Results for category "Islamic Corner"

39 Articles

Menjemput Berkah Majelis Ilmu

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Alhamdulillah wa syukurillah, kita hidup di zaman sekarang yang serba mudah dan canggih dengan teknologi. Islam pula telah berkembang pesat ke seluruh penjuru dunia. Tak lagi sulit dalam mempelajari Islam dan mencari-cari majelis ilmu hingga menempuh perjalanan jauh. Tidak seperti saat zaman Nabi Muhammad saw, orang-orang yang hendak mempelajari Islam kala itu mendatangi beliau, tidak peduli harus menempuh perjalanan yang jauh lagi sulit dengan berjalan kaki maupun menunggang unta atau kuda. Kini, ulama telah banyak dan majelis ilmu bertebaran dimana-dimana.

Namun di tengah “kemudahan” saat ini, semakin dimudahkan pula dengan adanya media sosial sebagai media penyebaran segala bentuk informasi tak terkecuali da’wah Islam. Orang-orang menjadi mudah mengakses video da’wah dimana dan kapan saja dari seorang ulama melalui berbagai media semisal youtube, live instagram dan lain sebagainya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Tentu bentuk positif dari kemudahan ini dimaksudkan agar da’wah Islam, majelis ilmu yang disiarkan secara streaming tersebut bisa menjangkau orang lebih luas dan leluasa dalam mengakses ilmu agama. Tetapi, apakah dapat dibenarkan jika seseorang kemudian berpikir daripada susah payah menghadiri majelis ilmu, cukuplah baginya melihat dan mengakses melalui media-media tersebut. Atau seperti di kalangan remaja saat ini dikenal istilah “mager” (malas gerak), lebih memilih cukup dengan mengaksesnya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Nabi Muhammad saw dalam haditsnya menyebutkan mengenai keutamaan mendatangi majelis ilmu :

حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِالۡهَمۡدَانِيُّ. وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ. قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :…… وَمَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىٰ الۡجَنَّةِ. وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ، يَتۡلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيۡنَهُمۡ، إِلَّا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتۡهُمُ الرَّحۡمَةُ وَحَفَّتۡهُمُ الۡمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنۡ عِنۡدَهُ. وَمَنۡ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمۡ يُسۡرِعۡ بِهِ نَسَبُهُ. (رواه المسلم)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad ibnul 'Ala` Al-Hamdani, dan lafazh ini milik Yahya, Yahya berkata : telah mengabarkan kepada kami, dua yang lain berkata : mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “…… Dan barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), nasabnya tidak akan bisa menyempurnakannya.” (HR. Muslim)[1]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mendatangi majelis ilmu akan Allah mudahkan jalan menuju surga, mendapatkan ketenangan, senantiasa diliputi oleh rahmat dan dikelilingi malaikat—disebutkan bahwa malaikat ridla dan mendoakan orang tersebut, sementara kita ketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang paling taat dan doanya diijabah oleh Allah.

Terlampau banyak keutamaan menghadiri majelis ilmu, selain kita akan menuai pahala yang besar darinya. Di dalamnya melimpah manfaat dan keberkahan yang tentu hanya bisa kita dapatkan jika kita menghadirinya—menjemputnya. Sehingga dirasa tidak tepat jika dicukupkan mengakses majelis ilmu melalui media tanpa mendatanginya.

Sebagaimana yang diungkapkan salah seorang pengurus KAMIL, “Bisa, sih, streaming, tapi pasti berkahnya beda.” (Barri, 2017)

 

 


[1] Hadits Arbain an Nawawiyah, nomor 36, h. 41-42.

 

3 views

Apa itu Zakat Fitrah?

WhatsApp-Image-20160704
Asal kata zakat adalah az-zakah yang berarti tumbuh, suci dan berkah. Allah swt berfirman “Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka”. (at-Taubah [9]: 103)
Zakat membersihkan dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap harta. Zakat menyuburkan sifat-sifat kebaikan di dalam hati dan meperkembangkan harta.
Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan pada hari Idul Fitri.
Ibnu Umar r.a berkata, “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha’ gandum kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan,anak kecil dan orang besar dari kaum muslimin” (HR. Bukhari & Muslim)
Hikmah Zakat Fitrah :
Zakat fitrah pertama kali disyariatkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah. Ibnu Abbas r.a berkata, “Rasullah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak ada faedahnya dan perkataan kotor serta untuk memberi makan orang-orang miskin. Barang siapa yang membayarnya sebelum shalat (ied), apa yang dilakukakannya itu menjadi zakat yang diterima; dan barang siapa yang membayarnya setelah shalat, apa yang dilakukannya itu menjadi sedekah biasa. (HR Abu Dawud 1609, Ibnu Majah 1827, Daruquthni 1)
Maka, setiap muslim yang memiliki kadar satu sha’ setelah ia mampu mencukupi makanan pokoknya dan keluarganya pada malam dan siang hari raya WAJIB mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi, seperti istrinya, abak-anaknya dan para pembantunya.
Kadar :
Abu Said al-Khudri berkata, “ketika kami masih semasa dengan Rasulullah, kami mengeluarkan zakat fitrah untuk anak kecil, orang besar, orang merdeka, dan budak sebesar satu sha’ makanan, satu sha’ keju, satu sha’ gandum, satu sha’ kurma, dan satu sha’ anggur kering. Kami selalu mengeluarkan zakat seperti itu hingga Muawiyah datang ketika ia melaksanakan ibadah haji atau umrah. Ia berbicara dihadapan banyak manusia dari atas mimbar. Di antara perkataannya adalah, ‘Sesungguhnya aku memandang setengah sha’ gandum qum sama dengan satu sha’ kurma’. Kemudian orang-orang mengikuti pandangan Muawiyah ini. Adapun aku masih selalu mengeluarkan zakat fitrah sebesar satu sha'”. (HR Bukhari & Muslim)
Tirmidzi berkata, “Demikian para ulama telah mengamalkan. Mereka berpendapat bahwa zakat fitrah dari segala jenis makanan adalah satu sha’. Hal itu juga merupakan pendapat Syafi’i dan Ishaq.”
Satu sha’ adalah ukuran takaran yang ada di masa Rasulullah. Para ulama berselisih pendapat lagi bagaimana ukuran timbangannya. Diperkirakan dengan ukuran timbangan sekitar 3Kg. Ulama lainnya mengatakan kira-kira 2,157Kg. Artinya jikat zakat fitrah dikeluarkan 2,5Kg sudah dianggap sah.
Waktu :
Para ahli fiqih sepakat bahwa waktu wajibnya zakat fitrah adalah ketika Ramadhan telah berakhir. Tsauri, Ahmad, Ishaq, Syafi’i dalam mazhab jadid-nya, dan Malik dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa waktu wajib zakat fitrah dimulai dari tenggelamnya matahari pada malam Idul Fitri karena waktu tersebut adalah waktu berbuka puasa.
Wallahua’lam.
(Ref: Fiqih Sunnah 2 Sayyid Sabiq; rumaysho.com)

Jangan lupa, kunjungi akun official KAMIL ya.
FB: www.facebook.com/kamil.itb
IG: www.instagram.com/kamilpascasarjanaitb/
Twitter: www.twitter.com/kamilpascaitb
Web: www.kamilpasca.itb.ac.id
Line : @ocw5235y

7 views

SUNNAH itu berbicara CINTA, tidak hanya RASA

WhatsApp-Image-20160608

By : Dedi Cahyadi (@dedicahyad1) – Ka. Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarjana ITB 2015
Edisi : Ramadhan_Berbagi_Part2

BismiLlahi AlhamduliLlahi ALlahuakbar

CINTA selalu menjadi bentuk kerja aktif di dalam wilayah dakwah di kalangan shahabat Rasulullah SAW. Dan bukti CINTA shahabat pada Rasul SAW adalah melaksanakan sunnahnya.

Beberapa orang menganggap cukup beribadah dengan amalan-amalan wajib. Amalan sunnah kadang saja dilakukan, jika ada waktu, atau lagi “mood“. Inilah CINTA kepada Rasulullah SAW yang bertepuk sebelah tangan. Karena jika kita meneliti apa yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya, sungguh amalan sunnah memiliki keistimewaan. Salah satunya adalah seperti hadits berikut:

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”[a]

setelah mengetahui keutamaan, mari kita coba mempelajari definisi sunnah dari beberapa kaidah para ulama (https://muslim.or.id/19111-makna-as-sunnah.html) :

Ditinjau dari sudut terminologi atau secara istilah, maka makna sunnah sangat beragam tergantung konteks kata sunnah itu sendiri. Hal inilah yang kerap kali mengharuskan kita untuk lebih hati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mencerna kata sunnah yang terdapat dalam sebuah pernyataan. Karena pengertian yang banyak ini pulalah, kita harus pandai menempatkannya ke dalam makna yang tepat dan dibenarkan oleh syariat.

Jika dimulai dari definisi yang familiar di kalangan mayoritas manusia, yaitu definisi menurut para fukaha (ulama pakar dalam disiplin ilmu fikih). Menurut mereka, sunnah adalah suatu amal yang dianjurkan oleh syariat namun tidak mencapai derajat wajib atau harus.

Dalam versi lain, dan inilah yang masyhur, sunnah adalah segala perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan maka tidak berdosa. Makna ini memiliki beberapa kata yang serupa yaitu mustahab (dianjurkan) ataupun mandub, salah satu tingkatan hukum-hukum syariat yang lima: wajib, haram, makruh, mubah, dan sunnah.

Para muhadditsun (ulama pakar hadis) mendefinisikan sunnah sebagai segala hal yang disandarkan kepada Nabi, baik itu berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan), maupun sifat perangai atau sifat fisik. Baik sebelum diutus menjadi nabi ataupun setelahnya.
sunnah dalam versi ini memiliki makna yang lebih luas. Ia tidak hanya menghimpun amal ibadah yang hukumnya sunnah, akan tetapi juga hal-hal yang dihukumi wajib oleh ulama ahli fikih. Oleh sebab itu, jika mendengar suatu pernyataan ini adalah sunnah atau disunnahkan, tidak berarti hukumnya sunnah. Bisa jadi wajib, karena yang dimaksud sunnah tersebut adalah sunnah menurut ulama ahli hadis.

Dari definisi sunnah yang telah dijelaskan, terdapat beberapa bentuk sunnah yang dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. sunnah qauliyyah atau sunnah yang berupa perkataan adalah hadis yang memuat ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satu contohnya ialah hadis yang diriwayatkan Umar bin Khathtab radhiyallahu ‘anhu. Dia menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

b. sunnah fi’liyyah atau sunnah yang berupa perbuatan yaitu seorang sahabat menukilkan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat seperti ini dan seperti itu, meninggalkan ini dan itu, sebagaimana perkataan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ الدُّبَّاءَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai labu.” (HR. Tirmidzi, dalam Asy-Syama-il no. 161, Ad-Darimi 2/101, dan Ahmad no. 2/174)

Hal ini merupakan sunnah yang berwujud perbuatan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.

Di antara sunnah fi’liyyah lainnya adalah apa yang bersumber dari Rasulullah berupa perbuatannya yang menjelaskan tentang salat, zakat, puasa, haji, dan selainnya. Hal ini pun termasuk sunnah fi’liyyah.

c. sunnah taqririyyah adalah ketika seseorang sahabat misalnya menceritakan atau mengerjakan suatu perbuatan di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau pada masa beliau saat wahyu masih turun, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau wahyu menetapkannya, tanpa diingkari maupun diubah. Inilah taqrir menurut syariat di untuk suatu perbuatan.

Adapun sifat khuluqiyyah adalah sesuatu yang disampaikan para sahabat berkaitan dengan bagaimana akhlak, perilaku, dan perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana di saat Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya ihwal akhlak Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menjawab,

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ الْقُرْآنَ

“Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Alquran.” (HR. Muslim, no. 1773)

Sedangkan sifat khalqiyyah ia adalah sesuatu yang disampaikan oleh para sahabat berkenaan dengan sifat fisik Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti yang disebutkan dalam beberapa hadis bahwa Rasulullah itu berbadan sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Diceritakan pula bahwa wajah beliau putih, bak rembulan. Juga dikabarkan bahwa Rasulullah seperti ini dan seperti itu, sebagaimana yang diriwayatkan tentang sifat fisik beliau.

Maka di Bulan Ramadhan ini kita coba melakukan sunnah semaksimal mungkin untuk mendapatkan keutamaan sunnah yang disampaikan oleh RasuluLlah. Semisal dalam hadits ini :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).

Lantas coba kita ingat mengapa muslim di dunia ketika berhaji/umrah di sunnahkan mencium hajar aswad? Jawabannya simpel yaitu ingin mengikuti tuntunan Nabi. Karena Nabi menciumnya maka kita menciumnya. Itu saja alasan sederhananya.

ingatkah kita jawaban Khulafaur Rasyidin yang ke-2 Abu Hafs (Umar ibn Al Khattab) atas sunnah mencium hajar aswad.

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Itulah Sunnah Rasul, ini bukan berbicara like/dislike (*suka atau tidak suka). If u love your Prophet SAW, lets do His Sunnah….Ini tentang CINTA, bukan hanya bicara RASA.

Maka puji-pujian atas dasar cinta yang apik dan terdalam kita haturkan ketika mendengar asma Rasulullah Muhammad disebutkan….adalah….mengucap shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pujian semisal yang diajarkan sebagai sunnah menjawab nama Rasul disebutkan,

Sehingga mari kita berproses dengan sunnah-sunnah yang relatif mudah dilakukan (terlebih dahulu) untuk menyiapkan diri dengan rutinitas sunnah yang bisa jadi lebih asing dan berat menurut kita. Maka, jika bukan kita, siapa lagi? Jika tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Mumpung Ramadhan, bulan men-Tarbiyah Diri….

Maka berdoa ketika berbuka puasa dan memperbanyak istoghfar dan do’a di waktu sahur itu sunnah…
Maka i’tikaf di masjid itu sunnah…
Maka Umrah itu sunnah…
Maka berparfum itu sunnah…
Maka bercermin dengan berdzikir dan berdo’a meminta akhlaq yang baik itu sunnah…
Maka masuk toilet dengan kaki kiri dan do’a, serta keluar toilet dengan kaki kanan dahulu dan berdoa itu juga sunnah…(*tanpa melalaikan membersihkan toilet sebelum keluar juga ibadah sunnah….karena Allah cinta keindahan, dan Rasulpun mencintai yang indah)
Maka tersenyum itu sunnah…
Maka memakai alas kaki dengan kaki kanan dahulu itu sunnah…
maka masuk masjid dengan kaki kanan dan berdoa serta keluar masjid dengan kaki kiri dan berdoa itu sunnah…
Maka dhuha, witir, puasa senin kamis itu sunnah…
Maka memotong kuku di hari Jum’at itu sunnah…
Maka meminta izin yang baik itu sunnah…
Maka memakai celak di mata itu sunnah..
Maka merapatkan shof dan menegakkan badan saat sholat berjamaah itu sunnah…
Maka berenang, berkuda, dan berlatih ketangkasan memanah dan sejenisnya itu sunnah…
Maka mengucap salam yang baik pada saudara seiman itu sunnah, dan membalasnya itu wajib.
dan banyak lagi sunnah lainnya.
Maka….mari bersama mempelajari dan memaksimalkan ibadah yang WAJIB tanpa melalaikan yang sunnah untuk menjadi muslim dan mukmin paripurna.

Laiknya sang pujangga yang sedang membangun cinta. Maka semua yang dilakukan akan ringan dan perjuangan tak terasa beban.

Kalo Loe Love Rasul SAW, do his sunnah….
Karena SUNNAH bicara CINTA, tidak hanya RASA

Jika ada kesalahan, mutlak dari diri.
Jika ada kebenaran. Mutlak dari Allah SWT dan Rasulnya SAW.

Barokallahu li wa lakum.
La tansana min duaikum yaa ikhwah fii sabilillah.

Bandung, 3 Ramadhan 1437 H (8 Juni 2016 M), 08.00 wib.

Referensi :
1. Sumber: https://rumaysho.com/861-jangan-sampai-remehkan-amalan-sunnah.html
(a) HR. Bukhari no. 2506.
2. Sumber: https://rumaysho.com/11279-pahala-amalan-di-bulan-ramadhan-1000-kali-lipat-dibanding-bulan-lain-benarkah.html

45 views