau terus lalai. Berharap pada Allah, tak mungkin tiba-tiba. Keberkahan umat islam sudah diberikan, saatnya kita memilih mau menjadi penerus atau penghalang

Ingat akhirat, pada satu hari bumi akan menceritakan seisinya, tentang tingkah laku manusia. Sayang sekali jika hidup ini tidak diisi dengan perjalanan pengabdian kepada Allah, bahwa Allah tak boleh di punggungi dari segi aturan kehidupan. Terus berharap bisa menjadi saluran kegagahan Allah,
menjadi pribadi yang mampu, wawasan luas, bersih niat, lurus langkah, dan rela berkorban.

Dua isyarat dari Allah, cinta (rahmat) atau azab
Hati-hati dengan godaan dunia
Ikhlas di atas rel sesuai petunjuk Allah
Setumpuk rindu untuk madinah Indonesia

Selamat tahun baru 1437 H. semoga momen ini dapat menjadi refleksi kemajuan dan peningkatan amal ibadah kita kepada Allah SWT. Amin, (AI)

8 views