Results for category "Dakwah Kreatif"

91 Articles

Menjemput Berkah Majelis Ilmu

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Alhamdulillah wa syukurillah, kita hidup di zaman sekarang yang serba mudah dan canggih dengan teknologi. Islam pula telah berkembang pesat ke seluruh penjuru dunia. Tak lagi sulit dalam mempelajari Islam dan mencari-cari majelis ilmu hingga menempuh perjalanan jauh. Tidak seperti saat zaman Nabi Muhammad saw, orang-orang yang hendak mempelajari Islam kala itu mendatangi beliau, tidak peduli harus menempuh perjalanan yang jauh lagi sulit dengan berjalan kaki maupun menunggang unta atau kuda. Kini, ulama telah banyak dan majelis ilmu bertebaran dimana-dimana.

Namun di tengah “kemudahan” saat ini, semakin dimudahkan pula dengan adanya media sosial sebagai media penyebaran segala bentuk informasi tak terkecuali da’wah Islam. Orang-orang menjadi mudah mengakses video da’wah dimana dan kapan saja dari seorang ulama melalui berbagai media semisal youtube, live instagram dan lain sebagainya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Tentu bentuk positif dari kemudahan ini dimaksudkan agar da’wah Islam, majelis ilmu yang disiarkan secara streaming tersebut bisa menjangkau orang lebih luas dan leluasa dalam mengakses ilmu agama. Tetapi, apakah dapat dibenarkan jika seseorang kemudian berpikir daripada susah payah menghadiri majelis ilmu, cukuplah baginya melihat dan mengakses melalui media-media tersebut. Atau seperti di kalangan remaja saat ini dikenal istilah “mager” (malas gerak), lebih memilih cukup dengan mengaksesnya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Nabi Muhammad saw dalam haditsnya menyebutkan mengenai keutamaan mendatangi majelis ilmu :

حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِالۡهَمۡدَانِيُّ. وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ. قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :…… وَمَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىٰ الۡجَنَّةِ. وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ، يَتۡلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيۡنَهُمۡ، إِلَّا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتۡهُمُ الرَّحۡمَةُ وَحَفَّتۡهُمُ الۡمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنۡ عِنۡدَهُ. وَمَنۡ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمۡ يُسۡرِعۡ بِهِ نَسَبُهُ. (رواه المسلم)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad ibnul 'Ala` Al-Hamdani, dan lafazh ini milik Yahya, Yahya berkata : telah mengabarkan kepada kami, dua yang lain berkata : mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “…… Dan barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), nasabnya tidak akan bisa menyempurnakannya.” (HR. Muslim)[1]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mendatangi majelis ilmu akan Allah mudahkan jalan menuju surga, mendapatkan ketenangan, senantiasa diliputi oleh rahmat dan dikelilingi malaikat—disebutkan bahwa malaikat ridla dan mendoakan orang tersebut, sementara kita ketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang paling taat dan doanya diijabah oleh Allah.

Terlampau banyak keutamaan menghadiri majelis ilmu, selain kita akan menuai pahala yang besar darinya. Di dalamnya melimpah manfaat dan keberkahan yang tentu hanya bisa kita dapatkan jika kita menghadirinya—menjemputnya. Sehingga dirasa tidak tepat jika dicukupkan mengakses majelis ilmu melalui media tanpa mendatanginya.

Sebagaimana yang diungkapkan salah seorang pengurus KAMIL, “Bisa, sih, streaming, tapi pasti berkahnya beda.” (Barri, 2017)

 

 


[1] Hadits Arbain an Nawawiyah, nomor 36, h. 41-42.

 

3 views

Keutamaan Bulan Safar

whatsapp-image-2016-11-01-at-06-52-03

 

Assallamualaikum.wr.wb Sahabat KAMIL,  patutnya kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berbuat kebaikan dan beramal shaleh..

?Bulan Shafar merupakan salah satu bulan yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Sayangnya, banyak manusia yang menganggap bahwa bulan Shafar ini adalah bulan bala karena ada banyak sekali masalah atau cobaan yang biasanya turun ke bumi. Padahal, musibah atau cobaan itu bukan diturunkan oleh karena saat itu adalah bulan Shafar, melainkan semua itu terjadi karena kehendak Allah SWT. Tidak ada bulan dari Muharram sampai Dzulhijjah yang menjadi bulan bala. Semuanya adalah bulan yang istimewa karena bulan itu ada atas izin Allah SWT.

Sangat disayangkan karena zaman sekarang pemikiran bahwa bulan Shafar adalah bulan penuh musibah itu sudah tertanam erat dibenak manusia. Sama halnya ketika seseorang beranggapan bahwa suatu penyakit itu dapat menular karena disebabkan oleh penyakit itu sendiri. Padahal, dalam dasar ketauhidan, tidak ada terjadi sesuatu jika bukan karena izin Allah SWT. Dalam sebuah hadist disebutkan; dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (yang artinya); “Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Safhar”, kemudian seorang badui Arab berkata: “Wahai Rasulullah SAW, onta-onta yang ada di padang pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh Seekor onta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor onta betina yang berkudis tersebut ?”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapakah yang membuat onta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di dalam Al-Qur’an maupun hadist telah jelas diterangkan bahwasanya Allah SWT melarang umat-Nya untuk mengkhususkan hari atau bulan-bulan tertentu sebagai sesuatu yang dianggap menjadi sumber kesialan termasuk menganggap bulan Shafar ini adalah bulan sial. Sebab, kesemua bulan adalah sama, bulan yang diberikan Allah SWT. Sebab, hakekat daripada kesialan atau assyu’mu ialah ketika manusia melakukan perbuatan maksiat kepada Allah SWT, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud RA: “Jika kesialan terdapat pada sesuatu maka ada di lidah, karena lidah adalah salah satu indera manusia yang sering dibuat maksiat.”

Sebagai muslim yang beriman kepada Allah SWT, kita meyakini bahwsanya Qada’ dan Qadar-Nya Allah SWT ialah penentu dari segala yang terjadi. Dengan begitu, keimanan kita akan semakin kuat dan tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan seperti perbuatan zina dalam islam yang sangat dilarang dalam islam. Kita percaya bahwa sebanyak apapun musibah yang diturunkan Allah SWT pada bulan Shafar, tidak serta merta terjadi karena bulan Shafar adalah bulan kesialan, melainkan karena kasih sayang Allah SWT kepada umat-Nya sehingga segala musibah itu diturunkan adalah untuk menyeru manusia agar senantiasa mengingat Allah dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya. Oleh karena itu, bulan Shafar menjadi bulan yang istimewa karena pada bulan ini kita akan menjadi semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maka, adapun keutamaan bulan shafar adalah :

1. Memperkuat keimanan

Kita yakin bahwa bulan Shafar adalah sama seperti bulan-bulan lain yang diberikan Allah SWT sehingga kita bisa melakukan perbuatan amal ibadah yang bermanfaat. Tidak mempercayai bahwa bulan Shafar merupakan bulan sial karena segala sesuatu hanya terjadi atas izin Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya; “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus : 107).

2. Yakin akan ketetapan Allah SWT

Allah SWT berfirman yang artinya;  “Katakanlah, ’Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51).

3. Menghidari dari hal yang bertentangan dengan ketauhidan

Oleh sebab kita mengetahui bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Shafar adalah hari di mana Allah SWT banyak menurunkan musibah, bukan berarti apa-apa yang kita niatkan hari itu dan apabila kita batalkan maka disebabkan oleh musibah, melainkan karena niat ingin beribadah.

Contoh; kita batal bepergian di hari Arba’ Musta’mir bukan karena takut akan bala tapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amal ibadah yang kita kerjakan hari itu.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Barangsiapa yang keperluannya tidak dilaksanakan disebabkan berbuat thiyarah, sungguh ia telah berbuat kesyirikan. Para sahabat bertanya, ’Bagaimanakah cara menghilangkan anggapan (thiyarah) seperti itu?’ Beliau bersabda; ’Hendaklah engkau mengucapkan (doa), Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali itu datang dari Engkau, tidak ada kejelekan kecuali itu adalah ketetapan dari Engkau, dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau’.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

4. Meningkatkan ketaqwaan dan semakin bertawakkal kepada Allah SWT

Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah SWT, maka ketaqwaan kita juga akan meningkat. Kita semakin rajin beribadah seperti shalat wajib dan shalat fardhu karena tiada lain tujuan selain mendapat ridha Allah SWT.

? Sumber :

4 Keutamaan Bulan Shafar Menurut Islam

? Semoga bermanfaat dan semangat dalam beribadah

1,377 view

Puasa Ayyamul Bidh

WhatsApp Image 2016-08-05 at 05.58.18

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan padaku, 3 nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:

  1. Berpuasa 3 hari setiap bulannya
  2. Mengerjakan shalat Dhuha
  3. Mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”

(HR Bukhari)

10 views