Author

170 posts

Menjemput Berkah Majelis Ilmu

Penulis : L. Annake Harijadi Noor

Alhamdulillah wa syukurillah, kita hidup di zaman sekarang yang serba mudah dan canggih dengan teknologi. Islam pula telah berkembang pesat ke seluruh penjuru dunia. Tak lagi sulit dalam mempelajari Islam dan mencari-cari majelis ilmu hingga menempuh perjalanan jauh. Tidak seperti saat zaman Nabi Muhammad saw, orang-orang yang hendak mempelajari Islam kala itu mendatangi beliau, tidak peduli harus menempuh perjalanan yang jauh lagi sulit dengan berjalan kaki maupun menunggang unta atau kuda. Kini, ulama telah banyak dan majelis ilmu bertebaran dimana-dimana.

Namun di tengah “kemudahan” saat ini, semakin dimudahkan pula dengan adanya media sosial sebagai media penyebaran segala bentuk informasi tak terkecuali da’wah Islam. Orang-orang menjadi mudah mengakses video da’wah dimana dan kapan saja dari seorang ulama melalui berbagai media semisal youtube, live instagram dan lain sebagainya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Tentu bentuk positif dari kemudahan ini dimaksudkan agar da’wah Islam, majelis ilmu yang disiarkan secara streaming tersebut bisa menjangkau orang lebih luas dan leluasa dalam mengakses ilmu agama. Tetapi, apakah dapat dibenarkan jika seseorang kemudian berpikir daripada susah payah menghadiri majelis ilmu, cukuplah baginya melihat dan mengakses melalui media-media tersebut. Atau seperti di kalangan remaja saat ini dikenal istilah “mager” (malas gerak), lebih memilih cukup dengan mengaksesnya tanpa harus mendatangi majelis ilmu secara langsung.

Nabi Muhammad saw dalam haditsnya menyebutkan mengenai keutamaan mendatangi majelis ilmu :

حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِالۡهَمۡدَانِيُّ. وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ. قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :…… وَمَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىٰ الۡجَنَّةِ. وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ، يَتۡلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيۡنَهُمۡ، إِلَّا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتۡهُمُ الرَّحۡمَةُ وَحَفَّتۡهُمُ الۡمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنۡ عِنۡدَهُ. وَمَنۡ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمۡ يُسۡرِعۡ بِهِ نَسَبُهُ. (رواه المسلم)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad ibnul 'Ala` Al-Hamdani, dan lafazh ini milik Yahya, Yahya berkata : telah mengabarkan kepada kami, dua yang lain berkata : mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “…… Dan barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), nasabnya tidak akan bisa menyempurnakannya.” (HR. Muslim)[1]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mendatangi majelis ilmu akan Allah mudahkan jalan menuju surga, mendapatkan ketenangan, senantiasa diliputi oleh rahmat dan dikelilingi malaikat—disebutkan bahwa malaikat ridla dan mendoakan orang tersebut, sementara kita ketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang paling taat dan doanya diijabah oleh Allah.

Terlampau banyak keutamaan menghadiri majelis ilmu, selain kita akan menuai pahala yang besar darinya. Di dalamnya melimpah manfaat dan keberkahan yang tentu hanya bisa kita dapatkan jika kita menghadirinya—menjemputnya. Sehingga dirasa tidak tepat jika dicukupkan mengakses majelis ilmu melalui media tanpa mendatanginya.

Sebagaimana yang diungkapkan salah seorang pengurus KAMIL, “Bisa, sih, streaming, tapi pasti berkahnya beda.” (Barri, 2017)

 

 


[1] Hadits Arbain an Nawawiyah, nomor 36, h. 41-42.

 

3 views

Kajian Islam Tematik: Let’s Move Up!

Kajian Islam Tematik Departemen Syiar dan Pelayanan Kamil Pascasarajana ITB bersama Kang Abe. Foto: Kamal

BANDUNG – Departemen Syiar dan Pelayanan kembali mengadakan Kajian Islam Tematik pada Sabtu, 28 Oktober 2017 bertempat di ruang utama Masjid Salman ITB, Jl. Ganeca No.7, Lb. Siliwangi, Coblong Kota Bandung. Tema kajian kali ini yaitu “Let’s move up!” bersama Ustadz Nur Ihsan Jundullah, Lc atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Abe. Beliau merupakan alumni Ummul Quro’ Mekkah dan juga menjadi pemateri pada Kajian Islam Tematik pada bulan sebelumnya, yaitu pada tanggal 26 September 2017. Kang Abe menjelaskan mengenai urgensi hijrah, tingkatan hijrah serta tips agar istiqomah dalam berhijrah.

“Ada lima tips yang dapat dilakukan apabila ingin terus beristiqomah dalam hijrah. Pertama, siapkan orang yang mau menegur kita. Lebih baik orang tersebut ialah yang dekat dengan kita, yang mengerti diri kita. Kemudian sadarlah bahwa istiqomah itu harus dipaksa dan rajinlah mencari ilmu. Selanjutnya, bergaul dengan orang-orang yang sedang hijrah. Caranya adalah dengan berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan mereka. Yang keempat, jangan melebihi batas. Maksudnya adalah beramal sesuai dengan kesanggupan kita. Lebih baik sedikit tetapi continue. Dan yang terakhir adalah beramal dan percaya bahwa Allah sedang melihat kita.” jelas Kang Abe dalam petikan kajiannya kepada lebih dari 100 peserta yang hadir.

Suasana Kajian “Lets Move Up!” di Ruang Utama Masjid Salman ITB

Kajian dimulai setelah shalat Ashar dan diakhiri pada pukul 17.15 dengan diskusi seputar materi. Peserta tampak serius dan menyimak setiap penjelasan dari Kang Abe karena tema kajian kali ini dinilai sangat penting, khususnya untuk anak muda yang sedang mencari jati diri. Bagaimana untuk dapat mempertahankan serta meningkatkan kualitas iman setiap harinya.

Nanda, Sekretaris Departemen Syiar dan Pelayanan menyatakan bahwa kajian ini merupakan kajian kelima yang diadakan Departemen Syiar dan Pelayanan, “Alhamdulillah, berjalan lancar dan semakin bertambah antusiasme peserta di setiap kajiannya. Semoga peserta dapat mengambil ilmu dan manfaat dari kajian ini untuk meningkatkan diri, berhijrah ke kondisi yang lebih baik dan istiqomah dalam hijrah.” pungkasnya.

Penulis: Mutiara Fajar

16 views

Kamil Action 2017 – Sabtu Ceria Berbagi Cerita di Desa Cicayur

Foto kegiatan Kamil Action di Desa Cicayur

BANDUNG – Dini hari tanggal 14 Oktober 2017, barisan mahasiswa berjas hijau tampak siap berkumpul di depan Taman Ganesha ITB. Mereka tak lain adalah anggota Keluarga Mahasiswa Islam (KAMIL) Pascasarjana ITB dan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Farmasi (HMPF) ITB yang akan berangkat menuju Desa Cicayur, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung dengan satu visi untuk memakmurkan masjid dan berbagi cerita di sekolah. Kegiatan Kamil Action 2017 bertajuk Sabtu Ceria Berbagi Cerita yang akan dilaksanakan hari itu, diharapkan bisa menjadi jawaban dari visi mulia tersebut.

Kamil Action adalah kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan untuk merangkul masyarakat di luar gedung kampus ITB. Tahun ini, kegiatan ditujukan untuk adik-adik SDN 1 dan 2 Desa Cicayur yang berdomisili di dekat Masjid Mujahid, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Pukul 8 pagi, kegiatan dimulai diawali dengan lomba islami, dilanjutkan dengan penyuluhan jajanan sehat, garage sale, serta pemeriksaan kesehatan gratis. Peserta dengan total berjumlah 316 orang tampak antusias dan bahkan berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan lebih dari sekali dalam setahun.

Akhirnya, sekitar pukul 12 siang acara berakhir dan ditutup dengan foto bersama. Semoga segala kebaikan dalam acara Kami Action 2017 dihitung sebagai amal shalih bagi seluruh panitia dan peserta. Aamiiin.

Penulis: Chalimi Fithratu Al Laili, S.T.

 

24 views