Daily Archives: May 6, 2018

  • 0

MENULIS NON-FIKSI, MASA GITU?

Category : Home

View post on imgur.com

BANDUNG – Departemen Media KAMIL Pascasarjana ITB kembali melaksanakan Sekolah Media pada Sabtu, 5 Mei 2018. Ini merupakan sekolah Sekolah Media yang ke-3 yang rutin dilaksanakan oleh Departemen Media KAMIL. Setelah mengusung tema mengenai Basic Design Graphic dan Pengolahan Website pada sekolah-sekolah media sebelumnya, pada Sekolah Media 3 kali ini, tema yang diangkat ialah Penulisan Non-fiksi; Membangun Jiwa Jurnalis Muda yang Kritis dan Kreatif. Dengan tema tersebut, diharapkan dengan sekolah media 3 ini akan menghasilkan para penulis baik pada media cetak, online maupun media sosial yang dapat bertanggung jawab terhadap apa yang dituliskannya dan selalu berlandaskan pada fakta.

Bertempat di Labtek V Ruang 7602 Kampus ITB, pemateri yang merupakan Manajer Pemasaran Koran Radar Bandung, Azam Munawar, membuka materi Sekolah Media 3 dengan menceritakan pengalaman beliau dalam mengemban amanah sebagai wartawan hingga menjadi pimpinan redaksi khususnya saat bertugas menulis pelbagai berita yang aktual dan faktual.

Dalam materinya, Beliau memaparkan bahwa dalam menulis sebuah berita atau artikel non-fiksi, harus disajikan dengan berimbang, sesuai kenyataan tanpa menambah dan mengurangi fakta yang ada, serta dengan menggunakan konsep 5W+1H. Dimana, fakta-fakta yang akan disajikan tersebut harus mencakup klarifikasi dari pelbagai pihak yang bersangkutan agar berita menjadi lengkap dan tidak terkesan sepihak. Selain itu, dalam penelusuran suatu permasalahan yang akan dijadikan topik tulisan, harus ditelusuri secara menyeluruh dan tidak setengah-setengah, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, namun menyuguhkan jawaban dari suatu permasalahan yang tengah terjadi.

Menurut beliau, semua orang bisa jadi wartawan dengan adanya perkembangan media sosial.  Media sosial menjadi tempat untuk memupuk kemampuan menulis, namun saat disalahgunakan maka akan menimbulkan berita-berita yang tidak berbobot dan tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan jurnalistik penting untuk disebarluaskan ke masyarakat agar masyarakat paham mengenai sistem kerja sebuah media, kode etik, UU Pers, dan untuk memerangi berita hoax yang kian tersebar di tengah-tengah masyarakat. Menyentil mengenai isu beredarnya berita Hoax, Azam menerangakan beberapa jurus  atau kiat-kiat yang dapat diimplementasikan yakni dengan melakukan penelusuran dan klarifikasi terhadap suatu isu. Kemudian, memaksimalkan peran masyarakat dan jurnalis yang bertanggung jawab baik di media cetak maupun media sosial dalam menyajikan berita yang sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Terakhir, diharapkan individu milenial juga tidak menelan mentah-mentah informasi yang disajikan untuk menumpas tuntas berita hoax ini.

Sempat menyentuh sedikit mengenai urgensi penulisan non fiksi dalam dakwah islam, dikatakan bahwa media dapat dijadikan sarana untuk menyebarkan materi dakwah yang sesuai Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum mengakhiri materi yang disajikan, Azam membagikan trik dalam menulis artikel non-fiksi di media cetak selain penggunaan Bahasa Indonesia EYD yang benar. Poin pertama yakni harus memilih tema yang membuat kita tertarik; kedua ialah memperbanyak dalam membaca referensi, baik buku/jurnal/koran/majalah yang berkaitan dengan tema. Kemudian menulis kerangka yang memiliki prolog dan epilog. Terakhir, yakni membuat opini khususnya judul yang provokatif agar menimbulkan ketertarikan pembaca  dan tidak melanggar SARA.

Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan dibukanya sesi tanya jawab yang berlangsung alot. Para peserta aktif dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, baik mengenai kasus intimidasi terhadap pers, kiat agar tulisan dapat dimuat di suatu media, EYD, kebebasan pers, hingga mengenai beredarnya berita yang menimbulkan stigma negatif masyarakat terhadap Islam. Menanggapi salah satu pertanyaan yakni mengenai pemberitaan negatif terhadap Islam, Azam berpendapat bahwa, memang terdapat oknum-oknum baik dari wartawan itu sendiri, oknum media, hingga oknum lainnya yang merupakan dalang adanya pemberitaan tersebut. Namun, apabila suatu media menuliskan konten yang bersifat menjatuhkan, tidak berkualitas, dan hoax, maka dipastikan akan mendapatkan balasannya, baik di dunia maupun di akhirat. Kemudian, sebagai masyarakat yang akan menyerap informasi maka kita harus dapat menyaring berita yang terpublikasi khususnya di media sosial dan sebagai muslim harus menunjukkan bahwa islam adalah agama rahmatan lil alamin yang tidak gampang terprovokasi, tidak main hakim sendiri, dan harus tabayyun terlebih dahulu dalam menyerap informasi.

Di penghujung acara, Azam berpesan bahwa dalam menulis, selain memerlukan banyak referensi yang terpecaya diperlukan pula objektifitas dalam melakukan kajian, banyak latihan, dan sikap pantang menyerah.

Meri Analis salah satu peserta mengungkapkan bahwa sekolah media kali ini temanya menarik untuk mahasiswa pascasarjana. “Tema kali ini sangat menarik dan membuka wawasan mahasiswa khususnya mahasiswa S2 agar melek jurnalistik.” Kata Meri Analis, Mahasiswi S2 Teknik Kimia ITB saat diwawancarai kru media.

Hal senada juga disampaikan oleh Nur Fadhilah Syarif . “Tema acaranya sangat menarik, apalagi bisa menghadirkan pemateri yang memang terlibat langsung dalam dunia jurnalistik. Semoga kedepannya tim Media KAMIL terus menyelenggarakan acara-acara keren dan bisa mengundang banyak peserta. Sukses terus untuk sekolah medianya.” Tanggap mahasiswa jurusan fisika ini.

Reporter: Zarah Arwieny Hanami


  • 0

My Pinky Guest

Category : Home

View post on imgur.com

BANDUNG – Menjadi seorang muslimah merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala, yang dalam menjalankan kodratnya sebagai wanita banyak hal yang harus dipahami agar dapat menyempurnakan ibadah yang dikerjakannya. Wanita memiliki suatu periode dimana diharamkan baginya menjalankan ibadah seperti shalat dan puasa, yakni pada saat mengeluarkan darah kotor, dan hal tersebut terjadi setiap bulannya. Pembahasan mengenai fiqh darah wanita (haid, nifas, dan istihadhah) merupakan pembahasan yang cukup sulit dan masih banyak wanita yang keliru dan bertanya-tanya untuk membedakan ketiga jenis darah ini, apalagi keadaan pada setiap wanita memiliki perbedaan satu sama lain.

Melihat urgensi tersebut, Departemen Kemuslimahan  Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarjana (KAMIL) ITB 2018, menggelar acara Cakrawala yang ke-2 pada Jum’at, 20 April 2018, dengan mengusung tema My Pinky Guest” Fiqh Darah Wanita : Haid, Nifas dan Istihadhah. Bertempat di GSG Masjid Salman ITB, KAMIL mengundang Ustadzah Masitoh, Lc. M.Pd.I yang merupakan pengajar di Ma’had Al Imarat Bandung sebagai pembicara.

Acara ini dihadiri  para muslimah dari berbagai kampus di Bandung dengan jumlah yang cukup banyak yakni 82 orang, apalagi dalam pembahasan Ustadzah Masitoh, beliau mengatakan bahwa fardhu ‘ain hukumnya bagi seorang wanita yang sudah baligh untuk menuntut ilmu mengenai fiqh darah wanita ini.

Dimulai pada 16.30 WIB setelah sesi tilawah, Ustadzah lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini mengupas tuntas mengenai ketiga jenis darah wanita yakni Haid, Nifas dan Istihadah menurut beberapa mazhab dan kiat-kiat dalam mengenal dan membedakan jenis darah tersebut. Beliau juga memaparkan ibadah apa saja yang dilarang bagi wanita yang tengah mengeluarkan ketiga jenis darah tersebut beserta hal yang diperbolehkan. Meskipun tergolong materi yang sulit, tetapi beliau membawakan materi dengan santai dan jelas sehingga mudah dipahami oleh para peserta.

Di penghujung acara, diadakan sesi tanya jawab bagi 6 orang peserta. Pertanyaan yang diajukan pun cukup beragam, mulai dari darah setelah mengalami keguguran, periode haid yang tidak teratur, keputihan hingga mandi wajib. Terakhir, acara ditutup dengan pemberian hadiah kepada 3 penanya pertama dan kenang-kenangan untuk Ustadzah Mashito.

Penulis : Zarah Arwieny Hanami


Pencarian

Kalender

May 2018
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com