Monthly archives "June"

6 Articles

Riya’, Waspadalah! Waspadalah!

riyaDitulis oleh Latifah Nurul Q.

Dikisahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullaah SAW bersabda:

Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seseorang yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Maka ia menjawab, “Sungguh aku telah berperang karena Engkau, sehingga aku mati syahid.” Maka Allah berfirman: “Engkau dusta. Akan tetapi engkau berperang supaya dikatakanpemberani dan pujian itu telah engkau dapatkan,” kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab,”Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al Qur’an karena Engkau.” Maka Allah menjawab, “Engkau berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan ‘alim dan membaca Al Qur’an supaya dikatakan qari’, dan pujian itu telah engkau dapatkan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah, maka Allah memberikan kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, “Tidaklah aku meninggalkan satu jalan yang Engkau cintai untuk diinfakkan di dalamnya, kecuali aku menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,” maka Allah berfirman, “Engkau dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan dan pujian itu telah dikatakan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka (HR. Muslim)

Bukankan ketiga orang ini melakukan amalan yang mulia? Pun mereka sudah bersusah payah melakukannya? Lalu, kenapa mereka dicampakkan Allah ke dalam neraka? Ya, tiada lain karena mereka melakukannya bukan karena Allah semata, tetapi karena ingin dipandang manusia. Itulah yang disebut dengan riya’.

Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan bahaya riya’ atas umat Islam ini, lebih dari kekhawatiran beliau terhadap bahaya Dajjal. Beliau bersabda: Read More →

4 views

Kisah Hikmah: Ibu, semoga selalu bisa membuatmu tersenyum

CERITA HIKMAH ibuDitulis oleh : Winda dan Rahma

Abdullah adalah seorang saudagar kaya yang sibuk. Sejak kecil dia memang sudah bercita-cita kelak akan sukses. Abdullah tidak ingin hidup miskin seperti keluarganya. Ketika usahanya semakin besar, kesibukan Abdullah semakin bertambah. Beruntung, Abdullah menemukan jodoh dari kalangan yang sama-sama sukses, meski mereka memiliki usaha yang berbeda. Nama istrinya Khadijah. Abdullah dan Khadijah menjadi pasangan yang ideal dalam segala hal. Hal itu tentu sangat membanggakan keluarganya, apalagi ibunya yang begitu menyayangi Abdullah.

Pada suatu hari, Abdullah membeli rumah di luar kota dan berencana merintis usaha di kota tersebut.

“Berarti kau akan meninggalkan kota ini?” tanya sang ibu sedih.

Abdullah memeluk ibunya. “Ibu bisa ikut bersamaku ke kota itu,” ujar Abdullah.

“Ibu betah di sini. Ini adalah kota kelahiran sekaligus ingin menjadi kota di mana Ibu meninggal kelak.”

“Ibuku sayang, jangan khawatir. Kalau Ibu tidak ikut

dengan kami, kami akan sering menengok Ibu,” kata Abdullah.

Dengan berat hati, akhirnya sang ibu merelakan Abdullah dan istrinya pindah.

“Ibu sudah tua. Sering-seringlah menengok Ibu,” pesan ibu dengan air mata mengalir.

Abdullah mengangguk.

Kesuksesan Abdullah berulang. Di kota yang baru, Abdullah mencapai sukses, bahkan lebih sukses. Kesuksesan Abdullah seiring dengan kesibukan yang dia miliki. Setiap hari, dia harus melayani begitu banyak pelanggan sehingga sejak kepindahannya dia belum pernah menengok ibunya. Khadijah selalu menggantikan suaminya untuk berkunjung ke rumah ibunya.

Jika sang ibu bertanya mengenai Abdullah, Khadijah mengatakan, “Dia sungguh sibuk, Ibu. Dia belum sempat menengok Ibu,” jelas Khadijah.

Ibu begitu rindu pada Abdullah. Ya, kesibukan Abdullah memang semakin menggila. Selain sibuk melayani pelanggan, Abdullah harus berkunjung dari satu kota ke kota lain untuk membeli barang dagangan.

“Apakah Abdullah merindukan Ibu seperti Ibu merindukannya?” tanya ibu Abdullah sambil menatap Khadijah.

Dengan sigap Khadijah menjawab, “Tentu saja dia merindukan Ibu. Tapi, semoga Ibu mengerti akan kesibukannya. Kesuksesan seperti inilah yang telah Ibu dan suamiku cita-citakan sejak lama, bukan?” tanya Khadijah

Ibu tertunduk diam. Dalam hatinya, membenarkan apa yang dikatakan menantunya. Ia selalu mendoakan anaknya akan menjadi orang yang sukses dan bisa membeli apa pun yang dia mau. Bukankah saat ini kiriman Abdullah pun tak pernah absen ada di rumahnya?

“Tapi, Ibu sangat merindukannya. Katakanlah pada suamimu, datanglah kemari walau hanya satu kali,” kata ibu Abdullah dengan gemetar.

Khadijah lalu mengatakan hal itu pada Abdullah.

“Aku pun sangat merindukannya, tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku,” Abdullah beralasan.

“Datanglah sebentar,” saran Khadijah.

“Aku yakin Ibu mengerti dengan kesibukanku,” ujar Abdullah.

Hari demi hari berlalu. Abdullah tetap tidak memiliki waktu untuk mengunjungi ibunya.

Sampai suatu hari, seorang tetangga ibunya datang dan menyampaikan berita mengejutkan.  Read More →

30 views

Hidupkan Ramadhanmu

IMG-20140612-WA0010Dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan, kajian Kamil Pascasarjana ITB kembali telah dilaksanakan pada Kamis, 12 Juni 2014 lalu, dengan tema “Hidupkan Ramadhanmu”. Bulan yang datangnya sangat membahagiakan dan dinanti-nanti bagi orang-orang mukmin, diibaratkan seperti datangnya kekasih yang telah lama dirindukan. Maka sudah menjadi keharusan bagi manuasia yang termasuk golongan orang-orang yang beriman untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk menyambut kedatangannya, salah satunya dengan ilmu. Berikut sedikit rangkuman dari majelis ilmu  Kamil Pascasarjana ITB, semoga bermanfaat.

Esensi Shaum atau berpuasa pada hakikatnya adalah sebagai perisai dan benteng terhadap godaan keburukan dari golongan jin dan manusia (faktor eksternal) dan terhadap diri sendiri atau hawa nafsu diri (faktor internal).

Karakter negatif manusia yang dijelaskan dalam Al Qur’an, diantaranya adalah :

  1. Lemah pendirian (4 : 28)
  2. Tergesa-gesa (17 : 11)

Tergesa-gesa adalah dari syaitan, kecuali untuk 3 hal yg harus disegerakan:

  • Shalat pada awal waktu, lebih baik lagi berjamaah di masjid (terutama bagi laki-laki)
  • Penyelenggaraan jenazah
  • Menikahkan anak perempuan
  1. Gelisah (70 : 19)
  2. Berkeluh – kesah (70 : 20)
  3. Kikir (70 : 21)

Posisi shaum salah satunya adalah untuk mengimbangi atau memberikan perlawanan terhadap karakter negatif manusia itu sendiri, apalagi jika ditambah godaan dari kalangan jin dan manusia yang berasal dari luar diri manusia. Read More →

12 views