Bukan Shoum Biasa: Mengupas Shoum Secara Islami dan Ilmiah

Bukan Shaum Biasa

Kabhar 2: Bukan Shoum Biasa

Kamis, 20 Juni 2013, Selasar Campus Center Barat ITB.

Kajian Ba’da Ashar (KABHAR) Kamil Pascasarjana ITB kali ini spesial mengusung tema sambut Ramadhan, bulan di mana Al Quran diturunkan, serta bulan ketika empat rukun islam ditunaikan secara bersamaan, kecuali haji. Berbicara bulan Ramadhan, biasanya yang langsung terlintas di benak kita adalah shoum sebulan penuh. Dalilnya adalah Surat Al Baqarah ayat 183 yang sudah sangat familiar di telinga kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Melalui ayat ini, Allah subhanahu wata’ala mewajibkan manusia untuk menjalankan shoum selama bulan Ramadhan. Jika dicermati, dalam ayat tersebut terdapat kata shiyam yang berasal dari kata shoum. Kebanyakan kita menerjemahkan kata ‘shiyam‘ tersebut dengan padanan kata puasa. Namun apakah puasa merupakan terjemahan yang tepat dari shoum? Apakah sama antara shoum dan puasa? Apa tujuan diperintahkannya shoum? Lalu bagaimana sebenarnya manfaat shoum bagi jasmani dan rohani kita?

dr. H. Satryo Waspodo, Sp.RM (Dosen FK Unpad) dalam KABHAR edisi sambut Ramadhan ini telah mengupas shoum tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga dari sisi ruhiyah. Menurut beliau, shoum berbeda dengan puasa. Secara bahasa, shoum berarti menahan (QS. Maryam: 26), dan secara istilah berarti menahan diri dari hal-hal yang buruk. Sedangkan puasa berasal dari bahasa sansekerta dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang bukan berasal dari ajaran Islam. Dari penjelasan singkat ini jelaslah bahwa shoum berbeda dengan puasa, sehingga istilah shoum lebih tepat digunakan daripada puasa.

Shoum berarti menahan diri dari makan dan minum, serta hal-hal lain yang Allah tetapkan keharamannya jika dilakukan ketika shoum. Sebagian besar masyarakat menganalogikan shoum dengan kondisi tubuh yang tidak bersemangat, lemas, lesu, tidak bergairah, dan kondisi-kondisi tidak produktif lainnya.  Padahal, tujuan diciptakannya manusia dan jin di muka bumi ini tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah saja (QS. Adz Dzaariyaat: 56). Termasuk juga shoum, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan manusia untuk shoum agar manusia menjadi bertaqwa, memiliki fisik yang kuat, dan mampu mengendalikan diri. Itu baru sedikit dari banyaknya hikmah di balik perintah shoum bagi kebaikan manusia. Shoum yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pastilah menyehatkan serta memperkuat ruhiyah dan fisik.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa telah terjadi kurang lebih 80 peperangan (sekitar 30 di antaranya adalah perang besar dan sisanya adalah perang-perang kecil) dalam perjuangan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama 10 tahun di Madinah (fase dakwah terang-terangan). Beliaulah pemimpin barisan kaum muslimin, penyusun strategi, pengatur pasukan, dan pengobar semangat. Semuanya mampu dilakukan oleh Rasulullah yang usianya sudah lebih dari setengah abad (53 tahun)! Allahu akbar. Selain itu, kondisi geografis medan peperangan yang panas dan kering kerontang, beserta jumlah kekuatan pasukan musuh yang berkali-kali lipat lebih banyak adalah faktor-faktor yang menambah kepayahan kaum muslimin.

Kemudian, apakah aktivitas jihad fii sabilillah yang berat tersebut menghalangi Rasulullah dan para shahabat untuk melaksanakan shoum?? Tidak, sekali-kali tidak. Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi pertama umat Islam adalah orang-orang yang paling banyak amalan shoum-nya. Sebaliknya, apakah shoum menghalangi kaum muslimin untuk meraih kemenangan dalam peperangan menegakkan kalimat Allah?? Hal inipun juga tidak, sekali-kali tidak. Merekalah sebaik-baik pasukan dan yang paling disegani, hingga dua imperium terbesar pada masa itu; Romawi dan Persia; mengibaratkan pasukan kaum muslimin bagaikan Rahib di malam hari dan bagaikan singa padang pasir di siang harinya. Allahu akbar!

Perang Badar adalah salah satu bukti kemenangan dari sekian banyak kancah peperangan yang terjadi di bulan Ramadhan. Ketika itu keadaan kaum muslimin berjumlah sangat sedikit, lemah persenjataan, minim pengalaman perang, dan harus menghadapi pasukan musuh yang lebih baik secara kuantitas maupun kualitas. Melihat kenyataan yang ada, apakah kaum muslimin gentar dan membuat pengecualian untuk tidak shoum karenanya? Tidak Saudaraku, justru di bulan Ramadhan, kaum muslimin lebih bersemangat untuk ber-fastabiqul khoirot; berlomba-lomba dalam kebaikan; dalam beribadah; menjaga niat, ittiba’ Rasul dan membaguskan ikhtiar; termasuk dalam berjihad, pun dalam keadaan shoum!

Keimanan dalam hati mereka bukan hanya “keyakinan dalam hati” atau sekedar sepenggal kalimat syahadat, tapi keimanan mereka adalah keyakinan pada Allah di dalam hati yang diucapkan dalam kata dan diejawantahkan dalam laku. Aduhai. Sungguh irinya mereka pada saudara mereka yang menggapai nikmatnya syahid dalam keadaan shoum. Merekalah bukti nyata bahwa shoum adalah training keikhlasan, keistiqomahan, ihsan, fisik dan membaguskan ikhtiar. Karena setiap laku kebaikan adalah pahala dan setiap langkah mundur dari kemaksiatan juga adalah pahala.

Tidak ada yang membedakan mereka dengan kita kecuali hanya keimanan saja. Oleh karena itu, jika generasi pendahulu dari umat Islam mampu shoum dengan aktivitas dakwah yang sungguh menguras tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa sekalipun; dengan porsi yang jauh lebih besar dan berat dari porsi yang kita tanggung sekarang. Maka, kita pun tentunya lebih mampu ber-shoum ria karena kondisi yang lebih nyaman bahkan terkondisikan karena tinggal di negara muslim.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 183 disebutkan bahwa tujuan shoum adalah untuk menjadikan manusia bertaqwa. Jika Anda bertanya apa itu taqwa, maka mari kita simak jawaban Sang Amirul Mukminin Umar bin Khoththob ra: “Taqwa adalah seperti engkau berjalan di kegelapan malam, padahal jalan yang engkau lewati penuh dengan duri dan rintangan“. Shoum adalah training pengendalian diri. Melanggar ketentuan shoum akan membuatnya menjadi sia-sia, tak beroleh apapun selain lapar dan dahaga. Oleh karena itu, dalam menjalankan shoum, manusia akan lebih hati-hati (lebih bertaqwa) dalam melakukan ibadah, memilih makanan dan makan, dalam berprasangka, dalam berucap, dalam melihat, mendengar dan melangkah.

Selanjutnya, bagaimana tinjauan shaum dari segi ilmu kesehatan? Secara umum, di dalam tubuh kita terjadi dua proses besar, yaitu anabolisme dan katabolisme. Anabolisme berhubungan dengan proses penggabungan molekul-molekul zat hasil pencernaan, sedangkan katabolisme sebaliknya, yaitu proses pemecahan molekul-molekul zat hasil pencernaan.

Salah satu contoh katabolisme yang terjadi setiap harinya adalah proses pengolahan karbohidrat menjadi glukosa dan energi. Molekul-molekul karbohidrat yang sangat besar dan kompleks dipecah-pecah melalui melalui mekanisme reaksi katabolik menjadi glukosa. Glukosa inilah yang dimanfaatkan menjadi energi berupa ATP (Adenosine Tri Phosphate) melalui Siklus Krebs. Glukosa yang berlebih akan disimpan dalam bentuk glikogen (gula darah) dan ada yang terkonversi menjadi lemak.

Jika asupan karbohidrat ini setiap harinya berlebih dibanding kebutuhan energi kita, maka lama-kelamaan jumlah lemak yang dihasilkan juga makin banyak. Timbunan lemak berlebih inilah yang dapat memberikan ancaman serius bagi kesehatan kita. Shoum membuat timbunan lemak berlebih tadi menjadi berkurang. Lho, kok bisa? Ya, selama shoum, kita mengkondisikan tubuh ini tidak mendapat asupan makanan dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam rentang waktu tersebut, tubuh dipaksa untuk dapat memenuhi kebutuhan energinya menggunakan cadangan lemak yang dimilikinya. Dampaknya bagi tubuh adalah berkurangnya timbunan lemak berlebih yang berpotensi mengganggu kesehatan, sehingga jasad kita semakin sehat.

Allahu akbar! Itu hanyalah satu dari sekian banyak manfaat shoum bagi kesehatan jasmani kita. Masih banyak sekali keajaiban-keajaiban shoum tidak hanya dari segi medis, namun dari segi psikis, sosial, dan lainnya. Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk ciptaan-Nya. Ibadah shoum inipun merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan ibadah shoum, badan jadi sehat, akal cemerlang, ruh kuat, dapat ganjaran predikat manusia bertaqwa, dan Insya Allah akan dikumpulkan di surga-Nya. Kalau sudah begini, siapa sih yang tidak mau?? ^_^

“Jangan niatkan shoum untuk kesehatan. Shoumlah kamu, maka kamu akan sehat.”

-dr. H. Satryo Waspodo, Sp.RM-

Shortlink: http://wp.me/p3rEpE-1B

-Yudi Prasetyo Handoko-

@yudiprasetyo

Comments ( 2 )

  1. / ReplyFajar Arianto
    Alhamdulillah, luar biasa, dasyat Kamil, maturnuwun :-)
  2. / Replynur
    izin share ya?? koq gaungnya nggak kedengaran lagi????

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>