Category Archives: artikel pekanan

  • 3

Rezeki yang Berkah

foto: maricari.com

foto: maricari.com

oleh Afni Kumala Wardhani

PAS ada uang, kalo PAS gak ada … ya gak apa-apa… 

Hidup PAS-PAS an = PAS butuh, PAS ada

Di suatu siang, sekelompok sahabat sedang mengadakan rapat kegiatan. Berikut cuplikan diskusinya.

Ketua pelaksana (dengan nada berat): ”Ehem…”

“Kawan-kawan, ada hal penting yang harus saya sampaikan terkait dana kegiatan”.

“Jika dihitung-hitung, dana kegiatan kita tidak mencukupi untuk melaksankan kegiatan ini. Mungkin ada yang punya solusi?”

Para anggota rapat terdiam. Semua terpaku pada slide yang menampilkan rententan anggaran dana kegiatan, sembari memutar-mutar bola matanya mencari celah agar ada anggaran yang dapat dimimalisir alias dipotong atau ada solusi lain yang dapat dilakukan. Beberapa wajah mengernyitkan dahi, ada yang menatap slide tanpa berkedip, ada yang menopang dagu tanpa ekspresi, ada yang memegang kepalanya yang condong ke kiri (sepertinya berat sebelah) dan ada pula yang memejamkan mata berharap ini hanya mimpi yang dapat segera berakhir.

Akhirnya bendahara kegiatan angkat suara (sembari mengangkat tangan meminta izin berpendapat), “Saya usul Pak Ketupel”. Dengan mantap Ketua Pelaksana mengangguk memberi isyarat perizinan. Semua mata menuju Bendahara Kegiatan dengan penuh harap dan cemas. “Saya usul untuk menutupi kekurangan dengan iuran dari panitia kegiatan”.

Seet….. Semua mata saling pandang dengan tatapan agak kaget.

Ketua Pelaksana     : “Bisa saja itu dilakukan tapi untuk menutupi kekurangan tersebut, masih belum bisa menambal kekurangan yang ada”

Semua terdiam lagi.

Salah satu anggoata rapat angkat bicara.

Anggota                     :” Bagaimana jika kita menghubungi alumni?”

Hening

Anggota                      : (sembari sesekali melirik smartphonenya)

“Alhamdulillah ada beberapa alumni yang bersedia memberi pinjaman, insya Allah dapat menutupi kekurangan tersebut”

Alhamdulillah… Serentak semua mengucap hamdalah dengan kompak. Ketua menghela napas panjang. Matanya kian berbinar.

Beberapa hari setelah kegiatan berlangsung, seluruh pengurus berkumpul kembali. Mereka sedang mengadakan rapat evaluasi kegiatan.

Ketua Pelaksana               :”kawan-kawan, Alhamdulillah dana yang dipinjamkan dari Alumni telah diikhlaskan”

Serentak semua anggota berucap syukur : “ Alhamdulillah…

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS Al Baqoroh [2]:261)

Pembaca yang budiman, sekilas cerita di atas mungkin pernah atau kerap kali dialami oleh beberapa aktivis. Saat kegiatan tetap harus berjalan, namun di tengah perjalanan ada berbagai kendala yang dijumpai. Saat kita menyatukan tekad, ikhtiar maksimal dan hati tetap menuju ridho ilahi, pasti jalan keluar itu ada. Pertolongan Allah SWT bagi hambaNya itu pasti ada. Allah itu Maha baik, semua kebutuhan kita telah diatur olehNya.

Allah memberi rezeki pada hambanya dari jalan yang tidak disangka. Kita sudah berusaha mencari rezeki dari arah kanan, kiri, depan, dan belakang. Ternyata Allah mengirimkan rezeki itu dari atas, yang mungkin tidak pernah kita sangka. Seperti firman Allah SWT dalam Al-qur’an,

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluanya)-nya (QS Al-Thalaq [65]:3)

Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangka (QS Al Thalaq [65]:3)

Allah SWT telah menjamin rezeki bagi setiap makhlukNya. Rezeki itu pasti ada, seperti halnya napas yang ada dalam diri kita. Saat bayi berada dalam kandungan, dia belum mampu mencari makanan tetapi Allah beri dia ari-ari yang memungkinkan bayi tersebut untuk makan bersama. Saat dia lahir, dia belum bisa makan apa-apa, tapi dia bisa minum asi ibunya. Bayi tumbuh menjad manusia dewasa yang semakin kuat baik fisik maupun akalnya, sehingga ikhtiar untuk mencari rezeki harus semakin besar dan gigih. Seperti pada sebuah syair kuno,

Di Afrika, seekor singa bangun dan berkata dia harus berlari jauh lebih kencang dibanding lari rusa yang paling lamban, jika tidak dia akan mati kelaparan.

Di Afrika, seekor rusa bangun dan berkata, dia harus berlari jauh lebih kencang dibandingkan lari singa yang paling cepat, jika tidak dia akan mati.

Bergeraklah sebelum pagi datang atau sebelum fajar untuk menjemput rezeki

Rezeki yang pas-pasan, pas butuh pas ada itu adalah berkah. Artinya rezeki itu datang di saat yang tepat dengan takaran yang tepat. Hal itu tidak mungkin terjadi secara spontan tanpa ada yang mengatur bahkan sama sekali bukan kita yang mengatur. Ada yang Maha Tahu akan seberapa rezeki yang kita butuhkan. Wadah rezeki tiap individu itu bisa saja berbeda-beda. Ada yang sebesar drum, ada pula yang seember atau secangkir bahkan mungkin sekecil tutup botol. Bukan soal wadahnya tapi seberapa deras air yang mengucur mengisi wadah itu. Rezeki yang berkah itu seperti air mengalir di tanah yang subur, alirannya memberikan manfaat. Bedanya dengan rezeki yang tidak berkah laksana menyiram air di padang pasir, akan hilang tak berbekas.

Apa itu rezeki yang berkah?

Rezeki yang berkah adalah rezeki yang memberikan manfaat atau nilai kebaikan. Nilai kebaikan itu dalam bentuk kenikmatan dan kebahagiaan yang sering disebut sebagai berkah. Secara etimologi berkah diambil dari bahasa Arab yaitu Baraka-yabruku-burukan wa barokatan, yang berarti kenikmatan dan kebahagiaan. Kata berkah berasal dari baraka (berkah), artinya sesuatu yang memiliki nilai kebaikan. Sedangkan jika kata berkah dibalik akan menjadi karaba atau kurbah, yang memiliki makna kebalikanya (keburukan), seperti susah, sedih, duka dan kawan-kawannya. Kata berkah sering digandengkan dengan rezeki yang berkah, hidup yang berkah. Inti dari kesemuanya untuk mendapatkan nilai kebaikan.

Untuk mendapat keberkahan dari rezeki ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Seperti yang telah dijelaskan dalam QS Al- Thalaq [65]:3, bahwa kita hendaknya bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal adalah usaha maksimal dengan hati tetap menuju Allah. Selain gigih mencari rezeki, kita juga harus melakukan amalan yang disukai Allah. Amalan yang dapat membuka rezeki seperti sholat tepat waktu, perbanyak istigfar, silaturahim dan sedekah. Insya Alah pertolongan Allah pasti datang. Berat ringan hidup ini bergantung apakah Allah menolong kita atau tidak. Barang siapa ingin mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah, hendaknya dia mengetahui kedudukan Allah di hatinya. (afn/run)


  • 0

Kepemimpinan: Adab Meminta Izin

oleh: Topan Setiawan (@topanspejuang)

Budaya meminta izin dalam kehidupan sosial adalah hal yang harus senantiasa dijaga. Misalnya, jika kita hendak melakukan suatu aktivitas atau kegiatan yang melibatkan orang banyak di suatu tempat maka kita harus membuat perizinan kepada petugas yang berwenang di tempat itu. Demikian pula jika kita hendak menggunakan fasilitas publik untuk suatu kegiatan maka kita harus melalui perizinan terlebih dahulu. Olehnya, perizinan menjadi salah satu bagian dari kehidupan sosial.

Allah SWT di dalam Kitab Nya yang suci, telah mengatur masalah ini sebagai etika dalam hubungan sosial kemasyarakatan seperti :

  • Etika meminta izin: 24:27, 24:28, 24:58, 24:59, 33:53
  • Lafaz dan cara meminta izin: 24:61
  • Meminta izin untuk menghindari pandangan (yang dilarang): 24:58
  • Meminta izin di hotel dan tempat-tempat umum: 24:29
  • Meminta izin ketika akan keluar: 24:62
  • Sampai kepada hal yang terkait dengan urusan yang sulit, seperti dalam hal peperangan, jihad atau kerja besar lainnya, QS. at-Taubah : 44-45, 83; an-Nuur : 62-63

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” QS. 24:27

Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah kamu, dan apabila tidak diizinkan, maka pulanglah kamu” (HR. Bukhari-Muslim)

Lalu, bagaimana perizinan dalam kehidupan berjamaah maupun organisasi yang melibatkan qiadah dan jundiah? Mari kita simak sirah Nabi Muhammad SAW berikut.

Disebutkan bahwa setelah orang-orang Quraisy dan sekutu-sekutu mereka (al ahzab) berhimpun dan menggalang kekuatan di perang Khandaq (parit), dan setelah Rasulullah mendengar mereka akan melakukan serangan, atas ide seorang sahabat ‘Salman Al Farisi’ maka Rosulullah menyuruh untuk menggali parit di sekitar Madinah. Rasulullah pun ikut terlibat langsung dalam penggalian itu untuk memberikan contoh dan menyemangati kaum mu’minin untuk mendapatkan pahala. Maka orang-orang yang beriman ikut serta bersama Rasulullah dan berlomba-berlomba. Namun ada beberapa orang munafik yang setengah-setengah dan terlambat datang bersama Rasulullah dan kaum mu’minin dalam membuat parit itu. Mereka hanya ikut terlibat dengan sekedarnya dan pekerjaan yang sangat kecil/ringan. Kemudian mereka mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah dan juga tanpa izinnya.

Sementara itu orang-orang yang beriman bila ada hajat yang harus ditunaikan, dia menyebutkan hajat itu di hadapan Rasulullah dan meminta izin untuk menunaikan hajatnya tersebut. Maka Rasulullah pun memberikannya izin. Bila dia selesai menunaikan hajatnya, maka diapun segera kembali meneruskan pekerjaan mengali parit, karena ingin mendapatkan pahala dan mengharapkan kebaikan. Allah pun menurunkan ayat kepada orang-orang beriman itu, sebagaiman ditulis pada surat An Nuur : 62.

Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Allah berfirman kepada orang-orang munafik yang mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah dan juga tanpa izinnya. Hal ini dapat dilihat dari ayat 63-nya :

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih

Apapun sebab turunnya ayat-ayat ini, ia tetap mengandung adab-adab mental yang mengatur komunitas orang-orang yang beriman dengan pemimpin mereka. Urusan komunitas orang-orang yang beriman tidak akan pernah beres sebelum adab-adab ini melekat dalam perasaan-perasaan, kecenderungan-kecenderungan mereka, dan lubuk-lubuk hati mereka.

Dalam ayat 62 tadi dikatakan bahwa:

apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya

Urusan bersama adalah urusan yang sangat penting, yang membutuhkan keikutsertaan semua komponen dalam jamaah, untuk mengatasi sebuah pandangan atau peperangan atau pekerjaan umum yang dilakukan bersama-sama. Orang-orang yang beriman tidak akan pergi meninggalkannya sampai mereka meminta izin kepada pemimpin mereka. Sehingga urusan tidak menjadi kacau tanpa kestabilan dan keorganisasian.

Orang-orang yang beriman dengan iman seperti ini dan berperilaku dengan adab seperti ini, tidak akan pernah minta izin kecuali untuk sebuah urusan yang sangat darurat dan penting. Bersama dengan ini, Al Qur’an tetap meletakkan hak memberi izin atau tidak, kepada pendapat Rasulullah sebagai pemimpin jamaah. Hal itu dianugerahkan kepada Rasulullah setelah setiap individu diberi hak yang sama dalam meminta izin.

… maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka…

Allah memberikan hak penuh kepada pandangan Rasulullah. Bila beliau ingin mengizinkan, maka hak beliau untuk mengizinkannya. Dan, bila beliau tidak ingin memberikan izin, juga merupakan hak-hak beliau. Allah menghilangkan perasaan bersalah dari Rasulullah karena tidak memberikan, walaupun kadangkala di sana ada kebutuhan yang sangat mendesak. Jadi kebebasan sepenuhnya diberikan kepada pemimpin dalam menimbang antara maslahat orang tetap berada di tempat tugasnya dan maslahat bila dia pergi meninggalkannya. Seorang pemimpin diberikan keleluasaan untuk menentukan keputusan dalam masalah kepemimpinan ini sesuai dengan pandangannya.

Dari sini tersirat bahwa keputusan untuk meninggalkan kepentingan darurat dan tidak pergi meninggalkan tugas itulah yang paling utama. Meminta izin dan pergi meninggalkan tugas dalam kondisi demikian itu merupakan kesalahan yang kemudian membuat nabi SAW harus memohon ampunan bagi orang-orang yang memiliki uzur.

…dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Dengan permohonan ampunan itu, beliau mengikat hati orang-orang yang beriman. Sehingga, mereka tidak berusaha meminta izin walaupun punya pilihan untuk itu, karena mereka mampu menguasai uzur yang mendorongnya untuk meminta izin.

Kemudian Allah memperingatkan orang-orang munafik dari sikap mencari-cari celah dan pergi meninggalkan Rasulullah tanpa izin. Ungkapan itu menggambarkan tentang upaya melepaskan diri dan mencari-cari celah dari perhatian majelis. Di situ jelas tergambar ketakutan mereka untuk berhadapan, serta kehinaan gerakan dan perasaan yang menimpa jiwa-jiwa mereka.

Jadi, meminta izin terkait ketaatan kepada pemimpin dan simbol komunikasi yang efektif, sementara komunikasi adalah alat yang penting dalam bekerja secara kelompok. Kelompok yang membiasakan minta izin terlebih dahulu, menunjukan pribadi dan kelompok yang solid dan memiliki aturan Profesional. Wallahu a’lam (top/run)

Referensi
1. Al Qur’an al-karim
2. Fiqh Shirah
3. Widodo, Urip. 2009. Adab Al-isti’dzan.


  • 0

Kepemimpinan dari Hati

oleh : Dedi Cahyadi (@dedicahyad1)

 

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah SAW. Suri Teladan yang baik bagimu(AlAhzab:21)

Mari kita refleksikan kembali Perang Khandaq sekaligus mentadaburi Surah At Taubah: 128-129

Koalisi besar itu serentak menuju Madinah. Kaum Quraisy keluar dipimpin oleh Abu Sufyan, Kabilah Gathafan di bawah pimpinan Uyainah bin Hishin dan Al Harits bin Auf, beserta banyak Yahudi lain yang mengiringi. Pasukan koalisi besar (Pasukan Ahzab) itu berjumlah 10.000 personil, sementara kaum muslimin berjumlah 700 orang. Perbandingannya hampir 1:14. Dianalisa dari segi manapun, seharusnya kemenangan ada di tangan Pasukan Ahzab (sekutu). Bayangkan 1 pasukan muslimin dihadapkan dengan 14 musuh dengan persenjataan lengkap!

Selain jumlah yang kalah telak, masih ada lagi kondisi yang memperparah keadaan. Perang yang terjadi di Bulan Syawal tahun ke-5 Hijriyah ini terjadi saat musim yang teramat dingin, gagal panen kurma, krisis pangan, bencana kelaparan serta rangkaian perang-perang sebelumnya yang begitu menguras tenaga. Seakan hal ini belum cukup, masih ditambah lagi dengan hasutan musuh agar kaum Yahudi dari suku Bani Quraizhah yang saat itu tinggal di wilayah Madinah, dan memiliki perjanjian damai dengan Negara Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam agar berkhianat dan memerangi kaum muslimin.

Situasi benar-benar kritis, waktu yang tersedia tidaklah banyak, dan kabar dari intelijen Rasulullah, kurang lebih hanya satu minggu yang tersisa sebelum musuh benar-benar masuk dan menyerang Madinah. Apakah Rasulullah lari dan mencari tempat yang nyaman dalam menghadapi situasi ini?

Jawabannya TIDAK.

Sejenak marilah kita tadaburi ayat Al Qur’an di At-Taubah :128 – 129.

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu Alami,sangat menginginkan (keislaman dan keselamatan) bagimu, penyantun, dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.….

Dalam Tafsir Ibnu Katsir digambarkan bahwa Nabi SAW merasa terbebani jika orang-orang mukmin mengalami kesengsaraan dan penderitaan, tertindas oleh kekuasaan musuh, dan menjadi penghuni neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu-batu. Ini beliau rasakan karena beliau berasal dari kalangan bangsa Arab sendiri. Sehingga beliau ingin mendapatkan petunjuk dan bernasib baik (QS. Yusuf [12]: 103). Dan beliau sangat meyayangi orang-orang mukmin. Jadi seruan beliau kepada umatnya untuk menegakkan tauhid itu menjadi bukti bahwa beliau sangat menyayangi umatnya. Adapun cobaan yang begitu berat yang dialami mereka itu ternyata mencegah mereka dari menerima dari hal-hal yang lebih berat lagi.

Namun ternyata, inilah cara Allah untuk menguji dan memilah, mana yang benar-benar beriman, dan mana saja yang munafik. Ujian itu tidak tanggung-tangung Allah berikan. Kita akan sampai pada titik yang terlemah, baru kemudian Allah memberikan kabar gembira, berupa kemenangan yang gemilang. Dengan sigap, setelah mendengar kabar itu Rasulullah mengadakan Syura’ (Musyawarah) tertinggi dengan para Shahabat di Madinah untuk mengambil keputusan berperang atau tidak. Hingga pada akhirnya Salman Al Farisi R.A menyampaikan pendapatnya, “Ya Rasulullah, kami dulu berada di negeri Persia. Jika kami dikepung, kami membuat parit”. Berawal dari usul inilah kemudian Mega Proyek pembuatan Parit/Khandaq disepakati sebagai strategi perang kala itu.

Drg. Sukhri dalam bukunya “Manajemen Gerakan Dakwah di Masa Krisis, Belajar dari Sejarah Perang Khandaq” menyampaikan bahwa ada kisah-kisah inspiratif dalam proses pengerjaan mega proyek parit Madinah ini. Yakni Rasulullah sebagai pemimpin negara dan ummat tak mau berleha-leha menanti pekerjaan para sahabat selesai. Sahabat bekerja, Rasulullah pun juga bekerja; sahabat merasa kelaparan, Rasulullah juga merasakan lapar yang sama bahkan lebih. Hal ini berdasarkan dari pengajuan Jabir bin Abdullah bahwa ketika para sahabat mengganjal perutnya dengan sebuah batu untuk menahan lapar seperti apa yang diperintahkan oleh Rasulullah, namun ia melihat Rasulullah mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Subhanallahsehingga ini menjadi ciri pertama kepemimpinan dari hati. Pemimpin tidak hanya dilayani dan berdiam anggun dalam singgasana indahnya, tapi dia yang paling depan menghadapi musuh, yang paling lelah, dan yang paling berani menanggung resiko ummat. Sehingga  menurut hemat saya, beliau selalu menjadi yang pertama dalam kesulitan dan menjadi yang terakhir dalam kebahagiaan ummat.

Kisah inspiratif lainnya adalah ketika ada sekelompok sahabat sedang menggali parit, menemui satu buah batu yang sangat sulit untuk dihancurkan, sehingga menghalangi jalannya penyelesaian pekerjaan. Maka, sahabat melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah, dan beliau pun datang ke lokasi batu yang dimaksud. Rasulullah kemudian mengambil martil, dan mengangkatkan tinggi-tinggi seraya mengucapkan takbir, “Allahu Akbar!”. Dengan ayunan yang keras, maka satu bagian batu menjadi hancur, dan muncul kilatan percikan api akibat kerasnya pukulan beliau tersebut. Kemudian beliau berucap, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Syam telah diberikan kepadaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istananya yang berwarna kemerahan”. Pukulan kedua, menghancurkan satu bagian batu yang lain, dan menimbulkan kilatan percikan api yang serupa dengan sebelumnya, kemudian beliau berucap, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Persia telah diberikan kepadaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istana kota berwarna putih”. Dan kemudian pukulan yang ketiga hingga mampu menghancurkan batu penghalang, kemudian beliau berucap, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Yaman telah diberikan pula kepadaku. Demi Allah kini aku tengah melihat pintu-pintu kota Shan’a dari tempatku ini”. Ucapan dan aksi Nabi SAW ini menjadi pelecut semangat di tengah kelesuan para shahabat dalam beeperang kala itu. Serta inilah yang menjadi ciri kedua kepemimpinan dari hati. Pemimpin harus visioner dan bisa memotivasi jundi (bawahan/anggota), baik dari perkataan atau sikap.

Dan pada akhirnya. Waktu perang pun tiba. Pasukan Ahzab merasa terheran-heran dengan kenyataan yang ditemuinya. Pintu masuk satu-satunya memasuki Negara Madinah kini telah dikelilingi oleh parit selebar 4,6 meter dengan kedalaman 3,2 meter, sehingga menjadikan mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Ketika ada pasukan Ahzab hendak mendekati parit, pasukan kaum muslimin segera melancarkan aksi panah memanahnya, sehingga pasukan Ahzab pun kembali mundur. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah dengan berdiam di sekitar pintu masuk kota Madinah sembari memikirkan cara-cara alternatif untuk masuk menyerah ke dalam kota Madinah..

Namun, beginilah cara Allah memenangkan kaum muslimin. Perang itu tak sampai kontak fisik secara langsung. Dan Allah mengirimkan hawa dingin, dan angin topan untuk memporak-porandakan kemah serta bahan makanan para pasukan Ahzab setelah mereka bertahan selama 25 hari, bukan waktu yang sebentar. Tak ada lagi yang tersisa dari persediaan mereka untuk berperang. Dengan demikian, pulanglah pasukan Ahzab tersebut dengan tangan hampa..

Mengenai hal ini, Rasulullah bersabda, “Sekarang mereka tidak akan mendatangi kita lagi, namun kitalah yang akan mendatangi mereka” (HR. Bukhari). Subhanallah, inilah kemenangan yang agung. Dan merupakan titik tolak bahwa perang-perang yang dijalani oleh kaum muslimin pasca Perang Khandaq tak lagi perang bertipe bertahan, tapi tampil ke depan untuk memusnahkan kebatilan dan menggantinya dengan Islam yang lurus.

Sehingga dalam akhir ayat At-Taubah: 129 ini ayatnya berbentuk penegasan Allah SWT kepada kaum muslimin.

“….Kalau mereka berpaling dan tidak mau beriman maka katakanlah Muhammad “hasbiyallah”(cukuplah Allah bagiku) tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (At-Taubah:129).

Dalam penggalan kisah dan ayat terakhir At-Taubah ini tergambarkan ciri ketiga keemimpinan dari hati. Yaitu ketika pemimpin sudah berikhtiar semaksimal mungkin (bukan bersabar dalam diam, dan hanya berharap pada Allah SWT), tapi dia yang berjuang dalam keterbatasan yang ada sembari senantiasa bersandar kepada Allah SWT serta mampu meyakinkan kebesaran Allah SWT pada ummatnya.

Refleksi kepemimpinan ini menjadi hal yang sangat dirindukan di negeri ini, atau bahkan dunia. Sekarang saatnya Indonesia menanti dan mencari “Pemimpin” yang bekerja dengan sepenuh hati laiknya Rasulullah dan para Khalifah Islam. Seperti apa Pemimpin itu? Dialah yang yang menjadikan Rasulullah sebagai teladan dan Al-Qur’an sebagai pedoman. Pemimpin yang tidak hanya mengejar applause dari audiens, atau bahkan sebatas bongkahan berlian. Pemimpin yang mampu menyesuaikan dengan kondisi ummat, tidak hanya bekerja berdasarkan ego atau idealisme pribadi. Tapi (Dia) pemimpin yang sekarang bisa jadi sedang belajar tertatih, terbangun di sepertiga malam untuk berdoa dan bermunajah, melayani publik tanpa mengharap imbalan, dan senantiasa tersenyum ikhlas ketika ada coba dan rintang menghadang. Dialah engkau, aku, dan mungkin mereka. Tapi sekali lagi tegaskan, kalau mereka diluar sana belum bersiap, maka mari dengan segera kita nyatatakan bahwa minimal diri yang lemah ini yang akan berjuang melayani ummat ini dengan cinta. In syaa Allah….Allahu Akbar… (ded/run)

 

Referensi:

Wahid, Sukhri. Manajemen Gerakan Dakwah di Masa Krisis, Belajar dari Sejarah Perang

Khandaq

Ibnu Katsir. 1988. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir IV, Surabaya, PT. Bina Ilmu

 


Pencarian

Kalender

October 2019
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com