Results for category "Islamic Corner"

39 Articles

Memperingati Isra Mi’raj 27 Rajab 1437 H

WhatsApp-Image-20160506

Kemarin pada tanggal 6 Mei 2016 bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1437 H, hari diperingatinya peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa ini merupakan perjalanan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, atas kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,Rasulullah diperjalanankan (Isra) dalam satu malam dari Masjidilharam Mekah ke Masjidilaqsa Palestina,Kemudian pada malam itu juga dinaikkan (Mi’raj) kelangit dunia hingga kelangit tujuh, terus dibawah naik lagi ke Sidratulmuntaha untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hikmah utama dari peristiwa Isra Mi’raj, sesungguhnya adalah turunnya perintah Shalat lima waktu. Begitu pentingnya shalat fardhu lima waktu sampai Allah Subanahu wa Ta’ala’’memanggil Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam’agar menghadap kepada-Nya untuk menerima perintah langsung di Sidratulmuntaha.

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu’,,

”Shalat difardhukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,pada malam Isra Mi’raj lima puluh (kali),kemudian dikurangi sehingga menjadi (lima) lalu diserukan,”Ya Muhammad, Keputusan ini di Sisi-KU tidak dapat diubah dan bagimu yang lima ini adalah lima puluh (kali pahalanya).”(H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan At Tirmidzi).

Allah Subanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya menempatkan Ibadah Shalat mempunyai kedudukan yang tinggi dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Namun bukan berarti ibdah-ibadah lainya dikesampingkan.Shalat merupakan tiang agama,tidak akan tegak, berdiri Islam kecuali dengan Shalat.

“Jika Kamu bingung bagaimana memperbaiki dirimu, maka mulailah dari memperbaiki sholatmu”…
#MuhasabahDiri

3 views

Catatan Kajian Senin-Kamis KAMIL ITB

8rY0yP7c

UIG5G+Hk

Catatan Kajian Senin-Kamis KAMIL ITB

Senin, 17 April 2016, 17.00-Maghrib

@GSG Masjid Salman ITB

“Apa Kabar Iman Kita?”

(Ust. Lukman Nurhakim, Lc)

  1. Iman secara harfiah adalah:
    • Meyakini dengan hati
    • Diucapkan dengan lisan
    • Diamalkan melalui perbuatan
  2. Analogi Iman dalam kehidupan sehari-hari
    • Iman itu seperti ruh didalam jiwa
      • Ketika manusia rela memberikan apapun yang dimiliki hanya untuk Allah layaknya ketika seseorang rela memberikan seluruh hartanya hanya agar dapat menikmati rahmat bernapas, itulah iman.
      • Karena pada akhirnya semua perjuangan manusia didunia hanya akan berakhir saat napas terakhirnya.
    • Iman itu seperti mesin didalam mobil
      • Iman seperti mesin penggerak bagi diri karena raga tanpa iman bagaikan seonggok mobil marchedes tanpa mesin. Tiada berguna dan bernilai.
    • Iman itu seperti air di lautan
      • Karena iman menyegarkan dan memberi manfaat bagi manusia yang memilikinya
    • Iman itu seperti pepohonan dan bunga-bunga di     kebun yang luas
      • Sebidang tanah dengan produktif (pohon, bunga, atu bangunan) memiliki nilai yang lebih berharga dari sebidang tanah kosong
      • Keberadaan iman dalam diri seseorang akan membuat orang tersebut memiliki nilai yang berbeda dengan seorang jasad tanpa iman
    • Iman itu seperti para pahlawan di medan pertempuran
      • Keberadaan iman dalam diri seseorang akan membuatnya menjadi sosok yang keberadaannya selalu bermanfaat dan dirindukan oleh orang lain
    • Iman itu seperti pakaian pada diri
      • Keberadaan iman dalam diri seseorang akan menjaganya dari semua perbuatan keji dan munkar
  1. Tidak ada seorangpun manusia yang luput dari khilaf. Sehingga ketika ada seseorang yang merasa diri paling sholeh/sholehah, maka disanalah letak ketidaksolehannya. Karena memang tidak ada seorangpun manusia yang maksum kecuali Nabi Muhammad SAW. Dan sebaik-baiknya seseorang yang berdosa adalah orang yang bertaubat dari dosa-dosanya.

 

#JadiLebihBaik

 

Diringkas oleh : Philin Yolanda

16 views

Menjawab Polemik Istri Masa Kini: Jadi Ibu Rumah Tangga, Atau Wanita Karier?

Oleh: Nadzira Rizki

Muslim-Feminist-Feminism-Islam-And-Women-

Ilustrasi: muslimvibe.com

“Istri yang ideal itu, yang pekerjaan utamanya adalah mengurus rumah tangga.”

“Salah! Perempuan harusnya bebas berekspresi mengaktualisasikan dirinya, baik dalam karier maupun pendidikan.”

“Kalau menurut saya, mengurus anak dan suami sambil mengekspresikan diri di luar, mungkin-mungkin saja.”

Pernah dengar ungkapan-ungkapan di atas? Tentu ya. Di era keterbukaan informasi kini, perdebatan tentang peran perempuan –dalam bidang domestik, atau sosial dan masyarakat– kerap terjadi. Dalam beberapa kasus, hal ini sampai memicu keretakan rumah tangga. Biasanya, itu diakibatkan tiadanya kesepakatan soal peran istri dan suami.

“Kunci rumah tangga yang sukses itu, ada kesepakatan bersama. Peran istri dan suami juga harus dikomunikasikan,” kata Ustadz Lili Chumedi, dalam Kajian Muslimah CAKRAWALA (Bicara Perkara Wanita Sholeha) Keluarga Mahasiswa Islam (KAMIL) Pascasarjana ITB, Jumat (15/4).

Dalam kajian bertema “Peran Perempuan di Lingkup Domestik dan Sosial” tersebut, Lili memang menekankan pentingnya kata mufakat antara suami dan istri. Lili yang juga aktif sebagai terapis emosional dan fisik ini mengungkapkan, banyak kisah kehancuran rumah tangga yang disebabkan masalah tersebut.

Misalnya, ia menceritakan sebuah kasus, seorang laki-laki menceraikan istrinya karena sang istri berpenghasilan lebih besar. Kariernya melejit tinggi, melampaui sang suami yang “hanya” seorang pegawai biasa. Ia pun merasa perannya sebagai pemimpin terabaikan.

Ada pula kasus lain yang serupa. Dalam kasus tersebut, sang suami merasa diremehkan. Ujung-ujungnya ia mencari wanita idaman lain, yang ia rasa lebih bisa menghargainya sebagai seorang laki-laki.

Inilah mengapa pilihan apakah seorang istri berkegiatan di rumah saja atau aktif di luar rumah harus melewati pertimbangan-pertimbangan yang matang. Lili menjelaskan, yang pertama harus dimantapkan adalah niat. “Jangan sampai memilih daerah aktivitas karena iri hati,” katanya.

Iri yang dimaksud adalah penyakit hati. Memilih berkarier karena sakit hati pada suami, atau karena alasan-alasan lain yang bukan untuk Allah, hanya akan menambah masalah baru. Bahkan, merusak diri dan orang lain.

Kedua, mempertimbangkan status diri. Maksudnya, apa pun kondisi dirinya suami harus tahu dan mengizinkan. Misalnya ketika akan bepergian, bertemu yang bukan mahramnya, sampai memilih pekerjaan. Bila belum menikah atau sudah bercerai, komunikasikanlah hal tersebut kepada anak, orang tua dan/atau wali yang bersangkutan.

Hal ketiga yang juga penting menurut Lili, yakni “amalan” atau aspek pekerjaannya. Bila istri memilih bekerja, ia harus mempertimbangkan izin dari suami, apakah pekerjaan tersebut syubhat atau haram, aspek pencampuran antara laki-laki dan perempuan, dan lain-lain. Dalam menjalani pekerjaannya itu pun ia harus berhati-hati. Jangan sampai ia berangkat kerja dengan bertabaruj, menampakkan aurat, serta tidak menjaga hijab dengan lawan jenis. Hal yang utama, sang istri harus pandai-pandai mengatur bagaimana agar pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban mengurus rumah tangga.

Keempat, sebelum memutuskan akankah istri bekerja, tidak bekerja, atau mengurus rumah sambil bekerja, istri sebaiknya mengukur kemampuan diri. Mampukah istri menjaga kewajiban pada suami dan anak-anak? Mampukah ia mengendalikan emosi, usai lelah bekerja di luar rumah? Mampukah ia menjaga hakikat kepemimpinan sang suami? Lalu, mampukah sang istri mengendalikan dirinya selama bekerja agar tak terjebak kemungkaran? Apalagi mengingat dunia kerja identik dengan pencampuran laki-laki dan perempuan, yang jika tidak dijaga, akan berpotensi menimbulkan hasrat-hasrat terlarang.

Hal terakhir –yang paling penting, istri mesti menghadirkan keseimbangan, baik dalam masyarakat maupun rumah tangganya. Jangan hanya berprestasi di pendidikan atau karier. Sebagai seorang perempuan, ia juga wajib “berprestasi” di mata suami dan anak-anaknya. Bila semua hal di atas telah tercapai, maka Insya Allah keseimbangan pun akan tercipta.***

Sumber: http://salmanitb.com/2016/04/16/28966/

75 views