Monthly Archives: April 2018

  • 0

Niat Ikhlas dan Keistiqomahan

Category : Home

View post on imgur.com

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kawan-kawan, salah satu dari syarat diterimanya ibadah adalah niat ikhlas. Niat ikhlas adalah saat kita memurnikan amal perbuatan dari seluruh tujuan-tujuan apapun, kecuali karena Allah Subhanahu Wa Taala. Murni tujuannya karena Allah Subhanahu Wa Taala, itulah ikhlas.

Allah berfirman dalam Alqur’an, surah Al-Bayyinah ayat 5;

Auudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim

Wa maaa umiruuu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahuddiina hunafaaa-a wa yuqiimush-sholaata wa yu’tuzzakaata wa dzaalika diinulqoyyimah.

Dan tidaklah mereka semua diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas, semata-mata karena menjalankan agama juga agar melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan itulah agama yang lurus (benar).

Kawan-kawan yang dirahmati oleh Allah, poin pertama dari mengapa kita perlu melaksanakan amal ibadah secara ikhlas adalah karena ikhlas ini merupakan pokok agama. Diterima atau tidaknya semua amal ibadah tergantung pada niat ini. Jika niatnya benar karena Allah, maka ia ikhlas. Jika ia ikhlas, maka ia telah menjalankan agama yang lurus dan ibadahnya pun diterima.

Lain halnya apabila amal ibadah kita adalah karena hal lain, maka ibadah tersebut akan sia-sia dan tidak ada ruhnya. Ibadah tersebut hanya akan membuat pelaksananya capek dan lama kelamaan ia akan kecewa dengan amal perbuatannya.

Niat itu juga terkait dengan kesadaran kita bahwa hisab pada hari akhirat nanti bersifat individual. Kita akan dihisab terkait amal ibadah kita sendiri dan kita tidak akan ditanya tentang amal ibadah orang lain.

Misal ketika kita sedang mengurus suatu program kerja, kita akan ditanya tentang apa yang seharusnya bisa kita lakukan dan apa yang kita lakukan terhadap hal tersebut. Kita tidak akan ditanya tentang apa yang dilakukan oleh Kang Dimas Jalaluddin sebagai Sekretaris Umum KAMIL. Kita tidak akan ditanya tentang Mas Zainul yang mengurus Fundrising KAMIL, tapi kita akan ditanya tentang apa yang dilakukan oleh diri kita sendiri.

Bisa jadi di lingkungan orang-orang sekitar kita tidak amanah dalam menjalankan tugas-tugasnya. Hal tersebut seharusnya tidak mempengaruhi performa kita dalam melaksanakan amanah. Kita tetap saja harus menjalankan apa yang bisa kita lakukan. Lakukanlah semuanya karena Allah Subhanahu Wa Taala.

Mungkin suatu hari kita akan menemui atasan yang menyulitkan. Tenanglah kawan, kita tidak akan ditanya tentang orang tersebut. Kita akan dihisab di akhirat kelak tentang apa yang kita lakukan saat ada orang lain yang menyulitkan kita. Begitu pun sebaliknya, saat ada orang lain yang berbuat baik kepada kita, maka perbuatan baiknya tersebut untuk dirinya sendiri dan dia akan mendapat balasan sesuai perbuatannya terlepas apa yang kita lakukan kepada orang yang telah berbuat baik tadi. Jika kita bersyukur, kita akan mendapat kebaikan. Tapi jika kita sombong dan menyinggung yang memberi kebaikan, maka keburukannya untuk kita sendiri.

Contoh lainnya adalah saat kita menghadiri suatu pertemuan yang tidak kondusif, dimulainya telat dan suara kurang terdengar dengan baik. Jalani semuanya karena Allah, hadirlah tepat waktu meskipun orang lain datang terlambat. Tetaplah jadi anggota rapat yang baik saat yang lain justru bercanda. Tetaplah menjaga komunikasi meskipun ada yang tidak. Lakukan semuanya karena Allah. Allah tidak pernah luput dari apa yang dilakukan olah hamba-Nya dan Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan.

Lakukanlah semuanya dengan ikhlas karena Allah. Kita tidak akan ditanya tentang apa yang dilakukan orang lain. Tapi kita akan ditanya tentang apa yang telah kita lakukan.

Kawan-kawan yang dirahmati oleh Allah, niat ikhlas itu terkait dengan keberhasilan Da’wah kita di Lembaga Dakwah Kampus Pascasarjana yang kita jalani ini.

Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan dakwah di ITB dan Indonesia itu tetap diatur oleh Allah. Kita bisa saja memiliki tim media yang mumpuni, koneksi ke pemateri yang hebat, tim yang sangat hebat kompetensinya, tim fundrising yang sangat produktif, namun jika Allah menetapkan dakwahnya tidak mengubah mad’u (target dakwah) pasti tidak akan bisa.

Kita diingatkan lagi bahwa keberhasilan dakwah kita itu tetap Allah yang menentukan. Boleh jadi kita sudah mengeluarkan banyak effort dalam berdakwah, ternyata hasilnya tidak sesuai ekspektasi, sehingga membuat kita kecewa.

Ingatlah kawan, bahwa keberhasilan dakwah itu diatur oleh Allah. Sehingga keberhasilan dakwah bukanlah hal yang menjadi tujuan utama kita. Tujuan kita adalah balasan dari Allah, bukan balasan dari mad’u (target dakwah). Niat yang tulus dan kesungguhan kita dalam berikhtiar yang akan mengantarkan kita pada tujuan yang hakiki.

Allah berfirman dalam Alqur’an Surah Al-Hajj ayat 37;

Lay-yanaalalloha luhuumuhaa wa laa dimaaa`uhaa wa laakiy yanaaluhut-taqwaa mingkum

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu.

Dan ingatlah kembali kawan, Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan. Jika kita telah ikhlas dan bersungguh-sungguh, Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya. Objek dakwah tentu akan mengecewakan, manusia tentu akan mengecewakan. Atasan, anggota, tentu akan mengecewakan. Tapi Allah, tidak pernah mengecewakan orang-orang yang beramal lillaahi ta’ala.

Niat ikhlas juga terkait dengan apa yang kita lakukan di KAMIL. Berdakwah melalui lisan ataupun tulisan akan tergambarkan dari niat yang ada di dalam hati.

Kawan-kawan yang dirahmati Allah, ketahuilah apa yang keluar dari seseorang itu tergantung dari apa yang menjadi niatnya, yaitu apa yang ada di dalam hatinya. Jika niat dan hatinya baik, maka baik pula yang keluar dari dirinya.

Jika kita berniat menyampaikan sesuatu yang baik, pastilah yang disampaikan pun akan baik. Lain halnya dengan orang yang memiliki maksud buruk dibalik perkataannya yang terdengar baik, pasti yang akan diterima oleh orang lain tetaplah buruk.

Ketahuilah, sebetulnya syiar kita adalah seperti mulut teko. Apa yang keluar darinya, berasal dari apa-apa yang ada di dalamnya.

Tidak mungkin akan keluar madu dari mulut teko, jika di dalam teko tersebut isinya adalah air keruh. Jika isi teko tersebut adalah air keruh, pastilah yang keluar dari mulut teko adalah air keruh juga, mau bagaimanapun orang lain memuji atau membohongi kita terkait air keruh yang keluar tersebut.

Tidak mungkin keluar air teh manis jika yang ada di dalam teko adalah air kopi. Teko yang berisi air kopi pasti mengeluarkan air kopi juga. Jika kita mengharapkan teh manis yang keluar dari teko, maka siapkanlah air teh manis di dalam teko tersebut.

Syiar kita itu seperti mulut teko, jika niat kita tidak ikhlas yaitu mengharap pujian dan sanjungan orang, pastilah hati akan menjadi keruh dan yang keluar pun juga akan terasa keruh. Ia akan tetap keruh mau bagaimanapun kata-kata tersebut dibungkus dengan untaian kata mutiara maupun dengan kemampuan media yang kita miliki.

Lain halnya jika niat kita baik dan hati kita baik, maka pasti yang keluar pun akan baik. Meskipun kita belum sempurna dalam pengemasan, belum sempurna dalam penyampaian, tapi pastilah yang dikeluarkan akan baik.

Kawan-kawan, syiar yang kita lakukan itu seperti mulut teko, apa yang keluar darinya tergantung dari apa yang ada di dalamnya.

Terakhir, saya hendak menyampaikan tentang keistiqomahan.

Ketahuilah kawan-kawan sesungguhnya jika seseorang melaksanakan amalan secara ikhlas, maka keistiqomahan akan ia dapatkan.

Ada seorang dosen yang sangat baik performanya dalam mengajar, dan ia juga sangat baik dalam penelitian yang ia lakukan, sehingga suatu saat ia mendapat penghargaan sebagai dosen terbaik. Lalu seorang dosen peraih gelar dosen terbaik itu dipuji terkait penghargaan dosen yang ia dapatkan. Namun setelah dipuji, dosen tersebut justru menyampaikan “Alhamdulillaah.. tapi ah, itu mah biasa saja, hanya jadi salah satu bagian cerita dari hidup ini. Biarkanlah berlalu.”

Dari kejadian tadi, kita semua mungkin berpikir, “Lho, itu kan keren banget udah jadi dosen terbaik.. tapi kok beliau malah bilang biasa aja ya?”

Ketahuilah kawan-kawan, hal tersebut adalah tentang visi hidup.

Biasa saja, karena itu bukan tujuan dari dosen tersebut menjadi dosen. Tujuannya jauh lebih mulia daripada sekedar menjadi dosen terbaik. Tujuan besar yang masih jauh itulah yang membuatnya biasa saja dan tetap melanjutkan performa baiknya dalam pekerjaan yang ia jalankan.

Ini tentang tujuan sebenarnya dari apa yang kita lakukan di dunia ini. Penghargaan dari makhluk seharusnya bukanlah yang kita inginkan dari setiap usaha kita di dunia. Selesainya suatu program bukanlah akhir dari perjuangan. Tercapainya poin-poin indikator keberhasilan suatu program bukanlah tanda perjuangan kita di dunia ini selesai. Penghargaan dari manusia bukanlah hal yang membuat kita merasa senang secara berlebihan. Itu menjadi sedikit pelipur lara agar kita segera melanjutkan perjuangan kita.

Salah, kalau tujuan hidup kita adalah untuk jadi direktur suatu perusahaan, karena kalau sudah jadi direktur, lalu apa?. Salah, kalau tujuan hidup kita adalah punya banyak harta, karena kalau sudah punya banyak harta, lalu apa?. Salah, kalau tujuan hidup kita adalah untuk menikah, karena kalau sudah menikah, lalu apa?.

Apa? Apa yang menjadi tujuan kita melakukannya? Jika memang teman-teman sudah mendapatkannya, silakan berhenti. Ya, silakan berhenti saja dalam perjuangan jika sudah merasa puas, atau terpuaskan dengan hal-hal duniawi. Silakan berhenti saja jika memang sudah merasa jenuh, putus asa tidak tahu mau bagaimana dan mengutuk berbagai keterbatasan.

Kampus ITB yang menjadi kampus madani? Belum, belum tercapai. Apa? Apa yang menjadi tujuan kita?

Teruslah berjuang, kawan… teruslah beramal, istiqomah, karena balasan kita bukan apa-apa yang ada di dunia ini. Teruslah beramal dan istiqomah, karena seharusnya kita semua belum sampai sama sekali di garis finish, saat kita masih membaca tulisan ini.

Teruslah ikhlas, istiqomah, kawanku.

Penulis: Reka Ardi Prayoga (Ketua KAMIL 2018)


  • 0

Islam dan Tantangan Bahasa

Category : Home

View post on imgur.com

Bahasa adalah elemen penting dalam aktivitas intelektual manusia. Lewat bahasa, kita memahami sesuatu, baik dalam bentuk komunikasi lisan maupun tulisan. Begitu pentingnya peran bahasa dalam kehidupan, ada sebuah ungkapan yang menyatakan “bahasa menunjukkan bangsa” atau “bahasa menunjukkan budaya”.

Lebih dari itu, bahasa dapat dijadikan tolok ukur kemajuan peradaban masyarakat pengguna bahasa tersebut. Di abad pertengahan, ketika Islam menjadi peradaban yang memimpin, bahasa Arab praktis menjadi bahasa internasional dalam bidang sains, teknologi, ketatausahaan, hubungan internasional, dan perdagangan.1 Oleh karena itu, bahasa lain – misalnya bahasa Inggris – harus menyesuaikan diri dengan temuan-temuan Muslim di bidang-bidang tersebut. Sebagai contoh, dalam bidang anatomi mata misalnya, kata kornea (cornea) yang merujuk pada bagian jernih mata yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu dan partikel membahayakan lainnya sebenarnya diambil dari bahasa Arab al-Qarniyyah, yang berarti tanduk. Penamaan al-Qarniyyah sendiri sebenarnya dicetuskan oleh Ibnu Haytsam dalam kitab Manāẓir, karena menemukan keserupaan warna kornea dan tanduk putih dari segi kejernihannya.2 Begitu juga ilmu aljabar (algebra), yang berasal dari kitab Al-Khawārizmī yang berjudul al-jabr wa’l-muqābala.3

Namun demikian, ibarat roda berputar, ada yang dinamakan kaidah pergiliran. Sekarang, peradaban Barat-lah yang sedang menjadi pemimpin. Jika dulu pada saat peradaban Islam sedang memimpin, temuan-temuan ilmiah terbaru selalu dalam bahasa Arab, maka sekarang ketika peradaban Barat yang memimpin, temuan-temuan ilmiah terbaru pun dinamai sesuai dengan bahasa peradaban Barat – katakan, bahasa Inggris misalnya. Ambillah contoh penemuan terbaru dalam beberapa puluh tahun terakhir, seperti televisi (television) dan sinar laser (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation). Kosakata dalam bahasa Inggris tersebut diserap ke dalam bahasa Arab menjadi تلفاز dan الليزر, berturut-turut.

Sesungguhnya kaidah “pinjam-meminjam” merupakan sesuatu yang wajar dalam kaidah bahasa. Hal ini juga menunjukkan bahwa bahasa tidaklah netral – ia sangat dipengaruhi oleh masyarakat penggunanya, baik dari segi konsep nilai yang dianut, kondisi sosiologis, kemajuan teknologi, dll. Akan tetapi, perlu diingat bahwa konsep “meminjam” hanya relevan untuk sesuatu yang tidak kita punyai (atau jumlahnya kurang) dan orang lain mempunyainya. Untuk kalimat yang memang sudah ada padanannya dalam bahasa setempat, “peminjaman bahasa” tidak perlu dilakukan.

Sayangnya, filosofi “meminjam” ini terkadang absen dari kalangan sebagian Muslim. Sebagian Muslim ada yang berhasrat untuk menyajikan kosakata kunci Islam4 dalam bahasa Inggris, namun tidak disertai dengan kehati-hatian sehingga distorsi makna terjadi.5 Sebagai contoh, ambillah kata “shalat”. Kalimat tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris secara sembrono sebagai “prayer”. Padahal, ada perbedaan kentara antara “shalat” dan “prayer”. “Prayer” adalah komunikasi dengan apapun yang dianggap sebagai Tuhan, tanpa memikirkan siapa Tuhan yang dimaksud, bagaimana cara komunikasinya, kapan komunikasi tersebut dilaksanakan, dan dimana komunikasi tersebut dilakukan.6 Sementara itu, “shalat” dalam syari’at Islam harus dilaksanakan lima kali sehari pada waktu yang ditentukan, memiliki rukun-rukun pelaksanaan, terdapat tempat yang boleh/tidak boleh dilakukan shalat, dan yang paling penting harus ditujukan semata-mata karena Allah dan bukan sembarang Tuhan.

Kata “zakat” juga tidak boleh diterjemahkan secara sembrono menjadi “charity”, “alms”, “poor-due”, atau “alms-giving”. Kata-kata bahasa Inggris tersebut digunakan untuk merujuk pada tindakan memberi (dengan jumlah yang cukup) secara sukarela dan dermawan, dan dengan niat untuk menolong orang-orang yang membutuhkannya. Konsep tersebut sebenarnya lebih cocok diterjemahkan sebagai “ṣadaqah”. Sementara itu, “zakat” memiliki nominal spesifik (2.5%) dan pelaksanaannya wajib bagi setiap Muslim (bukan sukarela).7 Kedua contoh inilah yang disebut Ismā’īl Rājī Al-Fārūqī sebagai distortion through translation (penyimpangan makna lewat penerjemahan).8

Selain distorsi lewat penerjemahan/translasi, distorsi lewat transliterasi pun patut diperhatikan. Ambillah misalnya, kata bahasa Arab  تعليم(pengajaran) yang terkadang salah ditransliterasikan sebagai taklīm. Padahal, taklīm (تكليم , menggunakan ك bukan ع) dalam bahasa Arab berarti percakapan. Oleh karena itu, majelis taklīm dapat berganti makna menjadi majelis obrolan, bukannya majelis pengajaran seperti yang dikehendaki.

Senada dengan Al-Fārūqī, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mencatat bahwa terjadi distorsi terhadap kosakata kunci Islam. Hal inilah yang beliau namakan sebagai deislamisasi bahasa (de-islamization of language).9 Makna dari kosakata kunci Islam tidak lagi dipahami berdasarkan pandangan alam (worldview) Islam, sehingga maknanya pun berubah total.

Ambillah contoh kata “Islam”. Menurut W.C. Smith (teolog terkemuka asal Kanada), Islam bukanlah nama suatu agama tertentu. Ia adalah kata kerja, yaitu sikap berserah diri secara total (aslama) kepada Tuhan.10 Definisi ini problematis, sebab definisi “Islam” versi W.C. Smith tidak menspesifikkan siapa Tuhan yang disembah dan bagaimana cara menyembahnya. Dari pemahaman mengenai “Islam” yang tidak komprehensif, dapat ditebak, lahir pula kesimpulan yang membingungkan. Hal ini dapat kita temukan misalnya, dalam penelitian Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari yang menempatkan New Zealand sebagai negara paling “Islami”. Negara-negara dengan mayoritas penduduk Non-Muslim mendapatkan peringkat atas sementara negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia harus puas berada di posisi 140.11 Sayangnya, penelitian tersebut hanya melihat tingkat keislaman (Islamicity Index) dari hal-hal yang sifatnya muʿāmalāt seperti aktivitas ekonomi, HAM, dll. Sayangnya, peneliti tersebut lupa bahwa dalam Islam, amal tanpa keimanan tidaklah berarti (Q.S. An-Nuur (24): 39).

Hal ini jauh berbeda dengan definisi “Islam” menurut Rasulullah SAW yang terdokumentasikan dengan baik dalam Hadits Arba’īn Nawawīyah no. 2 dan 3. Islam adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, mendirikan shalat, berzakat, shaum Ramadhan, dan berhaji jika mampu. Dapat kita pahami, bahwa dalam definisi ini syahadat ditempatkan sebagai unsur yang penting dalam keislaman, berbeda dengan “Islam” versi W.C. Smith dan Hossein Askari yang hanya fokus pada lini amaliyah tanpa mengabaikan aspek keimanan.

Itulah sekelumit contoh tentang bagaimana bahasa sangat dipengaruhi oleh peradaban dan worldview pengguna bahasanya. Sebagai seorang Muslim, sudah barang tentu kita harus memahami Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh. Dalam memahaminya, bahasa harus diperlakukan secara hati-hati karena ia merupakan salah satu medium sampainya makna dan pemahaman kepada jiwa. Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam berbahasa!

Penulis: Juris Arrozy (Departemen Syi’ar)

Daftar Pustaka:

[1] Ismā’īl Rājī Al-Fārūqī, Toward Islamic English, Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1995, hlm. 12.

[2] Usep Muhammad Ishaq, Ibn Al-Haytham Sang Pembawa Cahaya Sains, Depok: Indie Publishing, 2015, hlm. 94-95.

[3] Dr. Wido Supraha, M.Si., Pemikiran George Sarton & Panduan Islamisasi Sains, Depok: Yayasan Adab Insan Mulia, 2017, hlm. 176.

[4] seperti iman, Islam, adab, ilmu, shalat, zakat, dll.

[5] Lihat Ismā’īl Rājī Al-Fārūqī, Toward Islamic English, hlm. 11.

[6] Ibid.

[7] Ibid, hlm. 12.

[8] Ibid, hlm. 11.

[9] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1995, hlm. 32.

[10] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Jakarta: Gema Insani, 2005, hlm. 359.

[11] Lihat laporannya di Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari, How Islamic are Islamic Countries?, Global Economy Journal, Issue 2, Article 2, 2010.


  • 0

KAMIL at-Thalib Rabbani, Lc

Category : Home

Visi KAMIL Pascasarjana ITB 2018: Leading, Caring

“KAMIL Pascasarjana ITB 2018 yang Leading dan Caring, untuk mewujudkan Kampus ITB dan Indonesia yang madani.”

Leading yang dimaksud di sini adalah kondisi KAMIL Pascasarjana ITB yang terdepan, juara dalam berbagai aspek terutama aspek kualitas SDMnya, kekeluargaannya, dan performa da’wahnya.

Caring yang dimaksud di sini adalah kondisi KAMIL Pascasarjana ITB yang senantiasa menanamkan niat pada dirinya untuk senantiasa peduli dan melayani, bukan ingin dipedulikan dan dilayani. Memosisikan diri sebagai penyalur kebaikan-kebaikan kepada berbagai pihak, bukan sebagai penikmat balasan manusia. Beramal terus memberi kepada sekitarnya, mengharapkan balasan hanya dari Allaah swt.

Mewujudkan ITB dan Indonesia yang Madani menjadi pengingat kita semua bahwa aktivitas kita di KAMIL Pascasarjana ITB ini adalah suatu bagian ikhtiar kita untuk mewujudkan 2 tujuan dakwah kampus: Mensuplai alumni kampus yang berafiliasi terhadap Islam dan Mengoptimalkan peran kampus untuk mentransformasi masyarakat menuju masyarakat madani. Melalui aktivitas kita semua di KAMIL Pascasarjana ITB ini, diharapkan lahir intelektual-intelektual muda yang profesional dalam bidang yang digelutinya dan tetap memiliki ikatan dan keberpihakan yang tinggi (afiliasi) terhadap Islam. Merekalah pembaharu-pembaharu yang dapat melakukan perubahan-perubahan kondisi masyarakat menuju kehidupan islami hingga akhirnya terwujudlah cita-cita kebangkitan Islam.

Poin-Poin Ciri Visi

Beberapa poin ciri KAMIL Pascasarjana ITB yang Leading, dan Caring, sehingga meluluskan alumni-alumninya yang akan bergelar “Lc.” (Leading – Caring). Daftar ini diurutkan dengan alasan tertentu. Nomor 1 adalah hal yang paling menunjukkan Leading, dan berangsur-angsur kepada nomor 5 yaitu hal yang paling menunjukkan Caring.

  1. Anggota Aktif KAMIL Pascasarjana ITB yang menjadi teladan di manapun ia berada
  2. KAMIL Pascasarjana ITB yang besar
  3. Pengurus yang mewariskan Sistem
  4. KAMIL Pascasarjana ITB sebagai Keluarga
  5. Syiar yang menyeluruh dan Pelayanan yang luar biasa

Anggota Aktif KAMIL Pascasarjana ITB yang menjadi teladan di manapun ia berada

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl, 16:125)

Yang dimaksud dengan teladan adalah anggota aktif tersebut harus sebisa mungkin menunjukkan bagaimana pribadi muslim yang baik. Hal-hal tersebut di antaranya adalah menghargai waktu, amanah, ramah, terbina dengan baik, penampilannya baik, mampu memimpin, dsb.

Di manapun ia berada yang dimaksud adalah anggota aktif tersebut harus tetap menjadi teladan baik ia berada di lingkungan KAMIL, atau lingkungan lain misalnya di keluarganya, dalam aktivitas perkuliahan, laboratorium, maupun di organisasi lain yang ia ikuti.

KAMIL Pascasarjana ITB yang Besar

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran: 139).

KAMIL Pascasarjana ITB yang besar yang dimaksud di sini adalah KAMIL harus mampu bergerak sebagai organisasi yang seutuhnya, yang mampu bekerjasama dengan berbagai pihak yang bisa memperkuat gerak KAMIL Pascasarjana ITB. KAMIL harus mampu melakukan pendekatan dan bekerjasama dengan Rektorat, Forsi Himmpas, Himpunan Mahasiswa, Masyarakat, dan lembaga atau organisasi lainnya.

Selain itu, KAMIL Pascasarjana ITB yang besar ini juga ditunjukkan dengan kemampuan organisasi yang baik. Di antara kemampua organisasi yaitu terkait Human Resources (telah dibahas di bagian Kader KAMIL), Marketing (telah dibahas di bagian Syiar dan Pelayanan), Finance, Operational, dan Accounting. Yaitu bagaimana membuat KAMIL Pascasarjana ITB kuat keuangannya, lengkap perlengkapannya, dan baik dalam pencatatan administrasinya.

Pengurus yang mewariskan Sistem

KAMIL Pascasarjana ITB ini hanya kita “urus” dalam waktu tertentu, namun sungguh kita berharap bahwa KAMIL Pascasarjana ITB, jalan da’wah muslim di kampus ini akan terus berlanjut dan harus terus berkembang. Wariskanlah apa-apa yang sudah kita pelajari dari kepengurusan kita, wariskan lah juga sistem-sistem yang baik untuk penerus kita. Wariskanlah dokumentasi-dokumentasi perencanaan program, database, SOP, dan sebagainya. Perhatikan dan ingat baik-baik terminologi berikut: Kontinuitas Da’wah!

KAMIL Pascasarjana ITB sebagai Keluarga

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

KAMIL Pascasarjana ITB harus mampu menjadi wadah kembalinya setiap muslim Pascasarjana ITB. KAMIL Pascasarjana ITB harus mampu menjadi corong opini massa kampus terutama mahasiswa muslim pascasarjananya. KAMIL Pascasarjana ITB harus selalu ada sebagai organisasi yang bergerak dalam Keislaman. KAMIL Pascasarjana ITB harus bisa menjadi tempat mahasiswa Islam Pascasarjana ITB melihat berbagai persoalan yang terjadi di dunia, dalam kacamata Islam.

Selain itu, hendaklah KAMIL Pascasarjana ITB ini mampu membangun suasana kekeluargaan yang nyaman sebagai tempat berkumpul. Sebagaimana suatu keluarga yang kita idam-idamkan menjadi tempat kembali, di manapun posisi aktivitas kerja kita selama ini. Keluarga yang nyaman sehinggga kita bisa sebuat keluarga bisa muncul karena senantiasa muncul di dalamnya do’a-do’a yang terpanjatkan, perhatian yang dicurahkan, bantuan-bantuan yang tulus diberikan, dan kebijaksanaan yang senantiasa dicontohkan.

Syiar yang menyeluruh dan Pelayanan yang luar biasa

“Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri (Ashabul Qoryah), ketika utusan-utusan datang kepada mereka” QS Yaasiin: 13.

Kisah Ashabul Qoryah yang terdapat di dalam QS Yaasiin 13-30 menceritakan kepada kita bahwa risalah-risalah Islam itu harus tersebar sampai ke seluruh penjuru negeri, meskipun banyaak sekali orang-orang tidak menyukainya. Terbukti bahwa meskipun da’wah 3 utusan-utusan yang diutus kepada Ashabul Qoryah ini ditolak, tetapi ada buah da’wahnya, yaitu adanya seorang pemuda yang turut serta memperjuangkan da’wah para 3 utusan ini, dari Aqshol Madiinah: ujung kota.

‘Aisyah r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda di rumahku ini : Ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya. (HR. Muslim)

“Hendaklah kalian bersikap memudahkan dan jangan menyulitkan. Hendaklah kalian menyampaikan kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan.” (HR. Muslim)

Da’wah 3 utusan yang diceritakan dalam QS Yaasiin ini, tidak hanya menghasilkan pemuda yang semangat memperjuangkan da’wah, melainkan juga menghasilkan pemuda yang senantiasa mampu memberikan argumen-argumen, menjawab berbagai soal dari ummatnya, menjelaskannya dengan sangat baik.

Syiar dan Pelayanan ini biasa  digambarkan dengan perumpamaan orang-orang yang menawarkan cahaya lilin. Kita ini adalah yang melakukan syiar, yakni seperti seseorang yang membawa lilin  menyala. Setiap dari kita bertugas menyalakan lilin dari setiap massa kampus terutama kampus muslim Pascasarjana ITB. Kalaupun ternyata misi menyalakan lilin ini gagal, setidaknya kita ini sempat mengatakan, “Kalau nanti mau nyalakan lilinnya, hubungi kami ya!” Itu yang dimaksud dengan pelayanan yang luar biasa. Kita bimbing dengan sebaik-baiknya saat ada obyek da’wah kita yang tersentuh. Kita layani dengan sebaik-baiknya.

Perumpamaan lainnya, pelayanan kita adalah seperti jika ada yang bertanya kepada kita di mana toilet berada? Maka kita antarkan orang tersebut setidaknya sampai pintu toiletnya terlihat. Mari kita arahkan massa kampus yang tersentuh dengan sebaik-baiknya, setidaknya sampai dia mengetahui jawaban-jawaban pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benaknya.

Epilog

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”  

QS At-Taubah 105.

Penulis : Reka Ardi Prayoga


Pencarian

Kalender

April 2018
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Email Subscription

Kamil Twitter

Address

Sekretariat
Gedung Kayu Lt. 2, Komplek Masjid Salman
Jl. Ganesha No. 7 Bandung 40132, Indonesia

Contact

phone: 0857-8286-7789
e-mail: kamil.pascasarjanaitb@gmail.com