Author Archives: humed

  • 0

Menjadi Pendamping Sehidup Sesurga

Notulensi Cakrawala 2, Oleh Dept. Kemuslimahan Kamil “Menjadi Pendamping Sehidup Sesurga” bersama Teh Patra (Yuria Pratiwhi Cleoparta)


Yuria Pratiwhi Cleoparta dapat disapa dengan Teh Patra, merupakan seorang penulis buku “Keluarga Muslim : Cerdas Finansial”, ketua ITB Motherhood dan pembina Sekolah Tahfidz Quran. Dalam kesempatan pada Cakrawala beliau memaparkan kiat-kiat menjadi pendamping sehidup sesurga. Muslimah, tidakah menyempurnakan separuh agama menjadi dambaan kisah hidup di dunia? Tapi ternyata membangun rumah tangga tidak semudah membalikan telapak tangan. Sebelum berandai-andai dipertemukan jodoh yang sholeh nan rupawan atau barangkali bergegas melamarkan diri untuk ta’aruf, mari kita uraikan bagaimana sih caranya menjadi pendamping yang tak hanya berjodoh di dunia tapi InsyaAllah berjalan bersama menuju Jannah.

Wanita dalam Keluarga

Bagaimana sesungguhnya Islam menempatkan perempuan dalam keluarga?. Khadijah Radhiyallahu’anha mengajarkan pada kita, ketika Rasulullah berada di dekat Khadijah hati beliau menjadi tentram. Khadijah senantiasa menghibur dan menenangkan suaminya juga memberi solusi hingga masalah Rasul terselesaikan. Berdasarkan hal tersebut kita dapat mempelajari peran istri terhadap suami tidak hanya sebatas menjadi pelayan suami, lebih dari itu istri dapat menjadi teman diskusi.

Calon Suami yang Baik

Tujuan untuk menjadi pendamping sehidup sesurga tentu tak bisa hanya diusahakan seorang diri, sebagai pasangan maka tujuan mulia ini akan lebih mudah untuk direalisasikan kala pasangan memiliki visi serupa. Oleh karena itu, memilih calon suami yang baik menjadi penting. Seperti apa sih kriteria suami yang baik?,

  1. Akhlak mulia, diantaranya ialah santun dan tidak banyak pencitraan. Usaha untuk mendapatkan pendamping yang berakhlak mulia dapat dimulai dengan memperbaiki akhlak diri sendiri.
  2. Pekerja keras, ikhwan kelak akan menjadi penopang keluarga, maka harus bertanggung jawab penuh atas istri dan keluarganya
  3. Bukan hamba dunia. Pilihlah ia yang senantiasa memperhatikan akhirat, peduli dengan Rabb nya maka ia juga akan peduli dengan istrinya.

Alasan Menikahi Wanita

Seorang wanita dipilih untuk dinikahi sebab perkara 4 hal, yakni harta, keturunan, paras dan agamanya. Laki-laki dianjurkan untuk menikahi wanita karena ketaatanya dalam bergama. Seorang laki-laki yang baik tentunya akan mengikuti anjuran tersebut.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”

Pendamping Sehidup Sesurga

Jadi, bagaimana caranya untuk menjadi pendamping sehidup sesurga?, muslimah berikut adalah kiat yang dapat dilakukan saat telah memiliki pasangan hidup.

  1. Istri harus menjadi support system kesuksesan (dunia & akhirat) suami, caranya yakni dengan menjadi pendukung pertama dan utama dalam keimanan, finansial serta psikologi.
  2. Mengerti bahwa kesuksesan istri dilihat dari kesuksesan suaminya sehingga istri akan berusaha membantu dan senang dengan kesuksesan dari suaminya.
  3. Suami dan istri harus dapat menjadi satu tim yang kompak dengan porsi masing-masing untuk mencapai visi hidup dan pernikahan bersama.

Siap untuk menjadi pendamping di dunia dan akhirat?

Narasumber : Teh Patra (Yuria Pratiwhi Cleoparta)
Penulis : Dzakkiyah
Editor : Wuddan Nadhirah Rodiana dengan sedikit perubahan oleh Mentari Kasih


  • 0

Muslimah Berkarir Surga : Seni Melangkah di Muka Bumi

*Notulensi Cakrawala 1, Oleh Dept. Kemuslimahan Kamil, “Seni Tinggal di Bumi” bersama Farah Qoonita


Ternyata hidup ini perlu dilakoni dengan seni, apa yang terlintas saat membaca judul diatas?. Farah Qonita selaku penulis Seni Tinggal di Bumi berkesempatan membedah hasil pemikiranya pada hadirin Cakrawala. Gimana sih seni hidup di bumi itu?, kenapa kita hidup harus ada “seni”-nya?. Menjawab pertanyaan tersebut, mari memulai dari bumi itu sendiri. Bumi tak lain adalah milik Allah, Allah telah ciptakan hamparan daratan yang luas kepada kita (manusia) untuk hidup di dalamnya. Karena sejatinya bumi ini adalah miliki sang penciptanya, maka hidup dan melangkah di Bumi tak bisa sekehendak kita. Lantas, bagaimana kita kemudian harus berlakon di bumi?. Semua bergantung pada kenapa sih kita diciptakan dan mesti hidup di bumi?. Apasih tujuan kita diciptakan? Jangan sampai bingung, semua jelas tertera pada Al-Qur’an. Tugas kita adalah memaknai peran dari tujuan diciptakanya manusia tersebut. Jadi toh, hidup di bumi berlandaskan aturan. Sebab sebagai manusia, kita perlu menyelesaikan sebuah misi di bumi.

Ada yang ingat pelajaran Biologi tentang mitokondria? Mitokondria adalah organel sel yang memiliki ukuran sangat kecil, berdiameter 0,5-1µm. Meski berukuran sangat kecil, organel ini memiliki peran penting sebagai pabrik energi sel tubuh. Itulah bentuk ketaatan mitokondria terhadap Allah sang penciptanya. Kita sebagai manusia merupakan sebuah struktur yang lebih kompleks. Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia adalah sebaik-baiknya ciptaan (QS. At-Tin :4). Sebagai ciptaanNya yang paling baik tentu kita memiliki peran yang tidak kalah penting di muka bumi ini.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-tin : 4)

Jadi, apakah kita sudah tau apa peran penting kita di bumi ini?. Atas tujuan apakah Allah ciptakan manusia di muka bumi?.

Tujuan Utama Penciptaan Manusia di Muka Bumi

  1. Beribadah Kepada Allah

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an, “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56). Perkara ibadah bukan hal sepele. Pernahkah kita merasa sakit hati karena tidak dianggap di suatu lingkungan?. Kita perlu berhati-hati dalam beribadah sebab telah Allah peringatkan dalam Al-Qur’an bahwa kita sejatinya dapat tidak dianggap oleh Allah sebagai hamba-Nya. Allah tidak mengindahkan kita.

“Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena doamu, (Tetapi bagaimana kamu berdoa kepada-Nya), padahal sungguh, kamu telah mendustakan-Nya? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu)”. (QS. Al-Furqan : 77)

  1. Khalifah di Muka Bumi

Sebagai manusia, kita ditugaskan oleh Allah untuk mengelola bumi dan lingkungan dengan baik. Allah ciptakan kita untuk dengan tujuan untuk menjadi khalifah, khalifah berarti pemimpin. Sebagai khalifah kita perlu merefleksikan diri, sudahkah kita memberi manfaat kepada orang lain?. Bisa jadi ada dan tidak adanya kita di dunia tidak berpengaruh, boleh jadi dunia sebelum dan setelah kelahiran kita tak ada bedanya.

Pertanyaan selanjutnya kemudian muncul, sudahkah kita melakukan peran tersebut?.

Peran Sebagai Muslimah

Selain peran yang telah disebutkan, terdapat peran khusus bagi kaum muslimah. Diantaranya, terdapat peran muslimah di keluarga dan masyarakat. Peran tersebut yakni,

  1. Sebagai Pendidik Unggul Generasi Muslim

Sebagai telan Ummi Umaroh dalam mendidik anak-anaknya. Dikisahkan, suatu hari Zaid sedang dalam peperangan kemudian tanganya terluka. Ummi Umaroh yang saat itu juga berada dalam peperangan lantas berkata kepada anaknya, “balutlah tangan kamu dan maju kembali ke medan perang!”. Kisah ini merupakan salah satu contoh semangat generasi terbaik dalam mendidik generasi muslim. Mendidik tidak untuk menjadi pribadi manja dan berorientasi dunia, tetapi mendidik dengan tekanan guna menjadikan pribadi yang lebih baik.

Selain itu, contoh lain dapat dilihat dari bagaimana Rasullulah mendidik para sahabatnya. Tidak sekalipun Rasul mendidik dengan kemudahan dan kenikmatan. Melainkan tekanan yang luar biasa, saat mereka harus menahan lapar dengan ganjalan kerikil, pergi dalam perjalanan perang, berjalan jauh dan hanya memiliki satu kendaraan. Mereka bergantian jalan hingga kaki-kakinya terkelupas dan harus dibalut. Hal tersebut yang membuat para sahabay dibesarkan dengan ruhiyah dan iman luar biasa.

  1. Sebagai Partner Terbaik Suami dan Pengasuh Generasi Muslim

Dikisahkan Ummu Sulaim, ketika anaknya meninggal. Ummu Sulaim mengkondisikan melayani sumianya sebelum ia memberitahukan anak mereka meninggal. Hal-hal sepeti ini yang menjadikan keluarga semakin dekat dengan Allah. Keluarga menjadi penting karena menentukan peran ummat muslim di masyarakat.

  1. Sebagai Dai’ah (orang yang berdakwah) sebelum apapun

Sebagai seorang muslim, kita sejatinya memiliki kewajiban untuk menyampaikan agama islam, menyampaikan nilai-nilai islam kepada orang lain.

Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” [HR Al-Bukhari 3/1275 no 3274].

  1. Sebagai Supporting System

Pada masa perang, peran suport system diisi dengan peran seperti perawat, pemberi minum pada pejuang dan bentuk pelayanan perang lainya. Saat ini, bentuk perang telah bergeser menjadi perang pemikiran (ghazwul fikr). Sebagai gambaran mengenai RUU P-KS sebagai contoh nyata peran pemikiran. Perang antara penjunjung ideologi Islam dengan feminis. Sebagai seorang muslim kita tentu perlu menjaga nilai-nilai keislaman. Saat ini, begitulah cara kita menjadi supporting system.

Setelah mengetahui peran sebagai seorang muslimah, kepada siapakah kita mengambil teladan?. Tentu kita akan sangat terpengaruh pada siapa yang kita jadikan contoh. Mereka yang kita ikuti jejaknya, siapakah yang sering kali kita kutip dan ingat kata-kata inspiratifnya?. Sangat disayangkan jika mereka bukan Rasulullah, shahabah dan shahabiyyah. Maka besar iman dan cinta kita dalam hati dapat diukur dari apa yang paling sering diucapkan serta dipikirkan. Itulah yang menempati cinta tertinggi dalam hati. Sangat disayangkan pula jika itu bukan Allah SWT.

Suri Tauladan Muslimah

Jembatan antara pengetahuan tentang peran dan suri tauladan inilah yang seringkali rusak. Idealnya, kita meneladani mereka dengan tingkat kesolehan tinggi. Tentu tak lain tak bukan Rasulullah dan para sahabatnya di zaman generasi terbaik (khairu ummah), generasi yang hidup kala Al-Qur’an masih terhubung diantara langit dan bumi. Melalui perantara Rasulullah. Betapa agung zaman Rasul. Mari coba jembatani antara generasi terbaik dengan manusia saat ini. Namun, bagaimana hendak membangun jembatan, mengetahui kisah zaman nabipun tidak. Maka mulailah menjadi pembelajar yang baik.

Sebagaimana Aisyah R.A. yang mengajarkan kepada orang lain. Disamping itu, ada juga sosok sahabat Rasul, seorang wanita berkarir yakni Ummi Umaroh. Beliau berkarir di bidang militer, seorang aktivis, organisatoris yang begitu totlitas dan amanah. Kisah paling heroik beliau saat perang Uhud. Saat itu Rasulullah terpisah dan berhembus kabar Rasul meninggal. Semua kabur termasuk banyak diantaranya para lelaki tapi tak sedikit pula yang berbalik arah untuk melindungi Rasulullah. Salah satu diantaranya, Ummi Umaroh. Pasca perang Uhud, Ummi Umaroh memiliki 13 luka di tubuhnya dan saat Rasul menjenguk beliau serta hendak mendoakanya Ummi Umaroh meminta “Ya Rasulullah doakanlah aku untuk menjadi tetanggamu di surga”.

Jika dalam sebuah organisasi kita merasa ditinggal sendiri, merasa mengerjakan beban paling berat tak ada yang peduli dan menolong. Luruskanlah saja niat semata untuk Allah, niscahya keberkahan muncul, InsyaAllah. Seperti itu pula dalam berumah tangga, muslimah dapat berkaca pada Khadijah R.A. Setelah menikah kesibukan beliau semakin padat dalam berdakwah. Produktivitas ini dapat terlihat juga saat Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, ayat turun saat itu yakni surat Al-Muddatsir,

“Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Mudatsir : 1-2)

Hal tersebut menunjukan bahwa ketika ingin menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat untuk orang lain, maka kita tak dapat bersantai dalam kenyamanan. Seluruh potensi Khadijah diberikan untuk membantu dakwah Rasulullah. Sebelum menikah, Khadijah adalah perempuan terkaya dan cantik di Arab. Semua lelaki ingin meminangnya, 2/3 total kekayaan di Arab adalah milik Khadijah. Pada 10 tahun pertama berdakwah dengan Rasul, hartanya habis. Namun, apakah ganjaran bagi Khadijah atas semua pengorbananya dalam meraih ridho Allah? Ia menjadi satu-satunya perempuan yang Allah sampaikan salam kepadanya melalui malaikat Jibril juga termasuk kedalam 4 wanita terbaik sepanjang zaman.

Sebagai seorang anak kita dapat bercermin pada Fatimah dan Asma. Asma binti Abu Bakar saat Rasul hijrah berperan mengurus konsumsi, melewati gunng berbatu dalam kondisi hamil tua. Sepeninggal Abu Bakar, Asma tidak mendapatkan harta sepersenpun dari kekayaan Abu Bakar, karena seluruh harta digunakan untuk dakwah.

Dari Maryam dapat dipelajari makna dari penjagaan kesucian sampai Allah titipkan Nabi Isa kedalam rahimnya. Berbagai kisah teladan seharusnya menjadi nafas kita sehari-hari. Semakin sering kita membaca kisah-kisahnya, semakin kita merasa kebersamaan dengan mereka. Jika kita ingin meraih surga tertinggi maka kita perlu mengejar Ridho Ilahi. Kita mendamba menjadi seperti generasi terbaik dan tentu itu tidak menjadi mudah.

Setiap zaman memiliki ujian dan tantanganya, pada saat ini zaman penuh fitnah. Tantangan tak kalah sulitnya. Kita dihadapkan dengan feminis yang luar biasa bertentangan dengan nilai-nilai islam. Tagline mereka ialah kedaulatan tubuh, “My Body is Mine”. Adapun Islam mengatur segala adab mulai dari hal kecil hingga mengatur negara Begitu juga, adab dari bangun tidur hingga tidur kembali. Maka, adab termasuk bagi muslimah ialah menutu aurat. Mari bersama introspeksi dalam benak, sejauh mana kita menjemput hidayah? Usaha dulu, hidayah akan datang kemudian.

Ketika kita ingin masuk surga bersama Rasul dan para sahabatnya, seberapa besar usaha kita? Allah melihat ikhtiar hingga akhirnya hidayah dari-Nya datang. Hidayah itu rezeki dan tentu untuk menjemputnya butuh ikhtiar. Kemudian, saat kiamat menjemput, dimanakah kita akan berada? Bersama orang-orang yang condong dengan Islam?.

Pada hakikatnya, jiwa memiliki dua kecenderungan yakni tertarik dengan keduniaan (sebab kita tercipta dari tanah) dan kecenderungan untuk dekat dengan Allah (karena kita memiliki ruh). Keduanya saling tarik-menarik, pengorbanan yang telah kita lakukan menjadi bukti kecintaan kita kepada Allah. Semakin kita cinta kedapa Allah maka semakin kita dicintai Allah. Ketahuilah bahwa hubungan paling spesial sejagat raya adalah hungan dimana manusia ridho kepada Allah dan Allah ridho kepadanya. Inilah yang sama-sama kita perjuangkan. Berikhtiarlah hingga Allah ridho kepada kita dan kita dapat berkumpul bersama di surga Allah. Aamiin.

Muslimah dalam Menanggapi Feminis

Pembeda antara muslimah dengan kelompok ekstrim feminis adalah apa yang diperjuangkan. Kaum feminis memperjuangkan hak penuh otoritas dalam mengatur dan memanfaatkan seluruh tubuhnya, sehingga hal mereka untuk memakai dan melakukan apapun atas tubuhnya. Sementara muslimah taat pada syariat yang telah ditetapkan untuk memperjuangkan hak Allah atas apa yang diamanahkan. Termasuk didalamnya waktu, harta, jiwa dan raga. Penuhilah hak Allah atas titipan-Nya kepada kita sebagai muslimah.

“Usaha dulu, kemudian hidayah. Berkorban dulu, Surga kemudian”

Sebagaimana usaha-usaha para sahabat untuk mendapat hidayah oleh Allah SWT. Hal ini dapat diteladani dari kisah Umar R.A, ketika beliau sholat selalu menginfakan semua hasil usahanya untuk kepentingan masjid. Karena beliau tau, hal inilah (harta hasil usahnya) yang dapat melalaikanya. Begitulah pengorbanan Umar terhadap hartanya, sehingga Allah mengganjarnya dengan keislamanya. Bagaimana dengan kita? sanggupkah kita?. Insya Allah, ketika kita ikhlas berusaha sekuat hati, semoga hidayah senantiasa menghampiri kita. Aamiin. Jadi kawan muslimah, sepeti inilah seni melangkah di bumi.

Narasumber : Farah Qonita
Penulis : Kenia Permata Sukma dan Sutra Eci Hutari
Editor : Wuddan Nadhirah Rodiana dengan sedikit perubahan oleh Mentari Kasih


  • 0

Diskusi KALAM #1 : Asap-asap Tak Teranggap, Apakah Kita Hanya Bisa Berdoa?

Category : Home

Diskusi KALAM #1 : 13 September 2019, di GSS E Salman ITB, 16.15 – 17.30 WIB
Moderator & Notulen : Aditya Firman Ihsan
Peserta Diskusi : Vonny, Adit, Hanif, Faris, Imam, Aziz, Suryo, Meri, Fitri, Ihsanti, Rafika, Vemi.

View post on imgur.com

Permasalahan asap di Sumatra dan Kalimantan merupakan masalah yang berulang tiap tahun sejak 1997 (atau bahkan lebih lama). Berbagai pemerintahan berganti, berbagai aturan ditetapkan, tapi seperti tidak ada hasil berarti. Tahun ini, dengan adanya kemarau panjang, keadaan semakin parah.

Masalahnya sekarang bukan ganti-ganti undang-undang. Kalau kita bicara hukum, sebenarnya produk hukum itu ada, tapi tidak dijalankan. Mau bagaimanapun inpres segala macam diotak-atik, selama lobbying di daerah kuat, ya tetap sulit. Yang bakar hutan itu tidak sedikit merupakan pemain besar, baik lokal maupun internasional. Paling tidak kalau perusahaan Amerika masih memperhitungkan masalah lingkungan.

Produk hukum memang ada, tapi implementasinya sendiri bukan hal mudah. Misal pemerintah ingin bersikap tegas terhadap itu, tapi tangannya sebenarnya terikat, karena yang nge-funding mereka orang-orang itu sendiri.  Kalau nonton film Sexy Killer, kurang lebih seperti itulah, namun itu lebih ke tambang. Terkait pemerintah pun selalu terlihat seperti tidak ada niat baik. Bagaimana mau ada niat baik ketika banyak orang-orang pusat pun memiliki saham di sana. Sebenarnya ya ahli-ahli ekologi kita pintar-pintar, tapi ketika supply chain management bertemu dengan political lobbying, tidak bisa apa-apa.

Ini bisa dilihat secara riil di Riau sendiri. Ketika pemain-pemain besar itu mulai bakar, ya polisi itu cuma lihat . Ketika misal muncul berita pun bahwa “telah ditangkap pelaku pembakaran hutan”, tapi ya itu semua Cuma kulit, Cuma ujungnya saja. Yang dibalik layar yang justru berbahaya, yang tidak pernah ter-expose. Lebih bahaya lagi karena pemerintah pusat sangat bergantung pada investasi-investasi di situ.

Khusus untuk sawit juga memang masalah tersendiri, karena itu seperti komoditas utama. Kita sukar untuk menjadi terlalu naif dengan, misalnya, menolak sepenuhnya penanaman sawit, karena toh kita sehari-hari menggunakan produknya. Sayangnya, sawit itu memang tanaman yang secara spesifik sekali berbuah dan sekali berbunga, sehingga memang cara termudah untuk produksi ulang adalah dibakar, terlebih lagi abunya bisa jadi pupuk. Untuk mencari substitusi sendiri sulit, misal diminta untuk nanam karet ketimbang sawit, keuntungannya jauh berbeda. Tidak akan mau keluar dari kenyamanan.

Dampak di riau sendiri tidak bisa dilihat sesederhana mengakibatkan infeksi saluran pernafasan. Karena dalam long term, hal tersebut bisa mengakibatkan penurunan IQ dan juga penyakit otak lain  yang berpotensi. Padahal pemerintah seharusnya punya kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari segi pendidikannya, namun juga melindungi dan menjaga lingkungan belajar itu sendiri. Selain itu, masalah lingkungan tidak bisa dilihat terpisah-pisah, karena kerusakan satu bagian lingkungan bisa berimbas kemana-mana dalam suatu ekosistem.

Masalah lainnya lagi, adalah informasi sendiri seperti terkontrol. Bisa diperhatikan bahwa cukup sedikit media yang memberitakan tentang asap ini. Bisa-bisa, nanti kasusnya seperti Papua, ketika keadaan Riau terlalu parah, maka informasi di Riau di-contain, diputus aksesnya. Terlebih lagi, pemerintah (sekarang) tidak bisa membedakan mana kritik mana cacian, sehingga seakan-akan semua arus informasi harus terkontrol. Di Jakarta aja sehari, waktu itu, AQI-nya lagi tinggi, menyamai Riau, itupun karena asap kendaraan, langsung berbagai orang ribut, memberi opini buruk ke pak Anies. Begitu Riau yang parah, langsung pada diem, seakan informasi itu memang di-contain

Tapi sebenarnya juga tidak semua korporat itu buruk, karena ada juga yang bener-bener mempertimbangkan enviromental cost.

Ini bisa ditarik mundur hingga ke konsep bernegara kita sebenarnya seperti apa. Karena ketika kita melakukan eksploitasi alam, bagaimana kita melakukan itu, mengolanya, dan hasilnya akan dijadikan apa itu sangat bergantung konsep bernegara kita. Bisa aja kita fokus ke industri lain, seperti penerbangan misalnya, tapi Indonesia sebagai negara berkembang, memang akan selalu mengandalkan sumber daya alamnya. Ini sering disebut sebagai resource cure atau paradox of plenty.

Kita harus melihat pertama-tama bahwa kita memang negara yang kuat dengan sumber daya alamnya. Banyak yang menganggap bahwa kekuatan itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai andalan industri kita. Di sini pentingnya konsep bernegara, karena apa yang dimaksud dari memanfaatkan potensi ini bisa berarti banyak hal, seperti bahwa itu bisa jadi pemasukan utama buat APBN. Namun, seringkali ini dimaknai secara parsial sehingga hal-hal seperti analisis dampak lingkungan tidak terperhatikan, karena sebenanrya kerusakan lingkungan (dan juga manusia) itu bagian dari kerugian, tapi tidak dianggap. Lucunya adalah seperti itu, banyaknya manusia yang sakit, lingkungan yang rusak, tidak diperhatikan sebagai kerugian. Ketika kita berbicara statistik, jrang sekali faktor-faktor tersebut dilibatkan. Apakah kehilangan warga negaranya dianggap sebagai kerugian ekonomi?

Apalagi sekarang dengan indonesia mengadopsi INSW (Indonesia National Single Window). Kalau dulu, investor sebelum masuk ke Indonesia harus dinilai dulu segala macam. Sekarang, dengan adanya INSW itu, investasinya dulu yang diutamakan, kajian sosial-lingkungan lain tu seakan bisa “ditunda”, sehingga berpotensi untuk menipulasi berlebihan. Ini salah satu hal yang menunjukkan sebenarnya perangkat hukum kita belum lah kuat. Problemnya tidak hanya di manusia pelaksana, namun produk hukumnya sendiri tidak punya dasar yang tetap. Ini yang dimaksud ini sangat bergantu knsep bernegara yang dipegang sebenarnya apa, karena konsep bernegara ini akan menentukan hukum seperti apa yang dihasilkan

Konsep bernegara ini bukan sesederhana pancasila dan UUD, karena keduanya pun bisa ditafsirkan dengan banyak cara. Seperti misalnya pasal 33 UUD, bahwa kemakmuran rakyat yang dimaksud di situ maknaya apa. Karena bila yang dilihat Cuma segi ekonomi, ya ukuran kemakmuran rakyat hanya akan selalu berdasarkan statistik perdagangan.

Ketidakjelasan konsep bernegara ini diperparah dengan ketidakjelasan ideologi politik di Indonesia. Indonesia punya partai politik namun kebanyakan tidak punya sikap yang jelas dalam bernegara, lebih cenderung oportunis dan populis. Hal ini semakin menciptakan kebingungan besar akan sebenarnya konsep dasar bernegara Indonesia saat ini.

Balik lagi akhirnya, bagaimana kita mau membuat produk hukum yang benar bila kita sendiri masih krisis identitas politik. Terlebih lagi bagaimana kita mau bisa menegaskan produk hukum itu bila penegaknya sendiri tidak punya konsep bernegara yng jelas.

Krisis politik dan konsep bernegara ini kompleks banget, apalagi bila terkait manusia, ini bisa ditarik jauh hingga ke masalah pendidikan. Namun, berhubung ini masih jauh di luar jangkauan kita, kecuali kita punya cara untuk confront para regulator, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanya Cuma bisa berdoa? Muncul beberapa usulan untuk jangka pendek, antara lain:

  1. Adakan gerakan kemanusiaan (Penggalangan dana, dan lain-lain)
  2. Bikin petisi
  3. Mencari alternatif yang lebih efektif selain masker sederhana, dan memberikan pencerdasan ke masyarakat terkait itu.
  4. Melihat secara terstruktur dari 5 hirarki K3: Elimnasi, Substitusi, Rekayasa/Reorganisasi, pengenadalian adminstrasi, dan APD.
  5. Mencari solusi praktis secara keilmuan. Terkait ini ada beberapa potensi inovasi yang bisa diterapkan, seperti
  • air purifier,
  • penyerap CO2 di bawah tanah,
  • manipulasi cuaca,
  • alternatif pengelolaan sawit,

Terkait ini, akademisi-akademisi terkait bisa diundang untuk diskusi terbuka lebih lanjut bagaimana implementasinya. Tentu selain ini ada solusi jangka panjang, dimana kita harus meningkatkan partisipasi dan kesadaran aktif kita dan masyarakat dalam wilayah politik-sosial-pendidikan, sehingga akar dari masalah pun bisa terselesaikan hingga ke ranah kebijakan.


Pencarian

Kalender

April 2020
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com