Author

170 posts

Membaca Zaman

Kajian Kamil Pascasarjana ITB kali ini diadakan ba’da dzuhur dengan topik pembahasan yaitu “Membaca Zaman”. Berikut catatan singkatnya. Semoga bermanfaat.

Membaca zaman melalui sejarah, diperlukan untuk mengetahui sudah berada di zaman apa umat Islam saat ini dan bagaimana seharusnya kontribusi kita agar tercapai kembali kejayaan Islam. Kajian mengenai hal tersebut dimulai dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ

كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Ath-Thoyalisiy telah menceritakan kepadaku Dawud bin Ibrahim Al-Wasithiy telah menceritakan kepadaku Habib bin Salim dari An-Nu’man bin Basyir ia berkata,

“Kami pernah duduk-duduk di dalam Masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian Basyir menahan pembacaan haditsnya. Kemudian datanglah Abu Tsa’labah Al Khusyani dan berkata, “Wahai Basyir bin Sa’d, apakah kamu hafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan Umara` (para pemimpin) ?” kemudian Hudzaifah berkata, “Aku hafal Khutbah beliau.” Maka Abu Tsa’labah pun duduk, kemudian Hudzaifah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya.  Kemudian berlangsung kekhilafahan sesuai manhaj kenabian selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kerajaan yang menggigit selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung pemerintahan yang menindas (diktator) selama yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian akan berlangsung kembali Khilafah sesuai manhaj kenabian. Kemudian beliau diam”. (H.R. Ahmad)

 

Dari hadits tersebut, kita tahu bahwa umat ini akan mengalami 5 zaman, yaitu :

1. Masa Nubuwwah (23 tahun masa kenabian).

Masa ini dimulai sejak diutusnya Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wassalam dan berakhir saat Nabi wafat, yaitu usia 63 tahun, pada hari Senin, 12 rabi’ul awal tahun 11 Hijriyah

2. Masa Kekhalifahan

Yaitu masa dengan manhaj (sistem aturan) nubuwwah sampai Allah kehendaki, kemudian dihilangkan sampai Ia kehendaki. Dimulai sejak diangkatnya Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai amirul mukminin. Dilanjutkan Khulafaur Rashidin.

Masa kekhalifahan ini terjadi selama 30 tahun, sesuai dengan yang dikatakan Rasulullah dalam hadits.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافَةُ النُّبُوَّةِ ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْمُلْكَ مَنْ يَشَاءُ أَوْ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ. [ سنن أبي داود 4029]

Rasulullah saw bersabda: “Khilafah kenabian itu (bertahan) selama 30 tahun kemudian Allah mendatangkan raja-raja kepada yang dikehendaki. (HR. Ahmad)

Terbukti masa ini berakhir pada saat penyerahan kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib ke Muawwiyah pada tahun 41 hijriyah (tepat 30 tahun), lalu berubah dari masa khalifah menjadi Mulk (kerajaan). Read More →

20 views

Islam bicara kriminalitas

Ditulis oleh Fakhturrozi

Ketika Islam bicara kriminalitas, kebanyakan orang langsung connectke hukum hudud dan jinayah: hukuman bunuh untuk pembunuh, hukum potong tangan untuk pencuri, cambuk bagi pezina, dan sebagainya. Tentu ini tidak salah. Namun yang juga harus diketahui adalah sebelum Islam berbicara sanksi untuk tindakan kriminalitas, Islam juga berbicara mekanisme pencegahan yang berlapis-lapis. Ini yang tidak banyak dipahami oleh kaum muslim sendiri. Maka tak heran kaum muslim pun menjadi “bulan-bulanan” kaum sekuler-liberal yang tidak suka penerapan Islam kaffah. Bagi mereka, hukum qishash dalam Islam itu kejam dan primitif. Sedang kaum muslim yang kurang paham hanya bisa terpojok di sudut defensif sambil sedikit memoles-molesbahwa penerapan Islam bisa dikompromikan dengan konsep sekuler.

Ketika Islam berbicara pencegahan untuk tindakan pencurian(termasuk korupsi) saja, kira-kira ada sepuluh konsep Islam sebelum diterapkannya sanksi potong tangan. Konsep tersebut diantaranya:

1. Ketakwaan individu

Dalam Daulah Islam (Negara Islam), yang diterapkan Islam secara kaffah, salah satu pilar terpenting penegakan Islam adalah ketakwaan individu.Sistem yang baik akan percuma saja bila tanpa dukungan individu yang baik. Takwa adalah benteng terdepan seorang muslim dalam menjalani setiap aktivitas. Seorang muttaqinakan takut mengerjakan yang dimurka-Nya dan hanya akan mengerjakan yang dicinta oleh-Nya.Motivasi ini tertancap kuat dalam rangka mendapat reward terbaik disisi-Nya (surga) dan menghindari siksa-Nya (neraka). Motivasi ini tidak akan muncul bila seorang individu hanya sekedar ingin digelari “berani jujur hebat”.

2. Pendidikan keluarga

Pendidikan keluarga mutlak diperlukan dalam membentuk karakter anak yang Islami. Orang tua yang sadar bahwa anak adalah tanggung jawabnya di hadapan Allah nanti, maka mereka tidak akan segan-segan mengingatkan anaknya hingga dengan cara yang sedikit memaksa sekalipun. Keluarga akan menjadi sekolah pertama bagi anak. Seorang Abraham Samad, ketua KPK,selalu teringat bahwa orang tuanya pernah marah hebat kepadanya, setelah mengetahuinya menguntit kapur tulis dari kelasnya waktu dulu SD. Harus diakui, karakter jujur ini secara primer dibentuk oleh keluarga. Read More →

29 views

Emil (Evaluasi Kamil)

emilAlhamdulillah Evaluasi Tengah tahun Kamil Pascasarjana ITB telah lancar dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Mei 2014 di R. 9212, GKU Timur, ITB. Evaluasi yang harapannya menjadi vitamin yang dapat menyehatkan dan menyegarkan kembali tubuh Kamil untuk setengah kepengurusan berikutnya, sehingga keberadaannya dapat semakin dirasakan manfaatnya bagi orang-orang di sekitarnya.

Kamil Pascasarjana ITB yang terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum, tiga departemen (Syiar, Keanggotaan, Akademik dan Profesi) serta empat Biro (Penelitian dan Pengembangan, Humas dan Media, Pembinaan Pengurus dan Fundrising) ini tidak terasa telah melakukan kerja-kerjanya selama kurang lebih 3 bulan. Melalui kuisioner biro Litbang (Penelitian dan Pengembangan) serta penyampaian kritik dan saran secara langsung dari pengurus, program kerja Kamil selama setengah periode kepengurusan telah dievaluasi baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Dari evaluasi ini, telah ditemukan beberapa permasalahan yang harus diperbaiki serta solusi-solusi untuk mengatasinya. InsyaAllah, semoga dengan adanya agenda ini, bisa menjadi perbaikan untuk Kamil selanjutnya. Yang perlu diingat adalah produk dari evaluasi bukan hanya berhenti pada mengkritisi dan menemukan solusi, namun sampai kontrol eksekusi yang akhirnya mengakibatkan perbaikan dan meluaskan kebaikan. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberkahi langkah kami. Dan akhirnya, evaluasi ditutup dengan makan siang bersama untuk mempererat persaudaraan antar pengurus.

“ Kesempatan dan hambatan adalah tentang dari sisi mana kamu melihatnya. Akan selalu ada hambatan dalam tiap kesempatan, dan insyaAllah akan selalu ada kesempatan dalam setiap hambatan yang dihadapi ”

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ”

(Q.S. An Nahl 125)

2 views