Category Archives: artikel pekanan

  • 0

Dua Isyarat

oleh : annisa

Dahsyatnya natijah hijrah
Yang membuat syahdu setiap jiwa yang beriman
Yang terarah pada satu objek, yaitu Allah
Semoga kalian juga rindu

Hanya Dia yang memilih. Ada dua isyarat, cinta dan azab dari Allah, coba kita renungkan sejarah yang bertepatan dengan Muharram.

Dan Nuh memanggil anaknya, Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang kafir (Hud:42)
dia (anaknya) menjawab, aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah (Hud:43)
(Nuh) berkata ‘’Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang. ‘’Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan (Hud:43)

Begitulah dialog antara seorang yang beriman dan samar-samar imannya. Malangnya sang anak, bahkan istri Nabi Nuh pun tak beriman. Ibnu Abbas berkata hanya delapan puluh orang yang ikut berlayar bersama Nabi Nuh as. Sungguh jumlah yang sedikit, hanya Dien yang Allah memuliakan kita dengannya saja. Kaum Nabi Nuh as diselamatkan oleh Allah dari banjir yang dahsyat, sekaligus menjadi azab bagi kaumnya yang kafir. Peristiwa ini terjadi di bulan muharram. Ada lagi, peristiwa diselamatkannya Bani Israil dari kerajaan Fir’aun di laut merah. Allah menyelamatkan orang-orang yang istiqomah dengan misi Nabi Musa as.

Bayangkan dengan media, waktu, cara (histori) yang berbeda, di satu sisi Allah mengisyaratkan dua hal yaitu ada pihak yang mendapat rahmat dan menerima azab. Ada selektivitas di bulan muharram, jadi Allah ingin menyelamatkan orang-orang yang beriman dan mengazab orang-orang yang mengingkariNya.

Duhai Allah, lindungi kami dari azabMu,

Momen besar lainnya, di era Rasulullah SAW, peristiwa hijrah dari mekkah ke yastrib. Dengan diusirnya Rasulullah dari mekkah menjadi media pertolongan dari Allah dan menjadi azabnya bagi orang Mekkah. Mengapa demikian ? Karena ada kejelasan sikap ! furqon (terpisah) antara haq dan batil lalu lahirlah kedaulatan di Madinah, sebuah tatanan islam yang dibangun oleh orang-orang yang amanat. (Madina berasal dari kata Ma:tempat, dina: dien)

Allah berfirman :

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khwatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh (Al-ahzab:72). Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-ahzab:73).

Allah memberikan amanat kepada manusia dan juga mau menimpakan azab kepada manusia. Lalu, apa amanat itu ? yakni Al-Qur’an, amanat dari Allah yang harus ditegakkan oleh sekelompok orang, nah ada orang yang sadar tapi tidak mau memikul amanat, sungguh ia dzolim terhadap dirinya sendiri. Maka hijrah menjadi media menegakkan amanat islam, qur’an harus tegak, otomatis ini akan menjadi siksaan bagi orang yang menentang.

Peristiwa hijrah oleh khalifah Umar bin Khattab ditetapkan sebagai momentum dasar untuk menetapkan tahun baru dalam islam, karna begitu dahsyatnya natijah hijrah;terpisahnya hak dan batil. Muharram juga mengingatkan pada peristiwa yang menimpa cucu Rasul dan 10 sahabat yang dibantai oleh khalifah Yazid bin Muawiyah di era setelah Rasulullah hidup. Sungguh ironi, pembantaian terhadap cucu Rasul dengan kepalanya yang dipenggal lalu diarak, tubuh dipenuhi panah padahal Husein bin Ali hanya ingin menunjukkan kebenaran meski resikonya nyawa.

Sunatullah itu terjadi, tidak akan ada perubahan padanya. Saatnya kita introspeksi, menjadi orang yang layak dipilih atau dibuang oleh Allah. Mungkin saja hari ini Allah menyeleksi mana orang yang beriman atau yang samar-samar imannya. Lalu konteks hari ini seperti apa?

‘’Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia membedakan yang buruk dan yang baik. Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasulnya. Jika kamu beriman dan bertakwa, maka kamu akan mendapat pahala yang besar (Al-Imran:179)

Ternyata pada perjuangan yang dialami Rasulullah termasuk hari ini adalah seleksi. Ada orang-orang yang lurus niatnya, juga ada orang-orang munafik. Sampai Allah memilih mana yang pantas. Contoh, orang-orang yang tidak mau ikut dalam perang badar, hal itu tidak luput dari infiltrasi orang-orang jahat. Sedang orang-orang terpilih akan muncul, mereka yang lurus dan bersih. Islam sebagai sistem hidup yang bersih maka orang-orang yang bisa memanggulnya adalah orang yang bersih. Proses seleksi menjadi letupan semangat, berusaha memantaskan diri sebagai pemegang amanat dari Allah karna Allah membutuhkan pejuang yang sanggup menjadi payung umat.

Di tangan kitalah tanggung jawab risalah rasul. Lalu kenapa kita jarang menghadirkan getirnya perjuangan Rasul, yang kita lihat hanya kemenangannya saja, seolah-olah lebih indah hidup di zaman Rasul. Bayangkan saat Rasul di boikot oleh seisi mekkah, keluarga juga kena imbasnya, untuk apa Rasul berhadapan dengan semua itu? Sampai harus hijrah. Lalu, manusia kini dengan sombongnya selalu meminta surga

Hijrah selalu mengoyak perasaan. Dalam hijrah ada semangat yang tak semua orang bisa melakukannya. Rela meninggalkan sesuatu yang dicintainya seperti harta, keluarga, jabatan, dan berhala hawa nafsu lainnya. Karna perjuangan bukan persoalan main-main, ia hadir dengan konsepNya :

‘’sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Baqarah:218).

Kalau tidak hijrah bagaimana bisa jihad? Sebelum ada madinah tidak ada makna jihad karna di mekkah tidak ada yang dibela. Jika seseorang punya keyakinan, maka ia juga bisa menolak sesuatu. Logis

Muharram, seharusnya menjadi awal gelombang perubahan drastis yang bisa menyingkirkan hijab-hijab dalam umat islam yang tidak bersatu agar bersatu. Kira-kira dibarisan manakah harus mawas diri, apakah masih abai atau terus lalai. Berharap pada Allah, tak mungkin tiba-tiba. Keberkahan umat islam sudah diberikan, saatnya kita memilih mau menjadi penerus atau penghalang

Ingat akhirat, pada satu hari bumi akan menceritakan seisinya, tentang tingkah laku manusia. Sayang sekali jika hidup ini tidak diisi dengan perjalanan pengabdian kepada Allah, bahwa Allah tak boleh di punggungi dari segi aturan kehidupan. Terus berharap bisa menjadi saluran kegagahan Allah,
menjadi pribadi yang mampu, wawasan luas, bersih niat, lurus langkah, dan rela berkorban.

Dua isyarat dari Allah, cinta (rahmat) atau azab
Hati-hati dengan godaan dunia
Ikhlas di atas rel sesuai petunjuk Allah
Setumpuk rindu untuk madinah Indonesia

Selamat tahun baru 1437 H. semoga momen ini dapat menjadi refleksi kemajuan dan peningkatan amal ibadah kita kepada Allah SWT. Amin, (AI)


  • 0

Tentang kesungguhan berkurban

oleh Hanefiatni

Kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah melalui mimpi untuk mengurbankan anaknya, nabi Ismail, menjadi cerita yang telah banyak orang ketahui. Namun, penting untuk selalui mengambil Ibrahnya.

Cerita tersebut menyampaikan bagaimana ketaatan seorang hamba, meski anak menjadi taruhan. Bahkan kondisinya menjadi lebih berat ujiannya, ketika anak yang diperintahkan untuk dikorbankan itu adalah anak yang telah dinanti selama puluhan tahun. Anak satu-satunya yang sangat disayangi.

Nabi Ismail, sebagai anak yang akan dikorbankan, tak kalah taat. Begitu mendengar bahwa mimpi nabi Ibrahim yang telah terjadi berulang kali tersebut adalah perintah Allah, dengan hati yang mantap dia bersedia menjalankan perintah Allah. Subhanallah.

Kesungguhan bapak dan anak dalam berqurban demi perintah Allah SWT menghasilkan buah manis. ketika peristiwa itu terjadi, Nabi Ismail diganti dengan domba, sehingga Nabi Ismail selamat sedang yang dikorbankan adalah domba.

Peristiwa ini sangat luar biasa. Jangankan nyawa, terkadang harta, tenaga, pikiran, rasanya belumlah kita maksimalkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Memaksimalkan diri dalam mendekatkan diri kepada Allah, nampaknya merupakan pesan yang ingin disampaikan melalui kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail ini.

Itulah mengapa dalam teknis praktik berkurban pun kita diperintahkan untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Mulai dari memilih hewan qurban, mencari hewan terbaik dengan kecacatan seminim mungkin.

Dalam hal menyemblih kita dituntun untuk melakukannya sebaik mungkin. Jangan sampai kita menyemblih kurban dengan cara menyiksa.

“sesungguhnya Allah menetapkan ihsan pada segala sesuatu. Maka jika kamu membunuh, lakukanlah dengan cara terbaik (ihsan); jika kamu menyemblih binatang, sembelihlah dengan cara terbaik (ihsan), tajamkanlah pisaunya dan senangkanlah dia.” (HR Muslim)

Petunjuk dalam hadis tersebut sangat mempedulikan kondisi hewan kurban. Begitu pula beberapa hal lainnya dalam syariat penyemblihan hewan kurban.

Dalam islam, ternak sebelum dipotong harus dalam kondisi nyaman, menempatkan hewan kurban di tempat yang layak serta diberi minum adalah cara agar hewan qurban merasa nyaman. Pisau yang dipakai dalam menyemblih tidak boleh diperlihatkan. Lalu ketika disemblih, pisaupun harus ditajamkan agar mudah memutus tiga saluran yang ada dileher; kerongkongan, tenggorokan dan pembuluh darah kanan-kiri. Dengan begitu darah akan keluar secara maksimal. Semakin cepat darah keluar, maka semakin cepat hewan tersebut mati dan semakin sedikit rasa sakit yang dialaminya.

Memaksimalkan kurban tidak hanya dalam prosesnya (memilih hewan dan tata cara pemotongan). Namun, juga dimulai dengan niat. Bagaimana kita berniat dan berusaha untuk berkurban. Bisa jadi melalui tabungan setahun atau berbagai cara yang kita dapat upayakan.

Selain itu, kurban merupakan salah satu cara untuk membuktikan bagaimana ketaatan kita dan upaya kita dalam berkurban dijalan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang perlu kita kurbankan dijalan Allah. Seperti meluangkan waktu, menyumbangkan harta, dan masih banyak lagi perbuatan yang bisa kita lakukan di jalan Allah.

Disarikan dari bulletin pekanan salman tahun II edisi 76 dan berbagai sumber.


  • 0

Kurangi Emisi dengan Carbon Capture dan Storage (CCS)

oleh: Yordan Wahyu Christanto

Foto: epa.gov

Foto: epa.gov

Saat ini perubahan iklim bukan hanya menjadi sebuah isu, tetapi telah berkembang menjadi suatu ancaman. Fenomena perubahan iklim ini terutama disebabkan karena terjadinya pemanasan global sebagai konsekuensi meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK), terutama gas CO2 di atmosfer. Konsentrasi CO2 ini semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya penggunaan energi fosil di muka bumi. Jika kondisi ini dibiarkan, maka dalam kurun waktu 3 dekade mendatang ancaman tersebut dapat berubah menjadi bencana berantai yang dimulai dari melelehnya lapisan es Kutub Utara, pola iklim yang berubah secara ekstrem, serta menjadi penyebab berbagai bencana global dan katastropis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan upaya yang konsisten dan terintegrasi, baik dalam mengubah pola penggunaan energi, pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih, atau menerapkan teknologi energi bersih sebagai upaya mengurangi laju emisi CO2 secara global.

Salah satu teknologi mitigasi untuk penurunan emisi CO2 dalam skala besar sambil tetap bisa meneruskan penggunaan bahan bakar fosil adalah melalui Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi ini menerapkan rangkaian proses mulai dari pemisahan dan penangkapan CO2 hingga menyimpannya ke dalam tempat penampungan (formasi geologi) untuk jangka waktu yang sangat lama. Teknologi ini secara teknis menawarkan langkah konkret dalam menangani volume emisi gas CO2 dengan menggunakan teknologi yang telah ada sebelumnya.

Sejak tahun 2006 UNFCCC telah merekomendasikan CCS sebagai salah satu opsi utama teknologi mitigasi penurunan emisi CO2 selain penggunaan energi baru terbarukan dan peningkatan efisiensi penggunaan energi. Dari berbagai perhitungan, diperkirakan penerapan CCS akan dapat berkontribusi hingga 20% dari semua upaya mitigasi global untuk menjaga stabilitas CO2 agar tidak melebihi konsentrasi 450 ppm di atmosfer pada tahun 2050 nanti.

yordan

Gambar: Yordan

Secara nasional, emisi CO2 yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 350 juta ton CO2. Dengan jumlah ini Indonesia masih dikategorikan sebagai negara low-emitter. Namun demikian, diperkirakan emisi CO2 dari sektor energi akan meningkat sampai 7 kali lipat di tahun 2030 dari level tahun 2005. Hal ini disebabkan karena kebutuhan energi semakin meningkat serta meningkatnya peran batubara dalam total penggunaan energi nasional.

Selain sebagai salah satu opsi teknologi mitigasi GRK, CCS dapat pula diterapkan untuk  keperluan peningkatan produksi migas melalui CO2-EOR (Enhanced Oil Recovery), untuk keperluan industri (dalam pembuatan minuman soda), berperan dalam Clean Coal Technology dan penerapan CCS sebagai upaya mitigasi CO2 merupakan kombinasi yang dapat saling menunjang teutama untuk mengkompensasi biaya CCS yang masih mahal.

Dalam pelaksanaannya, ada beberapa tantangan saat mengimplementasi CCS di Indonesia, yakni kebijakan, regulasi, dan alasan komersial. Namun, CCS juga memiliki dampak bagi lingkungan. Jika reservoir CO2 bocor, maka air di sekitar lahan penanaman CCS akan menjadi asam dan bisa merusak tanaman bahkan bisa meledak. Oleh karena itu untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan observasi yang akurat dan tepat, baik sebelum, selama, dan sesudah proses penginjeksian CO2 ke sub surface. Harus ada studi mendalam sebelum pemasangan CCS di sub surface, terkait dengan pemilihan lokasi target untuk menyimpan CO2, sehingga perlu dilakukan studi geologi dan geofisika untuk mengetahui karakteristik dari formasi batuan di sub surface yang akan menjadi reservoir CO2 (porositas, permeabilitas, penyebarannya), mengetahui adanya lapisan yang berfungsi sebagai caprock, dan mengetahui adanya kontrol struktur (fracture/fault) dan kontrol stratigrafi. Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai kestabilan lokasi target terhadap pengaruh tektonik dan harus jauh dari aktivitas vulkanisme. Selama proses penginjeksian, tekanan harus disesuaikan dengan kondisi geologi di sub surface, untuk menghindari terjadinya patahnya lapisan caprock dan ledakan dari gas CO2. Secara khusus, monitoring pasca injeksi harus dilakukan selama jangka waktu yang panjang. Dalam hal mengamankan CO2 yang tersimpan, sangat penting untuk melacak injeksi plume CO2 dalam reservoir dan mendeteksi kebocoran melalui caprock ke atmosfer.

Di Indonesia, CCS sudah diterapkan di beberapa titik, salah satunya di Gundih, Surabaya, Jawa Timur yang dimulai pada tahun 2011. Titik lain tempat percobaan CCS terdapat di Jawa Barat, seperti Jatibarang, Tambun, Sukabumi, dan Sumatera seperti Lapangan ADERA dan Lapangan Meruan.

Referensi :

http://www.esdm.go.id


Pencarian

Kalender

September 2019
M T W T F S S
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com