Daily Archives: April 21, 2018

  • 0

  • 0

Agar Tidak Menjadi Buih [2]

Category : Home

Cerita ini ditulis oleh Zulkaida Akbar
Alumni ITB yang sedang mengambil program Phd di US, Florida State University.

________________________________________________________

Saya baru berbincang dengan kawan yg kini menjadi dosen di Malaysia; Negara tetangga yang kini mengungguli Indonesia di beberapa hal, termasuk riset dan jumlah publikasi ilmiah.

Kata kawan saya, secara Individu sebenarnya orang2 Indonesia lebih pandai dan kreatif. Namun Sistem dan budaya organisasi mereka lah yang membuat sekumpulan individu yang sebenarnya “kurang unggul” menjadi lebih unggul.

Kawan saya memang mendapat insentif yg lebih, mulai dari dana riset hingga akses data ke Petronas. Namun menyalahkan serta menganggap ketiadaan “insentif” sebagai faktor tunggal keTidak unggulan Indonesia saya kira tidak tepat.

“The first step to solve the problem is admitting that we DO have the problem.”

Sebenarnya saya tidak terkejut dengan pemaparan kawan saya, karena 9 tahun lalu ketika berkunjung ke Malaysia saya sudah membawa oleh2 sebuah hipotesis : Satu orang Indonesia jauh lebih unggul dibanding satu orang Malaysia, namun 10 orang Malaysia akan mengungguli 10 orang Indonesia.

Meski kita bisa bekerja sekeras China, seefisien Jerman dan sekreatif Amerika (seperti yang saya tulis di bagian pertama), Kita tetap akan kalah jika kita tidak memperbaiki hal2 terkait bagaimana kita berinteraksi, berOrganisasi (dalam apapun levelnya), atau dengan kata lain bagaimana BerMuamalah dengan sesama.

…………..

Di Amerika saya sering merasakan momen :”Ah, ternyata nggak segitunya.”, atau “Oh, gitu doang ternyata.”

Dulu saya punya imajinasi bahwa orang2 yg bekerja di Fermilab, Cern, SLAC, JLAB, atau accelerator partikel lainnya adalah orang2 Jenius. Namun setelah tiga tahun saya kerja di JLAB, juga setelah gaul dengan orang Fermilab dan Cern, terus terang kesan yg muncul adalah : “Ah, ternyata nggak segitunya.”

Setelah saya amati, orang2 disana sebenarnya punya skill yang spesifik dan biasa2 saja. Namun yang luar biasa adalah organisasi kerja mereka.

JLAB di desain tahun 1980an, dan Prof. Saya bilang kalau accelerator particle itu diDesain dengan teknologi yang belum ada pada saat itu. Hal ini dikarenakan pembangunan accelerator dengan berbagai part detectornya memerlukan waktu Belasan tahun. Jadi mereka harus “berspekulasi” terkait teknologi apa yang akan tersedia hingga 15 sampe 20 tahun kemudian.

Kira2 tim kerja seperti apa dibalik pembangunan Fasilitas yang jumlah part detector nya lebih banyak dibanding pesawat ulang alik? Bagaimana mereka bekerja membuat sesuatu yg diDidesain dengan teknologi yg belum ada pada saat desain diSahkan? Bagaimana mereka mengintegrasikan individu2 yg sebenarnya biasa saja?

Budaya Apresiasi

Akhirnya saya sadar, dibalik momen2 “Ah ternyata nggak segitunya” tersirat budaya organisasi yg luar biasa, yakni budaya apresiasi.

Saat saya baru melangkah riset, Prof. Saya sudah me”Marketing”kan saya dengan brand :”Zulkaida is the expert on the omega photoProduction .” Beliau mempromosikan saya kemana2, mempertemukan saya dengan theorist dari Rusia dan Jerman. Beliau juga mendorong saya untuk berbicara di konferensi internasional.

Bahkan, yang mengharukan adalah beliau mengalihkan undangan sebagai pembicara di Eropa ke senior saya yg mau lulus, untuk memberinya kesempatan membangun jejaring.

Padahal analisis saya masih jauh dari finish, dengan kata lain beliau mempertaruhkan reputasinya. Kan bisa saja akhirnya saya bikin malu beliau. Namun yang terjadi adalah satu lecutan agar saya bisa memenuhi ekspektasi Prof. Saya.

Seringkali kawan sekantor saya memanggil dengan antusias :”Hi zulkaida, Look what I have made!” Meski setelah saya lihat hanya sedikit improvisasi coding, tapi tetap saya bilang : “You did a great Job dude.”

Hal-hal semacam ini, alias budaya apresiasi lah yang membuat orang menjadi tekun dan bersenang2 dalam bekerja. Tak heran, alih2 “pembantaian” ketika sidang disertasi yang kita lihat malah bertaburan ungkapan2 “you did a wonderful job.”

Budaya apresiasi serta keberanian untuk memberi kesempatan pada anak muda untuk berbuat (termasuk berbuat salah) adalah salah satu kunci kreatifitas Amerika.

Ketika Leslie dewan membuat perusahaan pembangkit nuklir dengan teknologi salt molten reactor, selain usianya yg belum genap 30 dia juga belum PhD. Maka saya salut dengan beberapa Venture Capital yang mau meresikokan uangnya pada anak muda minim pengalaman.

Mungkin mereka sadar bahwa apresiasi dan memberi kesempatan adalah kunci pertumbuhan jangka panjang.

Bukankah Rasulullah juga mengangkat Usamah bin Zaid menjadi panglima saat usianya belum genap 20 tahun?

………….

Berbagai padahal?

Setiap manusia atau sekumpulan manusia (organisasi) tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya. Dan mohon maaf, saya amati orang Indonesia lebih jeli melihat keburukan alih2 kebaikan yang layak diApresiasi.

Padahal..
Bukankah Rahmat Allah mendahului Murka-Nya?

Padahal..
Ada riwayat tentang Hampir saja Allah menurukan Adzab, lalu Allah tahan karena ada hewan2 melata yang mencari Rezeki, orang2 tua yang berMunajat di waktu malam.

Padahal..
Ada riwayat tentang Malaikat yang diperintahkan untuk mengorek catatan kebaikan manusia, Allah memerintahkan malaikat untuk mencari alasan apapun agar si Manusia bisa masuk surga.

Bukankah itu semua anjuran agar kita lebih mengutamakan kebaikan yg kita lihat? Alih2 memperbesar besarkan keburukan? Mengedepankan Strength dibanding weakness? Opportunity dibanding threat?

Suatu saat ada seorang laki2 yang ingin mengadukan istrinya yang “rewel” ke Khalifah Umar. Namun ia urungkan, karena yg ia lihat justru Sayidina Umar yang diam saja ketika Istrinya ngomel2.

Kata Umar :” Saya berterima kasih karena istri saya sudah memasak, mencuci baju dsb. Jadi saya lebih baik diam bersabar saja.”

Bukankah itu anjuran untuk mengedepankan terima kasih (apresiasi) sebelum kemarahan?

………

Tiga tahun saya ngaji, inti pelajaran yg diajarkan guru saya hanya seputar : jangan membenci, jangan Suudzon, jaga Silaturahmi. Beliau jg mengajarkan tiga komponen dakwah : Benar, baik dan juga Indah.

Oleh karena itu, meski saya ini orang NU/Muhamaddiyah, tapi saya membenci dan menghindari wacana yang membenturkan antara Islam Nusantara dengan gerakan Islam TransNasional.

Meski kadang tidak sejalan dengan “political movementnya”, Namun saya mengApresiasi gerakan tarbiyah dimana bagian dari perjuangannya berbuah kebebasan BerJilbab (contohnya). Seingat saya, sampai tahun 2000an Foto ijazah mengharuskan telinga dan rambut terlihat, memaksa kawan2 putri melepas Jilbabnya.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski tidak setuju dengan ide pokok Hizbut Tahrir, Namun saya mengAmini bahwa Institusi Politik adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan dakwah. Bukankah Wali songo dulu juga mendirikan institusi politik bernama kerajaan Demak? Juga Cirebon?

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski kadang agak tidak sejalan dengan “rigid”nya kawan2 Salafi, namun saya mengApresiasi niat mereka untuk menjaga. Bukankah Lata, Uzza dan berhala2 lain di Jaman Rasul dulunya adalah orang2 sholeh? Mereka adalah orang Sholeh yang kemudian berevolusi dari dicintai, dikagumi, dikenang, hingga diJadikan berhala. Jadi saya berprasangka baik bahwa rigid nya kawan Salafi (diantaranya) adalah untuk menjaga agar kejadian memBerhalakan orang Sholeh tidak terulang lagi.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

……….

Kenapa ini penting?

Karena budaya apresiasi akan meminimalisir konflik2 yang tidak perlu alias tidak produktif.

Jaman saya kuliah, kami pernah mengadakan lokakarya yang berujung debat semalam suntuk membahas tata tertib. Seakan semuanya kompak mencari celah untuk dikritisi. Hasilnya : mangkrak!

Kini, dengan filosofi diatas saya dan satu orang kawan saya menginisiasi Indonesian student association disini. AD/ART dibuat sejam (tentu saja banyak celahnya). Lantas pelan2 mulai dari buat acara Indonesian night yang sederhana, berlanjut dengan menjalin kontak dengan persatuan Indonesia se Florida, mengundang mereka ke FSU, hingga bikin acara bareng dengan asosiasi student se-ASEAN, serta mengontak media kampus agar acara tersebut diLiput koran kampus. Semua terwujud dalam waktu kurang dari 6 bulan, dengan filosofi mengedepankan apresiasi diatas kritik.

………..

Epilog

Saat ini saya sedang membaca buku berjudul Organizing genius : The secret of Creative Collaboration. Buku ini menceritakan bagaimana cara kerja beberapa tim seperti Manhatan project (yang bikin bom atom) hingga tima rahasia “skunk works” (yang mendesain jet tempur US saat perang dunia).

Kesimpulan sederhananya, setelah memperbaiki produktifitas (inti dari tulisan saya di bagian pertama), Hal selanjutnya yg harus diperbaiki adalah tentang bagaimana sikap, mental dan attidude dalam berkelompok/organisasi (saya mulai dari budaya apresiasi di tulisan ini).

__________________________________________________________

Baca juga: Agar Tidak Menjadi Buih Part 1 : http://kamilpasca.itb.ac.id/agar-tidak-menjadi-buih-1/


  • 0

Agar Tidak Menjadi Buih [1]

Category : Home

Cerita ini ditulis oleh Zulkaida Akbar
Alumni ITB yang sedang mengambil program Phd di US, Florida State University.

__________________________________________________________

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan-kawan di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan-kawan sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me”Like” berita-berita republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Mudah diterka, karena  bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube-nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan-kawannya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siangnya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama-sama menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :”If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :”If I can work as efficient as you, I  will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBook-an, Youtube-an dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

 ………….

 Bagaimana dengan Amerika?

Sekarang sedang demam Pokemon-Go, Game yang diprediksi kelak akan sepowerful Facebook, Sampai ada tulisan “Macroeconomic analysis of Pokemon Go”. Nyatanya, meski si pokemon didapat dari Nintendo (jepang) namun basis google earth dan augmented reality nya dari Amerika.

Dan semua trend semisal data science, uber, big data, crowdfunding, AirBnB, Tesla sampai flying car juga berasal dari Amerika.

Kekuatan Amerika terletak pada keberaniannya untuk mencipta apa yang belum ada. Meski kesenjangan disini sangat tinggi, Amerika punya orang2 dengan kreatifitas dan keberanian luar biasa untuk mencipta sesuatu yang sama sekali baru.

Tengoklah keberanian leslie dewan, pemudi lulusan MIT yang mendirikan perusahaan pembangkit Nuklir yang menjanjikan terobosan2 teknologi dalam usia yang belum genap 30 tahun (transatomic energy). Tentu tengok pula keberanian venture capital yang mendanainya.
………….

 Bagaimana dengan China?

 Dua nama yang saling bertegur sapa dengan Si Indonesia, dini hari di Nuclear Research Building adalah Wei Cha dan Jun Ji.

 Memang tidak ada yang meragukan etos dan jam kerja sang Naga.
………….

 Mantra?

 Almarhum Prof. Iskandar Alisjahbana, rektor ITB yang legendaris tersebut terkenal dengan jargon dan visinya untuk “MenYahudikan Pribumi”.

 Tapi si Indonesia punya mantra yang lain : Jam Kerja China, Efisiensi Jerman, Kreatifitas dan Keberanian Amerika.
…………

 Epilog? Berbagai padahal.

 Apa kaitannya dengan judul postingan : Agar tak menjadi buih?

 Merupakan nubuwat Kanjeng Nabi bahwa Umat Islam ini jumlahnya banyak, tapi ibarat buih; tak berkualitas.

 Padahal..
Dalam surat Al Ashr Allah bersumpah demi sang waktu.

 Padahal..
Orang Sholeh dulu jika siang ibarat singa dan jika malam ibarat Rahib (pembagian waktu yang clear, distinct).

 Padahal..
Bagian dari iman adalah menjauhi hal yang sia sia (selalu produktif).

 Padahal..
Kanjeng Nabi sudah memperingatkan kalau nikmat yang sering terlupakan adalah waktu luang, kesempatan (Nasihat untuk deadliner seperti saya).

 Padahal..
Allah sudah mempersilahkan/menantang hamba-Nya untuk menembus langit, dan tidaklah kita dapat menembusnya “illa Bi Shulthon” , kecuali dengan kekuatan/ilmu pengetahuan (Keberanian untuk mencoba, termasuk hal2 yg sebelumnya belum pernah ada).

 Padahal..
Dalam surat Al Inshirah Allah berfirman : “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh2 (Urusan yang lain).”   (Perintah untuk tidak menunda2).
………..

Maka si Indonesia yang beragama Islam ini pun kemudian berpikir bahwa tidaklah perlu menjadi Jerman, China, atau american.

 Cukup menjadi Islam saja.

Si Indonesia ini juga tersadar, bahwa mengubah peradaban mustahil tanpa mengubah diri sendiri.

Gagasan memang Memiliki kuatan, namun Keteladanan jauh lebih kuat dibanding gagasan.

Dan Allah mencintai Hamba-Nya yang produktif (self reminder).

Semoga tangan ini dapat merengkuh dunia, namun tidak satu biji zarah pun masuk ke hati.

__________________________________________________________

Baca juga: Agar Tidak Menjadi Buih Part 2 http://kamilpasca.itb.ac.id/agar-tidak-menjadi-buih-2/


Pencarian

Kalender

April 2018
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com