Bincang Adiwidya #2 – Ecotechnology

Adiwidya Adiwidya 8 Departemen Akpro
0


Bincang Adiwidya #2 – Ecotechnology

Hidup kita tentu tidak terlepas dengan bantuan teknologi. Namun, teknologi yang kita gunakan tidak sepenuhnya pro terhadap lingkungan. Untuk menjaga kelestarian lingkungan demi mencegah terjadinya perubahan iklim, kita membutuhkan cara pandang baru dalam menginisiasi dan mengaplikasikan teknologi, yakni ecotechnology. Diskusi pada Bincang Adiwidya 2 kali ini akan membahas mengenai utilisasi ecotechnology bersama pemantik-pemantik yang telah menerapkannya.


Pelaksanaan

  • Hari/Tanggal
    Sabtu / 22 Agustus 2020
  • Waktu
    Pukul 13.00 – 15.30 WIB


Kegiatan Adiwidya 8

Ikuti kegiatan adiwidya lainnya.
.


Follow Instagram Adiwidya

ig-adiwidya


ideaksi-1

Bincang Adiwidya 2 ini akan membahas mengenai pemanfaatan ecotechnology pada bidang terpilih yang dapat memberikan solusi berdampak langsung kepada masyarakat. Penggunaan ecotechnology pada bidang industri menjadi suatu hal yang penting dalam upaya mendukung kegiatan yang ramah lingkungan melalui teknologi. Diskusi ini akan dimulai dari bagaimana ide tersebut muncul lalu memasuki proses penggarapan ide hingga akhirnya menjadi sebuah solusi yang dapat diimplementasikan.
Silahkan baca Prolog Bincang Adiwidya 2 – Ecotechnology.



Ada Apa di Bincang Adiwidya 2 – Ecotechnology


Diskusi Bincang Adiwidya 2 telah dilaksanakan. Dihadiri oleh peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa pascasarjana. Hadir pula Johanes Anton Witono, Umar Hilmi Fadhilah, dan Rio Pramudita sebagai pemantik dalam diskusi ini. Diskusi mengenai ecotechnology berlangsung kurang lebih 2 jam, dipandu secara langsung oleh Fatih Aldorado selaku moderator. Dalam Bincang Adiwidya ini, peserta diskusi membahas beberapa hal, sebagai berikut:
  1. Apa yang salah dengan teknologi? Bukankah manusia harus dipenuhi kebutuhannya? Apa yang harus diperbaiki?
  2. Apakah ecotechnology merupakan solusi masalah lingkungan & perubahan iklim? Atau justru ini malah menambah masalah baru?
  3. Apa saja tantangan atau hambatan dalam mengimplementasikan ecotehcnology?
  4. Bagaimana cara mengimplementasikan ecotechnology? Apa saja tahap-tahapnya mulai dari awal hingga terciptanya ecotechnology?
  5. Bagaimana peluang kolaborasi antar pihak (pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat) dalam implementasi ecotechnology?
  6. Berdasarkan kondisi di lapangan, apakah ecotechnology dapat diterapkan di Indonesia secara masif?

Pembahasan ditujukan untuk membuka pandangan serta keresahan mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas. Banyak hal yang bisa diambil, terutama untuk mengide hingga menerapkan teknologi berbasis ramah lingkungan di Indonesia. Banyak pertimbangan juga dapat dilihat di dalamnya mulai dari faktor geografis, masyarakat, hingga perekonomian.


Apa yang kami lihat?


” Menurut saya penerapan ekoteknologi sangat bagus dalam solusi dari keadaan lingkungan yg semakin banyak permasalahannya ini. Mulai dari polusi dimana-mana dan banyak efek buruk pada kesehatan yg ditimbulkan oleh teknologi saat sekarang ini. Saya sangat setuju dengan pendapat dari masing-masing pemantik, anak muda pada masing-masing daerah alangkah baiknya membangun kampungnya dengan kemampuan yangg dimilikinya. Jangan hanya banyak mencari diluar namun tidak mengaplikasikan kekanpungnya. Pemuda-pemuda terbaik itu yuk kembali ke kampung untuk mengedukasi dan mengayomi adik-adiknya di kampung. ”

” Saya optimis kita bisa memproduksi biofuel dengan murah jika kita sudah bisa memproduksi enzim sendiri, bagaimana kita memproduksi enzim dengan baik memanfaatkan limbah yang ada. Sebelumnya saya juga melakukan penelitian bioethanol production dari office waste, yang membuat mahal produksi ini dikarenakan harga enzimnya. ”

Peran pemerintah di dalam pemanfaatan ecotechnology pada dasarnya adalah regulator sekaligus pendukung. Sebagai ilustrasi, standar emisi CO2 di Eropa dikendalikan oleh Komisi Lingkungan Uni Eropa itu sendiri ditambah dengan penerapan pajak tambahan untuk pembelian/penggunaan mobil-mobil berangka emisi tinggi dan pengurangan pajak atau malah insentif kepada pembelian mobil-mobil dengan angka emisi CO2 rendah/mobil hibrida atau mobil listrik. ”

” Menurut saya pribadi pembahasan ecotechnology ini sangat bermanfaat, dewasa ini semakin banyaknya teknologi entah kenapa alam pun di berantas. Seperti kata kang Anton tentang panel surya dalam pembuatan teknologi kita harus berpikir gimana keadaan dimana kang Anton memilih untuk tidak menebang pohon di tempat tersebut. Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut alangkah baiknya kita mencari langkah alternatif misal panel surya sebelumnya pertama kita bisa gunakan alternatif sesuai dengan teknologi apakah bisa panel surya tersebut diletakan di atas pohon atau dibuat diatas atap seperti atap rumah lebih baik, alternatif lainnya dapat dilihat dari fungsi teknologi tersebut apakah ada tenaga listrik lain yang memungkinkan seperti ataupun limbah rumah tangga atau limbah peternakan yang pernah tenar diberita tanah air sebelumnya namun hilang dimakan waktu. ”

Ecotechno masih perlu waktu untuk diproduksi besar-besaran di Indonesia. Sembari memantaskan waktu tersebut tugas kita adalah mempersiapkannya dengan terus melakukan riset, survey dan evaluasi hingga nanti ecotechno siap untuk dilaunching secara nasional. ”

Ecotechnology sangatlah penting dan butuh sekali untuk diterapkan khususnya di negeri tercinta kita ini, Indonesia. Terinspirasi dari para pemantik dan pengalaman sehari-hari bahwa permasalahan yang sedang dirasakan dunia global sekarang ini, di antaranya yaitu masalah lingkungan, limbah, sampah, iklim, dll. yang selanjutnya berdampak pada masalah kesehatan dan kerusakan lingkungan yang bisa menghambat kestabilan kehidupan ini. Sehingga perlu adanya ide2 kreatif yang bisa mengatasi permasalahan ini, misalnya bagaimana mengubah limbah, sampah, kotoran dan lain sebagainya yang dianggap kurang bermanfaat bahkan mencemari lingkungan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai guna, tentunya dengan tetap memperhatikan keramahan terhadap lingkungan, seperti contoh jelantah diubah menjadi biodisel, kotoran diubah menjadi biogas, sampah plastik (wadah air mineral) diubah menjadi kerajinan tangan, sampah organik diubah menjadi pupuk, limbah diubah menjadi tenaga listrik dan lain sebagainya.
Semakin hari tentunya kita semakin dewasa dalam menciptakan sebuah penemuan dan teknologi baru yang bermafaat untuk masyarakat, dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, misalnya dengan menciptakan teknologi yang ramah lingkungan (ecotechnology), karena sesuai dengan kaidah fiqh yang menyatakan bahwa “Menolak sebuah kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil suatu manfaat”.
Sehingga perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak dan berbagai disiplin keilmuan dalam menciptakan suatu penemuan ataupun teknologi baru, yang harapannya bisa saling bersinergis untuk menciptakan teknologi yang ramah lingkungan (ecotechnology), sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas secara global, karena manfaatnya yang besar dan minim bahkan tidak ada dampak buruk yang ditimbulkan dari teknologi tersebut. Tentunya juga perlu adanya dukungan dari pemerintah, donatur agar teknologi tersebut bisa terproduksi dengan lancar, aman dan dalam sekala besar sesuai kebutuhan. Terima kasih banyak. ”

Diskusi ini sangat menginspirasi. terutama bagi saya yg terlahir dari bidang matematika yg minim sekali pengetahuannya dari bidang ilmu ecotechnology dan biotechnology. Ketika saya menyimak pendapat dari teman teman pemantik, saya banyak menemukan kosakata baru yg belum saya pahami, sehingga ketika pemantik berbicara, saya sambil mencari definisi dari kata-kata tsb. Harapan saya semoga Adiwidya bisa selalu menjadi wadah utk sharing mengenai isu-isu global kontemporer terutama bagi kami yg bukan berasal dari bidang teknik/bioteknologi. ”


Tautan menarik hmm…


Untuk yang ingin lebih tau sejarah industrial revolution lebih singkat, ada yang cukup baik menjelaskan sejarahnya dari VICE
Klik tautan.

Silahkan melihat juga pandangan menarik tentang doughnut economics
Klik tautan.

Izin shares juga Ini tentang desentralisasi energi dengan konsepan smart grid dari eropa
Klik tautan.

Contoh aplikasi pembangkit listrik bersamaan dengan perkebunan
Klik tautan.

Contoh solar PV bersamaan dengan tambak ikan
Klik tautan.


Lihat diskusi kemarin


Silahkan akses dokumentasi diskusi pada Channel Youtube KAMIL Pascasarjana ITB





Catatan Penulis:
Tahun ini katanya tahun yang paling banyak muncul hal baru pada tiap-tiap individu. Selain sebagai dokumentasi, foto-foto diatas hadir sebagai legacy yang menunjukkan semangat tetap belajar tanpa memandang kondisi. Semoga Allah selalu memudahkan langkah-langkah mu kedepan sahabatku.

0

3 thoughts on “Bincang Adiwidya #2 – Ecotechnology

    1. Terima kasih
      Betul sekali. Namun ada keresahan dimana tidak setiap teknologi maju selalu pro terhadap lingkungan, apalagi kalau menghubungkannya dengan perubahan iklim yang terjadi.

      Adiwidya 8 sedang mengadakan call for ideas untuk membantu menyelesaikan permasalahan iklim di Indonesia.
      Kalau berminat untuk ikut, bisa mengunjungi halaman ini:
      http://kamilpasca.itb.ac.id/call-for-ideas-adiwidya-8/

      Salam Sinergi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *