Kurangi Emisi dengan Carbon Capture dan Storage (CCS)

oleh: Yordan Wahyu Christanto

Foto: epa.gov

Foto: epa.gov

Saat ini perubahan iklim bukan hanya menjadi sebuah isu, tetapi telah berkembang menjadi suatu ancaman. Fenomena perubahan iklim ini terutama disebabkan karena terjadinya pemanasan global sebagai konsekuensi meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK), terutama gas CO2 di atmosfer. Konsentrasi CO2 ini semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya penggunaan energi fosil di muka bumi. Jika kondisi ini dibiarkan, maka dalam kurun waktu 3 dekade mendatang ancaman tersebut dapat berubah menjadi bencana berantai yang dimulai dari melelehnya lapisan es Kutub Utara, pola iklim yang berubah secara ekstrem, serta menjadi penyebab berbagai bencana global dan katastropis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan upaya yang konsisten dan terintegrasi, baik dalam mengubah pola penggunaan energi, pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih, atau menerapkan teknologi energi bersih sebagai upaya mengurangi laju emisi CO2 secara global.

Salah satu teknologi mitigasi untuk penurunan emisi CO2 dalam skala besar sambil tetap bisa meneruskan penggunaan bahan bakar fosil adalah melalui Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi ini menerapkan rangkaian proses mulai dari pemisahan dan penangkapan CO2 hingga menyimpannya ke dalam tempat penampungan (formasi geologi) untuk jangka waktu yang sangat lama. Teknologi ini secara teknis menawarkan langkah konkret dalam menangani volume emisi gas CO2 dengan menggunakan teknologi yang telah ada sebelumnya.

Sejak tahun 2006 UNFCCC telah merekomendasikan CCS sebagai salah satu opsi utama teknologi mitigasi penurunan emisi CO2 selain penggunaan energi baru terbarukan dan peningkatan efisiensi penggunaan energi. Dari berbagai perhitungan, diperkirakan penerapan CCS akan dapat berkontribusi hingga 20% dari semua upaya mitigasi global untuk menjaga stabilitas CO2 agar tidak melebihi konsentrasi 450 ppm di atmosfer pada tahun 2050 nanti.

yordan

Gambar: Yordan

Secara nasional, emisi CO2 yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 350 juta ton CO2. Dengan jumlah ini Indonesia masih dikategorikan sebagai negara low-emitter. Namun demikian, diperkirakan emisi CO2 dari sektor energi akan meningkat sampai 7 kali lipat di tahun 2030 dari level tahun 2005. Hal ini disebabkan karena kebutuhan energi semakin meningkat serta meningkatnya peran batubara dalam total penggunaan energi nasional.

Selain sebagai salah satu opsi teknologi mitigasi GRK, CCS dapat pula diterapkan untuk  keperluan peningkatan produksi migas melalui CO2-EOR (Enhanced Oil Recovery), untuk keperluan industri (dalam pembuatan minuman soda), berperan dalam Clean Coal Technology dan penerapan CCS sebagai upaya mitigasi CO2 merupakan kombinasi yang dapat saling menunjang teutama untuk mengkompensasi biaya CCS yang masih mahal.

Dalam pelaksanaannya, ada beberapa tantangan saat mengimplementasi CCS di Indonesia, yakni kebijakan, regulasi, dan alasan komersial. Namun, CCS juga memiliki dampak bagi lingkungan. Jika reservoir CO2 bocor, maka air di sekitar lahan penanaman CCS akan menjadi asam dan bisa merusak tanaman bahkan bisa meledak. Oleh karena itu untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan observasi yang akurat dan tepat, baik sebelum, selama, dan sesudah proses penginjeksian CO2 ke sub surface. Harus ada studi mendalam sebelum pemasangan CCS di sub surface, terkait dengan pemilihan lokasi target untuk menyimpan CO2, sehingga perlu dilakukan studi geologi dan geofisika untuk mengetahui karakteristik dari formasi batuan di sub surface yang akan menjadi reservoir CO2 (porositas, permeabilitas, penyebarannya), mengetahui adanya lapisan yang berfungsi sebagai caprock, dan mengetahui adanya kontrol struktur (fracture/fault) dan kontrol stratigrafi. Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai kestabilan lokasi target terhadap pengaruh tektonik dan harus jauh dari aktivitas vulkanisme. Selama proses penginjeksian, tekanan harus disesuaikan dengan kondisi geologi di sub surface, untuk menghindari terjadinya patahnya lapisan caprock dan ledakan dari gas CO2. Secara khusus, monitoring pasca injeksi harus dilakukan selama jangka waktu yang panjang. Dalam hal mengamankan CO2 yang tersimpan, sangat penting untuk melacak injeksi plume CO2 dalam reservoir dan mendeteksi kebocoran melalui caprock ke atmosfer.

Di Indonesia, CCS sudah diterapkan di beberapa titik, salah satunya di Gundih, Surabaya, Jawa Timur yang dimulai pada tahun 2011. Titik lain tempat percobaan CCS terdapat di Jawa Barat, seperti Jatibarang, Tambun, Sukabumi, dan Sumatera seperti Lapangan ADERA dan Lapangan Meruan.

Referensi :

http://www.esdm.go.id

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>