Monthly archives "May"

3 Articles

Islam bicara kriminalitas

Ditulis oleh Fakhturrozi

Ketika Islam bicara kriminalitas, kebanyakan orang langsung connectke hukum hudud dan jinayah: hukuman bunuh untuk pembunuh, hukum potong tangan untuk pencuri, cambuk bagi pezina, dan sebagainya. Tentu ini tidak salah. Namun yang juga harus diketahui adalah sebelum Islam berbicara sanksi untuk tindakan kriminalitas, Islam juga berbicara mekanisme pencegahan yang berlapis-lapis. Ini yang tidak banyak dipahami oleh kaum muslim sendiri. Maka tak heran kaum muslim pun menjadi “bulan-bulanan” kaum sekuler-liberal yang tidak suka penerapan Islam kaffah. Bagi mereka, hukum qishash dalam Islam itu kejam dan primitif. Sedang kaum muslim yang kurang paham hanya bisa terpojok di sudut defensif sambil sedikit memoles-molesbahwa penerapan Islam bisa dikompromikan dengan konsep sekuler.

Ketika Islam berbicara pencegahan untuk tindakan pencurian(termasuk korupsi) saja, kira-kira ada sepuluh konsep Islam sebelum diterapkannya sanksi potong tangan. Konsep tersebut diantaranya:

1. Ketakwaan individu

Dalam Daulah Islam (Negara Islam), yang diterapkan Islam secara kaffah, salah satu pilar terpenting penegakan Islam adalah ketakwaan individu.Sistem yang baik akan percuma saja bila tanpa dukungan individu yang baik. Takwa adalah benteng terdepan seorang muslim dalam menjalani setiap aktivitas. Seorang muttaqinakan takut mengerjakan yang dimurka-Nya dan hanya akan mengerjakan yang dicinta oleh-Nya.Motivasi ini tertancap kuat dalam rangka mendapat reward terbaik disisi-Nya (surga) dan menghindari siksa-Nya (neraka). Motivasi ini tidak akan muncul bila seorang individu hanya sekedar ingin digelari “berani jujur hebat”.

2. Pendidikan keluarga

Pendidikan keluarga mutlak diperlukan dalam membentuk karakter anak yang Islami. Orang tua yang sadar bahwa anak adalah tanggung jawabnya di hadapan Allah nanti, maka mereka tidak akan segan-segan mengingatkan anaknya hingga dengan cara yang sedikit memaksa sekalipun. Keluarga akan menjadi sekolah pertama bagi anak. Seorang Abraham Samad, ketua KPK,selalu teringat bahwa orang tuanya pernah marah hebat kepadanya, setelah mengetahuinya menguntit kapur tulis dari kelasnya waktu dulu SD. Harus diakui, karakter jujur ini secara primer dibentuk oleh keluarga. Read More →

29 views

Emil (Evaluasi Kamil)

emilAlhamdulillah Evaluasi Tengah tahun Kamil Pascasarjana ITB telah lancar dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Mei 2014 di R. 9212, GKU Timur, ITB. Evaluasi yang harapannya menjadi vitamin yang dapat menyehatkan dan menyegarkan kembali tubuh Kamil untuk setengah kepengurusan berikutnya, sehingga keberadaannya dapat semakin dirasakan manfaatnya bagi orang-orang di sekitarnya.

Kamil Pascasarjana ITB yang terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum, tiga departemen (Syiar, Keanggotaan, Akademik dan Profesi) serta empat Biro (Penelitian dan Pengembangan, Humas dan Media, Pembinaan Pengurus dan Fundrising) ini tidak terasa telah melakukan kerja-kerjanya selama kurang lebih 3 bulan. Melalui kuisioner biro Litbang (Penelitian dan Pengembangan) serta penyampaian kritik dan saran secara langsung dari pengurus, program kerja Kamil selama setengah periode kepengurusan telah dievaluasi baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Dari evaluasi ini, telah ditemukan beberapa permasalahan yang harus diperbaiki serta solusi-solusi untuk mengatasinya. InsyaAllah, semoga dengan adanya agenda ini, bisa menjadi perbaikan untuk Kamil selanjutnya. Yang perlu diingat adalah produk dari evaluasi bukan hanya berhenti pada mengkritisi dan menemukan solusi, namun sampai kontrol eksekusi yang akhirnya mengakibatkan perbaikan dan meluaskan kebaikan. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberkahi langkah kami. Dan akhirnya, evaluasi ditutup dengan makan siang bersama untuk mempererat persaudaraan antar pengurus.

“ Kesempatan dan hambatan adalah tentang dari sisi mana kamu melihatnya. Akan selalu ada hambatan dalam tiap kesempatan, dan insyaAllah akan selalu ada kesempatan dalam setiap hambatan yang dihadapi ”

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ”

(Q.S. An Nahl 125)

2 views

Fardu kifayah ternyata tidak hanya mengurus jenazah

Ditulis oleh Muhammad Fatkhurrozi

Ketika kita ditanya, “apa saja fardhu kifayah dalam Islam?”. Tentu jawaban yang pertama terlintas (karena pendidikan agama yang monoton sejak SD hingga SMA) dalam sebagian besar benak kita adalah “mengurusi jenazah, memandikan, menyolatkan, hingga menguburkan.” Ini jawaban yang sangat cliché, yang bahkan muslim intelektual sekelas mahasiswa ITB pun juga menjawab demikian.

Memang jawaban ini tak salah. Namun kalau kita definisikan dan kita gali kembali, ternyata fardhu kifayah dalam Islam jumlahnya sangat banyak.

Fardhu kifayah sendiri berarti fardhu yang ketika kaum muslim telah berhasil menunaikannya, terlepas yang menyempurnakan itu satu, dua, atau semua muslim, maka kewajiban tersebut gugurlah bagi yang lain. Varian lain dari fardhu adalah fardhu ‘ain, fardhu yang dibebankan pada tiap-tiap diri muslim. Fardhu tetaplah fardhu, yang berarti kewajiban, yang berarti pahala bagi yang menunaikan dan ancaman (dosa) bagi yang meninggalkan. Dalam kasus jenazah misalnya, maka dosa akan terus mengalir bagi seluruh kaum muslim, sebelum jenazah tersebut sempurna pengurusannya hingga dikuburkan. Bisa dibilang fardhu kifayah adalah kewajiban kolektif bagi semua umat muslim, tanpa terkecuali.

Ulama pernah mengadakan hitung-hitungan sederhana berapa prosentase perbandingan fardhu kifayah versus fardhu ‘ain. Jawabannya adalah 90% untuk fardhu kifayah dan sisanya, 10% untuk fardhu ‘ain. Melihat jawaban ini, kita pun bertanya-tanya, “masa iya sih?

Mari kita mencoba hitung-hitungan sederhana. Dalam ibadah sholat saja misalnya:

–          Sholat sendiri? – Fardhu ‘ain kan.

–          Bagaimana tentang menyediakan masjid (tempat sholat)?

–          Bagaimana tentang mengetahui arah kiblat?

–          Bagaimana tentang membuat alat pencari arah kiblat (kompas)?

–          Bagaimana tentang mengetahui waktu sholat?

–          bagaimana tentang membuat alat penunjuk waktu (jam)?

–          bagaimana tentang menyediakan air wudhu?

–          bagaimana tentang menyediakan sumur / instalasi PAM?

–          bagaimana tentang melantunkan adzan?

–          bagaimana tentang menyediakan pengeras suara utk adzan?

–          bagaimana tentang menyediakan aliran listrik?

–          bagaimana tentang membangun pembangkit listrik ?

–          bagaimana tentang menyediakan insinyur yang membuat pembangkit listrik?

–          dsb.

Itu saja masih dalam hal sholat. Coba beberapa fardhu lain, misalnya: zakat, puasa, haji, menuntut ilmu, menutup aurat, dsb.

Fardhu kifayah dibangun dalam kerangka “sesuatu kewajiban yang tidak akan sempurna tanpa sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib”. Berangkat dari kerangka ini ternyata banyak sekali fardhu-fardhu turunan yang tidak yang tertulis di nash menjadi kewajiban baru yang harus dilaksanakan kaum muslim.

Kebangkitan ummat muslim terdahulu tidak terlepas dari upaya menegakkan kewajiban besar yang direpresentasikan dengan adanya sebuah institusi besar ummat Islam, yakni Daulah Islam (negara Islam) yang dijaga dalam rangka menegakkan banyak fardhu kifayah. Ummat saat itu tidak lupa, untuk menjadi yang terbaik, haruslah ada dakwah Islam bertaraf internasional, yang mempraktekkan QS Ali Imran ayat 110:

Kalian adalah ummat yang terbaik yang diturunkan kepada manusia yang menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar …

Ummat saat itu sadar, untuk mengatasi rintangan dakwah, ummat harus menggencarkan teknologi militer. Kemajuan teknologi tidak akan sempurna tanpa intelektual. Intelektual tidak bisa dicapai tanpa pusat-pusat iptek berkelas dunia dan iklim berkarya yang didukung penguasa. Semua muslim saat itu seolah berpacu menjadi bata-bata yang melengkapi bangunan penegakan fardhu kifayah yakni mengadakan teknologi pendukung dakwah ke seluruh dunia. Inilah kondisi ummat yang bangkit, yang menjadikan iman dan taqwa sebagai sandarannya.

Kita tidak lupa, Perpustakaan Baitul Hikmah yang dibangun di Baghdad pada masa Harun Ar Rasyid memiliki lebih dari 4.000.000 koleksi manuskrip. Khalifah setelahnya, Al Ma’mun  (813-833 M) menghadiahkan emas bagi orang yang menerjemahkan buku di Baitul Hikmah. Universitas-universitas besar dibangun di Kairo, Baghdad, dan Codoba yang menampung ribuan kaum muslim dari segala penjuru dunia. Aljabar, alkohol, kimia, astronomi, kopi, dan atlas adalah sedikit dari banyak temuan-temuan kaum muslim kelas dunia.

Alhasil, kunci kebangkitan ummat tidak lain adalah mengembalikan ummat pada jati dirinya yang beriman dan bertaqwa, yang menegakkan segala kewajiban-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ummat kini perlu berkaca pada generasi pendahulunya, generasi yang penuh dengan tipe-tipe manusia muttaqin yang hanya takut pada Allah saja, yang tidak hanya tahu bahwa fardhu kifayah hanya mengurus jenazah saja, namun juga faham bahwa fardhu kifayah ada di banyak ajaran-Nya.

Qualitas ummat terbaik adalah ditemui pada generasi Nabi, generasi  sesudahnya (Tabiin) dan generasi sesudahnya lagi (Tabiit-Tabiin).  (HR Bukhari, dll).

Wallahua’lam bish shawwab.[]

 

Referensi:

  1. Ismail, Muhammad. 2011. Fikrul Islam (Bunga Rampai Pemikiran Islam). Bogor: Al Azhar Press.
  2. Science and Islam. London: Al-Khilafah Publications.
  3. Wikipedia. Baitul Hikmah.http://en.wikipedia.org/wiki/Baitul_Hikmah (diakses 5 Mei 2014)
  4. Republika.co.id Daulah Abbasiyah: Al-Makmun, Khalifah Pengembang Sains. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/26/lk9cb7-daulah-abbasiyah-almakmun-813833-m-mengembangkan-sains (diakses 5 Mei 2014)
  5. Hawalluddian. Khulafah Abbasiyah Melingdungi Ilmu dan Ilmuwan. http://hawalludian.blogspot.com/2013/02/khulafa-abbasiah-melindungi-ilmu-dan_13.html (diakses 5 Mei 2014).
  6. Amhar, Fahmi. Fardhu Kifayah 90%: Fardhu Ain 10%. http://www.fahmiamhar.com/2013/04/fardhu-kifayah-90-fardhu-ain-10.html (diakses 5 Mei 2014)
  7. Amhar, Fahmi. Diganosis Kemunduran Umat. http://www.fahmiamhar.com/2012/12/diagnosis-kemunduran-umat.html (diakses 5 Mei 2014)
76 views