Results for category "Islamic Corner"

38 Articles

Catatan Kajian Senin-Kamis KAMIL ITB

8rY0yP7c

UIG5G+Hk

Catatan Kajian Senin-Kamis KAMIL ITB

Senin, 17 April 2016, 17.00-Maghrib

@GSG Masjid Salman ITB

“Apa Kabar Iman Kita?”

(Ust. Lukman Nurhakim, Lc)

  1. Iman secara harfiah adalah:
    • Meyakini dengan hati
    • Diucapkan dengan lisan
    • Diamalkan melalui perbuatan
  2. Analogi Iman dalam kehidupan sehari-hari
    • Iman itu seperti ruh didalam jiwa
      • Ketika manusia rela memberikan apapun yang dimiliki hanya untuk Allah layaknya ketika seseorang rela memberikan seluruh hartanya hanya agar dapat menikmati rahmat bernapas, itulah iman.
      • Karena pada akhirnya semua perjuangan manusia didunia hanya akan berakhir saat napas terakhirnya.
    • Iman itu seperti mesin didalam mobil
      • Iman seperti mesin penggerak bagi diri karena raga tanpa iman bagaikan seonggok mobil marchedes tanpa mesin. Tiada berguna dan bernilai.
    • Iman itu seperti air di lautan
      • Karena iman menyegarkan dan memberi manfaat bagi manusia yang memilikinya
    • Iman itu seperti pepohonan dan bunga-bunga di     kebun yang luas
      • Sebidang tanah dengan produktif (pohon, bunga, atu bangunan) memiliki nilai yang lebih berharga dari sebidang tanah kosong
      • Keberadaan iman dalam diri seseorang akan membuat orang tersebut memiliki nilai yang berbeda dengan seorang jasad tanpa iman
    • Iman itu seperti para pahlawan di medan pertempuran
      • Keberadaan iman dalam diri seseorang akan membuatnya menjadi sosok yang keberadaannya selalu bermanfaat dan dirindukan oleh orang lain
    • Iman itu seperti pakaian pada diri
      • Keberadaan iman dalam diri seseorang akan menjaganya dari semua perbuatan keji dan munkar
  1. Tidak ada seorangpun manusia yang luput dari khilaf. Sehingga ketika ada seseorang yang merasa diri paling sholeh/sholehah, maka disanalah letak ketidaksolehannya. Karena memang tidak ada seorangpun manusia yang maksum kecuali Nabi Muhammad SAW. Dan sebaik-baiknya seseorang yang berdosa adalah orang yang bertaubat dari dosa-dosanya.

 

#JadiLebihBaik

 

Diringkas oleh : Philin Yolanda

15 views

Menjawab Polemik Istri Masa Kini: Jadi Ibu Rumah Tangga, Atau Wanita Karier?

Oleh: Nadzira Rizki

Muslim-Feminist-Feminism-Islam-And-Women-

Ilustrasi: muslimvibe.com

“Istri yang ideal itu, yang pekerjaan utamanya adalah mengurus rumah tangga.”

“Salah! Perempuan harusnya bebas berekspresi mengaktualisasikan dirinya, baik dalam karier maupun pendidikan.”

“Kalau menurut saya, mengurus anak dan suami sambil mengekspresikan diri di luar, mungkin-mungkin saja.”

Pernah dengar ungkapan-ungkapan di atas? Tentu ya. Di era keterbukaan informasi kini, perdebatan tentang peran perempuan –dalam bidang domestik, atau sosial dan masyarakat– kerap terjadi. Dalam beberapa kasus, hal ini sampai memicu keretakan rumah tangga. Biasanya, itu diakibatkan tiadanya kesepakatan soal peran istri dan suami.

“Kunci rumah tangga yang sukses itu, ada kesepakatan bersama. Peran istri dan suami juga harus dikomunikasikan,” kata Ustadz Lili Chumedi, dalam Kajian Muslimah CAKRAWALA (Bicara Perkara Wanita Sholeha) Keluarga Mahasiswa Islam (KAMIL) Pascasarjana ITB, Jumat (15/4).

Dalam kajian bertema “Peran Perempuan di Lingkup Domestik dan Sosial” tersebut, Lili memang menekankan pentingnya kata mufakat antara suami dan istri. Lili yang juga aktif sebagai terapis emosional dan fisik ini mengungkapkan, banyak kisah kehancuran rumah tangga yang disebabkan masalah tersebut.

Misalnya, ia menceritakan sebuah kasus, seorang laki-laki menceraikan istrinya karena sang istri berpenghasilan lebih besar. Kariernya melejit tinggi, melampaui sang suami yang “hanya” seorang pegawai biasa. Ia pun merasa perannya sebagai pemimpin terabaikan.

Ada pula kasus lain yang serupa. Dalam kasus tersebut, sang suami merasa diremehkan. Ujung-ujungnya ia mencari wanita idaman lain, yang ia rasa lebih bisa menghargainya sebagai seorang laki-laki.

Inilah mengapa pilihan apakah seorang istri berkegiatan di rumah saja atau aktif di luar rumah harus melewati pertimbangan-pertimbangan yang matang. Lili menjelaskan, yang pertama harus dimantapkan adalah niat. “Jangan sampai memilih daerah aktivitas karena iri hati,” katanya.

Iri yang dimaksud adalah penyakit hati. Memilih berkarier karena sakit hati pada suami, atau karena alasan-alasan lain yang bukan untuk Allah, hanya akan menambah masalah baru. Bahkan, merusak diri dan orang lain.

Kedua, mempertimbangkan status diri. Maksudnya, apa pun kondisi dirinya suami harus tahu dan mengizinkan. Misalnya ketika akan bepergian, bertemu yang bukan mahramnya, sampai memilih pekerjaan. Bila belum menikah atau sudah bercerai, komunikasikanlah hal tersebut kepada anak, orang tua dan/atau wali yang bersangkutan.

Hal ketiga yang juga penting menurut Lili, yakni “amalan” atau aspek pekerjaannya. Bila istri memilih bekerja, ia harus mempertimbangkan izin dari suami, apakah pekerjaan tersebut syubhat atau haram, aspek pencampuran antara laki-laki dan perempuan, dan lain-lain. Dalam menjalani pekerjaannya itu pun ia harus berhati-hati. Jangan sampai ia berangkat kerja dengan bertabaruj, menampakkan aurat, serta tidak menjaga hijab dengan lawan jenis. Hal yang utama, sang istri harus pandai-pandai mengatur bagaimana agar pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban mengurus rumah tangga.

Keempat, sebelum memutuskan akankah istri bekerja, tidak bekerja, atau mengurus rumah sambil bekerja, istri sebaiknya mengukur kemampuan diri. Mampukah istri menjaga kewajiban pada suami dan anak-anak? Mampukah ia mengendalikan emosi, usai lelah bekerja di luar rumah? Mampukah ia menjaga hakikat kepemimpinan sang suami? Lalu, mampukah sang istri mengendalikan dirinya selama bekerja agar tak terjebak kemungkaran? Apalagi mengingat dunia kerja identik dengan pencampuran laki-laki dan perempuan, yang jika tidak dijaga, akan berpotensi menimbulkan hasrat-hasrat terlarang.

Hal terakhir –yang paling penting, istri mesti menghadirkan keseimbangan, baik dalam masyarakat maupun rumah tangganya. Jangan hanya berprestasi di pendidikan atau karier. Sebagai seorang perempuan, ia juga wajib “berprestasi” di mata suami dan anak-anaknya. Bila semua hal di atas telah tercapai, maka Insya Allah keseimbangan pun akan tercipta.***

Sumber: http://salmanitb.com/2016/04/16/28966/

69 views

Sudahkah Ilmumu Bermanfaat Wahai Anak Muda ?

Oleh Ella Melyna

Tidak akan bergeser kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya dengan empat (dalam riwayat lain: lima) pertanyaan: ‘Tentang umurnya kemana ia habiskan, tentang masa mudanya dimana ia gunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan apa yang sudah dia amalkan dari ilmunya…?’” (Hasan, HR. At-Tirmidzi; Shahihul Jami’: 7299).

Sebagai seorang mahasiswa yang sedang mempelajari ilmu, Sudahkah kita bermanfaat bagi kepentingan agama, kaum muslimin, dan bangsa ?

Kita kuliah dengan amanah dari orangtua dan juga kesadaran diri kita sendiri. Oleh sebab itu sudah seharusnya kita meluruskan niat kita dalam mencari ilmu, yaitu untuk memberi manfaat bagi kaum muslimin dan juga dalam rangka membela agama Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 1907).

Sudahkah ilmumu bermanfaat anak muda

Mahasiswa yang baik bukan hanya mahasiswa yang peduli dengan indeks prestasi dan nilai kuliahnya, sibuk dengan kegiatan kuliahnya sendiri tanpa mempedulikan ilmu agama dan manfaat dirinya bagi orang lain, tetapi mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang senantiasa menimba ilmu agama, ilmu Al-Qur’an dan As Sunnah serta memanfaatkannya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).

Tidak sedikit dari kita yang menuntut ilmu namun kadang tidak bermanfaat bagi si pemiliknya. Padahal ilmu yang disebut ilmu adalah jika bermanfaat dan bukan ilmu yang sekedar dihafalkan. Yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu syar’i atau ilmu agama yang diamalkan oleh si pemiliknya. Imam Syafi’i memiliki nasehat berharga di mana beliau berkata,

Ilmu adalah yang bermanfaat dan bukan hanya dihafalkan” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89)

Sudahkah ilmumu bermanfaat anak muda1

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin membuat seseorang mengenal Rabbnya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bukan dicari untuk membanggakan diri dan sombong, sehingga ketika orang di bawahnya menyampaikan suatu ilmu, ia pun menerima jika itu adalah kebenaran. Ilmu yang bermanfaat membuat seseorang tidak gila dunia, tidak mencari popularitas dan tidak ingin dirinya tenar. Ilmu yang bermanfaat tidak menjadikan seseorang sombong di hadapan yang lain dan tidak sampai membodoh-bodohi yang lain. Jika ada yang menyelisihi ajaran Rasul, maka ia mengkritiknya karena Allah subhanahu wa ta’ala, bukan marah  karena selain Allah subhanahu wa ta’ala atau bukan karena ingin meninggikan derajatnya. Ilmu yang bermanfaat membuat seseorang suuzhon pada dirinya sendiri (artinya: merasa dirinya penuh kekurangan) dan husnuzhon (berprasangka baik) pada orang-orang yang berilmu sebelumnya (para salaf). Ia selalu berprasangka bahwa yang lebih salaf darinya lebih utama.

Kita diajarkan setelah shalat Shubuh untuk membaca doa,

[Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa]

“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih).

Sudahkah ilmumu bermanfaat anak muda2

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat dan kita berlindung pada Allah subhanahu wa ta’ala dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas dan dari doa yang tidak dikabulkan. Semoga kita menjadi manusia yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain karena “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3289).

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat – menasehati dalam kebenaran dan nasehat – menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

114 views